“Ini tidak masuk akal, Aya!” Gala menggeleng dengan tegas. Lelaki itu sangat terkejut dengan ucapan sang adik. Tak menyangka saja wanita itu akan berkata seperti itu. Dan tentu ia tak mungkin melakukannya. “Kamu jangan aneh-aneh, deh!”
Manggala merasa kesal dengan adiknya. Kalau tahu seperti ini, mungkin ia akan menghindar dengan berbagai alasan. Setidaknya ia tak perlu repot-repot untuk mencari sebuah alasan yang logis. Karena wanita itu selalu bisa menjebaknya dengan pertanyaan gila.
Aya dan Ura, dua orang yang bisa membuatnya bicara panjang lebar. Karena pertanyaan mereka selalu menjebak. Dan ia benci akan hal itu.
Namun, mau bagaiman lagi. Gala sudah berhadapan dengan sang adik. Bisa dipastikan akan susah untuk menghindar. Andai saja ada Iman di sini. Pasti dengan mudah dirinya untuk kabur. Akan tetapi, kawannya itu sedang di luar kota. Tentu saja tak akan bisa menyelamatkannya dalam sintuasi seperti ini.
Terlebih lagi Sela juga pergi. Jadi ini kesempatan yang bagus untuk Aya. Namun tidak bagi Gala. Lelaki yang mencari cara agar bisa menggelabui sang adik.
Akan tetapi, itu pasti sulit. Apalagi melihat Aya dengan mode serius yang tak bisa diganggu gugat. Ah, kalau seperti ini ia harus pasrah dengan apa yang akan terjadi kedepannya.
“Sudah, ya …”
“Apanya?” sela Aya menaikan alis, “kakak nggak punya jawabannya, ya?”
“Bukan seperti itu …”
“Lalu?”
Manggala membuang napas dalam. Sudah bisa ditebak akan seperti ini. Wanita itu terlalu peka dan sensitive. Selalu bisa memojokkannya dengan mudah. Dan tentu saja ia membenci hal ini.
“Kak …”
“Lain kali saja,” Gala menyela dan hendak pergi, “hati-hati di rumah.”
Aya menatap lelaki itu dengan saksama, “Kenapa?”
Pertanyaan Aya menghentikan langkahnya, “Apanya?”
“Mengapa Kakak langsung menolak seperti ini?” tanya Aya penuh curiga. Tak biasanya lelaki itu mengelak begitu cepat. Bahkan tak memberinya celah untuk menjelaskan apapun. Seolah menghindar dari pembicaraan ini. Tentu saja itu membuatnya sangat curiga.
Apalagi Sela pun melakukan hal yang sama. Di mana sang kawan selalu menghindar bila menyangkut kakaknya. Tak seperti dulu kala yang selalu semangat bila mengenai Manggala. Selalu menggebu-gebu dan ingin tahu.
Akan tetapi, tidak dengan kemaren. Temannya memilih mencari topic lain. Padahal Aya ingin tahu bagaimana perasaan Sela kepada sang kakak. Dengan begitu ia bisa berharap mereka akan bersatu. Karena wanita itu tahu, sahabatnya benar-benar jatuh cinta kepada saudara kandung.
Dan sekarang, rasanya ada yang berubah banyak dengan perempuan tersebut. Seolah menjadi pribadi baru yang sama sekali tak dikenal oleh Aya. Banyak sekali perubahan yang terjadi. Termasuk gaya bicaranya yang menurut Aya semakin lemah lembut.
Padahal bisanya seperti preman yang menagih uang kemanan. Dan tentu saja tak kalah dengan toa masjid. Sangat keras dan penuh penenakanan.
Namun kali ini, terdengar lembut dan juga menjaga ucapannya. Membuat Aya semakin ingin tahu apa yang telah terjadi sebenarnya. Dan tentu saja sangat tak mudah untuk mengulik sosok Gisela.
“Bisa bahas lain, nggak?” tanya Sela kala itu menghentikan ucapan Aya yang menceritakan tentang Gala. Karena perempuan itu sama sekali tak ingin mendengar apapun mengenai Manggala. Lelaki itu terlalu jauh untuk bisa dijangkau. Jadi, ia sadar diri sebelum jatuh ke lubang yang sangat dalam. “Mengenai kamu mungkin …”
“Aku kenapa?” tanya Aya bingung, “apa hubungannya, coba?”
“Bagaimana rasanya sudah menikah dan menajdi seorang istri?”
Aya yang ditanya seperti itu langsung tersipu malu. Tak bisa menjawabnya. Karena semua serba indah. Jaiman sangat memanjakannya. Apapun yang diinginkan selalu terwujud. Dan tentu saja semua tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Meskipun ada sedikit cekcok. Namun semua bisa diatasi dengan kepala dingin. Iman selalu mengalah. Akan tetapi ada kalanya juga bersikap tegas. Dan tentu saja itu yang membuat hubungan mereka sangat hamonis.
Bukan hanya terlihat di luar saja. Tapi itulah yang terjadi sebenarnya. Banyak sekali pasangan di luar sana terpampang seperti keluarga yang bahagia. Namun pada kenyataannya itu hanya kamuflase belakang. Menutupi kehancuran rumah tangga agar tak banyak orang yang mengetahui.
Akan tetapi itu semua tak berlaku untuk mereka berdua. Karena sejak awal, Iman selalu menekankan untuk saling terbuka satu sama lain. Apapun itu bisa diselesaikan bila salling bicara. Bukan malah berdiam diri. Karena sifat manusia yang tak bisa ditebak dengan mudah.
Oleh karena itu, mereka selalu jujur satu sama lain. Tak ada yang disembunyikan. Bila terjadi perselisihan selalu dibicarakan baik-baik dan mencari solusi bersama-sama. Bukan malah mendiamkan satu sama lain. Karena bukan malah selesai. Yang ada nanti akan menimbulkan masalah baru.
“Ya …”
“Apa?”
Sela membuang napas dalam, “Malah diam!”
Aya tertawa puas, “Makananya nikah biar bisa merasakannya!”
Gisela sudah bisa menebak akan hal itu. Kawannya selalu menyuruh agar segera menikah. Namun, untuk calon sendiri saja dirinya tidak punya. Terus mau menikah dengan siapa. Lagian, hati dan perasaannya sudah berlabuh pada seseorang yang sialnya tak bisa digapai.
Bagaimana ia bisa melangkah ke depannya bila hatinya sudah mati rasa. Dulu, ia bersalah karena melabuhkan semua perasaannya pada lelaki yang salah. Kini, tak ada lagi untuknya. Meskipun ia sudah pergi jauh, namun tetap saja rasa itu masih terpaud kepadanya. Dan ia sama sekali tak tahu bagaiman acara mengahapusnya. Yang ada malah kenangan itu datamg dengan sendirinya. Memporak-porandakan keluarga.
“Sama kak Gala gimana?”
Sela membelakkan kedua bola matanya, “Gila!”
“Kenapa?”
Perempuan itu terdiam. Tak bisa menjawabnya. Karena itu adalah hal yang sangat sensitive untuk dibahas. Lagian bisa-bisanya sang kawan mengusulkan hal tersebut. Sebuah pemikiran yang tak akan pernah terjadi.
Karena ia sadar diri. Lelaki seperti Manggala tidak akan melihat ke arahnya. Siapa pula dirinya yang berani bermimpi bersanding dengan lelaki tersebut.
“Sela …”
“Sudah, ah!” Sela menggeleng pelan, “bahas yang lain saja.”
Kala itu Aya menangkap ada yang aneh dengan kawannya. Namun tak berani tanya. Karena Sela sangat tak suka didesak. Maka dari itu mereka membicarakan hal yang lain. Dan tentu saja ia akan mencari tahu sendiri. Karena ini menyangkut dua orang yang sangat disayangi.
Akan tetapi melihat gesture perempuan itu, ada yang disembunyikan. Besar kemungkinan ini ada kalitan dengan sang kakak. Berhubung Aya tak suka menebak. Perempuan itu menghubungi kakkanya untuk datang ke rumah. Ada pembicaraan yang perlu di bahas.
Dan mendapatkan reaksi yang sama dengan Sela, Aya yakin telah terjadi sesuatu dengan mereka. Saatnya ia mencari tahu. Bila sang kawan tak mau bicara. Jalan satunya lewat sang kakak yang memang sering keceplosan kalau dipancing.