Gala menggeleng tak percaya mendengar penuturan lelaki yang duduk dengan santai di hadapannya. Seolah permasalahan sedang menimpanya kali ini adalah keadaan yang wajar. Padahal ini menyangkut masa depannya. Usia Gala pun tak muda lagi. Ingin sekali mempunyai pendamping hidup. Ada yang membangunkan setiap pagi. Menyiapkan segala keperluan. Mulai makan sampai baju yang akan digunakan. Atau menemani setiap malam saat ia lembur mengerjakan banyak tugas kantor. Pria yang memakai kemeja biru itu sudah saatnya berumah tangga. Sama seperti kawan karib yang kini sibuk dengan majalah bisnis.
“Man ...” geram Gala sembari menatap tajam lelaki yang memakai kemeja putih tersebut, “tolong ...”
“Maaf,” sela Iman menaruh majalah di atas meja. Kini kedua bola mata menatap lembut ke arah kakak iparnya. Bagaimana pun Gala adalah kakak dari istrinya. Meskipun mereka bersahabat dan juga menjalin kerja sama. Namun ia tak bisa berbuat banyak bila itu semua kehendak bidadari surganya. “Aku nggak bisa bantu,”
“Setidaknya kamu coba bicara sama Aya ...”
“Itu sama saja dengan bunuh diri!” serga Iman menggeleng. Dirinya sudah pernah menyinggung masalah ini. Yang ada sang istri mendiamkannya dan menyuruh tidur di kamar lain. Tentu saja itu sangat menyiksa lelaki yang kini tunduk dengan ucapan Aya. Perempuan mungil yang membuatnya merasa bahagia setiap hari. “Kamu saja yang bilang,”
Gala membuang napas dalam, “Kalau bisa buat apa aku minta bantuanmu!”
Iman meringis. Sangat tahu betul kegalaun sang kawan. Dirinya pun tak bisa berbuat banyak. Aya sulit sekali ditakhlukan. Apalagi mengenai keinginanya. Bisa dipastikan perempuan itu harus mendapatkan apapun yang terjadi. Egois memang. Namun sangat menggemaskan dalam pandangan Iman.
“Sudah perempuan kelima yang ditolaknya,” keluh Gala menyandarkan tubuhnya pada sofa. Membuang napas dalam sembari bersendekap. Tak tahu harus berbuat apa lagi dalam menangani sang adik yang tak kunjung memberikan restu. “Sebenarnya yang akan menikah itu siapa, sih?”
Iman mengedikkan bahu tak tahu. Lelaki itu pun tak mengerti kenapa sang istri selalu tak suka dengan perempuan yang dikenalkan Gala. Selalu saja ada alasan yang membuatnya menggelengkan kepala. Dan menggerutkan kening Gala. Berkilah dengan perkataan ambigu. Yang membuat kedua lelaki itu bingung menebak apa keinginan Aya.
“Padahal mereka semua dari kalangan atas,” Gala tak habis pikir dengan adik semata wayang yang masih tak setuju dengan gadis pilihanya. Haruskan ia melajang sampai usia tiga puluh tahun. “Aku harus gimana coba?”
“Memang yang terakhir siapa?” tanya Iman penasaran. Sebab sang istri tak membicarakan apapun tentang calon yang dikenalkan oleh Gala. “Katanya seorang artis?”
Gala mengangguk, “Salah satu ambasador perusahaan ...”
“Luvena?” tebak Iman. Setahunya hanya perempuan itu yang menarik perhatian Gala ketika pertama kali bertemu. Mereka pun sering membicarakan pekerjaan bersama. Sedikit banyaknya Iman tahu gesture tubuh sang kawan saat bertemu dengan artis pendatang baru tersebut. “Yakin ...”
“Kenapa?”
Iman membuang napas dalam. Pantas saja sang istri kala itu datang dengan wajah menahan amarah. “Kamu tahu kalau Aya nggak suka dengan artis ...”
“Itu semua tak ada hubungannya dengan Luve, Man!” Gala bangkit dari duduknya. Berjalan ke arah jendela yang memperlihatkan langit mulai gelap. Tanpa terasa mereka menghabiskan sore bersama dengan pembicaraan yang tak ada ujungnya. “Apa salahnya kalau dia artis? Bahkan Iska yang seorang dokter saja ditolak sama Aya. Terus ada masalah apa dengan Luve. Ini semua semakin tak masuk akal!”
Lelaki berkemeja putih itu mengangguk mengerti. Aya memang sulit ditebak. Bahkan selama menjadi suaminya saja berulang kali ia merasa heran dengan pemikiran sang istri. Kadang terasa absurd. Tak jelas untuk dideskripsikan. Akan tetapi, ada kalanya yang diucapkan Aya ada benarnya juga. Jadi ia tak tahu harus melakukan apa untuk mengubah cara pandang kekasih halalnya tersebut.
Begitu pula dengan Gala. Lelaki itu bingung. Bagaimana caranya agar Aya setuju dengan perempuan yang akan menjadi istrinya. Sudah lima wanita yang ia kenalkan. Dan semuanya ditolak begitu saja. Tentu saja itu membuatnya pusing tujuh keliling. Mana lagi usianya mau menginjak tiga puluh tahun. Haruskah ia menjomblo seumur hidup.
“Kamu udah pernah tanya nggak?”
Gala membalikkan tubuh, “Tanya apaan?”
“Kriteria yang diinginkan oleh Aya?” Sejak lama Iman ingin tahu masalah itu. Tanya kepada Aya pun tak ada jawaban sama sekali. Malahan wanita itu sekarang sudah pintar mengalihkan perhatian. Dan membuatnya mabuk kepayang dalam sewaktu-waktu. Entah belajar dari mana. Yang pasti, istri kecilnya sudah mulai berani. “Kamu tahu?”
Gala menggeleng. Mengingat kembali apa yang pernah dikatakan sang adik. Akan tetapi memorinya sama sekali tak menemukan apapun. Yang ada hanya ungkapan tak setuju dengan semua calon yang pernah ia kenalkan. Dan sampai sekarang pun tak dapat menemukan maksud tersembunyi dari semua perilaku Aya.
“Lah ...”
“Kamu sendiri, tahu?” tanya Gala balik. Bisa dipastikan lelaki itu juga tak tahu. Bahkan san kawan kini menjadi suami-suami takut istri. Entah apa yang dilakukan Aya sehingga membuat sosok Jaiman Praman berubah seratus delapan puluh derajat. “Nggak, ‘kan?”
Iman tak dapat berkata apa lagi. Memang dirinya tak tahu apa-apa. Aya terlalu misterius. Namun ia sangat mencintainya.
“Terus aku harus bagiamana?” Gala benar-benar kehabisan ide dalam menangani sang adik. “Kamu nggak bisa bicara dengannya gitu?”
Ini sangat berat bagi Iman. Lelaki itu tak ingin membuat sang istri marah tak jelas. Yang rugi pasti dirinya. Sudah tak mendapatkan jatah dan harus tidur di luar. Itu sangat menyiksa lahir maupun batinnya.
“Nggak mau ...”
“Bukan begitu,” Iman tak tahu harus membuat alasan apa lagi untuk menolak permintaan sang kawan. Bagaimana pun ini menyangkut rumah tangganya juga. Dan ia tak ingin mempertarukan itu semua dengan sebuah jawaban yang belum tentu didapatkan. “Kamu tahu sendiri, ‘kan?”
Gala tak mungkin lupa dengan kejadian beberapa waktu yang lalu. Saat pertama kali dirinya meminta tolong pada sang kawan yang berakhir dengan ceramah cukup panjang. Namun tak ada cara lain. Hanya pada Jaiman ia meminta tolong. Setidaknya sang adik akan mau terbuka dan bicara pada suaminya sendiri.
“Perempuan yang pertama kali kamu kenalkan siapa namanya?”
Gala mengernyit heran, “Kenapa?”
“Ya mungkin saja bisa menarik kesimpulan dari kelima wanita yang pernah kamu kenalkan dengan Aya,” jawab Iman yang masih ragu. Namun itu adalah salah satu cara yang bisa mereka coba. Setidaknya penolakan Aya akan mengarah pada kriteria yang diinginkan untuk sang kakak. “Siapa tahu dari itu semua kita tahu calon yang diharapkan oleh Aya,”
Gala mengangguk setuju. Berjalan mendakati Iman. Memilih duduk pada tempat semula. Dan mereka memulai mengingat satu-satu nama yang pernah dikenalkan kepada Alayya Ishan, adik semata wayangnya yang menentukan nasib percintaan seorang Manggala Ishan.
***