Hari semakin sore. Mentari mau kembali pada peraduan. Lelaki itu melirik sang adik yang terlihat sangat menggemaskan. Seperti mau membicarakan sesuatu. Tapi bingung mulai dari mana. Aya memang perempuan yang luar biasa.
Siapapun kelak jodohnya, harus bisa menerima sang adik yang masih manja kepadanya. Dan ia pun tak masalah. Malah senang bila Aya masih mau merenggek kepadanya. Itu sebagai tanda bahwa sang adik masih membutuhkannya meskipun sudah memiliki pendamping hidup.
“Sekarang mau kamu seperti apa?” tanya Gala setelah keheningan beberapa waktu lalu. Mereka telah membahas semua mantan Manggala. Dan kini, ia ingin tahu sang adik mau seperti apa. Agar ia bisa mencari dan mungkin secepatnya untuk menikah.
Meskipun itu bukan target utamanya. Karena sampai detik ini yang dipikiran hanya pekerjaan. Akan tetapi, tak ada salahnya menanyakan hal ini kepada sang adik. Agar ia lebih mudah mencari calon istri yang akan menemaninya menghabiskan masa tua.
Terlebih lagi, Aya sudah menikah. Tak mungkin ia mengekori sang adik terus menerus. Setidaknya bila ia juga punya pasangan. Mugkin tak akan kesepian sampai sekarang. Dan tentu saja, ia akan mempunyai teman berbagi cerita.
Aya berpikir sejenak, “Terserah …”
“Nanti nggak suka lagi?” Manggala menghela napas dalam. Susah bila jawabannya terserah. Karena itu mengandung banyak makna. Dan ia benci menerka-nerka apa maksud dari kalimat tersebut.
Dan tentu saja itu membuat otaknya bekerja dengan ekstra. Di mana mencari tahu maksud dan tujuan kalimat tersebut. Rangkaian kata yang membuat seluruh lelaki di bumi ini merasa kesal dan tak berdaya.
Perempaun itu hanya tertawa sesaat. Karena memang dirinya sudah menyiapkan seseorang buat sang kakak. Akan tetapi takut bila Gala tak mau menerima. Bahkan langsung menolak. Sebab ia tahu perempuan ini jauh dari kata kriteria sang kakak.
Akan tetapi apa salahnya dicoba. Jodoh tidak ada yang tahu. Mungkin ini yang terbaik untuk sang kakak. Terlebih lagi dirinya juga suka dengan perempuan itu.
“Jangan bilang …” Gala sengaja menggantung ucapannya. Menatap ekspresi sang adik yang sudah bisa ia tebak ke mana lanjutannya. Kalau iya, tamatlah sudah nasibnya kali ini. Karena ia tak akan bisa berkutik sedikit pun. Apalagi menolak permintaan Aya. Ah, kalau seperti ini rasanya ia ingin pulang saja. Tak mau mendengarkan pembicaraan ini.
Aya tersenyum penuh dengan arti, “Apa?”
“Kamu mau menjodohkan Kakak?” tanya Gala hati-hati. Akan tetapi dalam hati ia berharap Aya tak melakukan hal itu. Karena sungguh, ia tak mau terjebak dalam sebuah perjodohan. Dirinya masih bisa mencari pasangan sendiri. Tak perlu dijodohkan. Karena masih banyak perempaun di luar sana yang mengantri untuk menjadi istrinya. “Aya …”s
“Kakak mau?” tanya Aya antusias. Binary kebahgaian terllihat jelas pada bola matanya. Perempuan merasa ada lampu hijau dari sang kakak. Dan tentu saja ia merasa sangat senang sekali, “mau, ya …”
Manggala membuang napas dalam, “Nggak janji …”
“Kalau gitu jalanai saja dulu, gimana?” tawar Aya penuh dengan harap. Dengan kedua bola mata yang menatap lembut sang kakak. Kalau seperti ini, Manggala tak mungkin bisa menolaknya. “Mau, ya!”
Gala tak bisa mengelak lagi. Lelaki itu membuang napas dalam. Semoga saja pilihan sang adik tak jauh dari kriteria yang diinginkannya. Kalau sampai itu terjadi, benar-benar tamat riwayatnya.
Kalau seperti ini, mungkin ia setuju dengan pemikiran Iman kemaren. Bahwa Aya memang sudah menyiapkan jodoh untuknya. Dan tentu saja dirinya akan sulit untuk menghindar. Apalagi menolak. Karena Aya selalu kekeh dengan pendirian.
“Kak …”
“Iya,” Gala mengangguk denga terpaksa, “siapa orangnya?”
Aya tersenyum senang dan memeluk tubuh lelaki tersebut, “Nanti aku atur pertemuan Kakak dengan dia!”
Manggala hanya bisa menghela napas lelah. Kali ini ia membutuhkan Jaiman untuk membantu berbicara dengan Aya dan menghentikan perjodohan ini. Ia benaran masih bisa mencari sendiri. Tak perlu dikenalkan seperti ini. Karena nanti pasti akan terasa canggung.
Apalagi dirinya yang tak bisa berbasa-basi. Bisa dipastikan nanti yang ada hanya diam dan juga taka da pembicaraan. Ah, kalau seperti ini bolehkah ia menghilang sejenak. Untuk bisa menghentikan perjodohan ini.
“Ya …”
Aya mengerjap pelan, “Iya?”
“Kalau nggak cocok gimana?”
Alayya berpikir sejenak. Perempuan itu juga tak bisa memaksa kehendaknya sendiri. Pasti sang kakak juga menginginkan yang sesuai dengan keinginannya. Dan untuk masalah pendamping hanya Gala yang bisa memutuskan.
“Ya …”
“Semua keputusan ada di tangan, Kakak,” Aya tersenyum ke arah lelaki itu, “Aya nggak memaksanya, kok.”
Namun, Gala dapat melihat raut kecewa dalam bola mata sang adik. Serasa perempuan itu menaruh harapan yang banyak. Akan tetapi, ia tak mungkin memaksa perasaannya. Karena ini menyangkut masa depannya.
Manggala memelih memeluk adiknya kembali. Entah mengapa untuk saat ini ia merasa sangat keberatan dalam memenuhi keinginan Aya. Ada rasa berat hati dari pada biasanya. Dan ia tak tahu kenapa itu bisa terjadi.
Memang bukan sekali ini sang adik menjodohkannya yang berakhir tak sukses. Karena ia bisa mengelak dan juga menghindar. Akan tetapi perasaannya mengatakan tidak untuk kali ini. Maka dari itu ia sedikit bimbang. Mau menerima apa langsung menolak dari awal. Sebab ia yakin, perempuan kali ini sangat berbeda dari sebelumnya.
“Ya …”
“Iya?”
“Siapa dia?”
Aya bangkit menatap sang kakak, “Nanti juga tahu,”
“Mau ke mana?” Gala memegang tangan adiknya yang hendak pergi, “jangan buat penasaran, dong!”
“Mau masak, Kak!” Aya tertawa melihat wajah sang kakak yang frustrasi. Biarlah mereka bertemu terlebih dahulu. Karena sang kakak juga mengenalnya. “Lepasin!”
Gala ikutan bangkit, “Kakak bantu, ya!”
Aya mengangguk. Mereka menuju dapur bersama. Kalau seperti ini masih teringat saat mereka tinggal bersama. Sang kakak selalu membantunya memasak. Lelaki itu sangat jago dari pada dirinya.
Biasanya kalau sang kakak ikutan, pada akhirnya hanya lelaki itu yang masak. Karena dirinya akan diam dan memantau saja. tentu saja ia merasa sangat senang. Apalagi ini pertama kali mereka seperti ini kembali.
Ah, masa lalu mereka memang tidak mulus pada umunya. Banyak luka dan duka yang mereka lalui bersama. Saling menguatkan satu sama lain. Hingga sekarang, mereka selalu merindukan satu sama lain ketika sudah berpisah. Karena itu Aya selalu minta sang kakak untuk ke rumah. Setidaknya dengan begitu ia tak merasakan rindu yang tak terbendung.
Mereka benar-benar menghabiskan waktu bersama. Iman yang melihat itu hanya bisa tersenyum senang. Aya memang tak pernah bilang kalau merindukan sang kakak. Namun, lelaki itu tahu bila istrinya memang sedang meninginkan waktu bersama dengan saudaranya. Maka dari itu tadi Iman meminta Gala untuk ke rumahnya. Menemui Aya dan memiliki waktu bersama. Dengan begitu ia bisa melihat lagi binar bahagia dari bola mata sang istri.
Akan tetapi ada keraguan didalamnya. Karena sang kawan menyetujui permintaan Aya. Padahal ia tahu apa yang tengah dirasakan lelaki itu.
“Gala …”
Manggala menoleh. Menemukan sang kawan yang berjalan ke arahnya. Lelaki itu hanya tersenyum sekilas. Banyak hal yang menganggu pikirannya. Ia tak tahu harus berbuat apa.
Andai saja ia tadi bisa menolak keinginan Aya, mungkin masalah ini tak semakin ruwet. Di mana ia harus mengorbankan perasaanya.
“Kamu nggak papa?”
Gala mengernyit bingung, “Kenapa memangnya?”
Iman membuang napas dalam. Temannya selalu saja bisa menyembunyikan semua dengan tenang. Padahal, lelaki itu bisa menebak kalau Gala sedang galau dan dilemma. Di mana ia tak bisa menolak keinginan istrinya. Terlebih lagi lelaki itu selalu memanjakan Aya. Bisa dipastikan tak tega untuk menolaknya.
Akan tetapi buat apa dilakukan kalau semua ini hanya membohongi hatinya. Iman yakin, Gala sudah memiliki orang lain. Namun belum berani mengungkapkan hal ini kepada Alayya. Karena sang adik sudah mengenalkannya dengan sang kawan.
Semua semakin rumit bila Gala tak mau mengatakannya. Dan ia pun tak bisa berbuat banyak. Karena memang sejak awal Aya memiliki niatan untuk menjodohkan mereka. Tentu saja sang istri mempunyai alasan kuat melakukan hal itu. Akan tetapi, sampai sekarang ia tak mengetahui alibi sang istri.
“Jangan membohongi diri sendiri,” ujar Jaiman yang memilih duduk di sebelah sang kawan. Kini mereka ada di halaman belakang. Membiarkan Aya untuk siap-siap yang bisa menghabiskan banyak waktu. “Itu sangat menyakitkan.”
Gala tak tahu harus bereaksi seperti apa. Iman selalu mengerti tentangnya. Bila bersama sang adik ia bisa dengan leluasa berbohong. Namun tidak ketika beradapan dengan sang kawan. Ia bagaikan buku yang mudah sekali terbaca. Dan tentu saja, Jaiman bisa menebak apa yang tengah dirasakan saat ini.
“Kamu bicara apa …”
“Kamu bisa mengelak di hadapan Aya,” sela Iman menepuk pundak sang kawan, “tapi tidak di depanku.”
Manggala membuang napas dalam. Untuk saat ini akan berbohong sejenak. Biarkan ia dianggap munafik dan lebih memilik membohongi diri sendiri. Asalkan sang adik bahagia.
Ia pernah merasa gagal menjadi seorang kakak. Dan sekarang ia tak ingin kejadian itu datang kembali. Gala tak mau sang adik merasa terpuruk kembali. Karena memang mental sang Aya tidak baik-baik saja.
Maka dari itu sebisa mungkin ia selalu menuruti keinginan sang adik. Karena membuat Aya bahagia adalah janjinya kepada kedua orang tua mereka sebelum meninggal. Ia tak akan membiarkan adiknya terluka kembali. Apalagi membuatnya tertekan. Itu tak akan dilakukannya.
Jaiman menghela napas dalam. Semoga saja apa yang dilakukan Gala tak menyakiti istrinya suatu hari kelak. Karena segala sesuatu yang di awali dengan kebohongan tidak akan berakhir bahagia. Yang ada hanya kehancuran semata. Dan tentu saja Iman tak menginginkan hal tersebut.