Tiga hari setelah malam audisi itu, aku duduk di sebuah ruangan beraroma antiseptik yang menyengat. Di hadapanku, seorang dokter spesialis THT setengah baya menatap layar komputer dengan kening berkerut dalam.
Di atas meja, lembar hasil tes audiometri dan pemindaian MRI-ku terpampang jelas. Grafiknya menunduk tajam ke bawah—sebuah garis merah yang menandakan penurunan drastis pada ambang pendengaranku.
"Mbak Nadara," Dokter Danu membuka suara, memecah keheningan yang semakin menekan d**a. Ia melepas kacamata dan menatapku dengan binar mata yang memancarkan rasa iba.
Aku paling benci ditatap seperti itu.
"Bagaimana hasil tesnya, Dok?" tanyaku. Suaraku sendiri terdengar aneh di telingaku—seperti suara yang menggema di dalam gua yang dalam. “Ini cuma karena overwork atau tegang saraf biasa, kan? Saya butuh resep obat atau vitamin untuk menghentikan bunyi berdenging ini.”
Dokter Danu menghela napas panjang. Ia menarik kursi lebih dekat ke arahku. “Penurunan pendengaran yang Mbak Nadara alami bukan karena kelelahan biasa. Hasil MRI menunjukkan adanya kerusakan degeneratif pada saraf pendengaran di kedua telinga Mbak.”
Darahku serasa berhenti mengalir. “Degeneratif... artinya apa?”
"Saraf pendengaran Mbak Nadara mengalami kemunduran fungsi secara bertahap," jelas Dokter Danu sehati-hati mungkin. “Sederhananya, saraf tersebut perlahan mati. Bunyi berdenging itu adalah respons otak yang berusaha menangkap frekuensi yang hilang.”
"Tapi bisa disembuhkan, kan?" tanganku mencengkeram erat pinggiran rok kainku sampai buku-buku jariku memutih. “Pakai operasi? Atau terapi gelombang? Saya seorang violinis, Dok. Minggu depan pengumuman audisi Eropa. Saya tidak bisa bermain kalau pendengaran saya terganggu!”
Dokter Danu menggeleng pelan. Tatapannya runtuh. “Saat ini, tidak ada tindakan medis atau obat yang bisa menghentikan atau mengembalikan saraf yang sudah mati itu, Mbak. Yang bisa kita lakukan hanya memantau prosesnya.”
"Proses apa?" suaraku meninggi, gemetar oleh kepanikan yang mulai tak terkendali. “Proses sampai kapan?!”
“Sampai Mbak Nadara... kehilangan pendengaran secara total.”
Brak!
Aku berdiri begitu cepat hingga kursiku terdorong ke belakang dan membentur dinding. Duniaku seolah berputar hebat. Ruang dokter yang dingin itu mendadak terasa menyempit, mencekik leherku hingga sulit bernapas.
"Dokter bercanda, kan?!" teriakku. “Saya baru dua puluh dua tahun! Saya memegang biola sejak kecil! Bagaimana mungkin dokter menyuruh saya menerima kalau saya bakal tuli?!”
“Mbak Nadara, tolong tenang dulu..”
“Jangan suruh saya tenang!”
Tanpa mempedulikan panggilan Dokter Danu dan tatapan prihatin dari para perawat di koridor, aku menyambar tas serta case biolaku, lalu berlari keluar dari klinik itu.
--
Aku mengurung diri di dalam kamar sepanjang sisa hari. Pintu kukunci rapat. Tirai jendela kututup rapat-rapat, membiarkan ruangan tenggelam dalam kegelapan.
Di sudut kamar, case biola hitamku tergeletak bisu. Benda yang selama lima belas tahun menjadi sahabat terbaikku, tempatku mencurahkan segala emosi, kini mendadak terasa seperti beban yang teramat berat.
Aku duduk bersandar di pintu, melipat lutut ke d**a.
Garis hidup yang kubangun dengan susah payah—latihan delapan jam sehari, jari-jari yang berdarah dan kapalan, impian berdiri di panggung megah Eropa—sesepele itu dihancurkan oleh sebuah vonis dokter dalam waktu lima belas menit.
Mengapa harus aku? Dari jutaan orang di dunia ini, mengapa harus seorang musisi yang dirampas pendengarannya?
--
Aku meraih ponselku yang tak berhenti bergetar sejak tadi. Ada belasan panggilan tak terjawab dari Pak Hendra dan beberapa pesan dari teman-teman akademiku yang menanyakan kabar.
Dengan tangan gemetar, aku menghapus semua notifikasi itu tanpa membacanya. Aku mematikan daya ponsel, memutus seluruh akses ke dunia luar.
Di dalam kamar yang makin gelap, aku mencoba memejamkan mata. Namun, bukannya ketenangan yang kudapatkan, bunyi berdenging di dalam kepalaku justru makin nyaring, menggantikan derap napasku yang patah-patah.
Malam itu, aku menyadari bahwa kehilangan terbesar seorang musisi bukanlah saat biolanya patah, melainkan saat dunianya perlahan berubah menjadi keheningan yang membunuh.