Suasana di dalam ruang kayu itu mendadak hening. Udara terasa lebih tebal, dipenuhi oleh kehangatan dari getaran instrumen yang baru saja mereda.
Aku masih memeluk biola itu di dadaku. Air mata yang sempat menetes di pipi kuseka cepat-cepat dengan punggung lengan. Aku merasa malu terlihat rapuh di depan lelaki yang baru saja kukenal beberapa jam lalu. Namun, Arka sama sekali tidak mengejek atau menghakimiku. Ia hanya mengamatiku dengan tatapan tenang yang sangat menyejukkan.
Arka meraih papan tulis kecilnya kembali. Ia menuliskan beberapa baris kalimat dengan spidolnya.
[Jangan ditahan. Kalau mau menangis, menangis saja. Dulu waktu pertama kali sadar kalau aku tidak bisa mendengar apa-apa, aku menangis semalaman di atas lantai.]
Aku menatap tulisan itu, lalu mengukir senyum tipis yang getir.
[Aku gak menangis karena sedih. Aku cuma... kaget. Aku gak pernah tahu biola rasanya sejelas ini kalau ditempelkan ke dada.] Aku menunjukkan kalimat yang telah kutulis di papan milik Arka.
Arka tersenyum. Ia menghapus papan itu dan menulis lagi. [Itu karena selama ini kamu cuma pakai telingamu. Telinga itu cuma pintu masuk. Musik yang sebenarnya dirasakan oleh seluruh tubuhmu.]
Arka kemudian menunjukkan gerakan tangan baru padaku. Ia mematikan lampu utama di dalam ruangan kayu itu melalui sakelar di dekat pintu, menyisakan satu lampu pijar kecil berwarna kuning temaram di sudut ruangan.
Ruangan itu mendadak remang, hampir gelap. Bayangan instrumen yang tergantung di dinding memanjang di atas lantai kayu.
Arka kembali duduk bersila di depanku. Dalam kegelapan yang tenang itu, mata cokelat pekatnya menatapku lurus. Ia mengisyaratkan padaku untuk memejamkan mata.
Aku ragu sejenak. Tanpa pendengaran yang berfungsi dengan baik dan tanpa penglihatan di dalam ruang remang ini, aku merasa seolah dilemparkan ke dalam ruang hampa udara. Namun, tatapan percaya diri dari Arka membuat keberanianku pelan-pelan terkumpul.
Aku memejamkan mata rapat-rapat.
Ruang kegelapan di balik kelopak mataku terasa sangat luas. Bunyi berdenging di dalam saraf telingaku masih ada, namun kali ini aku mencoba tidak memusatkan perhatian pada suara bising itu. Aku membiarkan tubuhku rileks, merosotkan bahuku yang tegang, dan meletakkan seluruh beban tubuhku di atas lantai kayu panggung.
Aku memposisikan biola kembali di bawah daguku. Jemari tangan kiriku menempel pada papan tekan, sementara tangan kananku memegang busur biola dengan mantap.
Aku mulai menarik busur.
Sreeek…
Nada pertama meluncur. Gelombang resonansi kayu biola langsung memukul tulang dagu dan dadaku. Aku tidak tahu apakah nada itu tepat pada nada G atau A. Aku tidak tahu apakah suaranya merdu di telinga orang lain. Tapi aku bisa merasakan jiwa dari nada itu bergetar hebat.
Aku menggerakkan jemariku, memainkan baris demi baris alur melodi yang kuhafal di luar kepala. Bukan komposisi rumit, melainkan sebuah melodi sederhana yang sering kumainkan saat masih kecil—sebuah lagu pengantar tidur yang diajarkan Ibuku.
Setiap kali busurku berpindah senar, lantai kayu di bawah paha dan telapak kakiku merespons dengan rambatan getaran yang berbeda. Aku bisa merasakan bagaimana ruang kayu kecil ini ikut bernyanyi bersamaku.
Di tengah-tengah permainanku, aku merasakan sebuah sentuhan lembut di bodi depan biolaku.
Aku tidak membuka mata, tapi aku tahu itu tangan Arka. Ia menempelkan ujung jemarinya di tepi kayu biola, ikut menyerap setiap nada yang kugesek lewat ujung kulitnya. Kehadirannya tidak mengganggu, justru menjadi semacam jangkar yang menahanku agar tidak hanyut dalam keputusasaan.
Ketika busurku menyelesaikan gesekan terakhir dan nada bergetar lambat hingga menghilang di dalam kayu, aku menarik napas panjang dan membuka mata perlahan.
Lampu pijar di sudut ruangan memantulkan binar kecil di mata Arka. Lelaki itu tidak bertepuk tangan. Ia tidak membuat gerakan heboh.
Arka hanya menatapku dengan tatapan penuh rasa kagum yang begitu jujur. Ia perlahan mengangkat kedua tangannya ke udara di dekat pelipisnya, lalu memutar telapak tangannya bolak-balik dalam gerakan yang lembut—isyarat tepuk tangan dalam bahasa tunarungu.
Ia lalu merogoh papan tulisnya, menuliskan satu kalimat singkat sebelum menyodorkannya tepat di depan wajahku,
[Selamat datang kembali, Musisi.]