Manggala menatap adiknya tak percaya. Lelaki itu baru mengetahui alasan di balik sang adik menolak kekasih pertama yang dikenalkan kepadanya. “Kenapa baru sekarang kamu bilang?”
Aya mengedikkan bahu cuek, “Malas saja untuk mengatakannya.”
Karena perempuan itu tahu sang kakak tidak pernah mencintai sosok Kalei. Jadi tak perlu banyak alasan untuk mengakhiri hubungan mereka. Toh, yang menjodohkan mereka adalah para netizen kurang kerjaan. Dengan alasan Lei yang sangat cantik dan juga pintar. Namun, apalah arti itu semua bila tidak memilki sopan santun. Sebuah hal yang menjadi penilaian utama.
Buat apa sempurna bila tidak bisa menghargai orang lain. Itu sama saja dengan menghancurkan diri sendiri. Dan tentu saja sang kakak tidaklah bodoh dalam menilai orang. Mungkin, hubungan mereka memang memperngaruhi saham perusahaan. Akan tetapi, ketika berpisah pun tak memberi efek apa-apa. Karena yang diuntungkan di sini hanya pihak Lei, bukan Manggala.
“Aya …”
“Karena aku tahu, kakak tidak jatuh cinta kepadanya.”
Lelaki itu hanya bisa menghela napas dalam. Adiknya memang benar-benar spesies keanehan. Di mana selalu ada saja alasan yang diberikan. Hingga membuatnya pusing sendiri. Akan tetapi memiliki perasaan yang sangat peka. Karena itulah, ia selalu mempercayai sang adik. Terlebih lagi tak ada yang mengenalnya lebih baik dari pada Allaya Ishan. Adik semata wayangnya. Dan tentu saja menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki setelah kedua orang tua mereka meninggal.
Masih ingat dalam ingatannya waktu itu. Di mana setelah mereka pulang ke rumah selepas makan malam bersama Lie. Dengan berat hati Gala tidak bisa mengantar kekasihnya pulang ke rumah. Karena ada beberapa hal yang harus segera diselesaikan.
Beruntung sekali memiliki kekasih yang sangat pengertian dan bisa memahami dirinya. Tak menuntut banyak dan selalu tahu kesibukannya. Buktinya, Lie dengan tersenyum dan paham kalau harus pulang sendiri.
“Bagaimana dengan dia?” tanya Gala dalam perjalanan pulang, “kalian membicarakan apa saja?”
Aya membuang napas dalam, “Apa Kakak benaran mencintainya?”
“Maksudmu …”
“Aku nggak suka.”
Manggala mengernyit heran. Melirik adiknya yang terlihat kesal dan menahan amarah. Ia sama sekali tak tahu dengan apa yang telah mereka bicarakan. Padahal sebelum ditinggal tak ada masalah apapun. Namun, kenapa saat ini adiknya malah mangkel.
“Kenapa?”
“Apanya?”
Gala membuang napas dalam, “Mengapa nggak suka?”
Aya mengedikkan bahu, “Nggak tahu.”
“Aya …”
“Kakak bisa cari yang lain?”
Lelaki itu hanya mengangguk. “Akan tetapi alasannya kenapa kamu menolak …”
“Karena Kakak tidak mencintainya.”
Gala hanya bisa membuang napas dalam. Apa yang dikatakan Aya ada benarnya. Mereka menjalin hubungan karena perjodohan dari netizen. Padahal, ia sama sekali tak menaruh rasa. Dan lagi, ini semua terjadi karena desakan dari pihak Lie. Agar mereka sama-sama diuntungkan.
Mungkin, ini saatnya yang tepat untuk mengakhiri hubungan. Apalagi setelah mendengar ucapan Aya. Semakin yakin dirinya untuk putus. Meskipun ia tahu bakalan sulit dan penuh drama. Akan tetapi, ia harus melakukannya.
“Kak, maaf …”
Gala melirik sekilas, “Kenapa?”
“Karena aku nggak bisa menerima dia,” Aya merasa bersalah menjadi penyebab kandasnya hubungan sang kakak. Namun, mau bagaimana lagi. Ia tak mungkin berbohong dan menerima begitu saja. Bila hatinya memang keberatan dengan kehadiran wanita tersebut. “Dia terlalu bersinar. Aku takut kalau …”
“Kenapa?”
“Kakak akan marah,”
Gala menggeleng pelan, “Nggak mungkin. Sekarang coba ceritakan apa yang terjadi.”
Aya memberanikan diri menceritaka apa yang terjadi. Tadi sang kakak mengajaknya untuk bertemu dengan Lie. Setelah beberapa waktu, Gala harus menerima telepon dan pergi sebentar. Di saat itu tiba-tiba saja ekspresi Lie berubah total. Terlihat angkuh dan juga judes.
Belum lagi tiba-tiba saja mengangkat telepon dari seseorang dengan suara mesra. Meskipun ada dirinya. Seolah perempuan itu tak peduli. Yah, walaupun kala itu Lie menggunakan bahasa asing. Namun bukan berarti dirinya tak mengerti. Dan itu membuatnya semakin muak.
“Kenapa?” tanya Lie setelah menutup teleponnya, “kamu pasti nggak tahu artinya …”
“Dia pacarmu, ‘kan?” sela Aya yang menaruh gelas minumnya, “lalu bagaiamana dengan kakakku?”
Lie terkejut. Tak menyangka saja adik dari Gala tahu apa yang ia bicarakan. Padahal mereka menggunakan bahasa Jerman. Tidak mengira kalau perempuan itu sangat pintar. “Terus … kamu akan mengadu gitu?”
“Kenapa?” Aya menaikan sebelah alisnya, “takut?”
“Buat apa?”
Aya mengangguk mengerti. Perempuan itu sangat tangguh dan juga percaya diri. Penuh dengan drama dan berpura-pura. Kok bisa sang kakak jatuh cinta kepada sosok tersebut. Atau ini hanya akan menjadi pelampiasan sang kakak. Karena selama ini yang ia tahu, kakaknya jarang sekali bahkan tak pernah ia temui ekspresi orang jatuh cinta. Meskipun dengan mantan-mantan yang sebelumnya. Pijaran mata mengagumi sama sekali tak didapatkannya.
Begitu pula dengan wanita yang duduk dihadapannya. Sang kakak sama sekali tak menaruh mimik wajah orang yang lagi kasmaran. Malah terlihat biasa saja dan terkesan seperti patner kerja.
Ia sudah mengenal sang kakak sangat lama. Tentu saja ia mengetahui segala sesuatu dalam diri Manggala. Meskipun mereka jarang bercerita karena kesibukan masing-masing. Namun, ia yakin sang kakak tak mencintai wanita tersebut. Terlihat jelas di depannya bila hubungan ini terjadi karena netizen yang menjodohkan mereka.
“Oh, ya …” Lie menjeda ucapannya. Memandang remeh perempuan di depannya, “siapa namamu?”
“Aya …”
“Oke, Aya,” sela Lie dengan tatapan tajam, “mulai sekarang siap-siap untuk pergi dari kehidupan Manggala. Aku masa sekali tidak suka tinggal denganmu. Dan aku bisa pastikan Gala akan memberi tempat tinggal yang layak untukmu!”
Aya mengerjap pelan mendengar itu semua. Apakan perempuan itu sedang bermimpi. Tak mungkin sang kakak mengusirnya. Bisa-bisa Lie sendiri yang akan didepak bila memperlakukannya sewena-wena.
“Karena sebentar lagi aku akan tinggal bersama Manggala!”
Aya hanya tertawa sinis. Bisa dipastikan besok sang kakak akan memutuskannya. Dan seharusnya yang pergi adalah wanita itu. Bukan dirinya. Karena Kalei sama sekali tak cocok bersanding dengan seorang Manggala.
“Anda serius?”
Lie menyunggingkan senyuman sekilas, “Tentu saja …”
“Apa benar Kakak akan mau sama kamu?” Aya menyela dengan nada sinis. Enak saja main ambil kakaknya. Ini tak akan terjadi. Dan jangan berharap lebih lelaki itu akan menerima wanita licik tersebut. “Kamu nggak takut kalau Manggala akan melemparmu keluar?”
Lie marah dengan ucapan gadis tersebut. Ingin rasanya menamparnya. Namun berusaha di tahan. Karena ia tak ingin membuat gaduh.
Gala tak mungkin bisa memutuskannya dengan mudah. Karena lelaki itu akan menanggung akibatnya bila tega melakukan hal itu. Ia akan membuat heboh media karena hal ini. Dan tentu saja banyak orang yang akan kasihan kepadanya. Ini semua telah sempurna. Lie tak ingin kehilangan Manggala, tambang emasnya.
“Kamu licik juga?”
Lie tertawa pelan, “Nikmati panggung pertunjukan ini.”
Aya tak menyangka saja wanita berkelas akan melakukan hal bodoh seperti itu. Beruntung sekali sang kakak bisa lepas dan juga keluar dari jerat wanita buaya tersebut. Meskipun membutuhkan waktu dan tenaga ekstra.
“Gila …”
“Biarkan saja,” sela Aya dengan santai, “Kakak nggak marah, ‘kan?”
“Santai saja,” sela Gala yang tak mungkin menyalahkan sang adik. Mengelus pelan kepala perempuan yang selalu ada disampingnya tersebut. Sampai kapan pun ia akan tetap meminta restu adiknya. Ia tak mungkin asal memilih calon istri bila sang adik tidak dapat menerima. “Lagian kayaknya Kakak nggak suka terlalu diekspos media.”
Lelaki itu sedikit risi dengan banyak kamera ketika mereka bersama. Entah dari mana datangnya wartawan. Selalu saja ada di setiap langkah mereka. Seolah sudah diberi tahu tentang keberadaan mereka. Padahal, ia hanya ingin hidup wajar tanpa ada kilatan cahaya kamera.
Namun, mau bagaimana lagi. Ia tak bisa berbuat banyak. Seharusnya Lie mengerti kalau hubungan mereka tak seharusnya diumbar begitu saja. Akan tetapi perempuan itu seolah tak peduli. Dan malah senang bila kedatangan banyak wartawan. Pura-pura manja dan berlaku romantis. Tentu saja Gala tak suka akan hal itu.
Menurutnya itu sama saja dengan memakai topeng. Tidak menunjukkan yang sebenarnya. Apalagi Lie pernah bilang kalau selama ini ia hidup di depan sorotan kamera. Selalu terlihat rapi, bersih dan tentu saja bahagia.
Tentu saja itu sangat bertentangan dengan dirinya. Yang memang menjunjung tinggi kejujuran. Dengan wanita itu berkata seperti tersebut. Berarti sudah sering melakukan kebohongan untuk menutupi banyak hal.
Apalagi saat mengetahui cerita yang sebenarnya. Ia merasa sangat beruntung sekali lepas dari Kalei. Walaupun membutuhkan banyak drama. Pada akhirnya semua ini berakhir. Dan ia bisa lepas dari perempuan tersebut.
“Kenapa instingmu sangat kuat, sih?”
Aya mengedikkan bahu, “Entah …”
“Nggak tahu nanti seperti apa bila kakak menikah dengan Lie.”
Aya sendiri pun tak bisa membayangkan hal tersebut. Yang ada pasti hanya cekcok dan juga saling menyakiti satu sama lainnya. Terlebih, ia sangat tahu sang kakak tidak suka diatur-atur. Apalagi harus pura-pura tersenyum dihadapan kamera.
Tentu saja itu akan membuat kakaknya capek sendiri. Ia sangat mengenal Manggala. Lelaki itu tak suka dengan banyak flash kamera dan juga keramaian. Bisa-bisa nanti hubungan mereka hanya seumur jagung. Dan tentu saja Aya tak mengingkan hal itu terjadi.
Perpisahan mereka sempat menjadi tranding topic. Dan dirinya pun pernah kena getahnya juga. Banyak yang menghujat dan menyalahkan dirinya atas kandas hubungan sang kakak dengan model. Karena konon katanya ia sendiri yang membuat sang kakak mencampakkan Lie. Dan banyak orang yang mengecap dirinya mencintai sang kakak.
Banyak berita yang tak benar. Namun banyak sekali mendukungnya karena alasan kasihan. Yang menurut Gala menjijikan. Hingga ia harus turun tangan sendiri. s
Sampai pada akhirnya sang kakak melakukan pelurusan masalah ini. Masih ingat kalimat yang dikatakan saudara kandungnya tersebut. Membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata karena terharu. Tak menyangka saja kakaknya bisa mengucapkan hal itu di depan banyak orang. Padahal selama ini Manggala terkesan cuek dan tak peduli. Namun, dbalik itu semua. Lelaki tersebut sangat hangat dan juga penih perhatian.
“Apapun yang beredar di luar sana, saya sama sekali tidak peduli,” ujar Gala kala itu. Di mana ia mengadakan klarifikasi atas masalah yang belakangan ini menjadi bahan gossip. “Asal jangan menyentuh adikku.”
Lelaki itu sangat kesal tentang pemberitaan sang adik. Dan itu yang membuatnya berbicara di depan banyak wartawan. Itu semua karena ulah Lie yang mengatakan hal tak masuk akal. Tentu saja ia tak akan tinggal diam bila menyangkut adik tercinta.
“Di sini saya perlu menekankan sesuatu,” Gala membuang napas dalam. Berharap masalah ini segera selesai. “Siapapun yang ingin bersanding denganku harus mendapatkan restu dari adikku. Kalau adikku menolak, jangan harap bisa menjalin hubungan denganku. Dan aku harap kalian mengerti serta tak menulis lagi berita yang berisi omong kosong. Kalau tidak biar kuasa hukum perusahaan yang akan berurusan dengan kalian semua.”
Setelah sang kakak mengatakan hal tersebut, Aya memangis. Tak mengira saja akan mendengar ucapan tersebut. Dan tentu saja itu membuat hubungan mereka lebih erat.
Kisah pertama telah kandas karena dirinya yang ceroboh memilih orang. Beruntung sekali sang adik bisa mengatasi ini semua. Sampai ia tak perlu terjebak dengan wanita gila itu.
“Makasih, ya …”
Aya mengeleng, “Jangan bilang seperti itu.”
Manggala memeluk adiknya dengan hangat. Tak menyangka saja ada orang yang berani menyerang adiknya. Kalau tahu seperti ini, lebih baik ia hancurkan sekalian karir perempuan itu. Karena sudah berani mengganggu adiknya.
Beruntung sekali Aya mengatakan ini sekarang. Di mana masalah dengannya telah selesai. Coba dari awal ia tahu. Sudah habis perempuan itu di tangannya.
Gala membuang napas dalam. Menatap adiknya dengan saksama. "Kamu memang hebat!"
"Aya gitu, loh!"
Gala tertawa mendengar ucapannya. Memang benar Aya tak akan tergantikan. Apapun yang terjadi adiknya selalu nomer satu. Meskipun sudah menikah. Namun ia akan tetap menyayangi.
"Kenapa nggak bilang dari awal?"
"Nanti Kakak akan berbuat kejam," jawab Aya dengan wajah polosnya, "aku nggak ingin hal itu terjadi. Kakak putus dengannya saja itu sudah baik."
Kalau seperti ini bagaimana ia bisa menyakiti sang adik. Aya begitu perhatian dan juga penuh kelembutan. Dan sekarang sudah bahagia juga. Tentu saja ia juga merasa senang.
Dengan lembut ia mengelus kepala sang adik. Memainkan rambutnya adalah kesukaan Manggala. Dan tentu saja itu membuat Aya marah-marah tak jelas.
“Kalau dengan yang kedua bagaimana?”