Yang pertama, Kalei Rosaline yang berprofesi sebagai model. Berkenalan saat acara makan malam perusahaan. Pertemuan tanpa sengaja itu membuat mereka menjadi dekat satu sama lain.
Di rasa sangat cocok, Gala mencoba memperkenalkan pada sang adik. Lelaki itu yakin, Lei akan cepat akrab dengan Aya. Karena pribadi Kalei yang bisa membaur dengan banyak orang. Serta keramah tamahan yang membuat Gala jatuh hati pada pesona model cantik tersebut.
Gala sangat yakin, Aya akan suka dengan wanita tersebut. Akan tetapi yang terjadi justru di luar pikiran lelaki yang suka dengan warna gelap itu. Adiknya sama sekali tak merespon Kalei. Malah terlihat risih dengan wanita yang kala itu memakai drees sabrina di atas lutut. Terlihat sangat cantik dan juga sexy.
“Itu dia!” seru Iman tiba-tiba saja menghentikan cerita sang kawan. Mengangkat sbeelah alis. Menandakan ia mendapatkan satu hal yang bisa dijadikan poin pertama.
“Apa?”
“Sexy ...”
Gala mengernyit, “Hubungannya apa?”
Iman membuang napas dalam. Pantas saja adiknya nggak pernah setuju. Kalau semua perempuan yang dikenalakan kepada Aya memiliki ciri yang sama. Yaitu sexy. Ia masih ingat wanita kedua setelah hubungan Gala dengan Kalei kandas begitu saja. Namanya Ziye, seorang pengusaha seperti mereka. Namun cara berpakaian sangat terbuka. Malah lebih parah dari pada Lei. Dan tentu saja Aya semakin tak suka.
“Memang nggak ada perempuan yang baik-baik lagi ta, Kak?” keluh Aya yang kala itu selesai bertemu dengan Ziye, “tambah parah dari pada model gila itu!”
“Dia punya nama, Aya ...”
“Tetep saja!” Aya masih pada pendirian tak ingin menyebut nama Kalei, “ini tambah parah,”
Gala menggeleng tak percaya, “Sekarang apa lagi?”
Lelaki itu bukannya tak mau mempertahankan Kalei waktu itu. Namun wanita tersbeut pergi begitu saja karena sifat Aya yang selalu bermusuhan ketika bertemu. Dan membuat hubungan mereka berakhir sepihak.
Butuh waktu setahun lebih untuknya menemukan pengganti Lei. Berharap kali ini Aya setuju. Akan tetapi tetap sama saja. Sang adik tak menurunkan restu untuknya. Malah semakin meradang saat bertemu dengan Ziye.
“Man ...”
“Kamu masih ingat cara berpakaian Ziye?” tanya Iman yang mendapatkan anggukan, “menurutku sangat terbuka dan liar,”
Gala terdiam sejenak. Mencerna kembali semua yang telah terjadi. Membongkar setiap kenangan yang berlalu di makan waktu. Setiap peristiwa yang sudah terlewati begitu saja. Ia baru teringat. Kenapa tak terpikirkan sebelumnya.
Kedua matanya berbinar. Emnatap sang kawan dengan senyuman indah. “Benar juga ...”
“Tapi,” Iman teringat sama Iska. Dokter yang merebut perasaan sang kawan dari desainer ternama. “Bukannya pakaian Iska tertutup, ya? Jarang pakai yang ketat juga,”
Gala mengacak rambut asal. Kepalanya terasa pecah setelah mengingat hal tersebut. “Tapi Aya juga tak suka ...”
“Karena dia gila,” sela Iman sembari menyandarkan tubuhnya di sofa. Melirik reaksi kawan yang terlihat biasa saja. “Bukankah dia penyebab hubunganmu dengan Ura kandas?”
Gala tak bisa mengelak. Meskipun Aya tak suka dengan Ura. Namun sang adik tak menunjukkan ketidak sukaannya seperti kedua mantannya yang lalu. Cenderung memberi lampu kuning. Antara setuju dan tidak. Masih bisa dinego tipis. Yang akan membuat adiknya setuju. Akan tetapi, gala sendiri yang menghancurkan itu semua. Lelaki itu terpikat oleh kecantikan dokter gigi yang beberapa hari ini sering ia datangi.
Aya yang mengetahui hal itu sangat marah besar. Mencaci maki sang kakak yang telihat bodoh. Bagaimana bisa menyakiti hati seorang perempuan yang tulus mencintai dan memilih orang baru saja masuk dalam kehidupannya. Padahal dirinya hendak saja menyalakan lampu hijau hubungan Gala dengan Ura, desainer kebanggaannya. Namun sang kakak malah membuat masalah dengan jatuh hati pada perempuan lain.
“Itu kan salahmu,” ujar Iman yang sedikit kesal dengan kelakuan sahabatnya. Bagaimana bis terjerat pesona dokter cantik dan mengabaikan Ura. Tentu saja itu membuat Aya meradang. Dan menyebabkan istri mungilnya marah beberapa hari. “Bisa-bisanya ...”
“Iya, aku tahu itu,” sela Gala membuang napas dalam. “Tapi Ura juga salah,”
“Kok bisa?”
“Kerena perempuan itu lebih mementingkan desain baju dari pada menemaniku,” keluh Gala yang dusah menyandarkan kepalanya.
Iman yang mendengar alasan itu hanya menggeleng pelan. Sudah tahu watak sang kawan yang memiliki gengsi selangit. “Tapi tetap saja, kamu juga ikut andil dalam hal ini.”
Gala tak bisa mengelak. Dirinya juga yang gampang terpengaruh oleh orang lain. apalagi saat itu ia merasa kesepian. Dengan kedatangan Iska laksana menemukan jarum pada tumpukan jemari. Menjadi penyegar di kala kehausan. Kehadiran dokter cantik itu membawa warna lian dalam hubungan Gala dan juga Ura. Namun, ia tak bisa menyalahkan semua ini kepada Ura semata. Sebab pada saat itu seharusnya Gala lebih bisa memperhatikan Ura yang sibuk dalam fashion show. Bukan malah menjalin hubungan dengan perempuan lain.
“Terus sekarang bagaimana?”
Iman menggedikan bahu, “Menurutmu?”
Manggala pun mengggeleng tak tahu. Yang pasti ia baru menyadari kalau sang adik tak suka dengan wanita yang sedikit terbuka. Dan juga sangat menjujung tinggi kesetiaan.
“Apa Aya punya calon buatmu?”
Gala melotot sempurna mendengar pertanyaan tersebut. Tak mungkin si adik akan menjodohkannya, ‘kan. Akan tetapi kalau itu sampai terjadi. Tamatlah riwayatnya kali ini. Sebab tak akan ada cara untuk menghentikan niat tersebut. “Nggak, mungkin ...”
“Bisa jadi,” sahut Iman yang terkesan biasa saja, “denger-denger sahabatnya telah kembali,”
Manggala menggeleng dengan cepat. Tak mungkin sang adik menjodohkan dirinya dengan perempuan itu. Bisa hancur hidupnya bila bersama wanita gila buku tersebut. Sedikit banyak Gala mengenal sahabat sang adik. Dan sangat jauh dari kriteria yang diinginkannya. “Aya nggak berniat menjodohkan aku, ‘kan?”
“Ya, barang kali,” jawab Iman ambigu, “sama sepertimu yang menjodohkan aku dengan Aya.”
“Itu masalah lain,” Gala tak terima bila disamaratakan. Tentu saja ini masalah berbeda. Tak ada kaitannya. “Kalian dulu kan saling cinta ...”
“Dan itu karena kamu,” Iman masih ingat saat sang kawan mengenalkannya pada sosok perempuan yang kini telah resmi menjadi istrinya. Padahal waktu itu ia sedang terpuruk. Karena kekasih hatinya yang dulu pergi meninggalkan kisah mereka. Ia patah hati. Bukannya menghibur, Gala malah memperkenalkan adiknya. Dan menyuruh Iman untuk mengawasi dan menjaga. Sedangkan lelaki itu malah pergi ke luar negeri dengan alasan urusan bisnis.
Waktu yang mereka habiskan bersama membuat benih cinta itu tumbuh. Dan entah sejak kapan Iman sudah jatuh pada pesoan Aya. Perempuan yang lugu dan polos mampu mengubah hidupnya yang tak beraturan. Menjadikannya lelaki yang bertanggung jawab dan tak mempermainkan perempuan lagi.
“Tapi pada akhirnya kalian memilih bersama, bukan?” Gala mengelak, “dan tentu saja itu berbeda dengan perjodohan,”
“Terserah kamu saja, deh,” Iman bangkit. Sudah waktunya ia kembali pada rumah. “Aku balik dulu.”
Gala mengangguk. Membiar sang kawan untuk pamit lebih dahulu. Bisa dipastikan adiknya sudah menunggu. Sedangkan dirinya pun mulai bangkit. Bukan untuk pulang. Namun melanjutkan beberapa pekerjaan yang tertunda.