Setiap hari aku hanya bisa menunduk dan merenung. Aku tak akan berani mengangkat kepalaku keatas dan memandang suasana disekitar kelas. Keadaan yang sangat terpaksa untuk aku mengangkat wajahku adalah ketika seorang guru bertanya kepadaku, itupun sesekali aku tetap menunduk. Entah sampai kapan aku seperti ini, mungkin suatu saat aku akan memiliki punuk dibagian belakang leherku akibat sering menunduk. Kalian tau kenapa teman-teman ku benci kepadaku? Karena aku tidak sederajat dengan mereka, aku hanyalah perempuan plosok desa yang mengandalkan bantuan pemerintah untuk sekolah. Sedangkan mereka? Sebagian dari mereka adalah anak pejabat, anak abdi negara, anak dokter, anak dosen dan masih banyak lagi. Lalu? Bagaimana dengan aku?. Tanpa aku bercerita pun kalian pasti tahu. Yahhh, aku adalah anak seorang BURUH TANI, bukan PETANI. Hidupku sangat jauh dari kata sempurnya, terkadang aku memang harus bersyukur, aku masih diberi kesempatan untuk menghirup udara segar di pagi hari.
Selama ini orangtua ku tak tahu jika aku mengalami perlakuan yang sangat buruk ketika disekolah. Aku tak akan berani bercerita, dan aku tak akan tega melihat mereka melepaskan genangan air mata ketika mendengar ceritaku. Ketika aku duduk dan termenung, segerombol laki-laki yang melemparku dengan penghapus papan tulis tadi menghampiriku. Mereka mengerumuniku seolah tak akan memberikan sedikit kebebasan untuku. Aku tak berani melakukan apa-apa, aku diam, diam, dan diam. Lagi-lagi aku hanya bisa diam ketika mereka memperlakukanku seperti hewan dan b***k.
Kali ini mereka seolah-olah sedang menggodaku seperti laki-laki pemabuk yang sedang melihat perempuan seksi. Mereka bisa saja sewaktu-waktu memukul ku, atau menyeretku keluar dari kelas. Aku tak berani berbuat apa-apa, ya tuhan tolong aku. Mereka seketika bubar saat Pak Andre (guru olahraga) memasuki kelas. Hari ini adalah hari dimana aku benar-benar ingin cepat mati. Bagaimana tidak, Pak Andre adalah salah satu guru yang sering melakukan pelecehan seksual kepadaku. Sejauh ini Pak Andre hanya berani memeluk pinggul ku, ntah lagi untuk kedepannya orang itu akan berbuat apa kepadaku. Sudah banyak sekali ancaman yang Pak Andre katakan kepadaku. Yahhh, harus aku katakan lagi dan lagi bahwa aku hanya bisa diam. Bagaimana tidak, jika aku melaporkan ini ke kepala sekolah, dia tidak akan segan untuk membunuhku dan keluargaku. Ancaman itulah yang membuat aku terbungkam selama ini.
"Selamat pagi anak-anak...selamat pagi budi, sinta, dimas, dan yang lainnya. Selamat pagi juga cena (sambil mengedipkan mata kepada ku seolah-olah sedang menggoda)"
Masih bisa aku akui kalau aku sedikit memiliki kecantikan seperti perempuan lainnya, tapi mungkin tidak secantik teman-temanku yang sering perawatan ke salon sampai menghabiskan uang berjuta-juta. Tak jarang juga orang-orang baru yang ku temui di jalan menggodaku karena pesonaku, tak jarang juga yang mengejarku hanya untuk sekedar meminta nomor telepon. Kembali lagi, aku selalu merasa takut untuk bertemu laki-laki karena aku sering mendapat pelecehan seksual oleh Pak Andre dan teman-temanku. Kata mereka sih badanku montok, mangkannya mereka sering melepaskan hasrat dengan melecehkanku. Setelah mereka puas? Mereka akan peegi begitu saja tanpa memperdulikan mentalku. Dan inilah jadinya, aku selalu diselimuti rasa takut untuk membuka hati kepada siapapun.