Pada akhirnya Manggala memenuhi keinginan sang adik. Di mana ia harus menemui perempuan yang akan dijodohkan. Sebab sudah pasti dirinya tak akan bisa menolak keinginan adiknya. Karen Aya sangat tahu kelemahannya. Pada akhirnya dengan setengah hati dirinya mengikuti arahan sang adik. Meskipun sangat menyebalkan. Ia tak bisa berbuat banyak apabila itu semua menyangkut sang adik.
Apalagi Aya sudah mengeluarkan wajah melasnya. Tentu saja ia tak bisa menolak. Dan dengan berat hati ia menyetujui. Namun, dirinya akan berusaha untuk membatalkan perjodohan ini. Karena tentu saja ia sudah mempunyai calon sendiri.
Akan tetapi untuk saat ini, ia tak bisa mengenalkannya. Sang adik sudah memiliki seseorang yang akan dikenalkan kepadanya. Setelah masalah ini selesai. Ia akan mengatakan segalanya dan memperkenalkan sosok tersebut.
Gala membuang napas dalam. Tubuhnya terasa pegal dan juga capek seharian habis kerja. Namun, ia beusaha tampil semaksimal mungkin. Karena pantang baginya berwajah melas dan terlihat lelah.
Kini, dirinya sedang menunggu wanita tersebut. Di sebuah café yang konon katanya menjadi tempat paling romantic. Karena memang, di sini banyak pasangan muda mudi yang menjalin asmara. Ditambah dengan live music yang menarik banyak orang untuk singgah. Sebab jarang sekali ada café yang menyediakan live music. Kalau seperti ini dirinya ingin bernyayi dan main gitar.
Ada sebauah lagu yang ingin dilantunkannya. Mungkin hanya lagu sederhana namun mempunyai arti untuk lelaki tersebut. Di mana lagu itu mengingatkannya pada sebuah peristiwa penting. Dan juga menjadi kenangan yang berarti. Apalagi dengan kedatangnnya kembali. Membuatnya semakin ingin memiliki.
Sebuah lagu lawas dari band Ungu yang menjadi favorit mereka berdua. Dengan judul Tempat Terindah sebagai harapan ia memiliki tempat terindah dalam hatinya. Karena tentu saja mendapatkannya begitu sulit.
Akan tetapi, untuk saat ini ia hanya bisa mengubur dalam-dalam keinginannya. Di mana ia harus menerima permintaan sang adik. Karena belum tentu juga adiknya mau menerima sosok tersebut.
Karena itu, ia berusaha terlihat baik di depan Aya. Salah satu caranya ia mengikuti semua keingian perempuan itu. Lalu, kalau memang dirinya tak setuju, ia bisa memperkenalkan sosok tersebut. Dan tentu saja Aya akan menerima dengan tangan terbuka.
Selain ada live music, makanan di sini pun banyak pilihannya. Mulai dari ringan sebagai teman ngobrol atau berat untuk memberi makan cacing yang berada di dalam perut. Dan tentu saja harganya sangat terjangkau. Pantas saja café ini ramai. Dengan desain interior yang mewah dan elegan. Namun makanan dan minuman sangat terjangkau. Tak menyiksa kantong para remaja yang masih meminta saku kepada orang tua. Mungkin ini salah satu cara untuk menarik banyak minat orang.
Gala memang datang sedikit awal. Karena sangat penasaran dengan calon yang telah disiapkan sang adik. Mana lagi mereka tidak saling tukar nomer ponsel. Dan tentu saja itu membuatnya semakin frustrasi.
“Bagaimana aku bisa menemukannya?” keluh Gala. Lelaki itu benar-benar tak mengerti keinginan sang adik. “Apa dia mengenaliku?”
“Nggak,” Aya menggeleng pelan. Masih sibuk dengan ponselnya, “nanti aku suruh pakai baju warna biru …”
“Kalau di sana banyak yang pakai warna itu bagaimana?” sela Gala dengan gemas, “kasih saja nomernya …”
“Nggak!” Aya menggeleng dengan tegas, “nanti kakak bakalan tahu sendiri!”
Manggala mengacak rambut frustasi. Kalau seperti ini bagaimana ia bisa tahu perempuan itu. Apalagi banyak sekali yang memkai baju biru. Aya benar-benar membuat otaknya bekerja dengan keras. Karena hal itulah ia datang terlebih dahulu. Untuk melihat bagaimana perempuan itu. Kalau tak cocok ia bisa langsung kabur. Dengan alasan mereka tidak bertemu.
“Aya!”
“Nanti Kakak juga tahu.”
Seperti itulah adiknya yang selalu keras kepala. Tak mau mengalah dan tentu saja membuatnya pusing tujuh keliling. Tapi, itu semua mungkin kesalahannya yang selalu memanjakan Aya. Apapun keinginannya selalu dituruti.
Mau bagaimana lagi, Aya satu-satunya keluarga yang ia punya. Sebisa mungkin ia akan melakukan dan memberi keinginan sang adik. Apapun itu asal adiknya bahagia. Sebisa mungkin ia lakukan.
“Kalau ia tidak datang bagaimana?”
Aya tertwa, “Palingan Kakak yang kabur duluan.”
Adiknya selalu mengerti apa yang akan dilakukan. Lelaki itu hanya bisa menaikan alis. Menggoda Aya seperti biasa.
“Kan …”
“Apa?” tanya Gala dengan wajah menggoda, “apa kamu juga ikut saja?”
Aya meembuang napas dalam, “Kak …”
“Tampan?”
“Terserah!” Aya melempar kain ke arahnya. Perempuan itu sangat kesal. Bisa-bisanya sang kakak ngeselin seperti ini. “Awas saja kalau tidak datang!”
Gala hanya tertawa, “Salah sendiri nggak mau kasih nomernya,”
“Biar nanti Kakak terkejut!”
Manggala menggeleng melihat tingkah laku sang adik. Sangat menggemaskan. Apalagi pas marah. Membuatnya suka menggoda.
“Sudah jangan digoda terus,” lerai Iman yang merasa pusing mendengarka perdebatan kakak beradik. “Kamu nggak berangkat?”
Aya melihat jam yang berada di dinding, “Kakak!”
“Iya berangkat!”
Pada akhirnya di sini lah dirinya menanti perempuan itu. Beruntung sekali ia mendengarkan lagu yang disukainya. Salah satu dibawakan oleh Tulus. Lagu yang menceritakan sedikit ksiah tentangnya yang pernah dilewati. Di mana ia hanya dianggap sebagai teman keluh kesah. Ketika sedih mencarinya. Namun bila bahagia, melupakannya. Sesuai dengan kondisinya saat itu. Lagu yang berjudul Langit Abu-Abu selalu membawanya ke dalam memori masa lalu.
Suara yang menyanyikannya juga bagus. Apalagi mereka adalh band indie. Ingin rasanua gabung ke sana. Namun, ia lagi malas untuk bernyanyi.
Tiba-tiba saja semua terhenti ketika ia mendengar sebuah nada yang taka sing. Lagu yang selalu mengingatkannya akan kedua orang tua dan juga sang adik. Masih dari Tulus juga yang berjudul Monokrom.
Lembar monokrom hitam putih. Aku coba ingat warna demi warna dihidupku. Tak akan kumengenal cinta bila bukan karena hati baikmu.
Sebuah lirik yang langsung tertuju kepada keluarganya. Dirinya memang telah ditinggal oleh kedua orang tuany. Namun masih ada Aya yang selalu menemani sampai detik ini. Mengisi hari dan juga ceritanya.
Gala membuang napas dalam. Melihat sekeliling yang penuh dengan banyak orang. Ia berharap perempuan itu segera datang. Karena ia sudah bosan menunggu.
Salahnya sendiri yang datang lebih dahulu. Padahal masih ada waktu. Namun, ia ingin mengerti siapa perempuan itu. Kenapa dengan mudahnya Aya menyuruhnya datang begitu saja. Tanpa mengasih tahu nama, nomer telepon dan foto.
“Kak …,”