Dua minggu berlalu, tapi aku masih berada di tempat yang sama—terperangkap di dalam kamarku yang gelap.
Aku tidak tersentuh oleh dunia luar. Ponselku mati total di dalam laci meja. Aku sengaja tidak mengisi dayanya. Aku tahu ada puluhan pesan dari Pak Hendra mengenai hasil audisi Eropa yang pasti sudah keluar. Namun, apa gunanya? Hasil medis tak bisa diubah, dan sebuah pengumuman tidak akan bisa menyelamatkan saraf pendengaranku yang kian sekarat.
--
Pagi itu, bunyi denging di kepalaku terasa lebih konstan. Suara bisikan angin di luar jendela dan derit lantai kayu saat aku melangkah kini terdengar tumpul—seperti mendengarkan kehidupan dari dasar kolam renang yang dalam.
Aku berdiri di depan cermin, menatap bayanganku sendiri. Lingkar hitam menumpuk di bawah mataku. Wajahku pucat dan tirus.
Di sudut ruangan, case biola itu seolah terus mengejekku.
Rasa sesak yang menumpuk di d**a selama dua minggu ini mendadak meledak menjadi amarah yang liar. Kenapa aku harus diam? Kenapa aku harus menerima takdir konyol ini begitu saja?
Aku berjalan cepat menghampiri case biola itu, menyambar kuncinya, dan membuka penutupnya dengan kasar. Biola kayu berwarna cokelat keemasan itu terbaring anggun di dalamnya.
"Kau mau membuktikan apa, huh?" bisikku pada instrumen itu dengan nafas memburu.
Aku mengambil biola dan busurnya. Tanpa pemanasan, tanpa koordinasi yang rapi, aku menempelkan biola ke daguku dan menarik busur itu sekuat tenaga ke atas senar.
SCREEECH!
Suara pekikan sumbang yang memekakkan telinga bergema di ruangan. Tapi bagiku, suara itu terdengar sangat samar dan datar.
Aku makin murka. Aku menekan busur lebih keras, menggerakkan tanganku secara asal-asalan, memainkan lagu paling rumit yang kuhafal dengan kecepatan liar.
Setiap kali nada yang kukeluarkan terasa tumpul di telingaku, rasa frustrasi itu makin membakar dadaku. Jariku terpeleset, menekan senar salah. Aku terus memaksa, menggesek biola itu sampai senar teratasnya—senar E—putus dengan bunyi mendenting keras!
PLAK!
Ujung senar yang putus mengenai pipiku, meninggalkan goresan perih yang tipis.
Aku mematung. Busur biola terlepas dari genggamanku, jatuh meluncur di lantai. Air mata yang kusembunyikan rapat-rapat akhirnya menetes, membasahi kayu biola di tanganku.
"Kenapa... kenapa harus aku?" raungku dalam tangis yang tak tertahankan lagi. “Aku cuma punya ini! Aku gak punya apa-apa lagi selain ini!”
Aku melemparkan biola itu ke atas kasur, lalu terduduk di lantai sambil meremas rambutku sendiri. Tangisanku pecah menjadi raungan tak bersuara, memenuhi kamarku yang kian kedap.
--
Tiba-tiba, pintu kamar terdorong terbuka. Ibu masuk dengan wajah panik dan penuh kecemasan. Beliau pasti mendengar suara bising dan jeritanku dari luar.
Ibu berlutut di depanku, merengkuh bahuku yang gemetar hebat. Mulut Ibu bergerak-gerak cepat, mengatakan sesuatu dengan wajah cemas.
Namun, yang kutangkap dari bibir Ibu hanyalah kepengapan. Suaranya terdengar sangat jauh, tenggelam di balik denging di kepalaku. Aku tidak bisa mencerna kata-katanya.
"Aku gak bisa dengar, Bu..." bisikku lirih, menyandarkan dahi ke bahu Ibu. “Suara Ibu... jauh banget...”
Ibu terpaku. Pegangan tangannya di bahuku mengencang. Aku bisa merasakan napas Ibu yang tertahan, sebelum akhirnya ia memelukku erat-erat sambil mengusap punggungku yang terguncang oleh isak tangis.
Ibu tidak memaksa berbicara lagi. Beliau mengerti.
--
Sore harinya, setelah aku sedikit lebih tenang dan goresan di pipiku diobati, Ibu masuk membawa sepucuk surat dan setumpuk pakaian bersih. Beliau menuliskan sesuatu di secarik kertas, lalu menyodorkannya padaku.
[Lusa ikut Ibu ya. Kita jalan-jalan sebentar keluar rumah. Ibu mau kenalkan kamu ke suatu tempat.]
Aku menatap tulisan tangan Ibu yang rapi itu, lalu menggeleng pelan. “Aku gak mau ke mana-mana, Bu. Aku mau di rumah aja.”
Ibu mengambil kembali kertas itu dan menambahkan kalimat baru di bawahnya:
[Bukan ke rumah sakit atau dokter. Ibu janji. Cuma sebentar, Nadara. Demi Ibu.]
Aku menatap mata Ibu yang sembab. Ada permohonan yang teramat sangat di sana. Aku tak punya energi lagi untuk membantah. Akhirnya aku mengangguk pasrah.