Aya berpikir sejenak. Mengingat kembali kekasih kedua sang kakak yang ditolaknya. Kalau tidak salah yang kedua adalah salah rekan bisnis Manggala. Perusahaan mereka baru saja menjalin kerja sama. Dan tumben sekali saudaranya itu mau bekerja sama dengan pemimpin perempuan. Biasanya selalu ada saja alasan untuk menolak. Namun, kali ini terasa sangat berbeda. Bahkan proyek yang mereka kerjakan tergolong sangat besar. Itu yang membuat perempuan tersebut memilki banyak pertanyaan dalam pikirannya.
Ketika Aya bertanya, Manggala justru menjawab dengan ringan. Seolah tak ada yang aneh. Namun, perasaan sang adik tak bisa dibohongi begitu saja. Tentu saja sang kakak tertarik dengan wanita tersebut. Buktinya mau kerja sama dan lelaki itu sendiri yang turun ke lapangan. Biasanya para pegawai. Dan Gala hanya memeriksa laporan saja.
Namun, kali ini berbeda sekali. Lelaki itu rela sibuk dan kepanasan ketika berada di lapangan. Apalagi terdengar kalau mereka sering bersama. Dan tentu saja itu semakin membuatnya penasaran. Apa benar hubungan ini murni akan kerja sama semata. Atau malah ada perasaan yang tersembunyi.
“Nggak …”’
“Nggak salah?” sela Aya cepat. Memperhatikan ekspresi sang kakak dengan saksama. Ada raut wajah yang tak biasanya. Dan tentu saja itu membuat perempuan itu menaruh curiga. “Kakak tertarik sama dia, ya?”
Manggala tertawa. Menggeleng dengan cepat, “Jangan ngaco!”
Aya hanya menatap sang kakak tak percaya. Tentu saja ia sangat mengenal sosok Manggala. Sedikit perubahan raut wajah telah terlihat. Tak mungkin lelaki itu biasa saja. Kalau di hadapannya ada wanita cantik dan juga pintar. Apalagi hampir memenuhi sebagai kriteria calon pendamping. Pasti sudah didekati terlebih dahulu.
Entah mengapa kriteria sang kakak selalu tinggi dan mengagumkan. Harus cantik, tinggi, pintar lagi. Yang pasti kalau bisa harus sempurna untuk melengkapi sosok Gala. Seseorang yang tak memiliki celah sama sekali. Dan tentu saja itu sangat susah. Karena setiap orang pasti memilki kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Apalagi setelah putus dengan Lie, meskipun terjadi berbagai drama. Dan menguras tenanga. Sang kakak memilih menjomlo beberapa waktu. Tentu saja Aya merasa bersalah. Karena keegoisannya yang tak bisa menerima wanita itu. Sang kakak harus mengundurkan diri untuk segera menikah.
Akan tetapi ia pun tak bisa berpura-pura untuk menerima. Karena jaiuh dalam lubuk hatinya menolak. Sama saja dengan dirinya yang membohongi diri sendiri. Dan tentu saja Aya tak mungkin melakukan hal tersebut.
Namun, Gala sama sekali tak menyalahkan adiknya. Karena kalau memang mereka berjodoh pasti aka nada jalan untuk bersama. Buktinya saja Lie sudah berada dalam pelukan lelaki lain. Bahkan belum genap seminggu setelah perpisahan mereka.
Itu sudah membuktikan kalau wanita itu sama sekali tak mencintainya. Semua omongan yang dilontarkan ke public hanya kebohongan semata. Dan tentu saja ia tak menyesal sama sekali setelah berpisah dengan model tersebut.
Malahan sekarang ia bisa realitas. Kalau memang wanita mendekati hanya karena harta semata. Bukan dengan alasan perasaan dan cinta. Sebab itu hanya sebuah kebohongan semata. Sampai pada akhirnya ia bertemu Uzziye Mahalia.
Seorang wanita yang mempunyai visi dan misi hampir sama. Di mana ketika mereka membahas sesuatu semuanya nyambung. Saling melengkapi satu sama lain. Ziye mampu mengimbangi topic yang sedang dibahas. Dan tentu saja itu menjadi nilai tambah untuk rekan bisnisnya tersebut.
Terlebih lagi, Ziye terkanal degan sopan santunnya. Tutur kata yang tertata rapi. Membuat nilai lebih di mata Manggala. Semakin hari, hubungan mereka dekat. Di mana mereka mengerjakan satu proyek besar bersama. Dan tentu saja itu menimbulkan perasaan lebih di hati mereka.
Seiring berjalannya waktu, pada akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih. Saling melengkapi satu sama lain. Dan juga proyek mereka berjalan sangat lancar. Tentu saja ini semua berkat kerja keras mereka.
Dan kali ini, Gala ingin mengenalkan perempuan itu kepada adiknya, berharap kali ini Aya merestui hubungan mereka. Karena ia sudah berumur untuk menjalini hubungan yang tidak ada ujungnya.
Maka dari itu, ia akan mengenalkan Ziye secara langsung. Karena selama ini Aya hanya mendengar cerita darinya. Tentu saja itu semua hal bagus yan diungkapkannya. Gala yakin adiknya akan setuju kali ini. Karena bila dilihat mereka akan kompak satu sama lain.
“Kan …”
“Apa?” Gala melirik sang adik. Kini mereaka dalam perjalanan makan malam bersama dengan Ziye. Entah mengapa Aya terlihat sangat anggun mala mini. Dengan balutan dress selutut lengan panjang warna putih yang dipadukan rompi tanpa lengan kotak abu-abu mempercantik penampilanya. Belum lagi flatshoes yang memang menjadi andalan sang adik sekali snakers. Sedangkan rambutnya digerai begitu saja tanpa ada aksesoris apapun. Sebagai pelengkap tak lupa gelang jam yang menjadi kesukaan Aya. Sangat imut dan menggemaskan.
“Katanya nggak suka …”
Gala tertawa kencang. Lelaki itu menjilat ucapannya sendiri. Dengan penuh percaya diri mengatakan kalau tak akan jatuh cinta kepada perempuan itu. Nyatanya, sekarang dirinya malah memperkenalkannya dengan sang adik. Dan tentu saja menjadi bahan ejekan sedari tadi.
Apalagi wajah songong sang adik seolah mengatakan tak ada yang nggak mungkin. Buktinya saja kini mereka sedang dalam perjalanan untuk bertemu dengan wanita tersebut. Berarti sang kakak benar-benar serius dengan hubungan ini. Sampai-sampai dirinya diajak bertemu.
“Kak …”
“Iya?”
“Kakak benara suka sama dia?”
Manggala terdiam ketika ditanyai seperti itu. Entah mengapa tak bisa menjawabnya. Padahal sebuah pertanyaan yang sama sekali tak sulit. Dan tentu saja ia sudah menyiapkan jawabannya. Namun, saat sang adik bertanya. Lidahnya terasa kelu untuk berbicara. Tiba-tiba saja ia kehilangan kekuatan untuk mengeluarkan kata-kata.
Ada beberapa hal yang masih membuat lelaki itu ragu. Apa ini cinta tau hanya kekaguman semata. Karena memang wanita ini begitu berkelas. Dan tentu saja sangat cocok bersading dengannya.
Akan tetapi, ada sedikit yang mengganjal dalam hati. Terbesit sebuah pertanyaan dalam kepalanya. Apakah perempuan itu juga mencintainya. Atau hanya sekadar terbawa suasana. Karena mereka setara. Dari segi mana pun. Mereka seimbang. Karena itulah yang membuat Gala bimbang.
“Kak …”
“Entah,” jawab Gala kirih, “nanti saja setelah kamu bertemu dengannya. Kakak akan menjawab.”
Aya mengangguk. Dapat dipastikan lelaki itu masih ragu. Sama seperti dengan Lie. Ada sebuah kegalauan dalam dirinya untuk melanjutkan langkah ke depannya. Karena hal itu lah ia dipertemukan. Kalau memang sang kakak sudah sap dan benar-benar pasti. Sudah sejak kemaren ada pembicaraan tentang lamaran. Bukan perkenalan.
“Kalau kamu memang nggak suka bilang, ya!”
Allaya mengerti. Lelaki itu butuh masukan darinya. Semoga saja Ziye memang orangnya baik seperti yang kakaknya katakan. Bukan yang pura-pura karena menginginkan sesuatu. Tentu saja dirinya tak suka orang munafik.