Mobil Ibu berhenti di depan sebuah bangunan dua lantai bercat putih bersih dengan halaman rumput yang cukup luas. Di atas pintu masuk utamanya, terpasang papan kayu bertuliskan Komunitas Sunyi.
Aku menatap bangunan itu dari balik kaca mobil dengan dahi berkerut. "Tempat apa ini, Bu?" tanyaku. Suaraku masih terdengar samar dan berdengung di dalam kepalaku sendiri.
Ibu tidak menjawab lewat suara. Beliau meraih buku catatan kecil dari tasnya, menuliskan sesuatu dengan cepat, lalu menyodorkannya padaku.
[Ini tempat berkumpul anak-anak dan remaja tunarungu. Ibu kenal pendirinya. Ibu cuma mau kamu cuci mata sebentar di sini, jangan mengurung diri terus.]
Rasa panas mendadak menjalar ke dadaku. "Jadi Ibu anggap aku sama kayak mereka?" cetusku tajam. “Aku ini musisi, Bu! Aku bukan orang cacat yang butuh dinasehati atau dikasihani di tempat kayak gini!”
Aku hendak membuka pintu mobil untuk pergi, tetapi Ibu memegang tanganku erat-erat. Beliau menatapku dengan mata yang memohon, tanpa kemarahan sedikit pun. Tatapan itu membuat pertahananku runtuh. Aku mengembuskan napas kasar, membuang muka, lalu akhirnya menyerah dan mengekor di belakang Ibu.
--
Suasana di dalam bangunan itu terasa sangat asing bagiku. Ada banyak orang—mulai dari anak-anak hingga remaja usia belasan tahun—tapi tempat ini hampir tanpa suara orang bicara. Yang ada hanyalah riuh gerakan tangan yang lincah, tawa renik tanpa kata, dan ketukan langkah kaki di atas lantai kayu.
Ibu membiarkanku duduk sendirian di salah satu bangku panjang di pinggir aula besar, sementara Beliau pergi berbincang dengan seorang pengurus di sudut ruangan.
Aku melipat tangan di d**a, menyandarkan punggung ke dinding, dan menatap sekeliling dengan pandangan dingin. Aku sengaja memasang benteng jarak. Aku tidak ingin ada orang yang mendekatiku. Aku tidak termasuk dalam dunia mereka.
Namun, perhatianku mendadak teralih pada sebuah ruang kaca transparan di ujung aula.
Di dalam ruangan berlantai kayu itu, tampak belasan anak kecil sedang berdiri melingkar. Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pemuda berkaus hitam polos dan celana jeans longgar.
Pemuda itu membalas tatapan anak-anak itu dengan senyum yang sangat lepas—senyum yang terasa begitu hangat hingga seolah menyalakan ruangan yang redup itu.
Anehnya, di tengah ruangan itu terdapat sebuah speaker bass berukuran sangat besar yang diletakkan menempel langsung pada lantai kayu. Pemuda itu mematikan lampu utama ruangan, menyalakan lampu hias gantung yang temaram, lalu menepuk dadanya dua kali.
Anak-anak itu langsung mengikutinya. Mereka melepas alas kaki, menempelkan telapak kaki telanjang mereka ke lantai kayu, dan memejamkan mata.
Saat tombol Play di dekat speaker ditekan, aku tidak bisa mendengar lagunya secara utuh karena pendengaranku yang rusak. Tapi aku bisa merasakan getaran frekuensi rendah dari bass itu merambat pelan melalui lantai marmer tempatku duduk.
Di dalam ruang kaca, pemuda itu mulai bergerak. Ia tidak menari seperti penari profesional dengan koreografi rumit. Ia hanya menggerakkan tubuhnya mengikuti alunan getaran bass yang memantul dari lantai kayu. Tangan dan kakinya bergerak lepas, matanya terpejam dengan senyum yang tak pernah surut dari bibirnya.
Anak-anak di sekelilingnya mengikuti gerakannya. Mereka tertawa, melompat kecil, dan menari bersama dalam keheningan yang riuh. Tak ada satu pun dari mereka yang mengenakan alat bantu dengar. Tapi mereka... menari dengan sangat tepat pada ketukan.
Aku mematung di bangkuku. Jariku tanpa sadar meremas ujung bajuku sendiri.
Bagaimana mungkin? Bagaimana orang-orang yang tidak bisa mendengar suara bisa menari sebahagia itu? Di mana rasa frustrasi mereka? Di mana keputusasaan yang seharusnya memenuhi d**a orang-orang yang terisolasi dari suara?
Saat aku sedang hanyut memperhatikan pemuda itu, ia mendadak membuka matanya. Pandangannya lurus menerobos dinding kaca, tepat mendarat di mataku.
Ia berhenti menari. Tatapannya tidak mengandung rasa iba atau penasaran yang mengganggu. Ia hanya menatapku datar selama beberapa detik, sebelum akhirnya mengukir sebuah senyuman tipis ke arahku.
Ia lalu mengangkat tangan kanannya, mengepalkan jemarinya di dekat d**a, lalu membukanya perlahan ke arahku—sebuah gerakan bahasa isyarat yang tidak kuketahui artinya.
Aku tertegun. Bukannya membalas, aku justru dengan refleks mengalihkan pandangan dengan raut wajah defensif, berpura-pura menatap ke arah lain. Aku menolak disentuh oleh senyuman yang terlampau terang itu di tengah duniaku yang sedang padam.