Aku, perempuan 18 tahun yang memiliki emosi tinggi. Siapapun bisa saja tidak peduli dengan kehadiranku. Aku adalah perempuan yang semua orang akan acuh tak acuh dengan diriku. Bisa kalian bayangkan, orang terdekatku pun bisa saja don't care dengan semua masalah yang aku panggul. Aku bisa saja memiliki seseorang yang setia dengan semua masalahku, tapi entahlahh aku tidak yakin dengan itu.
Cerita ini aku mulai saat pagi hari ketika aku beranjak pergi untuk menuntut ilmu di salah satu SMA Negeri di kampungku. Berbekal wajah muram dan uang saku Rp. 5.000 untuk ongkos pulang dan pergi. Entah kenapa pagi ini aku merasa begitu malas untuk ke sekolah. Ejekan teman-teman masih saja terngiang-ngiang di kepalaku. Andai saja aku seperti mereka, andai saja aku kaya, andai saja aku cantik, andai saja ... Andai ... Andai ... ahhhh aku hanya pandai untuk berandai-andai. Si putih kotak beroda empat berhenti didepanku, dan aku segera masuk. Saat diperjalanan aku masih saja melamun dan memikirkan ejekan teman-temanku. Dan seketika lamunanku itu dipecahkan dengan lengkingan suara peluit Pak Satpam yang sedang bertugas menyeberangkan beberapa siswa.
Aku turun dari mobil dengan perasaan cemas, bagaimana jika nanti aku di ejek lagi oleh teman-temanku? Apa yang harus aku lakukan? Mengadu kepada siapa aku nanti? Jangankan mengadu, melihat aku pun mereka merasa jijik. Apa karena fisiku yang seperti ini? Apa ada yang salah dengan wajahku yang tidak begitu cantik seperti mereka? Apakah memiliki wajah yang pas-pas an mengganggu mereka?. Tapi jika aku jelek, mengapa Ibu berkata bahwa aku adalah perempuan paling cantik di dunia ?. Huuhhh (sambil menghela nafas) biarlah mereka mengejek ku lagi, lagi pula itu makanan ku sehari-hari. Dengan hati yang berdebar aku mulai memasuki kelas dengan wajah menunduk.