Aya melirik ke arah kawannya yang baru saja datang ke rumah. Padahal sejak pagi ia disuruh datang. Malah baru kelihatan batang hidungnya sore menjelang malam. Tanpa pemberitahuan juga. Bahkan dihubungi saja susah minta ampun.
Namun tiba-tiba datang-datang dengan wajah tanpa penuh dosa dan kini sedang asik menghabiskan kue yang sengaja dibuatnya. Melihatnya makan dengan lahap membuat tersenyum senang dan bangga. Sang kawan mau makan hasil kerja kerasnya.
Kalau seperti ini mau marah pun pasti percuma saja. Gisela selalu punya seribu alasan untuk diungkapkan. Dan tentu saja itu semakin membuat Aya kesal sendiri.
“Suamimu pulang kapan?”
Aya mengedikkan bahu, “Nggak tahu …”
“Lah?”
“Lagi ada masalah sama perusahaan.”
Sela mengangguk mengerti. Gala sudah mengatakannya kemaren. Lelaki itu juga terlihat sangat sibuk. Akan tetapi masih sempat untuk menulis pesan kepadanya. Entah itu mengingatkannya untuk sarapan atau makan malam.
Kalau siang jarang sekali mengirimi kabar. Hingga, membuat perempuan itu bingung sendiri. Seakan kini mereka menjadi dekat satu sama lain. Namun, pada kenyataanya ini semua hanya berhubungan lewat pesan. Sebab ia tak berani meraba perasaan lelaki tersebut.
Terlalu menyakitkan bila harapan tak sesuai dengan kenyataan. Karena itu, Sela tak mau berangan-angan. Apalagi menaruh impian yang tak mungkin bisa tercapai.
Masih ingat dalam otaknya tatkala Manggala menjemputnya. Terjadi pembicaraan yang menurutnya sangat akward.
“Kak …”
“Iya?”
“Bisa tidak hubungan kita seperti dulu lagi?”
Gala terdiam. Lelaki itu tak tahu harus bereaksi seperti apa. Mengingat dulu perkataannya sangat kasar. Dan mungkin akan membekas untuk perempuannya itu. “Maaf …”
“Maafkan aku yang dulu berani mengatakannya,” Sela menyela sembari memandang lelaki tersebut. Tersenyum lembut seperti biasa. “Bisakah kita berteman lagi? Dan melupakan apa yang telah aku ucapkan di masa lalu?”
Manggala hanya bisa mengangguk. Lelaki itu tak tahu harus bereaksi seperti apa. Karena kali ini Sela sangat berbeda dari biasanya. Dan itu membuatnya tak tahu harus berbuat apa.
Seharusnya dari awal ia tak memandang fisik. Karena ketulusan lebih penting dari segalanya. Dan ia sekarang mengerti. Kenapa tidak boleh menilai seseorang dari tampilannya. Terkadang bisa menipu dan juga membohongi. Namun, tidak dengan hati dan perasaan yang jujur. Sebab itulah yang berasal dari dalam diri.
Pada akhirnya hanya keheningan yang tercipta. Mereka memilih tak bicara dan melanjutkan perjalanan. Karena tak ingin mengungkit masa lalu yang belum selesai. Dan tentu saja itu sama saja membuka luka lama mereka berdua.
Belum lagi lelaki itu sama sekali tak mengenalnya. Hingga ia harus menghampiri dan menegurnya terlebih dahulu. “Kak Gala?”
Manggala mengerjap pelan. Lelaki itu melihat dari atas sampai bawah. “Kamu …”
“Sela, Kak,” ujar perempuan itu membuat Gala membelalakkan mata tak percaya, “Gisela.”
Lelaki tersebut mengernyit heran. Masih belum percaya di hadapannya adalah Sela yang dikenal. Karena perempuan itu memakai jumpsuit biru yang dipadukan dengan jaket demin. Dan tak lupa sepatu Converse putih sebagai alas kaki. Belum lagi wajah yang terllihat segar dan tunggu … gadis tersebut memakai lensa, bukan kaca mata seperti biasanya. Tentu saja itu membuatnya terlihat sangat berbeda.
“Kak …”
Manggala membuang napas dalam, “Iya?”
“Maaf, tadi …”
“Ayo!” Gala memberi isyarat untuk mengikutinya pergi.
Dan perempuan itu hanya mengangguk. Untung saja barang bawaannya tidak banyak. Karena beberapa barang sudah dikirim terlebih dahulu. Dan kini ia hanya memakai tas ransel yang berisi kebutuhan pribadi untuk menginap di rumah Aya.
Ingin rasanya cepat bertemu dengan Aya. Karena ia merasa tertekan berada di samping Gala. Kenapa juga kawannya menyuruh lelaki itu untuk menjemput. Lagian ia bisa saja ke sana sendirian. Tak perlu juga ada yang mendatanginya. Terutama pria tersebut.
Di mana terkahir kali bertemu mereka dalam keadaan yang tak baik-baik saja. Ada perdebatan yang membuatnya tertampar oleh keadaan. Dan sejak itu mereka saling menjauh satu sama lain. Padahal mereka dulu sempat dekat sebagai teman.
Sela membuang napas dalam. Entah mengapa perjalanan kali ini terasa sangat menyiksa. Di mana lelaki itu terlihat sangat tampan dan juga berwibawa. Pasti banyak perempuan yang mendekati. Atau mungkin sudah mempunyai calon istri. Dan tentu saja dirinya harus sadar diri. Tidak boleh berharap lebih. Karena itu akan membuatnya jatuh pada jurang kesedihan. Bila yang diinginkan tidak akan pernah tercapai.
Bagai pundak yang merindukan bulan. Seperti air dan minyak. Mereka tak akan bisa bersatu. dan Bersanding pun tidak memungkinkan. Karena perbedaan yang sangat kontras. Terlebih lagi, dari status sosial. Siapa yang mau dengan dirinya yang hidup sebatang kara. Dan lagi pekerjaannya yang menurut orang lain tidak bisa menghasilkan apapun.
Banyak orang memandang remeh seorang penulis. Yang konon katanya tidak bisa menghasilkan apapun. Hidupnya cuma diisi oleh imajinasi samata. Mengahalu dengan pikirannya sendiri. Namun, dibalik itu semua. Butuh perjuangan besar untuk bisa menghasilkan satu karya.
Belum tentu mereka yang menghujat bisa membuat sebuah cerita bagus dan diminati banyak orang. Karena mengkhayal pun butuh pemikiran yang memutar otak. Tidak segampang membalikan telapak tangan. Apalagi saat tak tahu apa yang akan ditulis. Adegan apa yang tercipta. Ditambah lagi tuntutan waktu yang harus segera diselesaikan. Semua itu butuh perjuangan yang besar. Di mana semua kesuksesan yang terjadi, tergantung dengan seberapa besar usaha dilakukan.
Sela menggeleng pelan. Tak ingin memikirkan apapun untuk kali ini. Lagian kepulangannya bukan untuk mengejar lelaki itu kembali. Sudah cukup ia berada di kota lain. Kini, saatnya ia menata hidupnya kembali. Pelariannya selama ini hanya sebagai kedok untuk menyembuhkan hatinya yang sedang terluka. Dan kini, ia sudah bisa berdamai dengan masa lalu. Luka ini sudah tertutup sempurna. Meskipun masih membekas. Setidaknya ia sudah baik-baik saja.
Sedari tadi, Gala melirik ke arah perempuan itu. Mereka jalan dengan diam. Berbagai macam pikiran berkecamuk dalam benaknya. Ingin rasanya memulai pembicaraan. Namun ia tak tahu harus diawali dari mana. Terlebih lagi penampilan Sela kali ini sangat berbeda dengan terakhir mereka bertemu.
Yang dilihat pertama kali oleh lelaki adalah tampang. Cantik atau biasa saja. Dan sekarang, Gisela memiliki daya tarik sendiri. Apalagi sedari tadi banyak yang mencuri pandangan ke arah perempuan tersebut. Dan itu sedikit membuatnya merasa kesal.
Entah apa yang dipikirkan lelaki kala itu. Yang pasti terlihat tak nyaman ketika bersamanya. Dan bolehkah dirinya beranggapan kalau lelaki itu tak menerima kehadirannya.
Akan tetapi itu rasanya sulit. Seolah semesta merestui mereka. Mendekatkan tanpa sengaja. Dan tentu saja itu membuatnya terbawa perasaan beberapa hari ini.
Bagaimana tidak, ketika orang yang berusaha kamu lupakan malah mengirimi pesan secara tiba-tiba. Menanyakan kabar dan juga mengingatkan untuk makan. Padahal selama ini ketika kamu mengharapkan pesan darinya. Yang diterima adalah kenyataan bahwa lelaki itu sama sekali tak peduli sama sekali.
Akan tetapi tidak dengan belakangan hari ini. Setiap pagi selalu mendapatkan pesan darinya. Sebuah sapaan pagi hari dan juga selalu mengingatkan untuk sarapan. Awalnya ia merasa bingung saat pertama kali mendapatkan pesan singkat tersebut. Namun, sekarang ia sudah terbiasa.
Setiap pagi hari selalu diawali dengan saling sapa dan juga mengingatkan untuk makan. Tak lupa biasanya Gala mengasih tahu seharian ini ngapain saja. Begitu pula dengan dirinya. Mereka menjadi sering mengirimi kabar.
Seperti pagi ini, Sela mengatakan akan ke rumah Aya. Tapi masih bingung akan berangkat pagi atau sore. Karena hari ini banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
“Sore saja nggak, papa” tulis pesan yang dikirim Gala. “Aya akan mengerti, kok.”
Kini lelaki itu selalu menemani paginya. Obrolan ringan selalu menjadi bahan pembicaraan. Kalau siang, bisa dipastikan Gala sibuk. Karena lelaki itu tak suka saat kerja ada yang menganggu.
“Kamu masih sering balas-balasan pesan dengan Kakak?”
Sela melirik sang kawan yang terlihat sangat kepo, “Kenapa?”
“Pesanku saja jarang dibalas.”
Gisela tertawa kecil. Dirinya tahu akan hal itu. Manggala selalu bilang kalau Aya sering sekali mengirimi pesan yang menurut lelaki itu tak penting. Dibanding menganggu suaminya, Aya lebih suka menempel dan merepotkan Manggala. Namun, lelaki itu tak bisa berbuat banyak dan selalu menuruti semua keinginan sang adik. Bagaimana pun ibu hamil adalah yang paling benar dan segala keinginan harus terpenuhi.
Percakapan mereka selalu hangat dan menyenangkan. Tak menyangka saja Sela bisa merasakan ini semua. Dan ia masih merasa kalau ini adalah mimpi terindah dalam hidup perempuan itu. Di mana dulu sama sekali ia tak berani untuk mengharapkannya. Namun, sekarang terjadi beneran. Dan tentu saja itu masih membuatnya serasa tak nyata.
“Sela …”
“Iya?”
Aya menatap kawannya lekat-lekat, “Kamu masih mencintai Kakak, ‘kan?”
Sela terdiam. Perempuan itu tak bisa menjawab. Bagaimana pun mengenai perasaan adalah hal yang sangat sensitive untuk dibicarakan. Terlebih lagi menyangkut sosok Manggala. Karena lelaki itu sangat sulit ditebak dan dipahami.
Dan haruskah ia meraba lagi perasaan ini. Padahal dirinya sudah bersusah payah untuk menutup dan menghapus rasa ini. Namun yang terjadi. Bukan menghilang, melainkan hadir kembali saat pertama kali mereka bertemu di stasiun. Dan tentu saja itu sangat menyebalkan.
Perasaan itu mungkin masih ada dalam diri Sela. Karena Manggala adalah cinta pertamanya. Dan tentu saja itu semua sulit dihapus dalam diri Gisela. Namun, perempuan itu harus sadar diri. Kalau ia bukan tipe yang diinginkan lelaki tersebut. Meskipun Aya menyetujui. Belum tentu juga Gala mau menerima kehadirannya.
Karena dalam hidup ini harus realitas. Mana yang akan menjadi kenyataan. Dan mana yang hanya impian semata. Tak bisa mencampur adukan semua menjadi satu. Sebab bila jatuh dalam harapan yang tak tercapai rasanya sangat menyakitkan sekali.
Walaupun kini mereka bisa dikatakan dekat. Namun, Sela tak ingin memikirkan apapun. Perempuan itu lebih memilih menjalani dari pada harus menaruh harapan tinggi. Karena ia takut untuk terjatuh.
“Sel …”
“Aku nggak tahu,” Sela membuang napas dalam, “aku …”
“Kamu mencintainya?” Aya menatap Sela lekat-lekat, “namu kamu takut kalau perasaan ini hanya bertepuk sebelah tangan?”
Sela mengedikkan bahu tak tahu. Banyak sekali pertimbangan dalam hati dan pikirannya. Menjadikan dirinya lelah sendiri. Karena tak tahu harus berbuat apa-apa.
Ingin rasanya mengatakan masih mencintai lelaki itu. Namun, hatinya menolak. Karena ia tak ingin dianggap masih mengemis dan mengharapkan balasan dari lelaki itu. Akan tetapi, kalau ia menolak pun bukan pilihan yang tepat. Karena itu sama saja berbohong pada diri sendiri. Dan tentu saja ia membenci hal itu.
Karena itu, mungkin diam adalah pilihan yang tepat. Meskipun diamnya perempuan berarti iya. Setidaknya ia tak perlu berbohong untuk mengatakan tidak.
“Kamu mau menikah dengan Kakak?’
Kedua mata Sela membulat sempurna, “Kamu gila!”
“Karena hanya kamu yang aku percayai.”
Gisela tak tahu harus bereaksi seperti apa. Seharusnya sejak awal dirinya tahu kalau Aya mempunyai maksud tersembunyi mendekatkannya dengan sang kakak. “Tapi, Ya …”
“Kamu mau,’kan?”
Ingin rasanya menolak. Namun entah mengapa kepala ini malah memilih mengangguk. Dan tentu saja itu membuat Aya senang sekali.
Akan tetapi, jauh dalam lubuk hatinya masih ragu. Apakah lelaki itu mau menerimanya. Sedangkan ia tahu kalau Manggala tidka mencintainya.
Lalu, maksud pesan yang dikirim selama ini apa. Mulai pagi hari dengan penuh semangat. Lalu pada malam hari pun tak lupa memberi kabar dan sedikit menceritakan apa saja yang dilakukan seharian ini.
Untuk kali ini saja, bolehkan Sela berharap banyak. Bahwa lelaki itu memang mendekatinya. Dan mungkin dengan restu dari Aya, pernikahan antara mereka bisa terjadi.
“Makasih ya, Sel!” Aya memeluk tubuhnya dengan hangat, “Kakak pasti akan senang.”
Sela membalas dekapan itu dan berdoa dalam hati bahwa semua ini beneran terjadi. Bukan mimpinya semata.
“Tapi bagaimana dengan Kakakmu?”
Aya melepaskan pelukan sang kawan, “Biar aku yang bicara kepadanya.”
Sela hanya bisa menghela napas dalam. Semoga saja kedepannya baik-baik saja. Bila memang mereka tak bisa bersatu tak masalah. Mungkin memang bukan jodohnya.
Kalau memang mereka diciptakan untuk bersama. Apapun yang terjadi, mereka akan bersatu. Setidaknya itulah yang ditanamkan dalam diri Sela. Biar ketika rasa sakit itu datang tak membuatnya terpuruk begitu jauh.
Karena untuk bangkit pasti membutuhkan perjuangan yang begitu besar.
"Kalau Kakakmu nggak mau gimana?"
Aya mengedipkan sebelah mata, "Kakak pasti mau,"
"Tahu dari mana?"
Wanita itu hanya tersenyum misterius. Membuat Sela mengerutkan kening heran. Namun ia tak berani bertanya lebih lanjut. Karena bukan haknya. Biarkan saja Aya dengan dunianya.
Yang perlu ia tanamkan adalah, tak perlu berharap lebih. Karena ketika impian itu tak sesuai tidak perlu merasakan sakit yang begitu dalam.