“Kak …”
Manggala menghela napas dalam, “Kenapa?”
“Apakah Kakak jatuh cinta pada seseorang?”
Gala memilih diam. Tak menjawab pertanyaan itu. Bisa dipastikan ini hanya jebakan semata. Dan ia harus tahu alasan di balik sang adik bertanya demikian. Karena ia tak ingin keceplosan lagi.
“Kakak …”
“Kenapa memangnya?” Gala mengangkat sebelah alisnya, “kamu mau protes lagi?”
“Bukan begitu!” Aya mendekati sang kakak. Merangkul tangannya dan lupa menyandarkan kepala di lengan lelaki tersebut. “Aku ingin kakak segera menikah saja.”
Manggala menggeleng pelan. Lelaki itu yakin bukan hanya itu yang ingin diketahui oleh adiknya. Wanita itu sangat licik bila menyangkut kekepoan. Dan dirinya harus berusaha agar tidak keceplosan kembali.
“Kak!”
“Bagaimana Kakak bisa menikah bila kamu tidak merestui, hem?”
Aya hanya tertawa ringan. Dirinya memang belum bisa merestui sang kakak untuk menikah. Karena memang tak ingin ada yang memiliki lelaki itu selain dirinya. Ia takut sang kakak tidak akan sayang kepadanya lagi. Dan lebih memilih istrinya dibanding dirinya.
Sebab selama ini hanya sang kakak yang dimiliki. Namun, setelah ia menikah. Dirinya sadar telah memaksakan kehendak. Dan tentu saja itu tak baik. Akan tetapi, Aya pun tak bisa melihat sang kakak memilih calon yang salah. Harus memenuhi persetujuaannya terlebih dahulu.
Apalagi model yang dikenalkan kepadanya hanya tergiur oleh uang sang kakak. Mereka mendekati Gala karena lelaki itu memiliki segalanya. Tampan tentu saja. Dengan badan kekar dan tinggi di atas rata-rata membuat daya tarik terbaik sosok Manggala. Belum lagi kekayaan yang luar biasa banyaknya. Tentu saja banyak yang mengincar lelaki tersebut. Dan Aya tak akan membiarkan hal itu.
Sebenarnya ia sudah suka dengan Ura, seorang desainer cantik yang memiliki banyak prestasi. Akan tetapi dengan alasan konyol sang kakak malah berselingkuh dengan dokter gigi. Tentu saja ia sangat marah. Seenaknya mempermainkan perasaan perempuan. Dna itu sempat membuat hubungan mereka merenggang.
Beruntung saja semua bisa diselesaikan dengan baik dan tak menimbulkan pepecahan. Ia masih berhubungan baik dengan Ura. Bahkan sering mengunjungi butiknya. Begitu pula dengan sang kakak yang memang sejak awal mereka sudah berkawan baik.
“Kamu kenapa, hem?”
Aya mendongak, “Apanya?”
“Mengapa sulit sekali menyetujui Kakak menikah?”
Aya terdiam sejenak. Memilih tidur dalam pangkuan lelaki itu. Ia tak ingin menjawabnya. Karena dirinya memang benar-benar takut untuk kehilangan sang kakak. Selama ini mereka hidup berdua. Bahkan setelah ia menikah pria tersebut masih sering pergi ke rumah.
Seperti saat ini, mereka menghabiskan waktu berdua. Meskipun ia yang menyuruh ke sini. Dan tentu saja dengan senang hati Gala mengunjungi sang adik. Karena setelah menikah, Aya sudah mempunyai kehidupan sendiri. Namun wanita itu suruh menyuruhnya datang tiap hari. Entah itu buat sarapan atau makan malam.
Beruntung sekali suami Aya yang tak lain kawan baiknya tak masalah sama sekali. Sangat senang sekali dengan kedatangannya. Karena membuat suasana semakin ceria. Dan ia pun senang berada di tengah-tengah mereka.
“Ya …”
“Aya hanya takut, Kak,” jawab Aya lirih, “takut bila Kakak sudah tidak memperhatikan aku lagi.”
Manggala mengelus rambut sang adik penuh dengan kelembutan. Lelaki itu sama sekali tak mengetahui hal ini. Ia hany berpikir kalua Aya hanya tak suka dengan mereka saja. Namun, ternyata ada sebab lain yang membuat adik kecil berat kalau ia menikah.
“Tapi, Kak Iman pernah bilang,” Aya menjeda ucapannya sejenak. Membuang napas dalam. Entah mengapa akhir-akhir ini ia merasa sensitive sekali. “Kalau aku nggak boleh seperti ini. Kakak pun juga berhak untuk berbahagia.”
Lelaki itu tak menyangka kalau sang kawan pernah berkata seperti itu. Padahal dulunya ia beranggapan kalai Iman memang termasuk suami-suami takut istri. Akan tetapi, ternyata tidak seperti itu. Dan mungkin karena itulah sekarang Aya membicarakan hal ini. Semoga saja siapa pun yang dibawanya wanita itu akan terima dengan lapang d**a.
Tak ada tuntutan ini dan itu. Karena usianya sudah memasuki angka matang untuk menjalin kehidupan rumah tangga. Terlebih lagi sang adik juga memiliki kehidupan sendiri. Tak mungkin selamanya ia menganggu mereka berdua.
“Tapi, Kak …”
Gala mengernyit heran, “Kenapa?”
“Awas saja kalau asal memilih perempuan!”
Lelaki itu menghela napas dalam. Bisa dipastikan akan susah kalau seperti ini. Mungkin ini saatnya ia bertanya alasan kenapa perempuan itu sama sekali tak menurunkan restu.
“Aku hanya ingin Kakak bahagia,” ujar Aya penuh dengan ketulusan. “Mungkin bagi Kakak mereka baik. Tapi dalam pandanganku mereka hanya mengejar harta Kakak saja,”
“Maksudnya?”
Aya hanya tersenyum, “Kakak tahu itu.”
Kalau sudah mendapatkan jawaban itu, Gala tak tahu harus bereaksi seperti apa. Karena bisa dipastikan pandangan mereka tak akan sama.
“Ya …”
Aya hanya mengedipkan seelah matanya. Entah mengapa akhir-akhir ini sangat manja kepada sang kakak. Seperti saat ini menjadikan paha lelaki itu sebagai bantal. Beberapa hari lalu ia menghabiskan waktu bersama dengan Sela. Dan kini giliran dengan sang kakak tersayang. Beruntung saja sang suami tak merasa keberatan.
Terlebih lagi belakangan ini ia sangat sensitive. Mudah menangis dan juga murung. Hingga membuat Iman gelagapan sendiri. Dan sering sekali bingung bagaimana cara untuk menenangkannya.
“Kakak …”
“Iya?”
“Selamanya Aya akan jadi adik kakak, ‘kan?” tanya Aya dengan mata berkaca-kaca, “meskipun kakak sudah menikah?”
Gala tersenyum, “Tentu saja.”
Tak ada yang bisa menggantikan Aya. Meskipun kelak ia akan menikah. Tentu saja calonnya harus bisa mengambil hati sang adik. Maka dari itu, ia akan mencari pendamping hidup yang direstui oleh adik kecilnya.
“Aya, Kakak boleh bertanya?”
“Apa?”
“Kenapa selama ini Aya nggak setuju dengan calon yang Kakak kenalkan?”
Aya menggeleng, “Sama Kak Ura, Aya nggak masalah …”
“Yang lainnya maksud, Kakak,” sela lelaki itu dengan cepat. Sebelum melebar ke mana-mana. “Jangan bahas Ura lagi, deh!”
Aya tertawa pelan. Sangat tahu kalau kakaknya paling tidak suka membahas tentang itu. Karena banyak luka yang tercipta kala itu. Di mana lelaki itu menjadi bodoh dan t***l karena memilih mendua. Dan tentu saja itu membuat hubungan mereka renggang.
“Ya …”
“Kakak benaran ingin tahhu?” Aya memilih bangkit. Duduk tegak di sebelah lelaki itu. “Tapi jangan marah, ya?”
“Ada apa, hem …”
“Janji dulu!”
Gala mengangguk. Membuat perempuan itu menceritakan kenapa selama ini terkesan menolak semua pacar yang dikenalkannya. Padahal mereka baru saja bertemu dan saling mengenal satu sama lain. Namun, Aya selalu terlihat tak suka.
Dengan adiknya yang terbuka, semoga saja dirinya tahu apa yang diinginkan oleh wanita tersebut. Dan bisa membawa calon yang akan mendapatkan restu sang adik.