Aku sengaja memilih sudut yang paling sepi di area teras belakang bangunan, jauh dari hiruk-pikuk anak-anak di dalam aula. Di sini hanya ada tiang-tiang kayu dan beberapa pot tanaman hijau yang tertata rapi.
Aku mengeluarkan dompet dari dalam tas, menarik kuitansi bekas, dan menyambar pulpen dari kantong bajuku. Dengan gerakan cepat dan penuh penekanan, aku mulai menuliskan bait-bait kalimat yang terus berputar di kepalaku sejak tadi.
[Dunia ini bisu.
Lagu-lagu mati di tenggorokan,
nada-nada membusuk di udara.
Aku terjebak dalam jaring keheningan yang kubuat sendiri.]
“Tulisanmu rapi, tapi isinya berat sekali.”
Sebuah bayangan jangkung mendadak menutupi kertas kuitansiku. Aku tersentak kaget dan refleks menutup kertas itu dengan telapak tanganku.
Saat aku mendongak, pemuda berkaus hitam dari ruang kaca tadi sudah berdiri di dekat tiang teras. Ia memegang dua cangkir kertas berisi teh hangat yang masih berasap.
Aku mengerutkan kening, memasang raut wajah paling tidak ramah yang kupunya. "Kamu ngomong apa? Aku gak bisa dengar," kataku dingin, sengaja mengeraskan suaraku agar terdengar tegas.
Pemuda itu tidak tampak terkejut. Ia justru tersenyum tipis—senyum yang sama seperti yang kulihat dari balik dinding kaca tadi. Ia meletakkan salah satu cangkir kertas di atas meja di depanku, lalu mengambil duduk di kursi kayu yang berseberangan denganku.
Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah papan tulis kecil berukuran A5 lengkap dengan spidol spidol yang tergantung di tali kur. Dengan gerakan tangan yang santai dan cepat, ia menuliskan beberapa kata di atasnya.
Ia membalik papan itu ke arahku.
[Namaku Arka. Cangkir yang itu teh manis hangat. Aman, tidak ada racunnya.]
Aku menatap tulisan tangan Arka yang tebal dan agak miring itu, lalu beralih menatap wajahnya. "Aku gak butuh teh," cetusku tajam, tanpa berniat menyentuh cangkir kertas tersebut. “Dan aku gak butuh diajak ngobrol.”
Arka memiringkan kepalanya sedikit. Ia tidak tersinggung. Ia justru meraih penghapus di ujung spidolnya, membersihkan papan tulis itu, lalu menulis kalimat baru.
[Gagang tas di sampingmu itu tempat menyimpan biola, kan? Kamu seorang musisi?]
Mataku membelalak pelan. Aku refleks menarik case biola hitam yang tersandar di samping kursiku agar lebih rapat ke badanku, seolah benda itu adalah barang curian yang hendak ia ambil.
"Bukan urusanmu," jawabku singkat dan bernada memusuhi. “Aku cuma orang yang kesasar di sini karena dipaksa Ibuku.”
Arka tidak langsung membalas. Ia menghirup teh hangatnya perlahan, matanya yang tajam menatap case biolaku dengan cermat, lalu beralih menatap wajahku. Kali ini, ekspresi jenakanya memudar, berganti dengan tatapan yang sangat tenang dan memahami.
Ia kembali menulis di papannya.
[Kemarahan di matamu itu... aku sangat mengenalnya. Itu bukan cuma marah karena terkejut. Itu kemarahan orang yang baru saja kehilangan hal paling berharga di hidupnya.]
Kalimat itu menghantam dadaku tepat di titik paling krusial. Napasku tertahan. Buku-buku jariku yang memegang pulpen bergetar tipis.
Bagaimana mungkin seorang asing yang baru kutemui lima menit lalu bisa membaca luka yang kurahasiakan rapat-rapat dari dunia?
"Tahu apa kamu soal kehilanganku?" suaraku meninggi, gemetar oleh emosi yang tiba-tiba meluap. “Kamu gak tahu rasanya jadi aku! Kamu gak tahu gimana rasanya saat impian terbesar dalam hidupmu dirampas begitu saja oleh hal yang gak bisa kamu kontrol!”
Aku berdiri dengan kasar hingga kursi kayuku berderit keras menabrak lantai teras. Aku menyambar case biolaku dan hendak melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Namun, Arka bergerak lebih cepat. Ia berdiri dan melangkah ke depanku, menghalangi jalan.
Ia tidak menyentuhku. Ia hanya mengangkat kedua tangannya di udara, memutar telapak tangannya terbuka ke arahku dalam gerakan yang pelan dan defensif—seolah meminta izin untuk memperlihatkan sesuatu.
Arka lalu menunjuk telinganya sendiri dengan jari telunjuk, menggeser jarinya ke arah bibir, lalu menggelengkan kepala sambil tersenyum lembut.
Ia meraih papan tulisnya kembali dan menuliskan satu kalimat dengan sangat hati-hati:
[Aku tidak tahu rasa sakitmu, dan aku tidak akan berpura-pura mengerti. Tapi aku tahu rasanya hidup dalam sunyi sejak lahir. Dunia ini tidak berakhir hanya karena suaranya hilang, Nadara.]
Aku membeku di tempat.
Ia tahu namaku dari mana? Ibu? Dan yang lebih membuatku bungkam adalah kenyataan yang baru saja disampaikan gerakan tangannya tadi—Arka tuli sejak lahir. Ia tidak pernah sekali pun mendengar merdu atau indahnya suara di dunia ini.
Sementara aku... aku pernah memilikinya selama dua puluh dua tahun, lalu meraung-raung seolah aku adalah makhluk paling malang di semesta ketika suara itu ditarik kembali.
Arka menyodorkan papan tulisnya padaku, memberikan spidol di tangannya. Ia menunggu di sana, berdiri tegak dalam keheningan yang tenang, siap mendengarkan apa pun yang ingin kutuliskan.