5 tahun, selama 5 tahun Queen bertahan dalam pernikahan yang tak berlandaskan cinta. Atau lebih tepatnya, landasan yang tidak lengkap karena perasaan Queen yang tak terbalas oleh Bara. Selama 5 tahun juga ia berharap bahwa Bara akan membalas cintanya karena terbiasa hidup bersama. Namun nyatanya, ungkapan cinta datang karena terbiasa, tidak berlaku dalam kasus Queen dan Bara. Meski sudah selama itu mereka bersama, ditambah dengan kebersamaan mereka yang lain karena tumbuh bersama sejak kecil, tidak dapat menambahkan cinta dalam hubungan yang dikatakan sebagai persahabatan.
Di hari ini, meski sisi lain dari hatinya terasa hampa dan kosong karena cincin pernikahan yang selalu tersemat di jari manisnya kini tidak ada, hatinya yang lain merasa lega. Pernikahan yang bagi Queen adalah sebuah anugerah sekaligus kutukan, akhirnya ia bisa terbebas dari pernikahan yang seperti dua bilah mata pisau itu.
Queen menoleh dan mendapati Bara yang baru saja keluar dari ruang persidangan. Mereka bersitatap untuk waktu yang cukup lama seolah melepaskan rasa rindu satu sama lain. Ini pertama kalinya sejak beberapa minggu yang lalu mereka terakhir kali bertemu.
“Terima kasih atas kebersamaan waktu yang kita habiskan, Bara.” Queen mengulurkan tangannya, berniat bersalaman dengan pria yang baru saja resmi menyandang status sebagai mantan suaminya itu.
Bara tampak ragu mengeluarkan tangannya dari saku mantel yang ia kenakan. Menatap bergantian pada tangan yang terulur dan wajah mantan istrinya itu yang terlihat bahagia, dengan senyumnya yang menghiasi. Akhirnya Bara tak urung menyalami tangan Queen.
“Kamu tampak bahagia, Queen. Bisa kita bicara?” Nada bicara dan ekspresi wajah Bara membuat Queen melunturkan senyumnya.
“Tentu,” jawab Queen yang masih sama bodohnya dengan Queen di masa lalu yang akan selalu menuruti apa yang dikatakan oleh Bara.
Namun, Queen sudah bertekad bahwa ini adalah terakhir kalinya ia bertingkah seperti ini di depan Bara. Sudah cukup waktu 5 tahun ia menurunkan nilai dan martabat dalam dirinya hanya demi harapan kosong yang sudah tak berarti. Bara membawanya ke salah satu bangku yang terletak tak jauh dari tempat parkir mobil.
“Sejak kapan?” Queen memulai pembicaraan karena tak tahan membuang waktu 5 menitnya hanya untuk berdiam diri dan bernostalgia seorang diri.
“Apa maksudnya?” tanya balik Bara.
“Sejak kapan kamu dan Liandra berhubungan?” tanya Queen mengulangi.
“Aku bertemu dengannya satu tahun lalu dan menjalin hubungan beberapa bulan yang lalu.” Dengan gamblangnya Bara menjawab seolah itu sebuah kebanggaan.
“Lalu sejak kapan kamu dan Melviano berhubungan?” tanya Bara.
Pengalamannya dalam mengenal Bara memang tidak pernah membohonginya. Sejak kedua orang tua pria ini datang menemui kedua orang tuanya dan menghina dirinya, Queen sudah bisa menduga jika Bara memang menggunakan kesempatan itu. Sampai detik ini, ia tidak menanyakan kebenarannya dan langsung menggunakan asumsinya belaka sebagai fakta yang hanya ingin ia ketahui.
“Aku dan Melviano tidak memiliki hubungan seperti yang kamu pikirkan,” jawab Queen.
Bara mendengus kasar ketika mendengar jawaban Queen. Tampak sangat tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Queen.
“Sampai saat ini kamu masih berbohong, Queen,” ketus Bara.
“Aku tidak pernah menuduhmu sembarangan ketika aku masih belum benar-benar mengetahui hubungan kalian. Tapi pada akhirnya itu memang fakta karena aku membuktikannya dan kalian mengakuinya. Atas dasar apa kamu berkata aku berbohong, Bara?” Yang mengawali pembicaraan mereka ke arah yang panas adalah Bara, tapi pria itu sama sekali tidak ingin mengalah dan mengaku salah.
“Lalu kenapa kamu memilih menceraikan aku dan memilih Melviano, Queen?” Bara masih tidak menurunkan nada ketusnya, tapi tetap mempertahankan obrolan ini dengan Queen.
“Apa aku harus menjelaskan berulang kali kalau aku tidak ingin menjadi penghalang di antara kalian?” tanya balik Queen.
‘Tentu aku juga tidak sudi untuk menjadi wanita kedua bagi seorang pria,’ lanjut Queen dalam batinnya.
“Aku masih tidak habis pikir, kenapa kamu harus memilih pria itu dibandingkan aku yang adalah suamimu saat itu?” Bara akhirnya sedikit menurunkan egonya untuk menanyakan kebenarannya.
Untuk pertanyaan itu, Queen tidak ingin menjawab dengan jujur bahwa itu memang karena sebagian besar keegoisannya. Namun, saat ia tersadar dari kebutaannya bahwa itu adalah keegoisannya, ia menemukan fakta bahwa Bara sebenarnya berselingkuh dari dirinya. Pada akhirnya semua yang menjadi jawaban adalah karena dirinya tidak ingin meminta bantuan pada pria yang sudah melukai harga dirinya sebagai seorang wanita.
“Aku tidak mau merendahkan diriku di depanmu yang sudah melukai harga diriku. Itu alasanku, Bara. Lebih baik aku menerima bantuan dari Melviano dan mendapatkan cap sebagai wanita yang sama sampahnya seperti dirimu.” Kali ini, Queen menjawabnya dengan tegas, tak lagi mengalah pada ego tinggi Bara.
“Sejak kapan kamu berhubungan dengannya, Queen?” Butuh waktu cukup lama untuk Bara mengeluarkan pertanyaan tersebut.
“Hubungan kami hanyalah sebatas hubungan kerja yang saling menguntungkan. Dia memberikan bantuannya padaku di saat aku putus asa dan tepat ketika aku mengetahui perselingkuhanmu dan mengajukan perceraian. Di hari itulah, hubungan kami dimulai.” Karena terbawa oleh emosi yang masih ada di dalam dirinya pada Bara, Queen tidak terlalu memikirkan apa yang ia katakan dan fakta yang baru saja ia ungkap.
Bara lagi-lagi terdiam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Queen. Perasaan ragu yang didominasi oleh rasa bersalah menyeruak memenuhi hatinya. Setengah hatinya masih tidak percaya pada apa yang dikatakan oleh Queen. Entah setengah hati itu memang menginginkan penyangkalan tersebut demi rasa bersalah yang menguasai hatinya.
“Kamu mengatakan jika itu adalah hubungan kerja yang menguntungkan, apa yang kamu berikan padanya saat itu ketika dia memberikan bantuannya?” Bara bertanya lagi.
Kali ini giliran Queen yang ragu untuk menjawab pertanyaannya. Karena emosi sesaatnya yang jengkel pada Bara yang terlalu bodoh untuk peka pada perasaannya sebagai wanita, ia jadi memberitahu sesuatu yang tidak seharusnya.
“Aku menikah dengannya untuk status yang ia butuhkan,” jawab Queen pada akhirnya jujur.
“Queen …” Bara menoleh terkejut pada jawaban Queen.
Queen lebih dulu menghentikan apa yang hendak dikatakan Bara dengan mengangkat satu tangannya. Ia mengatakan ini tidak untuk menerima rasa iba dari Bara, tapi untuk semua pertanyaan yang selama ini menimbulkan kesalahpahaman pada mereka berdua. Meski alasan perceraian mereka seperti ini, ia tidak ingin mereka terutama keluarga mereka berhubungan buruk di masa depan.
“Itu, bukankah-”
“Sejak kapan kamu menjadi peduli padaku? Dan aku tidak pernah mengizinkanmu untuk berkomentar pada pilihan yang sudah aku buat, Bara,” potong Queen.
“Tetap saja, sebagai sahabat aku …” Bara tidak melanjutkan ucapannya.
Butuh waktu lama dan banyak peristiwa, supaya bisa membawa rasa bersalah dan penyesalan dalam diri Bara atas hubungannya dengan Queen. Pada titik ini, Bara tidak berani lagi mengatakan atau menyebut dirinya sebagai sahabat Queen.
“Queen, aku …” ucap Bara ragu sambil menatap teduh netra hitam Queen yang juga tengah menatapnya dingin seperti biasanya tanpa adanya ekspresi di dalamnya.
“Queen! Di sini kamu rupanya.”
-
-
-
To be continued