Lelaki itu menoleh. Alangkah terkejut melihat seorang perempuan yang tampil dengan anggun berdiri di depannya. Dan tentu saja dirinya sangat mengenal sosok tersebut.
“Sela …”
Manggala seharusnya sudah sadar saat sang adik tak mau memberikam nomer telepon perempuan tersebut. Karena mereka saling mengenal sebelumnya. Pantas saja tadi Aya senyum-senyum sendiri.
“Kak …”
“Silahkan duduk,” Gala menyela. Mempersilahkan perempuan itu untuk duduk di depannya dan menyerahkan menu untuk perempuan itu. “Mau pesan apa?”
Sela duduk dan membaca aneka menu. Perempuan itu merasa tak enak karena datang terlambat. Melihat lelaki itu yang tampil dengan luar biasa tampan. Entah mengapa membuatnya merasa tak pantas berada di sini. Terlalu jauh perbedaan mereka.
Setelah menyebutkan pesanannya, perempuan itu membuang napas dalam. Entah mengapa rasanya sedikit canggung. Ia bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Namun satu hal yang ingin ia katakan.
“Kak …”
Gala menatap perempuan itu, “Iya?”
“Maaf …” Sela benar-benar merasa gugup, “maaf karena datang terlambat.”
Manggala mengangguk saja. Padahal dirinya yang datang kecepatan dari jadwal mereka bertemu. Melihat Sela dari dekat seperti ini ia tak tahu apa yang tengah dirasakan. Dan ia tidak mengerti harus bagaimana.
Apalagi mengingat pesan yang diberikan oleh Iman. Semakin membuat rasa bersalah itu membuncah seketika. Karena telah melakukan hal kurang baik untuk kedua orang tersebut.
“Kamu sudah tahu, ‘kan?” ujar Iman menghentikan langkah lelaki itu, “maka dari itu putuskan dengan kepala dingin dan jangan menuruti kekerasan egomu,”
“Tapi …”
“Jangan pernah membohongi diri sendiri,” peringat Iman dengan senyuman hangat. Lelaki sangat tahu kekalutan sang kawan. Apalagi setelah pengakuan sang istri. Bisa dipastikan Gala akan memikirkan ini semua. “Aya hanya membutuhkan jawaban yang jujur. Bukan kebohongan yang hanya membuat hatinya gembira sesat. Karena di balik itu tersembunyi kenyataan yang menyakitkan.”
Gala mengerti maksud lelaki itu. Lelaki itu pun juga tak suka berbohong. Karena sekali ia tak jujur. Maka bisa dipastikan dirinya akan mencari alasan-alasan yang tak masuk akal lainnya. Untuk menutupi kebenaran yang ada. Dan tentu saja itu semua akan menjadikan sebuah masalah dikemudian hari.
“Kamu mengerti, ‘kan?”
Manggala mengangguk pelan. Lelaki itu membuang napas dalam sebelum berlalu dari kediaman sang adik. Malam ini terasa panjang dan melelahkan.
“Yang Aya butuhkan kejujuranmu,” Iman menutup pintu mobil sang kawan, “pikirkan baik-baik sebelum bertindak.”
Dan kini ia merasa telah membohongi mereka berdua. Dan tentu saja ia tak tahu harus melakukan apa. Semua terasa buntu dan tak ada jalan keluarnya.
Sedangkan Sela hanya menatap lelaki itu dengan banyak pikiran. Dalam otaknya tiba-tiba menyeretnya ke dalam masa lalu yang seharusnya sudah ia kubur dalam-dalam.
Mengingat sosok Gala, lelaki itu berubah sekali sikapnya. Padahal dulu ia paling benci berada di sekitarnya. Walaupu mereka sempat dekat kala itu. Bukan berarti lelaki itu membuka hati untuknya. Karena sebenarnya pria tersebut terpaksa melakukan hal ini.
“Kalau bukan karena Aya nggak mungkin aku menjemputnmu!” gerutu Gala itu. Lelaki tersebut berkata lirih, namun ia bisa mendengarkannya.
Gisela hanya bisa membuang napas dalam. Pura-pura tak mendengarkan ucapan lelaki itu. “Kenapa, Kak?”
“Nggak papa,” Gala menggeleng pelan, “ini mau ke mana?”
“Langsung pulang saja, ya!”
Sebenarnya dirinya juga enggan bersama lelaki itu. Kalau saja Aya yang tak memohon dengan sangat. Lebih baik ia pulang sendiri dari pada harus diantar oleh Manggala.
“Udah, nggak papa,” ujar Aya waktu itu menyakinkan dirinya, “Kak Manggala nggak keberatan, kok!”
Manggala yang mendengarkan ucapan adiknya hanya bisa mengangguk. Meskipun ia tak suka. Namun mau bagaimana lagi. Perintah Aya adalah mutlak baginya. Lagian juga tak masalah untuk mengantar sahabat adiknya pulang. Kasihan juga harus pulang sendirian.
Semenjak itu mereka sering bertemu dan mulai dekat. Karena keseringan itulah membuat Slea merasakan perasaan yang aneh. Sebuah rasa yang belum pernah ia jumpai.
Gala memang cuek, namun sangat perhatian. Kata-katanya memang dingin, akan tetapi jauh dalam lubuk hatinya sangat hangat. Ia bisa merasakan itu. Dan entah mengapa setiap berada di dekat Manggala, jantungnya berdetak lebih kencang.
Dulu, ia akan bertanya apakah ini yang dinamakan cinta. Beginikah rasanya bila orang jatuh cinta. Apa yang harus ia lakukan untuk mengatasi perasaan ini.
Pada akhirnya munculah jawaban itu. Ia hanya perlu diam dan memendam perasaan ini. Karena Manggala sangat sulit untuk digapai.
“Sela …”
Perempuan itu mengerjap pelan. Membuyarkan lamunan akan masa lalu, “Iya?”
“Kamu baik-baik saja?”
Sela mengangguk pelan. Bagaimana ia bisa menghapus rasa itu bila Gala selalu bersikap manis. Kalau seperti ini lama-lama cinta yang ia pendam akan muncul kembali. Dan tentu saja membuatnya semakin dilemma.
“Kak …”
“Iya?”
Sela membuang napas dalam. Mencoba memberanikan diri untuk mengatakannya. “ Apa Kakak keberatan?”
Gala menggeleng pelan. Gadis kecil itu telah tumbuh dewasa. Dalam balutan dress putih yang dipadukan dengan blazer biru membuat kesan santai namun sopan. Belum lagi rambut yang diikat menjadi satu. Entah mengapa terlihat sangat imut dimata lelaki tersebut.
“Maaf …”
“Buat?”
Perempuan itu membuang napas dalam, “Aku nggak bisa menolak keinginan Aya.”
Lelaki itu pun tak bisa berkutik dengan permintaan sang adik. Karena itu ia datang lebih dulu ke sini. Kalau seperti ini dirinya tak akan bisa kabur dengan leluasa.
“Kakak mau pergi?”
Gala mengerjap pelan, “Apa?”
“Nanti biar aku yang bicara dengan Aya …”
“Kenapa?” sela Gala yang menatap perempuan itu dengan saksama, “apa aku nggak boleh ada disini?”
Perempuan itu membuang napas dalam, “Bukan seperti itu … hanya saja …”
“Kenapa?”
“Aku takut Kakak merasa kurang nyaman bila harus seperti ini.”
Gala terdiam. Lelaki itu sangat tahu apa yang dimaksud perempuan tersebut. Mendengarnya berkata seperti itu, membuat Manggala tersenyum penuh makna. “Kamu sudah besar ternyata.”
Karena awal mereka bertemu, Gala sama sekali tak mengenali. Sela berubah banyak. Masih ingat kejadiaan waktu itu.
Lelaki itu menoleh ke sekitar tak menemukan keberadaan perempuan tersebut. Sedikit kesal karena sudah berjalan jauh namun tak melihat keberadaan Gisela. Dengan mood yang berantakan Gala mengambil ponsel dari saku dan ingin menghubungi kawan dari adiknya tersebut.
Belum juga ia melakukan panggilang, pungungnya terasa ada yang menepuk. Seketika Gala membalikkan tubuh dan mengernyit melihat perempuan yang berdiri di belakang.
“Kak Gala?”
Manggala mengerjap pelan. Lelaki itu melihat dari atas sampai bawah. “Kamu …”
“Sela, Kak,” ujar perempuan itu membuat Gala membelakkan mata tak percaya, “Gisela.”
Lelaki tersebut mengernyit heran. Masih belum percaya di hadapannya adalah Sela yang dikenal. Karena perempuan itu memakai jumpsuit biru yang dipadukan dengan jaket demin. Dan tak lupa sepatu convers putih sebagai alas kaki. Belum lagi wajah yang terllihat segar dan tunggu … gadis tersebut memakai lensa, bukan kaca mata seperti biasanya. Tentu saja itu membuatnya terlihat sangat berbeda.
“Kak …”
Manggala membuang napas dalam, “Iya?”
“Maaf, tadi …”
“Ayo!” Gala memberi isyarat untuk mengikutinya pergi.
Dan perempuan itu hanya mengangguk. Untung saja barang bawaannya tidak banyak. Karena beberapa barang sudah dikirim terlebih dahulu. Dan kini ia hanya memakai tas rasel yang berisi kebutuhan pribadi untuk menginap di rumah Aya.
Ingin rasanya cepat bertemu dengan Aya. Karena ia merasa tertekan berada di samping Gala. Kenapa juga kawannya menyuruh lelaki itu untuk menjemput. Lagian ia bisa saja ke sana sendirian. Tak perlu juga ada yang mendatanginya. Terutama pria tersebut.
Di mana terkahir kali betemu mereka dalam keadaan yang tak baik-baik saja. Ada perdebatan yang membuatnya tertampar oleh keadaan. Dan sejak itu mereka saling menjauh satu sama lain. Padahal mereka dulu sempat dekat sebagai teman.
Sela membuang napas dalam. Entah mengapa perjalanan kali ini terasa sangat menyiksa. Di mana lelaki itu terlihat sangat tampan dan juga berwibawa. Pasti banyak perempuan yang mendekati. Atau mungkin sudah mempunyai calon istri. Dan tentu saja dirinya harus sadar diri. Tidak boleh berharap lebih. Karena itu akan membuatnya jatuh pada jurang kesedihan. Bila yang diinginkan tidak akan pernah tercapai.
Bagai punduk yang merindukan bulan. Seperti air dan minyak. Mereka tak akan bisa bersatu. dan Bersanding pun tidak memungkinkan. Karena perbedaan yang sangat kontras. Terlebih lagi, dari status social. Siapa yang mau dengan dirinya yang hidup sebatang kara. Dan lagi pekerjaannya yang menurut orang lain tidak bisa menghasilkan apapun.
Banyak orang memandang remeh seorang penulis. Yang konon katanya tidak bisa menghasilkan apapun. Hidupnya cuma diisi oleh imajinasi samata. Mengahalu dengan pikirannya sendiri. Namun, dibalik itu semua. Butuh perjuangan besar untuk bisa menghasilkan satu karya.
Belum tentu mereka yang menghujat bisa membuat sebuah cerita bagus dan diminati banyak orang. Karena mengkhayal pun butuh pemikaran yang memutar otak. Tidak segampang membalikan telapak tangan. Apalagi saat tak tahu apa yang akan ditulis. Adegan apa yang tercipta. Ditambah lagi tuntutan waktu yang harus segera diselesaikan. Semua itu butuh perjuangan yang besar. Di mana semua kesuksesan yang terjadi, tergantung dengan seberapa besar usaha dilakukan.
Sela menggeleng pelan. Tak ingin memikirkan apapun untuk kali ini. Lagian kepulangannya bukan untuk mengejar lelaki itu kembali. Sudah cukup ia berada di kota lain. Kini, saatnya ia menata hidupnya kembali. Pelariannya selama ini hanya sebagai kedok untuk menyembuhkan hatinya yang sedang terluka. Dan kini, ia sudah bisa berdamai dengan masa lalu. Luka ini sudah tertutup sempurna. Meskipun masih membekas. Setidaknya ia sudah baik-baik saja.
Sedari tadi, Gala melirik ke arah perempuan itu. Mereka jalan dengan diam. Berbagia macam pikiran berkecambuk dalam benaknya. Ingin rasanya memulai pembicaraan. Namun ia tak tahu harus diawali dari mana. Terlebih lagi penampilan Sela kali ini sangat berbeda dengan terakhir mereka bertemu.
Yang dilihat pertama kali oleh lelaki adalah tampang. Cantik atau biasa saja. Dan sekarang, Gisela memiliki daya tarik sendiri. Apalagi sedari tadi banyak yang mencuri pandangan ke arah perempuan tersebut. Dan itu sedikit membuatnya merasa kesal.
“Kak …”
Gala menoleh, “Iya?”
“Makasih sudah mau menjemput.”
Manggala hanya bisa memengangguk. Lelaki itu terlalu canggung untuk berbicara dengan perempuan tersebut. Terlebih lagi penampilannya kali ini terlihat sangat dewasa dan juga cantik.
“Kak …”
Gala mengerjap pelan. Membuang kenangan masa lalu, “Kamu tenang saja. Aku nggak masalah, kok.”
Sela mengangguk mengerti. Rasanya sangat canggung dan kaku. Ingin rasanya untuk mencairkan keadaan ini. Namun itu semua tak memungkinkan. Karena Gisela bingung harus melakukan apa. S
Sedangkan Gala memilih diam dan hanhya memperhatikan. Ternyata benar ya waktu bisa mengubah banyak orang. Termasuk perempuan yang duduk di depannya. Yang sangat berbeda dengan terakhir mereka bertemu.