Malam itu, gedung pertunjukan dipenuhi ratusan pasang mata yang tertuju pada satu titik di atas panggung—Aku.
Aku memejamkan mata sejenak, menghirup napas dalam-dalam, lalu meletakkan bodi biola di bawah daguku. Saat gesekan pertama busurku menyentuh senar, nada tinggi yang jernih dan tajam meluncur mulus, membelah keheningan auditorium.
Musik adalah hidupku. Selama dua puluh dua tahun, tidak ada hal lain yang paling kupahami selain nada. Setiap frekuensi, instrumen, dan dinamika suara adalah bahasa utamaku. Malam ini adalah audisi untuk bergabung dengan orchestra ternama di Eropa. Impian yang kukembangkan sejak pertama kali memegang biola di usia tujuh tahun.
Permainanku presisi. Jariku menari di atas papan tekan tanpa cela. Penonton menahan napas, terhanyut dalam tiap perpindahan tempo yang kubawakan.
Namun, tepat di pertengahan lagu-saat aku masuk ke bagian k*****s yang paling rumit-sesuatu yang aneh terjadi.
BZZZZZZT.
Sebuah bunyi berdenging tajam mendadak menusuk telinga kiriku. Suaranya mirip seperti frekuensi radio yang terputus, begitu melengking hingga membuat kepalaku berdenyut nyeri.
Tanganku sempat goyah sepersekian detik. Nada yang keluar dari biolaku terdengar sedikit sumbang di telingaku sendiri. Aku memaksakan diri untuk tetap fokus, menggigit bibir bawahku erat-erat demi menahan rasa sakit yang menjalar di kepala.
"Tidak sekarang," batinku panik. “Jangan sekarang.”
Aku mempercepat gerakan jemariku, mencoba menutupi kesalahan kecil tadi dengan teknik yang lebih agresif. Beruntung, dengingan itu perlahan surut menjadi suara samar, seperti desir angin dari kejauhan. Aku berhasil menyelesaikan lagu tepat di ketukan terakhir.
Penonton berdiri. Tepuk tangan riuh bergema di seluruh ruangan, memantul di dinding-dinding tinggi auditorium. Para juri tersenyum puas sambil mencatat sesuatu di lembar penilaian mereka.
Aku membungkuk memberi penghormatan, memamerkan senyum terbaikku ke arah penonton. Tapi di dalam d**a, jantungku berdegup kencang bukan karena gembira, melainkan karena ketakutan yang teramat sangat.
--
“Permainan yang luar biasa, Nadara!”
Suara Pak Hendra—pengujiku sekaligus dosen senior di akademi—menyambutku begitu aku melangkah masuk ke ruangan di balik panggung. Beliau menepuk bahuku bangga.
“Keputusannya akan diumumkan minggu depan, tapi saya yakin satu kursi di Eropa sudah pasti milikmu.”
"Terima kasih banyak, Pak," jawabku.
Aneh. Suara Pak Hendra terdengar sedikit berbeda. Seolah-olah ada lapisan kapas tipis yang menghalangi suaranya sampai ke telingaku.
"Kamu baik-baik saja? Wajahmu agak pucat," tanya beliau, memperhatikan ekspresiku.
Aku memaksa diriku tertawa kecil, menyerap kebingungan yang makin menjadi-jadi. “Hanya terlalu gugup, Pak. Dan mungkin sedikit lelah.”
“Ya sudah, langsung pulang dan istirahat. Kamu sudah bekerja keras.”
Aku mengangguk, lalu bergegas merapikan biola ke dalam case bertali kulit milikku. Aku ingin cepat-cepat keluar dari ruangan ini.
--
Saat aku melangkah menuju area parkir gedung yang sepi, aku melepas sepatu hak tinggiku. Langkah kakiku menyentuh lantai marmer yang dingin. Biasanya, aku bisa mendengar gema ketukan langkahku sendiri di koridor sepi ini dengan sangat jelas.
Namun malam ini, lantai itu seolah bisu.
Aku berhenti berjalan. Suasana malam teramat hening. Aku mencoba mengetukkan ujung jariku ke permukaan case biola keras-keras.
Tuk. Tuk.
Suaranya ada, tapi terasa jauh. Seperti didengar dari balik dinding tebal.
Aku menelan ludah, berusaha menenangkan napas yang mulai memburu. Ini pasti cuma efek kelelahan. Kurang tidur selama berminggu-minggu demi persiapan audisi pasti membuat saraf-sarafku tegang. Ya, pasti cuma itu. Besok setelah tidur nyenyak, semuanya akan kembali normal.
--
Aku membuka pintu mobil, masuk ke dalam, dan menutupnya rapat. Di dalam kabin yang kedap udara, aku menyalakan radio dengan volume sedang. Lagu jazz mengalun.
Aku memejamkan mata, mencoba menikmati musik itu seperti biasa. Tapi yang kudengar malam itu bukan lagi harmoni alat musik yang jernih. Suara biola di lagu itu terdengar samar, terdistorsi, dan perlahan-lahan tenggelam di antara bunyi denging yang kembali memenuhi kepalaku.