Manggala membuang napas dalam. Lelaki itu menatap kembali ponselnya. Di layar tertera sebuah pesan dari seseorang yang mengatakan akan menunggu di café tak jauh dari pintu kedatangan. Dan dirinya hanya membaca saja tanpa perlu membalas. Karena pria tersebut tak tahu harus berkata apa lagi. Butuh keberanian untuk menemui perempuan tersebut. Setidaknya ia harus menyiapkan mental terlebih dahulu.
Padahal tadi ia sudah bersusah payah untuk membujuk adiknya.
"Biar supir yang jemput, ya!" pinta Gala dengan nada merayu, "Kakak ada rapat ..."
"Penting rapat apa aku?"
Manggala membuang napas dalam. Tentu saja adiknya nomer satu dari semua kesibukan lelaki itu. Namun, kalau ada orang lain yang bisa menjemput. Kenapa harus dirinya. Itu sama saja dengan menyusahkan diri sendiri.
"Kak ..."
"Baiklah!"
Kalau seperti ini, seharusnya ia menyuruh supir untuk menjemput. Bila pada akhirnya membiarkan perempuan itu menunggu. Akan tetapi, lelaki itu takut bila adiknya marah. Tahu sediri kalau Aya dalam mode galak tak bisa diganggu gugat. Dan tentu saja itu akan berimbas pada Iman. Lalu sang kawan akan memakinya dengan sadis.
Ah, ini benar-benar menyebalkan. Mengapa harus dirinya coba.
Gala mengacak rambut asal. Lelaki itu bimbang mau turun apa menyuruh Sela datang menghampiri. Jujur saja ia masih belum bisa bertemu kembali setelah peristiwa itu. Dan mungkin ini adalah waktu pertama kali mereka bertemu setalah kejadian tersebut.Dan tentu saja semua pasti terasa aneh dan akward.
Akan tetapi pada akhirnya lelaki itu memilih turun. Bejalan ke arah café yang dikatakan oleh Sela. Karena ia tak ingin mengambil resiko bila sang adik akan marah. Maka dengan berat hati Gala menghampiri.
Lelaki itu menoleh ke sekitar tak menemukan keberadaan perempuan tersebut. Sedikit kesal karena sudah berjalan jauh namun tak melihat keberadaan Gisela. Dengan mood yang berantakan Gala mengambil ponsel dari saku dan ingin menghubungi kawan dari adiknya tersebut.
Belum juga ia melakukan panggilan, punggungnya terasa ada yang menepuk. Seketika Gala membalikkan tubuh dan mengernyit melihat perempuan yang berdiri di belakang.
“Kak Gala?”
Manggala mengerjap pelan. Lelaki itu melihat dari atas sampai bawah. “Kamu …”
“Sela, Kak,” ujar perempuan itu membuat Gala membelalakkan mata tak percaya, “Gisela.”
Lelaki tersebut mengernyit heran. Masih belum percaya di hadapannya adalah Sela yang dikenal. Karena perempuan itu memakai jumpsuit biru yang dipadukan dengan jaket demin. Dan tak lupa sepatu convers putih sebagai alas kaki. Belum lagi wajah yang terllihat segar dan tunggu … gadis tersebut memakai lensa, bukan kaca mata seperti biasanya. Tentu saja itu membuatnya terlihat sangat berbeda.
“Kak …”
Manggala membuang napas dalam, “Iya?”
“Maaf, tadi …”
“Ayo!” Gala memberi isyarat untuk mengikutinya pergi.
Dan perempuan itu hanya mengangguk. Untung saja barang bawaannya tidak banyak. Karena beberapa barang sudah dikirim terlebih dahulu. Dan kini ia hanya memakai tas ransel yang berisi kebutuhan pribadi untuk menginap di rumah Aya.
Ingin rasanya cepat bertemu dengan Aya. Karena ia merasa tertekan berada di samping Gala. Kenapa juga kawannya menyuruh lelaki itu untuk menjemput. Lagian ia bisa saja ke sana sendirian. Tak perlu juga ada yang mendatanginya. Terutama pria tersebut.
Di mana terkahir kali bertemu mereka dalam keadaan yang tak baik-baik saja. Ada perdebatan yang membuatnya tertampar oleh keadaan. Dan sejak itu mereka saling menjauh satu sama lain. Padahal mereka dulu sempat dekat sebagai teman.
Sela membuang napas dalam. Entah mengapa perjalanan kali ini terasa sangat menyiksa. Di mana lelaki itu terlihat sangat tampan dan juga berwibawa. Pasti banyak perempuan yang mendekati. Atau mungkin sudah mempunyai calon istri. Dan tentu saja dirinya harus sadar diri. Tidak boleh berharap lebih. Karena itu akan membuatnya jatuh pada jurang kesedihan. Bila yang diinginkan tidak akan pernah tercapai.
Bagai pondok yang merindukan bulan. Seperti air dan minyak. Mereka tak akan bisa bersatu. dan Bersanding pun tidak memungkinkan. Karena perbedaan yang sangat kontras. Terlebih lagi, dari status sosial. Siapa yang mau dengan dirinya yang hidup sebatang kara. Dan lagi pekerjaannya yang menurut orang lain tidak bisa menghasilkan apapun.
Banyak orang memandang remeh seorang penulis. Yang konon katanya tidak bisa menghasilkan apapun. Hidupnya cuma diisi oleh imajinasi samata. Mengahalu dengan pikirannya sendiri. Namun, dibalik itu semua. Butuh perjuangan besar untuk bisa menghasilkan satu karya.
Belum tentu mereka yang menghujat bisa membuat sebuah cerita bagus dan diminati banyak orang. Karena mengkhayal pun butuh pemikiran yang memutar otak. Tidak segampang membalikan telapak tangan. Apalagi saat tak tahu apa yang akan ditulis. Adegan apa yang tercipta. Ditambah lagi tuntutan waktu yang harus segera diselesaikan. Semua itu butuh perjuangan yang besar. Di mana semua kesuksesan yang terjadi, tergantung dengan seberapa besar usaha dilakukan.
Sela menggeleng pelan. Tak ingin memikirkan apapun untuk kali ini. Lagian kepulangannya bukan untuk mengejar lelaki itu kembali. Sudah cukup ia berada di kota lain. Kini, saatnya ia menata hidupnya kembali. Pelariannya selama ini hanya sebagai kedok untuk menyembuhkan hatinya yang sedang terluka. Dan kini, ia sudah bisa berdamai dengan masa lalu. Luka ini sudah tertutup sempurna. Meskipun masih membekas. Setidaknya ia sudah baik-baik saja.
Sedari tadi, Gala melirik ke arah perempuan itu. Mereka jalan dengan diam. Berbagai macam pikiran berkecamuk dalam benaknya. Ingin rasanya memulai pembicaraan. Namun ia tak tahu harus diawali dari mana. Terlebih lagi penampilan Sela kali ini sangat berbeda dengan terakhir mereka bertemu.
Yang dilihat pertama kali oleh lelaki adalah tampang. Cantik atau biasa saja. Dan sekarang, Gisela memiliki daya tarik sendiri. Apalagi sedari tadi banyak yang mencuri pandangan ke arah perempuan tersebut. Dan itu sedikit membuatnya merasa kesal.
“Kak …”
Gala menoleh, “Iya?”
“Makasih sudah mau menjemput.”
Manggala hanya bisa mengangguk. Lelaki itu terlalu canggung untuk berbicara dengan perempuan tersebut. Terlebih lagi penampilannya kali ini terlihat sangat dewasa dan juga cantik. Berbeda sekali dengan Gisela yang dikenalnya. Dan kini ia sama sekali tak bisa berpaling dari perempuan tersebut.
“Kak …”
“Iya?”
“Bisa tidak hubungan kita seperti dulu lagi?”
Gala terdiam. Lelaki itu tak tahu harus bereaksi seperti apa. Mengingat dulu perkataannya sangat kasar. Dan mungkin akan membekas untuk perempuannya itu. “Maaf …”
“Maafkan aku yang dulu berani mengatakannya,” Sela menyela sembari memandang lelaki tersebut. Tersenyum lembut seperti biasa. “Bisakah kita berteman lagi? Dan melupakan apa yang telah aku ucapkan di masa lalu?”
Manggala hanya bisa mengangguk. Lelaki itu tak tahu harus bereaksi seperti apa. Karena kali ini Sela sangat berbeda dari biasanya. Dan itu membuatnya tak tahu harus berbuat apa.
Seharusnya dari awal ia tak memandang fisik. Karena ketulusan lebih penting dari segalanya. Dan ia sekarang mengerti. Kenapa tidak boleh menilai seseorang dari tampilannya. Terkadang bisa menipu dan juga membohongi. Namun, tidak dengan hati dan perasaan yang jujur. Sebab itulah yang beradal dari dalam diri.
Pada akhinya hanya keheningan yang tercipta. Mereka memilih tak bicara dan melanjutkan perjalanan. Karena tak ingin mengungkit masa lalu yang belum selesai. Dan tentu saja itu sama saja membuka luka lama mereka berdua.