Pagi yang indah untuk aku pergi ke sekolah, dimana seperti yang sudah diumumkan oleh kepala sekolah bahwa hari ini adalah hari dimana aku menerima rapot. Tak seperti biasanya, hari ini aku memasuki gerbang dengan wajah yang bahagia. Sebenarnya aku memiliki 1 teman di sekolah, sayangnya dia berbeda jurusan denganku. Namanya lusi, dia adalah perempuan yang cantik, baik hati, pemberani, dan sering sekali menolongku. Sayangnya, dia tak tahu tentang pembullyan dan pelecehan yang aku dapatkan di sekolah. Bukan dia yang tak tahu, tapi aku memang tak mau menceritakan hal itu kepada siapapun.
"Wehhh ada apa nih tumben senyum-senyum terus, ohh aku tahu hari ini kan pembagian rapot. Hmmm pasti kamu juara 1 lagi deh, cie.. cie.."
"Hehe semoga saja yaa lusi, ehh lusi sepulang sekolah nanti bisa temani aku ke toko buku nggak? Ada beberapa buku yang ingin aku beli nih"
"Boleh.. nanti setelah pembagian rapot aku ke kelasmu yaa"
"Oke dehh, yaudah aku ke kelas dulu ya lusi. Daahhhh"
Tibalah saat pembagian rapot. Bu Wati wali kelasku memasuki kelas dengan membawa rapot yang akan dibagikan. Tetapi.. tunggu, beliau tidak sendirian. Sh*t beliau datang bersama laki-laki hidung belang itu.
"Selamat pagi anak-anak, sebelumnya ibu ingin menginformasikan kalau ibu akan ditugaskan oleh kepala sekolah untuk amelakukan studi banding ke Bandung, jadi sementara ini tugas ibu akan digantikan oleh Pak Andre. Baik silahkan Pak, saya tinggal dulu"
"Baik Bu, terimakasih"
Ya tuhan aku pikir hari ini adalah its the day best ever, seketika hari ini menjjadi bad day bagiku.
"Baik anak-anak jadi bapak akan membagikan rapot kalian, tapi kali ini bapak akan membagikan mulai dari nomor urut terbawah. Yang sudah menerima rapot bisa meninggalkan ruangan dan langsung pulang"
Sialan, pasti Pak Andre punya maksud dan tujuan atas ini dan aku memiliki nomor urut 1. Itu artinya akulah yang akan pulang paling akhir, ya tuhan lindungi aku.
"Baik anak-anak jadi di rapot semester ini kalian memiliki juara kelas dan juara sekolah dengan nilai paling tinggi di sekolah. Dan siswa itu adalah... Asri"
Aku memang bangga ketika hasil rapot ku sesuai dengan kerja kerasku belajar individu, tetapi aku juga merasa sedih ketika semua orang tidak ada yang peduli tentang hal itu.
Setelah semua murid menerima rapot, kini giliran aku yang akan di panggil maju untuk menerima rapot.
"Asri.. silahkan maju" aku melangkah maju dan mengambil rapot dari tangan Pak Andre
"Pertahankan terus yaa sayang prestasinya" ucap Pak Andre yang tangannya sambil menepuk bahuku dan kemudian perlahan turun meraba punggungku. Aku segera menepus tangan Pak Andre dan langsung keluar dari kelas. Tanpa kusadari ternyata lusi sudah menungguku di luar dan melihat apa yang dilakukan Pak Andre kepadaku tadi. Kami pun bergegas pulang dan menuju toko buku. Ketika pulang dati toko buku tiba-tiba lusi bertanya tentang kejadian tadi.
"Asri.. coba deh kamu jujur, sebenarnya apa sih yang terjadi. Tadi aku nggak sengaja melihat Pak Andre meraba-raba punggung kamu, terus kenapa kamu diam saja asri? Apakah kamu seperti itu karena di ancam oleh Pak Andre ?"
Dan ketika lusi menanyakan hal itu air mataku pecah.
"Hiks..hiks..lusi bolehkah aku jujur kepadamu..hiks..hiks..."
"Kamu kenapa asri ? Katakan saja kepadaku, aku akan membantumu"
"Sebenarnya selama ini Pak Andre sering melakukan pelecehan kepadaku, aku takut untuk bercerita kepada siapapun dan sebenarnya aku ingin melaporkan hal ini ke pihak sekolah. Tapi Pak Andre selalu mengancamku kalau sampai aku berani melaporkan hal ini, dia tak segan-segan membuat keluargaku sengsara dan membunuhnya. Andai kau tau lusi, setiap hari aku selalu menangis sendiri di kamar mandi akibat perlakuan Pak Andre itu. Tak hanya itu, teman-teman sekelasku juga mem-bullyku karena aku anak buruh petani. Mereka sering sekali mengejeku, melemparku dengan penghapus, menyembunyikan buku ku, memukul ku, dan teman laki-lakiku sama saja seperti Pak Andre. Mereka sering melakukan pelecehan terhadapku, tetapi untungnya sampai saat ini aku masih sanggup menjaga keperawananku dari mereka. Kalau tidak mungkin aku sudah menjadi gelandangan di pasar. Sungguh lusi, aku tak kuat sebenarnya merasakan beban seperti ini, aku juga tak berani cerita kepada orangtua ku karna aku tak mau mereka terbebani lagi oleh masalahku. Aku minta kau jangan cerita kepada siapapun ya lusi, aku mohon hiks..hiks.."
"Dasar LAKI-LAKI BIADABBB!!! Padahal dia seorang guru tetapi tidak patut untuk dikatakan sebagai seorang guru. Laki-laki anjinggg, untuk apa dia berbuat seperti itu keoadamu asrii? Selama ini kenapa kamu tidak bercerita kepadakuu?? Aku pasti akan selalu menolongmu untuk menghancurkan laki-laki tua bangka ituu!!!"
"Hiks.. sudahlah lusi, ini semua masalahku. Kamu tidak perlu ikit terjerumus dengan masalahku. Biasrlah beban ini aku pikul sendiri"
"Masalahmu masalahku juga asri, aku tidak akan tinggal diam akan hak ini. Lihat saja, sebentar lagi kebusukan Pak Andre akan terbongkar. Dan akan aku pastikan dia akan ku buat malu dengan perbuatannya itu"
"Jangan lusi, kalau kamu sampai berani melaporkan Pak Andre, nanti akan menjadi masalah untuk keluargaku, tolong jangan hiks..hiks.."
"Sudahlah asri, aku tidak sebodoh itu. Aku akan memikirkan caranya agar Pak Andre bisa dilaporkan dan keluargamu akan tetap aman, percaya kepadaku aku sahabatmu dan akan selalu membantumu"
"Kau yakin keluargaku akan aman lusii??"
"Percayakan semua ini kepadaku asri"
Yah, inilah lusi. Sia selalu berusaha membuatku senang dengan segala hal. Sudah lama aku berteman dengannya, dia memang sedikit tomboy tetapi dia juga cantik, sangatt cantik. Akhirnya kita pulang kerumah masing-masing.
"Assalamualaikum Ibu.. bapak.. asri pulang".
"Waalaikumsalam, ehh anak ibu udah pulang. Gimana sayang nilai rapotnya bagus? Kalaupun nggak bagus juga tidak apa-apa, kan asri sudah berusaha"
Orangtuaku memang tidak pernah menuntutku untuk menjadi juara kelas, tetapi aku ingin menunjukan kepada mereka diluar sana bahwa inilah aku, anak BURUH TANI yang selalu BERPRESTASI.
."Alhamdulillah bu, asri menjadi juara kelas dan juara sekolah, nilai asri paling tinggi"
"Alhamdulillah.. yasudah, sebagai hadiah atas keberhasilan asri. Ibu punya sesuatu untuk asri, tapi .. asti harus tutup mata dulu"
"Hehe apa nih bu, iyaa deh asri tutup mata.."
Dan ibu membawa kado yang tidak terlalu besar, tetapi dari bungkusnya aku tahu kalau isinya pasti alat-alat tulis. Iya alat-alat tulis, setiap rapotan pasti ibu selalu memberiku hadiah akat-alat tulis. Cukup sederhana, tetapi aku sangat menyukai kesederhanaan itu.
"Ayo asri.. sekarang coba buka hadiahnya"
"Wahhh pasti alat-alat tulis, iyaa kan bu?"
Dan ketika ku buka ternyata di dalam kado itu adalah sebuah handphone keluaran terbaru yang sangat mewah.
"Ya allah ibu, kenapa ibu memberi ini ke asri? Ini cukup mahal Bu, lebih baik ibu menggunakannya untuk keperluan sehari-hari"
"Sudahlah sayang, ini adalah hadiah atas kerja keras asri selama ini di sekolah. Asri selalu menjadi juara di sekolah dan ibu bangga. Semoga asri suka yaa dengan hadiahnya".
"Ibuuuuu terimakasihhhhhh"
Betapa kasihannya aku ketika melihat ibuku menyisihkan uang belanja agar bisa membelikanku hadiah ini. Andai aku bisa sukses, pasti ibu dan bapak tidak akan susah seperti sekarang.