Setelah lelaki itu pergi, Sela terdiam sendiri. Memilih tetap berada di café sendirian. Meskipun tadi Gala menganjak pulang bersama dan mengantarkannya. Ia memiih menggelengkan kepala. Karena malam ini, ia ingin menikmati waktu sendiri. Sudah lama tak keluar dan keliling kota kelahirannya.
Terlebih lagi, suasana hatinya memang sedang kacau. Ia membutuhkan udara malam untuk menenangkan sejenak. Terkadang jalan-jalan malam mampu membuat diri ini lebih tenang dari biasanya.
Karena sudah lama ia tak melakukan hal ini. Di Malang, ia tinggal sendiri. Semua waktu di habiskan dalam rumah. Ia jarang bergaul atau keluar bersama yang lain. Sebab ia lebih menikmati waktu sendiri daripada harus berpergian yang tanpa tujuan.
“Kamu beneran nggak mau sekalian ikut pulang?” tanya Gala memastikan sekali lagi, “maaf, banget …”
“Nggak papa, Kak,” sela Sela dengan senyuman yang menyakinkan, “lagian aku mau habiskan ini dulu,”
“Bisa dibungkus …”
Gisela menggeleng, “Nggak perlu, Kak,”
“Tapi …” Manggala tak bisa meninggalkannya begitu saja. Karena nggak baik perempuan keluar sendirian. Dan tentu saja ia merasa tak enak. Sebab tiba-tiba saja ada urusan mendadak seperti ini.
Lelaki itu masih terlihat ragu untuk meninggalkan kawan sang adik. Bagaimana pun mereka sudah janjian ketemuan. Dan tak baik bila harus meninggalkan Sela sendirian. Paling tidak ia bisa mengantar perempuan itu untuk pulang terlebih dahulu. Baru ia akan menuju kantor. Dan mungkin beberapa hari ini akan sibuk.
“Kakak pergi saja,” ujar Sela mencoba menyakinkan lelaki itu, “aku bisa jaga diri, kok.”
“Tapi …”
“Nggak papa, Kak,” Gisela mengangguk, “setelah makan selesai aku langsung pulang,”
“Beneran?” tanya lelaki itu memastikan. Karena bisa terjadi perang dunia bila perempuan itu lecet sedikit pun.
Gisela mengangguk sekali lagi. Perempuan itu biasa sendiri. Jadi, tak masalah bila lelaki itu pergi. Lagian, ia bukan anak kecil yang harus ditemani. Ia sudah besar dana bisa pulang sendiri.
“Oke,” Gala menyerah pada akhirnya, “kalau ada apa-apa hubungi aku, ya!”
“Iya, Kak!”
Mengingat lelaki itu membuat Gisela senyum-senyum sendiri. Perasaan yang sudah terkubur lama, kini mulai menguasai hatinya lagi. Kalau seperti ini, cepat atau lambat dirinya akan jatuh cinta pada lelaki itu lagi. Korean sulit baginya untuk menolak pesona seorang Manggala.
Usahanya serasa sia-sia sudah. Buat apa ia kuliah jauh-jauh untuk menghapuskan rasa itu. Kalau sekarang harus bermekaran lagi. Ah, hatinya benar-benar kacau setelah beberapa kali bertemu dengan lelaki tersebut.
Manggala, sosok yang mungkin selama ini ia berusaha lupakan. Namun, sayangnya kini lelaki itu berada di sekitarnya lagi. Haruskah ia pergi kembali. Agar perasaan ini tak bermekaran dengan seenaknya.
Karena ia tahu, mencintai lelaki itu hanya sebatas dalam hati. Tak mungkin mereka bisa bersatu. Banyak sekali perbedaan antara mereka. Dan ia tak mungkin melewati jurang pemisah tersebut.
Gisela membuang napas dalam. Memilih mengeluarkan ponsel pintarnya untuk menghubungi seseorang. Berharap orang itu bisa menemani. Akan tetapi, ia urungkan. Karena Aya nanti akan marah-marah bila tahi dirinya ditinggal sendiri.
Mengingat sosok Gala, lelaki itu berubah sekali sikapnya. Padahal dulu ia paling benci berada di sekitarnya. Walaupun mereka sempat dekat kala itu. Bukan berarti lelaki itu membuka hati untuknya. Karena sebenarnya pria tersebut terpaksa melakukan hal ini.
“Kalau bukan karena Aya nggak mungkin aku menjemputmu!” gerutu Gala itu. Lelaki tersebut berkata lirih, namun ia bisa mendengarkannya.
Gisela hanya bisa membuang napas dalam. Pura-pura tak mendengarkan ucapan lelaki itu. “Kenapa, Kak?”
“Nggak papa,” Gala menggeleng pelan, “ini mau ke mana?”
“Langsung pulang saja, ya!”
Sebenarnya dirinya juga enggan bersama lelaki itu. Kalau saja Aya yang tak memohon dengan sangat. Lebih baik ia pulang sendiri dari pada harus diantar oleh Manggala.
“Udah, nggak papa,” ujar Aya waktu itu menyakinkan dirinya, “Kak Manggala nggak keberatan, kok!”
Manggala yang mendengarkan ucapan adiknya hanya bisa mengangguk. Meskipun ia tak suka. Namun mau bagaimana lagi. Perintah Aya adalah mutlak baginya. Lagian juga tak masalah untuk mengantar sahabat adiknya pulang. Kasihan juga harus pulang sendirian.
Semenjak itu mereka sering bertemu dan mulai dekat. Karena keseringan itulah membuat Slea merasakan perasaan yang aneh. Sebuah rasa yang belum pernah ia jumpai.
Gala memang cuek, namun sangat perhatian. Kata-katanya memang dingin, akan tetapi jauh dalam lubuk hatinya sangat hangat. Ia bisa merasakan itu. Dan entah mengapa setiap berada di dekat Manggala, jantungnya berdetak lebih kencang.
Dulu, ia akan bertanya apakah ini yang dinamakan cinta. Beginikah rasanya bila orang jatuh cinta. Apa yang harus ia lakukan untuk mengatasi perasaan ini.
Pada akhirnya munculah jawaban itu. Ia hanya perlu diam dan memendam perasaan ini. Karena Manggala sangat sulit untuk digapai.
Gisela membuang semua pikiran masa lalunya. Mulai menyantap kembali makanan yang sudah dingin di hadapannya. Ia sama sekali tak nafsu makan. Namun sayang membiarkan makanan yang sudah di buat ini terbengkalai.
Aya pernah bertanya kepadanya saat pertama kali mereka bertemu kembali. Apakah dirinya mempunyai kekasih. Tentu saja ia tak memilikinya. Sendiri sudah biasa bagi perempuan itu.
Awalnya ia tak tahu maksud dari perempuan itu. Namun, sekarang ia mengerti arti di balik pertanyaan itu. Ah, Aya selalu saja menjodohkan dirinya dengan sang kakak. Padahal Aya tahu kalau Manggala tak mungkin ada rasa untuknya.
“Pelan-pelan saja …”
“Kotak, kali!” sela Gisela dengan menggeleng pelan, “aku nggak mau, Ay,”
Aya menatap penuh permohonan, “Ayolah …”
“Kenapa harus aku?”
Sang kawa Nampak berpikir dengan serius. Namun, jawaban yang keluar membuatnya membuang napas dalam, “Nggak ada alasannya.”
“Ya …”
“Entah mengapa aku sangat setuju kalau kak Manggala sama kamu …”
“Tapi Kakakmu nggak bakalan mau …”
“Apa?”
Sejak itulah Aya selalu mencari cari cara agar Manggala dekat dengannya. Mulai menyuruh lelaki itu mengantarkan pulang. Sampai menemani ke mana-mana. Namun, tetap saja ia tak bisa merasakan cinta dari lelaki itu.
Seharusnya sejak awal, Sela sadar diri. Kalau dirinya tak mungkin bisa bersatu dengan Manggala. Tak perlu berharap lebih seperti ini. Pada akhirnya ia sendiri yang terluka. Dan tentu saja ini semua kenangan yang sudah lama tersimpan.
Kalau seperti ini, ia harus bagaimana menyingkapi ini semua. Aya seolah memberinya jalan agar bersama lelaki itu. Akan tetapi, Manggala yang memblokir sendiri jalan tersebut. Pada akhirnya ia sendiri yang tersesat tanpa tahu arah dan tujuan.
Terombang ambing tanpa kejelasan dan tentu saja membuat hatinya semakin dilemma. Kalau sudah seperti ini apa yang harus ia lakukan.