Mantan pertama Gala, Kalei Rosaline atau yang biasa dipanggil dengan Lei. Seorang model mancanegara. Dan tentu saja dengan paras ayu dan tinggi di atas rata-rata menjadi daya tarik tersendiri. Belum lagi jago berbahasa asing dan sangat pintar. Sangat sempurna memang bila disandingkan dengan kakaknya. Seperti pasangan yang sangat serasi. Di mana laki-laki dan perempuan memiliki tampang yang saling menunjang satu sama lain.
Belum lagi memiliki segudang prestasi yang mengharumkan nama bangsa di kanca dunia. Tentu saja banyak yang setuju bila mereka sampai menikah. Karena sangat seimbang dan juga saling melengkapi satu sama lain. Bila tersandingkan sangat serasi. Dan akan membuat iri banyak orang.
Akan tetapi, Aya adalah orang pertama yang sangat tidak sependapat dengan hal itu. Menolak hubungan sang kakak dengan Lie. Bukan tanpa alasan ia melakukan hal itu. Tanpa di ketahui Gala pertemuan mereka selalu berakhir dengan kata-kata pedas. Dan tentu saja itu membuat nilai minus.
Buat apa punya wajah cantik dan rupawan, akan tetapi hatinya sangat busuk. Tak tahu sopan santun dan juga sangat angkuh. Aya benci sekali dengan seseorang yang suka sewenang-wenang apalagi berkuasa. Karena diatas mereka pasti ada yang lebih dari apa yang mereka punyai.
Melihat sifat itu tentu saja, Aya langsung menolak. Apalagi pembicaraan terakhir mereka yang membuat perempuan itu harus menahan rasa amarah dan juga ingin mengumpat. Beruntung sekali ia mempunyai control diri yang baik. Tak mudah marah dan meledak-meledak. Namun, hanya mengamati dan lebih suka langsung bertindak.
“Apapun yang akan kamu katakan …” Lie sengaja menggantung ucapannya. Menatap adiknya Gala yang menurutnya ketinggalan zaman. Bisa-bisanya di restoran mahal malah menggunakan rok panjang dan juga sweater. Berbanding terbalik degan dirinya yang berbalut drees rancangan desainer ternama. Dan tak lupa make up serta tatanan rambut oleh para professional. “Gala tak akan percaya dan lebih memilih aku,”
Aya tertawa dengan nada mengejek, “Anda sedang bergurau?”
“Tentu saja tidak,” perempuan yang memakai dress warna merah menyala itu menggeleng, “karena itu kenyataannya. Manggala sangat mencintai aku. Dia akan melakukan apapun yang aku katakan.”
Aya hanya mengangguk sekilas. Menatap perempuan itu dengan pandangan sulit diartikan. Bisa dipastikan Lie baru mengenal sang kakak. Tak mungkin sosok Gala mempercayai orang lain kecuali dirinya.
Karena lelaki itu hanya memiliki dirinya di Dunia ini. Tentu saja perempuan itu tidak ada apa-apanya. Dan bisa dipastikan Manggala akan membelanya. Apapun itu, sang kakak tidak akan pernah meninggalkannya hanya demi wanita lain. Sebab ikatan persaudaraan mereka sangat kuat. Mereka sudah melewati suka dan duka bersamaan. Siapa pun tak akan pernah bisa menjauhkan mereka. Termasuk sosok Kalei yang percaya diri bisa menjadi pendamping sang kakak.
Apalagi ia tahu kalau Lie mendekati sang kakak hanya karena uang. Bersama Gala ia mendapatkan banyak proyek. Karena memang begitu besar pengaruhnya perusahaan yang dipimpin oleh sang kakak untuk karir perempuan itu. Otomatis akan menjadi tambang emas untuk wanita tersebut. Akan tetapi, sebentar lagi ia akan memastikan sang kakak melepaskan Kalei. Karena memang tak seharusnya mereka bersama bila dibalik ini hanya ada kebohongan. Dan ia akan pastikan itu.
Terlebih lagi, ternyata Lie sudah mempunyai kekasih. Tentu saja ia tak akan membiarkan kakaknya jatuh pada perempuan maniak harta tersebut. Karena ia yakin, kakaknya tidak akan bertekuk lutut di hadapan Kalei. Sebab otak lelaki itu masih berfungsi. Dan bisa dipastikan akan mengetahui hal ini. Cepat atau lambat sebuah kebohongan pasti akan terungkap.
“Ingat, jangan katakan apapun kepada Gala!” peringat Lie yang hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri Aya. Karena perempuan itu sama sekali tak memperhatikan pacar sang kakak. Yang mungkin sebentar lagi akan menjadi mantan kekasih.
“Kenapa?” tanya Aya dengan menaikan sebelah alisnya, “anda takut?”
“Tentu saja tidak!”
Aya hanya tersenyum seperti biasa. Melihat perempuan itu yang sangat percaya diri. Ia tertawa dalam hati. Karena bisa dipastikan sebentar lagi sang kakak akan memutuskannya. Lagi pula yang ia tak sudi bila wanita ular tersebut menjadi kakak iparnya.
Tadi sang kakak mengajaknya untuk bertemu dengan Lie. Setelah beberapa waktu, Gala harus menerima telepon dan pergi sebentar. Di saat itu tiba-tiba saja ekspresi Lie berubah total. Terlihat angkuh dan juga judes.
Belum lagi tiba-tiba saja mengangkat telepon dari seseorang dengan suara mesra. Meskipun ada dirinya. Seolah perempuan itu tak peduli. Yah, walaupun kala itu Lie menggunakan bahasa asing. Namun bukan berarti dirinya tak mengerti. Dan itu membuatnya semakin muak.
“Kenapa?” tanya Lie setelah menutup teleponnya, “kamu pasti nggak tahu artinya …”
“Dia pacarmu, ‘kan?” sela Aya yang menaruh gelas minumnya, “lalu bagaiamana dengan kakakku?”
Lie terkejut. Tak menyangka saja adik dari Gala tahu apa yang ia bicarakan. Padahal mereka menggunakan bahasa Jerman. Tidak mengira kalau perempuan itu sangat pintar. “Terus … kamu akan mengadu gitu?”
“Kenapa?” Aya menaikan sebelah alisnya, “takut?”
“Buat apa?”
Aya mengangguk mengerti. Perempuan itu sangat tangguh dan juga percaya diri. Penuh dengan drama dan berpura-pura. Kok bisa sang kakak jatuh cinta kepada sosok tersebut. Atau ini hanya akan menjadi pelampiasan sang kakak. Karena selama ini yang ia tahu, kakaknya jarang sekali bahkan tak pernah ia temui ekspresi orang jatuh cinta. Meskipun dengan mantan-mantan yang sebelumnya. Pijaran mata mengagumi sama sekali tak didapatkannya. Hanya sorot biasa pada umumnya.
Begitu pula dengan wanita yang duduk dihadapannya. Sang kakak sama sekali tak menaruh mimik wajah orang yang lagi kasmaran. Malah terlihat biasa saja dan terkesan seperti partner kerja. Tentu saja semua terlihat dengan jelas.
Ia sudah mengenal sang kakak sangat lama. Tentu saja ia mengetahui segala sesuatu dalam diri Manggala. Meskipun mereka jarang bercerita karena kesibukan masing-masing. Namun, ia yakin sang kakak tak mencintai wanita tersebut. Terlihat jelas di depannya bila hubungan ini terjadi karena netizen yang menjodohkan mereka.
“Oh, ya …” Lie menjeda ucapannya. Memandang remeh perempuan di depannya, “siapa namamu?”
“Aya …”
“Oke, Aya,” sela Lie dengan tatapan tajam, “mulai sekarang siap-siap untuk pergi dari kehidupan Manggala. Aku masa sekali tidak suka tinggal denganmu. Dan aku bisa pastikan Gala akan memberi tempat tinggal yang layak untukmu!”
Aya mengerjap pelan mendengar itu semua. Apakan perempuan itu sedang bermimpi. Tak mungkin sang kakak mengusirnya. Bisa-bisa Lie sendiri yang akan didepak bila memperlakukannya sewena-wena. Karena sang Kakak akan memilihnya dari pada wanita gila tersebut.
“Karena sebentar lagi aku akan tinggal bersama Manggala!”
Aya hanya tertawa sinis. Bisa dipastikan besok sang kakak akan memutuskannya. Dan seharusnya yang pergi adalah wanita itu. Bukan dirinya. Karena Kalei sama sekali tak cocok bersanding dengan seorang Manggala.
“Anda serius?”
Lie menyunggingkan senyuman sekilas, “Tentu saja …”
“Apa benar Kakak akan mau sama kamu?” Aya menyela dengan nada sinis. Enak saja main ambil kakaknya. Ini tak akan terjadi. Dan jangan berharap lebih lelaki itu akan menerima wanita licik tersebut. “Kamu nggak takut kalau Manggala akan melemparmu keluar?”
Lie marah dengan ucapan gadis tersebut. Ingin rasanya menamparnya. Namun berusaha di tahan. Karena ia tak ingin membuat gaduh.
Gala tak mungkin bisa memutuskannya dengan mudah. Karena lelaki itu akan menanggung akibatnya bila tega melakukan hal itu. Ia akan membuat heboh media karena hal ini. Dan tentu saja banyak orang yang akan kasihan kepadanya. Ini semua telah sempurna. Lie tak ingin kehilangan Manggala, tambang emasnya.
Namun, tentu saja sang kakak tak akan tinggal diam. Lie lupa berurusan dengan siapa. Ia berani mempermainkan orang yang terkenal keji dan juga penuh perhitungan.
“Kamu licik juga?”
Lie tertawa pelan, “Nikmati panggung pertunjukan ini.”
Aya mengangguk, “Kita lihat saja.”
Pada akhirnya makan malam diisi oleh tatapan sinis. Meskipun sang kakak sudah kembali. Tetap saja atmosfirnya terasa berbeda. Ada ketegangan di sana. Meskipun sang kakak tak akan pernah merasakannya. Karena lelaki itu tak peka sekali. Jadi tak akan bisa merasakan hal ini. Dan tentu saja itu membuat Aya sedikit kesal. Namun, mau bagaimana lagi. Kakaknya memang seperti itu. Jadi ia sedikit bisa memakluminya.
Walaupun Gala memberi kesan baik. Namun, ia sama sekali tak suka. Apalagi mengetahui kalau perempuan itu memiliki dua wajah. Membuatnya ingin segera pulang.
Dengan berat hati Gala tidak bisa mengantar kekasihnya pulang ke rumah. Karena sang adik meminta untuk mengantar ke suatu tempat terlebih dahulu. Dan tentu saja ada juga beberapa pekerjaan yang harus segera diselesaikan.
Beruntung sekali memiliki kekasih yang sangat pengertian dan bisa memahami dirinya. Tak menuntut banyak dan selalu tahu kesibukannya. Buktinya, Lie dengan tersenyum dan paham kalau harus pulang sendiri. s
Akan tetapi Aya merasa ingin muntah melihat sikap Lie kepada sang kakak. Wanita itu memang tak tahu diri. Bisa dipastikan selepas ini sang kakak akan menendangnya keluar. Dan cepat atau lambat, akan memutuskan hubungan mereka.
Karena Aya sudah muak dengan kepalsuan yang ditampilkan. Memang ya, seorang artis sangat pandai berakting. Akan tetapi ini semua tak berlaku di hadapannya.
Ia sudah terbiasa melihat banyak ekspresi orang. Mana yang tulus dan penuh kebohongan. Ia bisa mengetahuinya. Karena itulah sang kakak mempertemukan mereka.
Selepas ini, ia akan melihat perempuan itu putus dengan Manggala. Tentu saja ia sangat menanti akan hal itu. Mari dibuktikan siapa yang akan menang. Lie atau dirinya. Sebentar lagi akan ketahuan.