Lelaki yang memakai hem putih tersebut sama sekali tak bisa focus dengan beberapa dokumen di depannya. Pikiran Gala melalang buana entah ke mana. Padahal banyak sekali bekas yang harus dibereskan. Dan berulang kali seketarisnya mengingatkan untuk segera menyelesaikan. Namun, entah mengapa dirinya sama sekali tak bisa bekerja. Otaknya terasa buntu dan kosong.
Kalau seperti ini benar-benar membutuhkan udara segar atau nggak segelas kopi. Karena percuma saja bila dilanjutkan tak ada hasilnya. Yang ada semua malah kacau balau. Tak ada pekerjaan yang benar. Dan tentu saja itu membuat tugasnya semakin bertambah.
Manggala memilih bangkit dari tempat duduknya. Tanpa perlu repot-repot mengambil jas, lelaki itu berjalan keluar. Ia membutuhkan cafein. Dan mungkin mendatangi Ura mantannya yang desenair akan lebih baik. Karena mereka masih berhubungan sampai saat ini. Bahkan perempuan itu menjadi sahabat adiknya. Dan kemungkinan dalam waktu dekat akan melangsungkan pernikahan. Lalu, dirinya kapan. Ah, memang kalau berurusan jodoh dan restu Aya membuatnya memilih mengundurkan diri.
Tak lupa lelaki itu untuk mampir terlebih dahulu ke gerai kopi. Membeli kesukaan Ura dan juga beberapa kue untuk mereka makan nanti. Dirinya benar-benar membutuhkan asupan gula agar tetap waras. Lagian kalau dirinya datang tangan kosong bisa-bisa disindir habis-habisan. Dan tentu saja itu membuat telinganya akan panas karena mendapatkan ceramah panjang kali lebar dari Ventura.
“Ura!” teriak Gala langsung masuk ke dalam ruangan perempuan itu. “Nggak sibuk, ‘kan?”
Ura menghela napas dalam, “Ngapain kamu ke sini?”
Manggala hanya mengedipkan mata sembari menaruh beberapa bungkus di depan perempuan tersebut, “Mau kopi?”
“Ada apa?”
“Jangan jutek gitu …”
“Aya lagi?” tebak Ura yang sudah paham dengan kelakuan lelaki tersebut. Di mana selalu mencarinya bila bekaitan dengan adik tersayang. Dan entah mengapa ia yang selalu berada di tengah-tengah mereka. “Kali ini ada apa lagi?”
Manggala hanya tersenyum sekilas. Lelaki itu memilih duduk di sofa dengan segelas kopi yang ditangannya. Tak berniat sedikit pun menjawab pertanyaan perempuan itu. Karena ia memang tak ingin membagi cerita. Dirinya hanya butuh teman untuk menemani. Bukan orang yang mendengarkan kisahnya.
Lelaki itu memang suka ke sini bila pikirannya terasa penuh dan sesak. Namun, kali ini tidak ada sangkut pautnya sama sang adik. Malahan yang ada dalam pikirannya adalah tentang Sela. Perempuan itu benar-benar membuatnya kelimpungan sendiri.
Masih ingat pembahasan semalam dengan sang adik. Ketika ia dan juga Sela sampai di rumah wanita tersebut. Aya menunggunya dengan senyuman yang terlihat aneh. Dan benar juga, tatkala Gisela pamit ke kamar mandi, adiknya menghampirinya yang berada di dapur untuk mengambil minuman.
“Bagaimana?” tanya Aya langsung. Bisa dipastikan lelaki itu sangat terkejut dengan perubahan Sela. Apalagi sekarang kawannya sudah pintar berdandan. “Nyesel, ya?”
Gala menggeleng pelan, “Apa-apan, sih!”
Aya tertawa lepas. Sang kakak mudah sekali ditebak. Apalagi dalam persoalan seperti ini. Sangat terlihat kegundahan hatinya. Salah sendiri kenapa dulu menolak temannya dengan alasan yang tak masuk akal.
Karena Sela yang belum mengetahui fashion dan juga make up. Padahal wajah natural saja sudah sangat cantik. Memang kalau memilih baju sedikit asal dan jarang menyapukan bedak sedikitpun di muka. Jadi terlihat kusam dan juga ketinggalan zaman.
Padahal aslinya sangat cantik dan juga menawan. Hanya saja perempuan itu terlalu cuek dan tidak peduli dengan penampilan. Makannya terlihat tidak segar dan sedikit dekil.
“Ya …”
“Hem …”
“Itu …” Gala bingung harus bertanya mulai dari mana. Dirinya penasaran kenapa Sela bisa berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. “Sela …”
“Kenapa?” Aya menaikan sebelah alisnya, “tambah cantik, ya?”
Manggala tak bisa menjawabnya. Karena memang kenyataan seperti itu. Gisela menjelma seperti bidadari. Dengan paras ayu dan menawan. Apalagi terihat kalem dan juga pendiam. Tentu saja menarik perhatian lelaki tersebut. Namun, ia gengsi untuk mengatakannya.
“Dulu ada yang bilang kalau gaya busana Sela ketinggalan zaman,” Aya membuang napas dalam, “sejak saat itu ia mulai belajar gaya dan juga makeup serta perawatan. Itulah titik balik di mana Sela mengubah kehidupannya.”
Lelaki itu terdiam. Tak mungkin karena perkataannya yang dulu, ‘kan. Namun melihat Sela seperti membuatnya merasa bersalah. Seolah perempuan itu telah kehilangan jati dirinya.
“Kak …”
“Apa?”
Aya melirik sekitar. Berharap sang kawan tak ada disekitar mereka. “Menurut Kakak Sela bagaimana?”
Manggala tak mau menjawab. Lelaki itu memilih pergi menjauh. Dari pada nanti terjadi pembahasan yang tak penting. Karena ia bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini.
Otak adiknya sangat mudah ditebak. Dan tentu saja ia tak ingin terjebak di dalamnya. Menghindar adalah pilihan yang sangat tepat. Dengan begini, Aya tak akan membicarakan kembali.
“Kak …”
“Jangan aneh-aneh …”
“Aku tahu sebenarnya Kakak mencintainya!” Aya tersenyum melihat sang kakak menghentikan langkahnya. “Namun Kakak malu dan gengsi mengakui hal itu!”
Gala menggeleng tegas, “Jangan bicara omong kosong!”
“Tapi itulah kenyatannya!”
Lelaki itu pergi begitu saja. Menghiraukan panggilan sang adik. Karena Gala membutuhkan waktu sendiri. Di mana ia mencerna kembali apa yang tengah dirasakan. Menelaah satu persatu perasannya yang tersembunyi. Sebab tak mungkin ia menyukai perempuan itu.
Sela sangat jauh berbeda dengan kriterianya. Jadi, tak mungkin ia bisa jatuh hati kepada perempuan tersebut. Karena mereka tak cocok untuk bersama.
“Gala!” teriak Ura menarik perhatian lelaki tersebut, “malah melamun.”
Manggala membuang napas dalam. Mimikirkan kembali apa yang diinginkan otak dan perasannya. Karena mereka sedang bertolak belakang. Di mana otaknya meminta untuk menemui Sela. Sedangkan hatinya menolak.
“Kamu kenapa, sih?”
“Apakah penampilan itu memperngaruhi cinta?”
Ura mengernyit heran, “Maksudnya?”
“Lupakan …”
“Penampilan bisa dirubah,” sela Ura sembari menaruh kembali gelas kopinya, “namun tidak dengan perasaan.”
Manggala terdiam. Sedikit banyak membenarkan ucapan sang mantan. Buktinya saja Sela sudah berubah total. Berbeda dengan pertemuan terakhir mereka. Dan tentu saja itu membuat lelaki itu sedikit kacau.
“Kenapa?”
“Nggak papa …”
“Jatuh cinta sama seseorang yang diluar kriteria?”
Gala menggeleng pelan, “Bukan begitu ...”
“Kalau gitu bawa ke sini saja,” Ura menaikan alisnya. Menggoda sang mantan yang terlihat sedang galau. Entah perempuan mana yang bisa membuat Manggala seperti ini. Yang pasti lelaki itu tak sedang baik-baik saja. “Aku akan mengubahnya …”
“Ngak perlu!”
Ura tertawa mendengar teriakan Gala. Lelaki itu tak bisa menghindar lagi. Meskipun Manggala tak suka bercerita. Namun dengan kalimat jebakan seperti ini, ia bisa tahu. Kalau mantannya itu sedang galau dalam menghadapi sosok perempuan.
Gala hanya bisa menggeleng tak percaya. Ura selalu bisa membuatnya membuka mulut. Dan tentu saja kini perempuan itu sedang menggodanya.