“Aya!” Lelaki itu langsung masuk ke rumah yang kebetulan tak dikunci. Berlari menuju dapur mencari sang adik. Sedari tadi ia berteriak-teriak memanggil nama Aya, namun tak ada jawaban sama sekali. Ingin sekali mengumpat sang kawan. Bisa-bisanya rumah sebesar ini tak ada pembantu sama sekali. Bahkan satpam pun tidak punya. Bila terjaid sesuatu sama adik tercintanya awas saja. “Alayya! Kamu di mana!”
Gala menggila. Dua puluh lima menit yang lalu ia menerima pesan singkat dari adiknya yang meminta tolong dalam keadaan darurat. Tak peduli saat itu ia sedang rapat penting. Lelaki itu langsung tancap. Padahal membutuhkan waktu kurang lebih empat puluh menit dari perusahaan untuk ke rumah sang adik. Namun ia hanya menempuh dalam waktu yang relatif lebih singkat.
Lelaki itu mengumpat. Menyumpah serapahi Iman pas pulang dari dinas luar kotanya. Bisa-bisa membeli rumah di area padat penduduk seperti ini. Tidak memilih perumahan atau apartemen dengan tingkat keamanan yang tinggi. Padahal ia yakin, Jaiman mampu membeli rumah mewah dan menyewa beberapa orang untuk berjaga-jaga. Kalau seperti ini, ia akan menyuruh beberapa orang untuk mengawasi sang adik.
Langkah Gala menuju lantai dua. Letak kamar Aya dan juga Iman. Rumah ini tak terlalu besar. Namun kenapa ia masih belum menemukan sang adik. Awas saja kalau terjadi apa-apa dengan Alayya. Ia tak akan tinggal diam.
“Ay ...”
“Berisik!” Aya keluar dari kamar mandinya. Mendapati sang kakak yang sedang membuka pintu kamar. Perempuan itu menatap lelaki itu tajam. Bisa-bisanya teriak di rumahnya. Nanti kalau para tetangga bisa dengar bagiamana. Lagian mereka bukan tinggal di perumahan. Melainkan sebuah kampung biasa. “Ada apa, Kak?”
Menaggala langsung belari menuju sang adik. Memegang pundaknya dan memutar tubuh peremuan itu. “Mana yang sakit?”
“Siapa yang sakit?” tanya Aya balik setelah melepaskan diri dari sang kakak. Menatap lelaki itu bingung. “Kenapa ...”
“Pesan yang kamu kirim ...”
“Ohh, itu,” sela Aya yang duduk di kursi meja rias. Merasa tak berdosa sama sekali. Lagian sang kakak kenapa begitu heboh saat membaca pesannya. Padahal ia hanya ingin minta tolong saja. “Kakak mau bantuin aku, ‘kan?”
Gala membuang napas dalam. Menekan emosi yang siap meledak kapan saja. Sedari tadi ia mengebut di jalanan dan meninggalkan rapat karena hal yang sangat sepele. Bahkan adiknya baik-baik saja. Tak ada yang kurang sedikit pun. Tahu gitu kenapa ia khawatir yang berlebihan. Namun itu tak bisa diabaikannya begitu saja. Semenjak kedua orang tua mereka. Aya adalah keluarga satu-satunya. Dan tentu saja ia tak ingin kejadian buruk menimpa sang adik.
“Kakak ...”
“Apa?” Setiap melihat bola mata Aya dengan sarat permohonan selalu bisa meluluhkan hatinya. Lelaki itu sangat menyanyangi sang adik. “Jangan aneh-aneh ...”
“Nggak, kok!” sela aya cepat. Perempuan itu mengambil ponsel. Mengirimkan sebuah kontak pada sang kakak. “Tolong jemput di stasiun ...”
“Apa-apaan ...”
“Kakak ...” Kedua bola mata Aya sudah berkaca-kaca. Perempuan itu tak bisa mendengar nada tinggi yang keluar dari mulut Gala. Sebab lelaki itu selalu bertutur lemah lembut. Bahkan selalu mengiyakan semua keingananya.
Manggala mengusap wajah kasar. Tanpa banyak bicara lelaki itu langsung memeluk tubuh sang adik. Mendekapnya penuh dengan kasih sayang. “Maafkan Kakak, yaa ...”
“Asal Kakak mau menjemputnya,”
Lelaki itu tak bisa berkutik lagi. Dari pada nanti Aya menangis tak karuhan. Mending mengikuti semua kemauan perempuan itu. “Memangnya menjemput siapa?”
Aya tersenyum penuh kemenangan. Ini yang selalu di sukai dari sang kakak. Tak akan menolak sedikit pun permintaannya. “Sela ...”
“Apa?” Gala langsung menggeleng. Nama itu sangat familiar bagi lelaki tersebut. Sahabat sang adik yang mempunyai gaya aneh. Dengan pakaian yang tertutup bahkan berlapis-lapis. Dan tak lupa kaca mata besar bersandar dihidung cewek tersebut. “Biar sopir perusahaan saja yang ...”
“Nggak mau!” tolak Aya dengan mengerucutkan bibir. Perempuan itu ingin kakaknya sendiri yang berangkat. Lagian sudah lama juga nggak bertemu Sela. Sang kawan memilih melanjutkan kuliah ke kota lain. jadi ia sangat rindu dan ingin bertemu. Saat mendengar kalau Gisela telah pulang kembali. Tentu saja ia berjanji akan menjeput. Berhubung Aya mau masah. Jadi tak ada salahnya bila meminta tolong kepada sang kakak. “Ayolah, Kak.”
Manggala mengacak rambutnya. Sungguh ia tak ingin menemui perempuan kutu buku tersebut. Semua yang dibicarakan selalu tentang buku. Entah itu novel, sastra ataupun psikologi. Sebab ia tak mengerti apa yang diucapkannya. Dan pada akhirnya memilih diam. Sungguh ia benci dalam suasana canggung.
Belum lagi tampilannya yang menurut Gala sangat tak modis. Tidak seperti perempuan pada lainnya yang mementingkan tampilan luar. Gadis itu terlalu cuek. Bahkan tak peduli bila yang digunakan tabrtak warna. Alasannya selalu sama. Asal ambil. Belum lagi rambut yang selalu dikucir dua. Membuatnya terlihat seperti gadis desa. Dan tak lupa kacamata bsaer yang membuatnya culun. Kalau bisa, lelaki itu ingin mengubah penampilan dari Gisela biar enak dipandang.
“Kak ...”
Gala membuang napas dalam, “Kenapa harus Kakak?”
“Karena aku sudah janji menjeputnya,” jawab Aya sembari membalas pesan dari suaminya. “Lagian beberapa hari Sela akan menginap di sini selama Mas Iman pergi,”
“Kok?”
“Dari pada aku di rumah sendirian,” sela Aya meletakan ponsel. Kini perempuan itu menatap penuh harap. “Mau, ya ...”
“Sama kamu tapi, ‘kan?”
Aya menggeleng, “Aku mau masak sekalian beresin rumah.”
Manggala mengerjap pelan. Kali ini dirinya memang dibuat susah oleh sang adik. Bagaimana bisa kakaknya yang tampan serta kaya ini harus menjemput perempuan yang menurutnya seperti itik buruk rupa.
Ingin sekali lelaki itu menolak. Tentu saja hal tersebut akan membuat sang adik marah-marah tak jelas. Dan akan berakibat fatal bila perempuan itu mengambek. Sebab sulit sekali membuat Alayya tersenyum kembali.
“Mau, ‘kan?”
Gala membuang napas lelah, “Apa Kakak boleh menolak?”
Tentu saja gelengan tegas yang Aya berikan. Perempuan itu menatap tajam. Seolah berkata, awas saja kalau tidak mau. Ia akan marah besar. Dan mungkin bisa mendiamkan lelaki tersebut.
“Baiklah.” Akhirnya Gala mengalah. Lelaki itu mengikuti semua kemauan sang adik. Dari pada perempuan itu marah-marah tak jelas. Yang akan membuatnya kepala pusing tujuh keliling.
“Makasih, Kakak!”
Manggala tak ada pilihan lain. Dengan langkah malas ia keluar dari rumah sang adik. Nggak enaknya kalau di siniu mobil harus pakir depan. Sedari tadi banyak yang melihatnya. Biasanya lelaki itu ke sini pakai sepeda motor. Bukan mobil mewah yang mencuri banyak perhatian.
Mau bagaimana lagi. Gara-gara pesan singkat yang dikirim sang adik. Membuat lelaki yang memiliki kedudukan tinggi di perusahaan itu kehilangan pikiran. Memilih langsung menuju ke kediaman Aya.