Di sisi lain, Manggala pergi dengan perasaan bimbang. Lelaki itu bingung apakah keputusannya sudah benar untuk meninggalkan perempuan itu sendiri. Jujur saja ia berat hati dengan pergi begitu saja. Namun mau bagaimana lagi. Ada masalah yang terjadi. Jadi, ia harus segera pergi ke kantor. Di sana juga ada Iman yang masih mengatur untuk sementara sebelum dirinya datang.
Entah apa yang sebenarnya terjadi di sana. Ia masih belum mendapatkan jawaban yang pasti. Gala hanya disuruh datang ke kantor segera. Padahal ini hari Sabtu. Di mana kantornya sedang libur. Saat ia tanya apakah Iman bisa mengatasi. Lelaki itu bilang tidak bisa dan menyuruhnya cepat datang. Dan tentu saja hal itu membuatnya bingung sendiri.
“Ada apa, sih …”
“Nanti kamu juga tahu,” sela Iman di seberang sana, “segera ke sini. Cepetan!”
“Tapi …”
Terdengar Iman membuang napas dalam, “Kamu ada di mana?”
“Di café,”
Jaiman menepuk kepalanya. Lelaki itu lupa kalau sekarang Gala sedang bertemu dengan calon yang disiapkan sang istri. Akan tetapi, mau bagaimana lagi. Kondisi saat ini membutuhkan lelaki tersebut. Di mana yang bisa memberi perintah langsung adalah Manggala. Dan ia pun di sini hanya bisa mengontrol sebagian. Untuk keseluruhan tentu saja ia tak mampu.
“Man …”
“Kamu ke sini dulu saja,” Jaiman benar-benar tidak bisa berpikir kembali, “nanti aku kasih tahu.”
Setelah mengatakan hal itu lelaki tersebut langsung menutup teleponnya. Banyak sekali tugas yang harus diselesaikan sebelum kedatangan Manggala. Dan tentu saja itu membuatnya lembur di saat harus berada di rumah.
Beruntung sekali Aya mengerti dan membiarkannya ke kantor. Biasanya sang istri akan marah-marah karena ia lebih peduli dengan pekerjaannya. Bahkan waktunya istirahat malah digunakan untuk bekerja. Namun, tadi Aya malah menyuruhnya segera berangkat. Mungkin, perempuan itu mengerti kalau ini hal yang sangat mendesak.
Iman berharap Manggala cepat datang. Dirinya benar-benar butuh bantuan lelaki itu. Karena tak mungkin mengatasi ini sendirian.
“Pak …”
“Habis gini Gala datang,” sela Iman yang mengetahui sekretaris Manggala masuk ke dalam ruangan, “suruh mereka lakukan sebisanya. Nanti biar aku yang membereskan dengan Manggala.”
Entah sebenarnya apa yang terjadi. Semua ini berawal dengan tiba-tiba ia dihubungi kalau salah satu dari ruko milik perusahaan terbakar. Tentu saja ia sangat terkejut dan memutuskan untuk pergi ke kantor.
Karena bukan hanya itu saja. Tiba-tiba komputer perusahaan kena virus. Dan tentu saja membuat banyak orang kelabakan. Termasuk dirinya. Banyak file penting yang harus diselamatkan. Tentu saja kalau seperti ini ia membutuhkan lelaki tersebut.
Karena memang Manggala terkenal bisa mengatasi virus yang dikirim oleh hacker. Lelaki itu selalu bisa diandalkan dalam keadaan seperti ini. Sebab Gala sendiri terkena dikalangan hacker pada umumnya.
Iman sudah melakukan yang ia bisa. Jujur saja kalau masalah hacker ia masih belum sejago Gala. Namun, lelaki itu sudah menyimpan beberapa ip yang akan ditunjukan kepada Gala. Biar lelaki itu yang melanjutkannya.
“Ada apa ini?” tanya Gala yang baru saja masuk ke dalam ruangan seperti kapal pecah. banyak sekali barang-barang berserakan. Bahkan ada beberapa dokumen yang tak teratur. Membuat kepalanya terasa pening seketika.
Iman mengode untuk segera duduk dan menyalakan komputer. Karena banyak sekali hal yang telah terjadi. Dan lelaki itu masih berusaha melawan virus yang entah mengapa tak ada habisnya.
Namun, ia bisa sedikit bernapas lega. Sebab ada Gala yang bisa menangani ini semua. Dan tentu saja ia lebih percaya dengan lelaki itu daripada orang lain.
Gala yang mengerti maksud dari itu langsung duduk dan waktunya beraksi. Benar juga, ini terlalu sulit bila dikerjakan sendiri. Karena banyak sekali yang membobol situs perusahaannya. Tentu saja mereka berusaha untuk memperbaiki apa yang bisa dilakukan.
Tanpa terasa waktu berputra dengan cepat. Pada akhirnya semua bisa terasi. Meskipun banyak hal yang terlewatkan. Untuk saat ini masih bisa diminumkan kerugiannya. Dan tentu saja semua ini berkat Iman.
Lelaki itu selalu bisa diandalkan. Terlebih lagi selalu memiliki pemikiran yang luar biasa cepat. Tahu mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu. Dan juga semua ini berkat Iman yang mampu mengendalikan sebelum dirinya datang.
Ia tak menyangka masalah ini begitu rumit. Bahkan sampai hampir pagi mereka baru selesai. Ini saja mereka menanti matahari terbit. Karena badannya terlalu capek untuk pulang terlebih dahulu.
“Makasih, ya …”
“Bagaimana?”
Mangala mengerjap bingung, “Apanya?”
“Kamu sudah mengantar Sela terlebih dahulu, ‘kan?”
Gala menggeleng. Sebelum Iman menyuruhnya datang ke kantor. Lelaki itu menyuruhnya untuk mengantar Sela terlebih dahulu. Karena Iman tahu dari Aya kalau saat itu dirinya bersama Gisela.
“Lah …”
“Sela sendiri yang nggak mau,” sela Gala sebelum dirinya disalahkan. “Aku sudah menawarkan diri, kok.”
Jaiman membuang napas dalam, “Beneran. Nggak kamu tinggal begitu saja, ‘kan?”
“Iya,” Gala mengangguk malas, “kenapa?”
“Aya yang menyuruh.”
Lelaki itu mulai mengerti. Ternyata adiknya yang menyuruh. Namun, apa mungkin bila dirinya akan dijodohkan dengan Sela. Gala berharap itu semua tidak akan pernah terjadi. Karena saat ini ada seseorang yang tengah ia incar.
“Menurutmu Sela gimana?”
Manggala berpikir sejenak, “Cantik …”
“Selain itu, Bodoh!”
Manggala menggeleng tak tahu. Lelaki itu masa bodoh dengan semua perempuan. Karena belum tentu ia akan berjodoh dengan Gisela. Lagian di hatinya saat ini ada seorang perempuan yang singgah. Dan tentu saja ia hanya menganggap Sela adik seperti Aya.
Jaiman menggeleng pelan, “Aya mau menjodohkan dengan Sela.”
Gala yang semula ingin menutup mata langsung membukanya lebar-lebar. Menatap sang kawan tak percaya. Nggak mungkin adiknya akan melakukan hal ini. Ini benar-benar gila dan tak masuk akal. Bagaimana bisa Aya melakukan hal ini. “Kamu bercanda, ‘kan?”
Iman menggeleng. Itulah yang dikatakan sang istri. Manggala wajib tahu terlebih dahulu. Karena bisa dipastikan lelaki itu sedang mendekati perempuan lain. Dan sebelum terjadi masalah yang serius mereka akan membicarakan hal ini terlebih dahulu.
Meskipun waktunya kurang tepat. Namun, mau bagaimana lagi. Hanya saat-saat seperti ini mereka bisa bicara.
“Man …”
“Aku nggak bisa berbuat banyak,” sela Iman yang menyandarkan tubuhnya di sofa. Matanya ingin terpejam. Namun, tak bisa. Karena semalam ia meminum banyak kopi. “Aku mengatakan lebih dahulu kepadamu, agar kamu bisa mengantisipasinya terlebih dahulu.”
Gala rasa ini sudah terlambat. Karena menyetujui pertemuan ini adalah kesalahannya mengambil langkah. Bisa dipastikan sang adik akan mengira ia setuju. Sebab selama ini ia selalu menolak bila dipertemukan dengan temannya. Namun kali ini, ia bersedia datang. Dan tentu saja sang adik sudah merencanakan ini semua dari awal. Kalau seperti ini rasanya akan sulit mengelak kembali.
"Man ..."
"Aku nggak bisa berbuat banyak!" Jaiman memilih bangkit dan pergi dari pada lelaki itu merengek kepadanya. Tentu saja dirinya memilih jalan yang aman terkendali. "Coba kamu bilang ke Aya ..."
"Apa bisa?"
Jaiman mengedikan bahu tak tahu. Karena Aya sangat labil dan juga sering berubah-ubah. dan tentu saja itu membuatnya sedikit pusing. "Tapi apa salahnya dicoba?"
Benar juga apa yang dikatakan oleh Iman. Man tetapi apa dirinya berani untuk mengatakan hal ini. Karena itu sama saja dengan melukai perasaan sang adik.
Pekerjaan kantor sudah selesai namun kepalanya masih terasa berat. Karena masalah Aya belum selesai.
Kalau seperti ini mending dirinya tak menemui sang adik. bisa bahaya. Karena mungkin dirinya tak akan bisa mengelak lagi. Dan tentu saja itu sangat menyebalkan.