“Waktu itu sama dokter …”
“Kenapa?” tanya Aya menyela dengan tatapan tajam, “buat apa dokter kalau merebut kekasih orang?”
Gala membuang napas dalam. Yang dikatakan adiknya memang tidak salah. Namun, bukan berarti perempuan itu tidak baik. Karena yang mereka lakukan atas dasar suka sama suka. Bukan keterpaksaan.
Lagian yang selama ini menemaninya adalah dokter tersebut. Karena kekasihnya sangat sibuk dengan desain baju dan juga persiapan untuk fashion show. Sama sekali tak memprioritaskan dirinya. Jadi jangan salahkan ia bila tertarik dengan wanita lain.
“Jangan jadikan waktu sebagai alasan kalau Kakak nggak tahu apa yang sebenarnya tengah di laluinya.”
Padahal Ura begitu baik. Setelah mendengar semua yang terjadi perempuan itu tetap saja mau berteman dengan sang kakak.
“Ada hubungan apa Kakak sama dokter tersebut?”
Gala terkejut mendengar pertanyaan tersebut. Lelaki itu langsung melirik ke arah sang kekasih yang menatap ke bawah. Sama sekali tak melihat ke arahnya. Tak mungkin mereka mengetahui hal ini.
“Maksudnya …”
“Kakak nggak perlu pura-pura bodoh!” sergah Aya dengan suara tajam. Perempaun itu merasa sangat kecewa dengan sang kakak. Bisa-bisanya menjalin hubungan dibelakang kak Ura selama ini. Dan itu semua sama saja dengan sang kakak melukai perasaannya. “Bukannya selama ini kakak menjalin hubungan dengan dokter gigi?”
Manggala terbelalak tak percaya. Ingin rasanya lelaki itu menggeleng. Namun kepalanya sama sekali tak bisa digerakan. Kalau seperti ini, apakah ia bisa mengelak. Melihat kekecewaan di mata Aya, lelaki itu sadar telah melakukan hal bodoh.
Apalagi respon yang diberikan oleh Ura juga, membuatnya merasa sangat bersalah. Seharusnya perempuan itu yang bertanya. Bukan adiknya. Sebenarnya siapa yang mengetahui hal ini duluan. Kalau memang Ura tahu, kenapa tidak mengatakan kepadanya. Emang harus semua ini melibatkan Aya.
Lelaki itu masih memandang Ura yang terlihat dingin dan cuek. Berbeda sekali dengan yang dikenalnya selama ini. Biasanya banyak bicara dan juga periang. Namun, kali ini terasa sangat berbeda. Bahkan atmofir diantara mereka bertiga serasa tegang dan penuh dengan kemarahan yang terpendam. Dan tentu saja tak menyenangkan sama sekali.
“Kamu bicara apa …”
“Kak!”
“Sudah!”
Kakak beradik tersebut langsung terpaku. Menoleh ke arah perempuan yang sedari tadi diam. Terlihat Ura membuang napas dalam. Berusaha untuk mengatur emosinya. Karena sedari tadi mereka menjadi bahan tontonan. Di mana Aya dengan suara tinggi. Dan Gala bukannya merendahkan suaranya, malah ikutan menaikan intonasi. Apa mereka tidak sadar kalau di tempat umum. Di mana ada banyak telinga dan juga berbagai penilian.
Ura mencoba sabar dari tadi. Apalagi setelah mendengar kabar tentang kekasihnya yang berselingkuh. Jujur saja, ia baru tahu saat ini. Kalau bukan Aya yang bilang. Mungkin sampai sekarang ia aka dibohongi lelaki tersebut.
Ingin rasanya mengelak. Namun yang mengatakan adalah adiknya Manggala. Tidak mungkin perempuan itu berbohong. Apalagi pura-pura tentang hal sensitive ini. Dan ia tak tahu harus berbuat apa.
Melihat Aya yang begitu marah kepada Gala, ia tak ingin persaudaraan mereka hancur dan terusik karena masalahnya. Ura tahu, lelaki itu sangat menyanyangi adiknya. Begitu pula dengan Aya. Karena imtu, ia melihat ke arah Aya. Memegang tanganya dan tersenyum.
“Aya pulang, ya …”
Aya menggeleng, “Tapi …”
“Biar Kakak yang menyelesaikan masalah ini,” Ura membuang napas dalam, “terima kasih sudah memberi tahu, Kakak.”
Aya mengangguk. Perempuan itu bangkit dan berlalu begitu saja. Meninggalkan kakaknya begitu saja. tanpa pamitan dan juga basa-basi. Ia cukup muak dengan tingak laku Gala. Lihat saja nanti sampai rumah. Dengan senang hati dirinya akan membuat perhitungan dengan lelaki itu.
Padahal ia ingin tetap tinggal di sana. Melihat bagaimana sang kakak yang akan mendapatkan cacian. Akan tetapi, Ura menyuruhnya untuk pulang. Mungkin ini waktunya mereka bicara baik-baik.
Aya membuang napas dalam. Sebenarnya ia sudah mengetahui ini sejak lama. Kalau sang kakak menjalin hubungan lain. Padahal saat ini lelaki itu menyandang status sebagai pacar dari Ventura Belita, seorang desainer ternama. Malah bermesraan dengan perempuan lain. Adik mana yang tidak kecewa.
Ia masih berusaha mencari tahu terlebih dahulu. Sampai semua bukti terkumpul dengan jelas, Aya memberanikan diri menelepon Ura. Meminta perempuan itu untuk menemuinya sebentar. Padahal ia tahu, Ura sedang sibuk menyiapkan fashion show yang sebentar lagi akan digelar.
“Kenapa, Ya?” tanya Ura yang mengangkat telepon dari adiknya Gala, “hari ini nggak sibuk, kok. Semua sudah selesai. Ada apa?”
Aya membuang napas dalam, “Bisa temanin Aya?”
“Tentu saja,” Ura mengangguk meskipun ia yakin Aya tak bisa melihatnya, “ke mana?”
“Aya tunggu di café ya, Kak.”
Perempuan itu tak tahu apa yang dilakukannya benar atau tidak. Karena ini menyangkut kelanjutan hubungan sang kakak. Namun, di sisi lain ia tak terima kalau Ura diperlakukan seperti ini. Wanita itu harus tahu kelakuan sang kakak.
Lagian apapu alasannya sang kakak sudah mendua. Dan sampai kapan hubungan ini akan bertahan lama. Mending mereka menjadi teman seperti dulu daripada menjalin hubungan yang tak sehat seperti ini. Dan tentu saja akan sangat menyakitkan bagi Ura.
Dirinya pun tak bisa menyembunyikan semua ini. Meskipun Manggala adalah kakaknya. Lelaki itu tetap salah. Dan ia tak bisa menutupi perbuatan pria tersebut. Maka dari itu, ia akan mengatakan semuanya kepada Ura. Dari pada perempuan itu mendengarkan dari mulut orang lain. Lebih baik dirinya yang mengutarakan terlebih dahulu. Setidaknya ia tak akan menyesal bila hubungan kakaknya kandas. Karena itu kosekuensi yang harus diterima Manggala.
Ini memang menyakitkan untuk Ura. Namun perempuan itu harus bisa menerima. Karena itu yang sebenarnya terjadi. Sang kakak telah menduakannya. Dan itu pasti sangat menyakitkan.
Aya melihat itu. Ura menangis setelah mengetahui hal ini. Namun berusaha untuk tetap tegar dan memintanya menelepon Gala. Menyuruh lelaki itu ke sini. Karena belakangan hari ini Ura jarang sekali berkomunikasi dengan Manggala. Lelaki itu selalu sibuk. Dan ia pun tak kalah repot. Maka dari itu hubungan mereka merenggang.
“Kak …”
“Aku nggak papa,” sela Ura dengan senyuman seperti biasa, “biar aku selesaikan semuanya. Makasih sudah memberi tahu, Aya.”
Allaya mengangguk pelan. Untuk terakhir kali memeluk Ura dan menguatkan perempuan itu. Apapun yang diputuskan akan Aya terima. Dan akan selalu berdoa untuk kebahagian mereka.
Aya tak habis pikir dengan apa yang telah dilakukan sang kakak. Bisa-bisanya menduakan orang yang tulus mencintai dengan alasan mereka jarang bertemu. Bukannya mereka sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Lantas mengapa harus menghadirkan wanita lain di tengah hubungan yang Aya setujui.
Karena hal ini, Aya marah kepada Gala. Meskipun lelaki
Gala merasa tertampar. Memang benar apa yang dikatakan Aya. Dirinya hanya membenarkan apa yang telah terjadi. Tanpa perlu repot-repot mencari tahu. Membuat hubungan semakin renggang dan tentu saja dengan mudah orang lain masuk ke dalamnya.
Ia memang salah. Akan tetapi sangat gengsi untuk mengatakannya. Namun mau bagaimana pun ini semua terjadi karena dirinya yang membiarkan orang lain masuk dalam hubungannya.
Maka dari itu, tak salah bila Aya marah besar. Padahal sang adik sudah memberi lampu hijau. Namun sayang ia yang merusaknya.
Dan kini, ia sangat menyesal. Andai waktu bisa diputar kembali. Namun sayangnya itu tak mungkin. Karena semua akan terus berjalan seiring dengan bergantinya hari.
“Kakak menyesal, ya?”
Manggala terbelalak tak pecaya, “Aya …”
“Jujur saja,” sela Aya yang menaikan sebelah alisnya, “apalagi kak Ura mau menikah. Tambah galau, ‘kan?”
Lelaki itu hanya bisa menghela napas dalam. Kalau boleh jujur, dirinya memang sangat menyesal. Apalagi setelah tahu alasan kenapa Ura begitu sibuk. Semakin menambah rasa bersalah dalam diri.
Seharusnya ia mencari tahu terlebih dahulu. Bukan langsung hanyut dengan perempuan yang baru saja hadir. Meskipun memberinya kebahagian, namun itu hanya sesaat. Karena pada akhirnya yang tersisa hanyalah luka.
“Salah sendiri …”
“Iya,” Gala menyela ucapan sang adik, “kakak yang salah.”
Aya tertawa pelan. Perempuan itu suka sekali mengungit masalah ini. Di mana sang kakak yang masih merasa bersalah karena perbuatan bodohnya. Salah siapa melepaska begitu saja berlian dan memilih debu yang tak ada apa-apanya.
Namun, di sisi lain Aya merasa bersalah dan juga kasihan. Andai saat itu ia langsung setuju, mungkin ini semua tak akan terjadi. Sang kakak tidak akan tergoda oleh dokter gigi tersebut. Dan hubungannya dengan Ura mungkin sudah berada tahap selanjutnya. S
“Kak …”
Gala melirik sang adik, “Ada apa?”
“Kenapa waktu itu Kakak mengenalkan dokter itu padaku?” tanya Aya yang sedikit bingung dengan langkah yang diambil sang kakak. Di mana lelaki itu membawanya untuk bertemu dokter yang menjadi retaknya hubungan persaudaraa mereka. “Padahal saat itu Kakak tahu aku sangat membencinya. Terlebih lagi bukannya saat itu kita sedang berantem, ya?”
Mangggala terdiam sejenak. Memikirkan kembali apa yang dilakukannya saat itu. Dan kenapa ia mempertemukan Aya dengan dokter tersebut. Mengapa ia bisa lupa akan hal ini. Tentu saja itu sangat menyakiti sang adik.
Padahal keinginannya kala itu agar sang adik mengenal dulu dojter tersebut. Tidak perlu membayangkan yang negative saja. karena banya orang yang kelihatan cuek namun jauh dalam lubuk hatinya ia sebenarnya orang yang baik dan humble. Agar Aya lebih mengenal sosok dokter tersebut. Akan tetapi, sang adik sangat marah besar. Dan berkata buat apa bertemu dengan orang yang sudah menghancurkan hubungan mereka.
“Aya …”
“Cukup, Kak!” perempuan itu menghentikan Gala untuk berbicara. Menatap penuh dengan kekecewaan. Ia berpikir sang kakak tak mungkin memperkenalkan mereka. Akan tetapi, Gala malah mengajak makan bersama. Dan tentu saja itu menyakitkan bagi Aya yang mencoba mengendilikan dirinya agar tak mengingat masa lalu. “ Buat apa Kakak mengajak dia?”
“Dia nggak seburuk yang kamu kira, Ya …”
Aya menggeleng, “Kalau memang dia baik, nggak mungkin menghancurkan hubungan orang lain. Atau mungkin Kakak yang tak bilang kepadanya sudah mempunyai kekasih?”
Manggala terpaku. Tak bisa menjawab pertanyaan ini. Serasa dirinya ditampar oleh kenyataan yang menyakitkan. Di mana yang diucapkan sang adik kebenarannya. Meskipun itu sedikit. Akan tetapi, itulah yang menjadi cikal bakal hubungan mereka.
Awalnya Gala memang nggak bicara kalau sudah mempunyai pacar. Mungkin karena itu perempuan tersebut mau didekati. Karena lelaki itu berpikir buat apa menceritakan tentang dirinya. Toh, hubungan ini hanya sebatas pasien dan juga dokter.
Akan tetapi tanpa disadari semua berlanjut. Hubungannya dengan Ura semaki merenggang. Sedangkan sama dokter tersebut bertambah erat. Dan tentu saja tak mengertahui kalau dirinya sudah memiliki kekasih.
Pada akhirnya ia sadar. Kesalahan ini adalah murni karenanya. Andai saja ia jujur sejak awal. Mungkin ini semua tak akan terjadi. Namun, mau bagaimana lagi. Ia hanya bisa memperbaiki semuanya. Meskipun tak dapat menghaous luka sang adik. Setidaknya, ia tak akan mengulangi lagi.
Seberapa keras ia memperkenalkannya, Aya tak akan mau menerima. Maka dari itu mereka memutuskan untuk berpisah dan tak perlu lagi bertemu. Mengakhiri semuanya dengan perasaan bersalah membuat Gala kacau. Apalagi sang adik ikutan mendiamkannya. Membuat semua pekerjaan tak ada yang benar. Karena pikirannya sedang bercabang ke mana-mana.
“Ya …”’
“Hem?”
“Maafkan, Kakak …”
“Iya!” Aya mengangguk. Lagian itu semua sudah lama. “Maafkan Aya juga,”
“Kenapa?”
“Karena waktu itu Aya tak langsung setuju dengan kak Ura,” jawab Aya lirih. Perempuan itu tertunduk sedih. Karena sebentar lagi sang kakak akan benar-benar kehilangan Ura yang akan menikah dengan lelaki lain. “Kalau saja …”
“Ura bukan jodoh, Kakak,” Manggala menghentikan ucapan sang adik. Lelaki itu tahu kalau Aya merasa sangat bersalah. Namun, padahal yang melakukannya dirinya. Seharusnya ia yang menanggung ini semua. Bukan Aya.
Lagian, kalau dirinya dan Ura berjodoh pasti akan jalan. Apapun rintangannya, mereka akan bersatu kembali. Namun, itu semua tak terjadi. Karena Ura memilih lelaki lain untuk menjalani masa depan bersama.
Terlebih lagi mereka lebih cocok menjadi sahabat dari pada pacar. Karena itulah yang dirasakan Manggala. Ura lebih cocok menjadi teman akrab. Sebab perempuan itu selalu mengerti tentang dirinya. Memahami apapun yang dirasakan tanpa perlu bercerita. Dan selalu mendukung semua keputusan yang diambil.
“Tapi, Kak …”
“Buat apa masih menoleh ke belakang?” tanya Gala sambari mengacak rambut sang adik, “tidak ada apa-apa, bukan?”
Aya mengangguk mengerti. Perempuan itu memilih memeluk kembali tubuh sang kakak. Entah mengapa belakangan ini ia selalu ingin berada disaping sang kakak. Karena belakangan ini Gala memang selalu sibuk dengan pekerjaannya. Jadi hanya sekarang mereka bisa berbicara berdua kembali.
Ditambah dirinya yang sudah memiliki suami. Namun, tetap saja dekapan sang kakak selalu ia rindukan. Di mana lelaki itu yang begitu menjaganya sejak kecil bahkan sampai sekarang. Beruntung sekali suaminya tak masalah bila ia bermanja kepada sang kakak.
Seperti saat ini. Menjadi waktu berdua bagi mereka. Karena sudah lama tak melakukan pembicaraan berdua. Tentu saja rasanya sangat menyenangkan. Dan tentu saja Aya sangat menantikan hari ini. Di man ia akan mengatakan keinginannya. Semoga sang kakak tidak keberatan dan marah kepadanya.