“Hey, Manggala!” teriak Ura ketika lelaki itu pergi begitu saja, “mau ke mana?”
Gala menoleh sejenak sebelum keluar dari ruangan. Lelaki itu hanya mengedipkan mata sebelah, “Mau minta restu!”
Ura tertawa. Lelaki itu ternyata kemakan sama ucapannya. Buktinya saja langsung berlalu begitu saja. Meskipun ia tak tahu siapa perempuan yang beruntung tersebut. Namun, ia berharap itu akan menjadi yang terbaik bagi sang mantan kekasih.
Hubungan mereka memang telah berakhir. Akan tetapi bukan berarti tidak mengawali kembali sebagai teman. Karena mereka berpisah pun secara baik-baik. Dan memang lebih menyenangkan sebagai kawan dibanding kekasih. Apalagi, sebentar lagi Ura akan menikah. Dan tentu saja Gala tahu akan hal itu. Makannya ia berharap lelaki itu juga menemukan pendamping hidup. Seperti dirinya.
Melihat Gala seperti ini, ia yakin lelaki itu jatuh cinta sungguhan. Pancarannya tak pernah bohong. Bukan berarti dulu waktu mereka pria tersebut mempermainkannya. Tidak seperti itu. Namun, hanya saja kali ini terlihat berbeda. Ada sebuah kebahagian dan juga haru dalam diri Gala.
“Doakan, ya!”
“Tentu saja,” Ura mengangguk dengan tulus, “segera menyusul, ya!”
Gala hanya mengangkat jari jempolnya tinggi-tinggi. Lelaki itu pergi begitu saja. Setelah mendengar ucapan perempuan itu ia jadi sadar bahwa selama ini memang salah. Dan mungkin, dirinya terlalu menjunjung tinggi ego. Padahal kalau perkara hati ini semua tak berlaku.
Lelaki itu membuang napas dalam. Tak sia-sia datang menemui Ura. Perempuan itu selalu tahu apa yang tengah dirasakannya. Dan tak lupa memberi masukkan. Meskipun dengan kalimat yang menyakitkan. Namun, ia yakin Ura sangat tulus dalam pertemanan ini.
Ia sadar perpisahan mereka yang dulu terjadi karena kebodohannya. Di mana terbujuk rayu dokter gigi. Dan membuat hubungannya dengan Ura kandas. Padahal saat itu sang adik hampir memberi restu. Pada akhirnya Aya marah besar. Membuat mereka bertiga bersih tegang.
Masih ingat dalam memorinya waktu itu pertama kali Aya menangis di depannya. Sang adik sangat kecewa. Dam itu membuat hubungan mereka merenggang.
“Kenapa Kakak melakukan ini?”
Gala tak bisa menjawab. Lidahnya terasa kelu. Terlebih lagi ia tak bisa berbohong. Karena semua akan bertambah kacau. Diam adalah cara yang terbaik. Namun, tentu saja itu tak bisa mengatasi masalah ini.
“Apa kurangnya kak Ura?” tanya Aya dengan nada pilu. Perempuan itu mengetahui kalau sang kakak mendua. Dan tentu saja itu seperti tamparan baginya. Tak menyangka saja lelaki yang disayangi dan dihormati malah melukai perasaan wanita. “Kakak benar-benar keterlaluan!”
“Bukan begitu Aya …”
“Lalu apa?”
Manggala membuang napas dalam. Lelaki itu mencoba menjelaskan kepada sang adik yang sebenarnya. Meskipun itu semua hanya pembelaan semata. Karena ia tak ingin Aya lebih marah kepadanya. Selalu main aman dengan adik tercinta.
Sampai mendengar ucapan Ura tadi, seakan otaknya yang dungu terbuka seketika. Selama ini ia merasa bersalah dan juga sangat mementingkan diri sendiri. Tak pernah melihat perjuangan orang lain.
Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan cinta. Termasuk Ura yang waktu itu sibuk dengan pergelaran busana. Itu semua dilakukan agar ia setara dengan dirinya. Padahal Gala tak membutuhkan hal tersebut.
“Jadi …”
“Aku melakukan itu semua demi kamu,” ujar Ura dengan senyuman yang menyejukkan, “aku ingin kamu juga bangga dengan apa yang bisa aku raih. Namun ternyata itu semua malah menjauhkan hubungan kita.”
Manggala tak pernah mengetahui hal ini. Yang ada dalam otaknya, Ura selalu menomer duakan dirinya. Lebih suka dengan rancangan baju dan juga sangat terobsesi membuat pameran yang berskala besar. Padahal dirinya juga membutuhkan perhatian.
Akan tetapi, semua itu dilakukan untuknya. Ia merasa bodoh karena tak mendukung Ura saat itu. Dan sekarang ia sedikit menyesal.
“Aku hanya ingin menunjukkan pada Dunia bahwa aku layak bersanding denganmu,” Ura membayangkan saat itu. Waktu di mana ia sangat sibuk dan juga gila karena pekerjaan. “Namun yang terjadi malah bukan hal yang baik.”
Namun yang terjadi malah sebaliknya. Lelaki tersebut mengkhianati dengan sadar. Dan membuatnya terluka seketika. Jatuh pada lubang yang sangat dalam.
“Adakalanya kamu berhenti mencintainya. Bukan karena rasa itu ada. Namun, kehadiranmu sudah tak dianggap lagi,” sela Ura dengan senyuman seperti biasanya, “karena itu … apa artinya aku dalam hidupmu?”
Manggala terpaku. Lelaki itu sama sekali tak bisa menjawab apapun. Lidahnya terasa kelu dan lagi, ia sangat ingat kata-kata tersebut. Ternyata perempuan itu masih mengingatnya. Dan mungkin kini menjadi tamparan bagi lelaki tersebut.
“Kalau kamu memang memilih dia … maka lepaskan aku,”
Gala menggeleng, “Ngomong apa, sih …”
“Cinta tak bisa dipaksa. Dia akan menemukan jalannya untuk pulang. Dan tempat itu bukan di aku, ‘kan?”
Lelaki itu menundukkan kepala. Kesalahan kali memang fatal. Namun mau bagaimana lagi. Semua sudah terjadi. Dan ia tak bisa berbuat banyak. Ternyata memang benar, diamnya perempuan itu sangat mengerikan.
Melihat Gala tak membalas ucapannya, Ura sadar kalau semua ini kesalahannya karena sibuk dengan kerjaan. Andai ia meluangkan sedikit waktu. Ini semua tak akan terjadi. Dan lelaki itu sama sekali tak kesepian.
Hubungan yang retak tak mungkin bisa disatukan kembali. Kalau pun bisa menyatu pasti tidak akan seperti semula. Ada bekas retakan di dalamnya. Dan tentu saja itu sulit untuk ditutupi atau dihilangkan.
Padahal kalau lelaki itu tak membuka ruang untuk orang lain masuk. Nggak mungkin ada wanita lain di tengah-tengah hubungan mereka. Namun, buktinya mereka menjalin hubungan dengan sembunyi-sembunyi. Dan tentu saja itu sangat menyakitkan ketika mengetahuinya.
Lelaki itu sama sekali tak ia kenal. Di mana Manggala yang selalu menjunjung tinggi kesetiaan. Namun tiba-tiba saja berkhianat. Membuatnya merasa tertampar. Kalau ternyata sama saja dengan lelaki di luar sana.
Selalu menyalahkan keadaan dan berpura-pura khilaf bila ketahuan selingkuh. Padahal seharusnya sudah tahu sejak awal kalau yang dilakukan itu salah. Akan tetapi, selalu saja ada alasan dan alibi yang membenarkan perilaku mereka.
Hingga membuatnya merasakan rasa bersalah. Kekasih macam apa dirinya yang tega membiarkan pasangannya mencari orang lain untuk menemani. Dan semua ini murni kesalahannya. Ia harus bisa menanggung semua sendirian. Mungkin, memang mereka tidak tercipta sebagai pasangan.
Ura membuang napas dalam, “Mari kita berteman saja, ya?”
Gala terkejut, “Maksudnya …”
“Agar sama-sama tidak saling tersakiti dan menyakiti.”
Akhirnya itulah keputusan yang dipilih mereka. Karena percuma saja masih bersama bila saling menyakiti satu sama lainnya.
Ura membuang napas dalam. Membuyarkan lamunan masa lalu. Semua sudah berlalu dan kini ia telah memiliki seorang yang sangat dicintai. Dan tentu saja ini semua berkat Gala yang memberinya rasa sakit. Hingga dirinya tumbuh sebagai perempuan yang penuh dengan tekat dan tahan banting.
s“Maaf …” Manggala tidak bisa berkata apa-apa lagi. Lelaki itu sangat merasa bersalah. Seharusnya ia bisa mengendalikan diri sendiri dan tak berakhir menyakiti banyak orang.
Ia sadar melakukan kesalahan. Dengan menduakan cinta Ura dan menyalahkan perempuan tersebut karena hal ini bisa terjadi. Semestinya ini semua kesalahan semata yang tak bisa mengerti tentang sang kekasih kala itu.
Namun, mau bagaimana lagi. Semua telah terjadi. Dan beruntung sekali hubungan mereka bisa berjalan dengan baik. Bahkan kini perempuan itu menjadi kawannya.
“Kamu tak perlu merasa bersalah,” Ura menggeleng mendengar ucapan maaf dari lelaki tersebut. Semua sudah berlalu. Dan ia hanya ingin mengingat saja. Tak ada salahnya melihat ke belakang sejenak. Karena banyak pelajaran yang didapatkan. “Semua sudah terjadi dan tidak bisa diulang kembali.”
Manggala membenarkan ucapan perempuan itu. Yang berlalu tak akan bisa terulang kembali. Maka dari itu penyesalan selalu datang belakangan. Kalau awal namanya kesempatan. Dan itu tak akan datang kedua kali. Karena itulah pergunakan sebaik-baiknya. Semua tak akan terjadi kedua kalinya.
“Maka dari itu … “ Ura menatap seseorang yang pernah menghiasai hatinya, “jangan sia-siakan orang yang ada di hatimu saat ini. Apalagi mengikuti standar yang menurutku sangat berlebihan. Nanti kalau pergi baru tahu rasa!”
“Ra …”
“Kenyataanya seperti itu, ‘kan?”
Gala terdiam. Perempuan itu selalu bisa menyudutkannya. Apa yang dikatakan memang ada kebenarannya. Namun, apakah salah bila dirinya menentukan kriteria untuk pendamping hidup. Terlebih lagi ia ingin menikah sekali seumur hidup. Kalau tidak sesuai dengan kemauannya, bukankah itu malah melukai perasaannya. Dan tentu saja ia tak ingin itu semua terjadi.
“Sampai kapan kamu mau membohongi diri sendiri?” Ura menghela napas dalam. Sangat mengerti gesture tubuh lelaki tersebut. Sebab sebelum menjadi kekasih, Gala adalah kawan dekatnya. Yang selalu ada di saat ia terluka. Dan kini, mereka berteman kembali. Karena itu lebih menyenangkan dari pada menjalin hubungan sebagai seorang kekasih. “Sampai menyesal karena dia memilih pergi?”
Ura tersenyum sekilas, “Atau melewatkan kesempatan begitu saja. Dan pada akhirnya yang ada sebuah penyesalan karena keegoisan? Ingat ini perkara hati yang tak mudah kamu kendalikan dengan mudah.”
Karena perkataan itulah yang membuat Gala pergi ke suatu tempat. Di mana ia bisa mendapatkan jawaban apa yang tengah dirasakan. Dan tentu saja dirinya tak ingin terjadi penyesalan dalam hidup.
Mungkin selama ini ia bersalah karena memandang perempuan dari segi fisik. Semestinya dirinya tak melakukan hal tersebut. Dan mungkin ini akan menjadi karmanya. Karena ia memikirkan seseorang yang jauh dari kriteria pendamping hidup. Dan tentu saja orang tersebut membuatnya kelimpungan seharian ini. Ah, ingin rasanya bertemu dengan perempuan itu. Semoga semua akan berjalan dengan lancar.