“Kamu berubah, ya?”
Sela mengernyitkan kening bingung, “Maksud, Kakak?”
Lelaki itu menggeleng. Dalam hati ingin tertawa. Tak menyangka saja bila adiknya akan menjodohkan dirinya dengan Sela. Terlalu kecil untuknya. Lagian, ia yakin perempuan itu akan menolak. Buktinya saja tadi ia langsung mengusirnya.
Meskipun lelaki itu yakin seratus persen kalau sebenarnya perempuan itu yang merasa kurang nyaman. Terlihat jelas dari gesture tubuhnya. Namun itu semakin membuat Gala semakin tertarik mengenal kembali sosok Gisela.
Bagaimana pun mereka dulu sempat dekat dan saling mengenal satu sama lainnya. Namun kali ini serasa tak salin tahu menahu. Padahal pada masa lampau mereka pernah sama-sama menulis cerita yang sampai sekarang belum ada akhirnya.
“Mau pesan apa?”
“Itu …”
“Santai saja,” sela Gala yang menyerahkan menu kepada perempuan itu, “bukankah kita dulu pernah dekat?”
Gisela membuag napas dalam. Mengambil menu tanpa menjawab ucapan lelaki itu. Kalaupun masa lalu mereka pernah punya kisah. Itu semua tentangnya. Bukan mereka. Karena diantara mereka tidak ada apa-apa.
Semuanya sudah lama, seharusnya lelaki itu bisa melupakan semuanya. Karena ia sama sekali tak mau mengingat hal itu. Sebuah peristiwa yang menjadi titik balik kehidupannya untuk saat ini.
Sejujurnya, ia enggan sekali untuk bisa mengabulkan keinginan Aya. Tapi mau bagaimana lagi, ia sudah janji. Dan itu semua salahnya. Masih ingat kejadian waktu itu. Di mana membuat dirinya harus berada di sini.
“Kalau kamu kalah harus mau menuruti permintaanku!”
Sela membuang napas dalam, “Apa dulu?”
“Rahasia!”
Andai saja waktu ia tak menerima tantangan itu. Mungkin, ia tak akan berada dalam posisi seperi ini. Sudah tahu sang kawan paling juara bila main suit. Gitu ia masih juga mau ikutan. Pada akhirnya menjebak diri sendiri dengan ikhlas.
Dan sesuai dugaanya, Aya memang tiga kali berurutan. Membuatnya kalah telak. Dan tentu saja itu rasanya kurang menyenangkan. Apalagi melihat raut wajah gembira dari perempuan itu. Mau tak mau, ia harus melakukannya.
“Aku harus ngapain?”
Aya menaikan kedua alisnya, “Berkencan …”
“Jangan gila!” sela menggeleng tegas. Menatap tajam kawan baiknya. “Kamu, ya …”
“Apa?” sela Aya denganm lirikan mautnya, “nggak mau? Inget janjimu!”
Gisela mengembuskan napas kesal. Bisa-bisanya ia terjebak dalam permainan sang kawan. Kalau seperti ini dirinya yang tak bisa berkutik. Karena tak mungkin ia tak menepati janji.
Akan tetapi, kalau berkencan … ia harus bersama siapa. Kekasih tak punya. Apalagi temen cowok. Sama sekali tak ada. Karena selama ini ia lebih suka menyendiri. Kawannya hanya ada satu orang yaitu Aya.
Seharusnya perempuan itu mengerti. Kalau dirinya tak punya kekasih atau gebetan. Tapi melihat ekspresi wanita membuat Sela membulatkan kedua bola matanya.
“Jangan-jangan …”
“Nah! Kamu tahu itu!”
Ini adalah mimpi buruk bagi Gisela. Bagaimana tidak ia harus menuruti perintah yang tak masuk akal. Karena belum tentu lelaki itu mau. Dan terlebih lagi, mereka sudah lama tak bertemu. Semua bisa berubah. Tak ada yang sama.
“Ya …”
“Mau, ‘kan?” sela Aya bertanya sembari menaikan salah satu alisnya, “aku akan mengaturnya nanti.”
Sela tak bisa berkutik, “Apa aku punya pilihan yang lain?”
Tentu saja dengan cepat perempuan itu menggeleng. Sang kawan memang tak memiliki pilihan lain. Karena dirinya sudah mengatur ini sejak lama setelah Sela bilang ingin kembali lagi ke Surabaya.
Sejak saat itu, Aya selalu ingin membuat mereka besatu. Dari pada sang kakak harus kecewa berkali-kali dengan perempuan lain. Ia ingin sekali sang kawan bisa bersatu dengan kakaknya. Karena ia sangat mengenal sosok Gisela seperti apa. Dan juga karakter kakaknya. Ia yakin merea bisa bersatu.
“Inget loh, ya …”
“Iya!” sela Gisela kesal, “kamu, ya!”
Aya tertawa dan memeluk kawannya. Entah mengapa kedatangan Sela kali ini membuat suasana semakin ramai. Karena hanya perempuan itu yang menjadi temannya. Ia selalu sendirian. Namun kali ini sudah ada Sela yang akan menemani.
“Makasih ya, Sela!”
Itulah sebabnya kenapa sekarang dirinya ada di sini berhadapan dengan kakaknya Aya. Karena perempuan itu telah mengatur segalanya. Dan entah apa dilakukannya sampai Manggala mau dan kini berada didepannya.
“Sela …”
Gisela mengerjap pelan, “Iya?”
“Kamu jadi pesan apa?”
Ia menyebutkan pesanannya. Kedua bola mata melihat keseliling yang sangat ramai. Karena café ini memang tempat nongkrong paling enak. Belum lagi ada live music yang memanjakan telinganya.
Sela memang menyukai ketenangan. Namun, tak ada salahnya bila sekali-sekali ia berada di keramaian. Seperti saat ini, ia sangat menikmati malam minggu. Biasanya ia hanya berada di kamar dan dengan buku bacaan. Namun tidak kali ini.
Ia menghirup udara bebas dan juga menyenangkan. Entah mengapa, ia sangat bahagia. Apa karena adanya lelaki itu hadapannya. Atau, memang dirinya sedang merasakan senang saja. sebab ada yang menemani malam ini.
Sela tak mengetahui itu. Karena semua masih abu-abu. Dan ia tak bisa menerka-nerka keadaan. Sebab ia sangat takut bila harapan tak sesuai dengan kenyataan. Itulah yang membuatnya merasa kurang nyaman untuk saat ini.
Tanpa perempuan itu sadari, lelaki itu terus memandang ke arah Sela. Melihat gerak geriknya. Ia tahu kalau gadis itu ingin kelihatan canggung. Namun mencoba biasa saja. dan itu sangat terlihat lucu.
“Kamu apa kabar?”
Gisela menoleh. Melihat ke arah lawan bicaranya, “Baik, Kakak sendiri apa kabar?”
“Seperti yang kamu lihat,” Manggala tersenyum seperti biasa, “aku juga baik-baik saja.”
Perempuan itu hanya mengangguk sebagai balasan. Bingung harus berbicara apa lagi. Terlebih lagi memang tak ada topic untuk diangkat. Atau memang dirinya hanya ingin menikmati suasana mala mini yang terasa menyenangkan. Karena beberapa lagu kesukaannya dinyanyikan.
Memulai pembicaraan bukanlah hal yang mudah. Di mana harus bisa mengerti tentang kondisi lawan main. Dan mungkin diam adalah cara yang tepat untuk mengindari kecanggungan.
Namun, Gala merasa tak nyaman bila tak ada obrolan sama sekali. Dan ia pun bingung harus memulai dari mana. Sampai telepon genggamnya berbunyi.
Lelaki itu meminta izin untuk mengangkat. Setelah berbincang dengan serius dirinya harus pergi. Karena ada keadaan darurat mengenai peusahaannya yang tak bisa diwakilkan oleh siapa pun.
“Maaf, ya …”
“Iya, Kak,” Sela memaklumi kalau memang lelaki itu sangat sibuk. “Aku nggak papa,”
“Baiklah!” Gala bangkit dari duduknya, “ini tidak akan menjadi pertemuan terakhir kita. Karena nanti akan ada perjumpaan selanjutnya.”
Gisela bingung dengan ucapan lelaki itu. Sedangkan Manggala pergi dengan senyuman yang sulit diatikan.
Semua ini berawal gara-gara pesan yang dikirim Aya. Membuat lelaki itu bergegas ke rumah sang adik. Yang ternyata mempertemukan mereka kembali.
“Pesan yang kamu kirim ...”
“Ohh, itu,” sela Aya yang duduk di kursi meja rias. Merasa tak berdosa sama sekali. Lagian sang kakak kenapa begitu heboh saat membaca pesannya. Padahal ia hanya ingin minta tolong saja. “Kakak mau bantuin aku, ‘kan?”
Gala membuang napas dalam. Menekan emosi yang siap meledak kapan saja. Sedari tadi ia mengebut di jalanan dan meninggalkan rapat karena hal yang sangat sepele. Bahkan adiknya baik-baik saja. Tak ada yang kurang sedikit pun. Tahu gitu kenapa ia khawatir yang berlebihan. Namun itu tak bisa diabaikannya begitu saja. Semenjak kedua orang tua mereka. Aya adalah keluarga satu-satunya. Dan tentu saja ia tak ingin kejadian buruk menimpa sang adik.
“Kakak ...”
“Apa?” Setiap melihat bola mata Aya dengan sarat permohonan selalu bisa meluluhkan hatinya. Lelaki itu sangat menyanyangi sang adik. “Jangan aneh-aneh ...”
“Nggak, kok!” sela aya cepat. Perempuan itu mengambil ponsel. Mengirimkan sebuah kontak pada sang kakak. “Tolong jemput di stasiun ...”
“Apa-apaan ...”
“Kakak ...” Kedua bola mata Aya sudah berkaca-kaca. Perempuan itu tak bisa mendengar nada tinggi yang keluar dari mulut Gala. Sebab lelaki itu selalu bertutur lemah lembut. Bahkan selalu mengiyakan semua keingananya.
Manggala mengusap wajah kasar. Tanpa banyak bicara lelaki itu langsung memeluk tubuh sang adik. Mendekapnya penuh dengan kasih sayang. “Maafkan Kakak, yaa ...”
“Asal Kakak mau menjemputnya,”
Lelaki itu tak bisa berkutik lagi. Dari pada nanti Aya menangis tak karuhan. Mending mengikuti semua kemauan perempuan itu. “Memangnya menjemput siapa?”
Aya tersenyum penuh kemenangan. Ini yang selalu di sukai dari sang kakak. Tak akan menolak sedikit pun permintaannya. “Sela ...”
“Apa?” Gala langsung menggeleng. Nama itu sangat familiar bagi lelaki tersebut. Sahabat sang adik yang mempunyai gaya aneh. Dengan pakaian yang tertutup bahkan berlapis-lapis. Dan tak lupa kaca mata besar bersandar dihidung cewek tersebut. “Biar sopir perusahaan saja yang ...”
“Nggak mau!” tolak Aya dengan mengerucutkan bibir. Perempuan itu ingin kakaknya sendiri yang berangkat. Lagian sudah lama juga nggak bertemu Sela. Sang kawan memilih melanjutkan kuliah ke kota lain. jadi ia sangat rindu dan ingin bertemu. Saat mendengar kalau Gisela telah pulang kembali. Tentu saja ia berjanji akan menjemput. Berhubung Aya mau masak. Jadi tak ada salahnya bila meminta tolong kepada sang kakak. “Ayolah, Kak.”
Manggala mengacak rambutnya. Sungguh ia tak ingin menemui perempuan kutu buku tersebut. Semua yang dibicarakan selalu tentang buku. Entah itu novel, sastra ataupun psikologi. Sebab ia tak mengerti apa yang diucapkannya. Dan pada akhirnya memilih diam. Sungguh ia benci dalam suasana canggung.
Belum lagi tampilannya yang menurut Gala sangat tak modis. Tidak seperti perempuan pada lainnya yang mementingkan tampilan luar. Gadis itu terlalu cuek. Bahkan tak peduli bila yang digunakan tabrtak warna. Alasannya selalu sama. Asal ambil. Belum lagi rambut yang selalu dikucir dua. Membuatnya terlihat seperti gadis desa. Dan tak lupa kacamata bsaer yang membuatnya culun. Kalau bisa, lelaki itu ingin mengubah penampilan dari Gisela biar enak dipandang.
“Kak ...”
Gala membuang napas dalam, “Kenapa harus Kakak?”
“Karena aku sudah janji menjemputnya,” jawab Aya sembari membalas pesan dari suaminya. “Lagian beberapa hari Sela akan menginap di sini selama Mas Iman pergi,”
“Kok?”
“Dari pada aku di rumah sendirian,” sela Aya meletakan ponsel. Kini perempuan itu menatap penuh harap. “Mau, ya ...”
“Sama kamu tapi, ‘kan?”
Aya menggeleng, “Aku mau masak sekalian beresin rumah.”
Manggala mengerjap pelan. Kali ini dirinya memang dibuat susah oleh sang adik. Bagaimana bisa kakaknya yang tampan serta kaya ini harus menjemput perempuan yang menurutnya seperti itik buruk rupa.
Ingin sekali lelaki itu menolak. Tentu saja hal tersebut akan membuat sang adik marah-marah tak jelas. Dan akan berakibat fatal bila perempuan itu mengambek. Sebab sulit sekali membuat Alayya tersenyum kembali.
“Mau, ‘kan?”
Gala membuang napas lelah, “Apa Kakak boleh menolak?”
Tentu saja gelengan tegas yang Aya berikan. Perempuan itu menatap tajam. Seolah berkata, awas saja kalau tidak mau. Ia akan marah besar. Dan mungkin bisa mendiamkan lelaki tersebut.
“Baiklah.” Akhirnya Gala mengalah. Lelaki itu mengikuti semua kemauan sang adik. Dari pada perempuan itu marah-marah tak jelas. Yang akan membuatnya kepala pusing tujuh keliling.
“Makasih, Kakak!”
Pada akhirnya memang dirinya yang menjemput agar sang adik tak ngambek dan membuat kepalanya pusing tujuh keliling.
Namun tak menyangka bsaja saat itu bisa menemukan Sela dengan keadaan yang berbeda. Tak sama dengan apa yang dipikirannya. Gadis culun itu menjelma jadi perempuan cantik nan rupawan.
Seperti itulah sosok Aya yang selalu membuat lelaki itu menggeleng tak percaya. Karena itu mereka bisa bertemu lagi. Dan kali ini juga karena adiknya yang menjodohkannya. Sungguh ia tak mengerti dengan pemikiran sang adik.
Bisa-bisanya melakukan hal ini.
Ia tak tahu apakah bisa jatuh cinta kepada Sela di saat dirinya juga kembali bertemu dengan teman masa lalunya. Seseorang yang lebih dari teman datang kembali. Dan mereka memang belum memutuskan apapun.
Gala membuang napas dalam. Membuang semua pemikiran buang diotaknya. Karena ia harus fokus dengan apa yang akan dibicarakan oleh Iman. Tak biasanya lelaki ini menelepon.