Satu bulan kemudian, hidupku memiliki pola yang sangat baru.
Dunia akademiku di kampus dan impian audisi Eropa sudah kutinggalkan rapat-rapat. Pak Hendra sempat beberapa kali datang ke rumah untuk menanyakan alasanku mengundurkan diri, tapi Ibu membantu menjelaskannya secara perlahan. Keputusan itu tidak lagi terasa menyakitkan seperti sebelumnya. Ada rasa damai yang aneh saat aku akhirnya berhenti mengejar sesuatu yang memang sudah tidak bisa kugapai.
Setiap Selasa dan Kamis sore, aku akan berada di tempat yang sama—teras belakang Komunitas Sunyi.
--
“Salah. Jarimu terbalik.”
Arka memukul pelan punggung tanganku menggunakan ujung spidolnya. Ia lalu memasang wajah pura-pura galak, mengangkat kedua tangannya di depan d**a, dan membentuk gerakan jarinya kembali.
Ibu jari ditautkan dengan jari telunjuk, sementara tiga jari lainnya direntangkan ke atas.
"Ini huruf K, Nadara," kata Arka lewat gerak bibirnya yang sangat jelas dan teratur. “Bukan V. Jangan malas meluruskan jari.”
Aku mendesis pelan, lalu memperagakan kembali gerakan jari tangan kananku sesuai instruksinya. "Bisa santai sedikit tidak, Sih? Aku kan baru belajar BISINDO satu bulan!" cetusku, sengaja memiringkan bibirku agar ia bisa membaca gerak bibirku dengan jelas.
Arka tidak bisa mendengar suaranya, tapi ia sangat mahir membaca gerak bibir dan ekspresi wajah. Ia tertawa kecil tanpa suara—hanya bahunya yang naik-turun gembira—lalu meraih papan tulisnya yang setia.
[Kalau gerak jarimu salah, nanti artinya bisa beda jauh. Kamu mau bilang, Kita belajar atau Kita makan batu?]
Aku tertawa lebar membaca tulisannya. Sungguh, aku tidak pernah menyangka bahwa belajar bahasa baru yang tidak menggunakan suara bisa semenyenangkan ini.
Selama empat minggu terakhir, Arka mengajariku bahasa isyarat dasar dengan sangat sabar. Ia mengenalkanku pada abjad jari, Isyarat kata benda, hingga cara menyampaikan emosi melalui penekanan mimik wajah. Sebaliknya, aku mengajarinya istilah-istilah dasar dalam musik—seperti tempo, dinamika, dan legato.
Kami menemukan cara berkomunikasi yang sangat unik—sebuah kombinasi antara gerak bibir yang diperlambat, isyarat tangan, papan tulis kecil, dan getaran kayu.
"Coba ulang kalimat yang tadi," pintaku, menunjuk dadaku lalu menunjuk ke arahnya.
Arka tersenyum. Ia menurunkan papan tulisnya, menatap mataku, lalu mulai menggerakkan kedua tangannya dengan cekatan di udara.
Ia mengepalkan tangan kanannya di dekat d**a (Aku), lalu membentuk gerakan jari menyilang di depan wajah (Melihat), dan mengakhirinya dengan menggerakkan kedua telapak tangannya membentuk pola gelombang di udara—isyarat untuk (Musik).
(Aku melihat musikmu.)
Aku mengangguk pelan, memahami setiap jengkal gerakan tangannya tanpa perlu melihat papan tulis lagi.
Ada kepuasan tersendiri saat aku menyadari bahwa benteng keheningan yang dulu menakutkan, kini justru menjadi ruang pribadi yang sangat hangat bagi kami berdua.
"Pintar," puji Arka lewat gerak bibirnya. Ia lalu menepuk-nepuk pundakku bangga.
Namun, saat Arka menurunkan tangannya kembali ke meja, aku menyadari sesuatu. Gerakannya sedikit lambat dari biasanya. Napasnya terdengar agak berat, dan ada warna pucat yang samar di bibir serta sudut matanya.
Ia meraih cangkir tehnya, tapi tangannya sempat gemetar tipis sebelum akhirnya ia meneguk cairan hangat itu perlahan.
"Arka?" panggilku, memajukan badanku sedikit. “Kamu baik-baik saja? Wajahmu agak pucat hari ini.”
Arka tersentuh oleh pertanyaanku. Ia sempat terdiam selama dua detik, menatapku dengan binar mata yang sulit kuartikan, sebelum akhirnya ekspresi wajahnya kembali ceria seperti biasa.
Ia dengan cepat meraih papan tulisnya dan mengetikkan kalimat baru,
[Aku cuma agak kurang tidur karena kemarin memindahkan speaker heavy duty ke ruangan atas. Jangan khawatir, Musisi. Aku ini kuat.]
Ia bahkan sempat memamerkan otot bisep di lengan kanannya sambil tersenyum lebar, mencoba membuktikan ucapannya.
Aku menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah konyolnya, mendengus pelan namun lega. "Dasar pamer," gumamku.
Bagi diriku yang baru saja bangkit dari kegelapan, Arka adalah sosok yang begitu tangguh, hangat, dan selalu ada untuk menopangku.