Sedangkan para lelaki masih berada di kantor. Gala sendiri dalam beberapa hari ini belum pulang. Lebih memilih tidur di kamar yang memang tersedia dalam ruang kerjanya. Dari pada pulang yang membuatnya malas ungtuk bolak balik.
Sedangkan Iman memang pulang itupun larut malam. Dan akan datang lagi agak siangan. Karena sekarang semua masalah sudah bisa teratasi dengan baik. Jadi tugas mereka agak ringan dari pada beberapa hari kemaren yang benar-benar menguras tenaga.
Sekarang saja, Gala bisa santai sejenak. Menatap jalanan dari atas gedung memang kesukaan lelaki itu. Di mana ia bisa mengawasi padatnya jalan raya ketika orang pulang dari kerja. Di atas sini ia memang sendirian. Namun melihat ke bawah, ia merasa tak sendiri. Karena masih banyak orang yang berlalu lalang.
“Kamu nggak pulang?”
Gala menoleh. Menemukan sang kawan yang masuk ke dalam ruangannya dan memilih duduk di sofa sembarai membaringkan tubuh. Terlihat wajah kelelahan dan juga masam. “Kenapa?”
“Capek …”
“Nggak pulang aja,” sela Gala yang duduk di kursi sigle. Menatap kawannya penih prihatin. “Aya …”
“Dia baik-baik saja,” sela Iman yang membenarkan duduknya. Menatap sang kawan dengan saksama. Karena ada sebuah pertanyaan yang harus ia sampaikan.
Awalnya ragu ia akan bertanya tentang hal ini. Akan tetapi kalau tidak mendapatkan jawaban bisa-bisa ia tidur di luar. Kalau seperti ini yang susah juga dirinya. Namun, menanyakannya pun sebenarnya kurang etis. Sebab ini menyangkut privasi seseorang.
Ah, kalau seperti ini lama-lama ia sendiri yang pusing. Kenapa juga mengiyakan permintaan sang istri. Kan, bisa sendiri bertanya langsung. Tanpa perentara dirinya.
“Ada apa?” tanya Gala yang bingung dengan gelagat temannya. Seolah ingin bertanya namun terllihat ragu. Kalau seperti ini bisa dipastikan Aya yang menitipkan pesan. “Aya suruh tanya apa?”
Iman membuang napas dalam. Beruntung sekali Gala mengetahui keresahan hatinya. Lelaki itu selalu pengertian. “Maaf, ya …”
“Adaapa, sih?”
“Kamu maish sering kirim pesan dengan Sela?”
Manggala membuang napas lelah. Tak menyangka saja pertanyaan itu yang keluar. “Ada apa emangnya?”
“Nggak tahu,” Iman mengangkat kedua bahunya. Lelaki tersebut hanya disuruh bertanya seperti itu. Lagian Aya juga nggak bilang alasannya kenapa. Hanya ingin tahu apa sang kakak masih menghubungi temannya atau tidak. “Aya hanya titip pertanyaan itu.”
Gala berpikir sejenak. Lelaki itu tak bisa langsung menjawabnya. Karena ini menyangkut masa depannya. Terlebih lagi untuk saat ini tak mungkin mengatakan ini semua kepada Jaiman. Bisa-bisa mulut ember lelaki itu mengadu kepada sang istri. Pada akhirnya rahasia yang selama ini pendam terbongkar sudah.
Sebenarnya yang terjadi bukan dirinya yang mengirim pesan itu. Karena memang selama ini ia menyuruh sang seketaris memakai nomernya untuk menghubungi Sela. Terserah mau bilang apa aja, ia tak peduli. Asalkan tiap hari ia diberitahu apa saja yang mereka bicarakan.
Ini semua terjadi karena pembicaraan terakhir dengan Aya kala itu. Sang adik menginginkan dirinya untuk menghubungi Sela setiap hari. Tentu saja ia menolak. Karena bingung harus mengirim pesan apa. Namun, tetap saja ia tak bisa mengelak kemauan adik semata wayangnya.
“Tapi, Ya …”
“Ayolah, Kak,” pinta Aya di seberang sana, “mau, ya!”
Gala membuang napas dalam. Ini sangat susah. Masalah pekerjaan belum selesai. Dan kini adiknya minta yang aneh-aneh. Tentu saja membuat kepalanya terasa pening seketika.
“Kak …”
“Iya,” sela Gala dengan cepat sembelum Aya kembali merengek, “nanti Kakak usahakan,”
Terdengar pekikan girang di seberang sana, “Kakak masih punya nomernya, ‘kan?”
“Tentu saja.”
Selepas itu ia meminta kepada asistennya untuk membelikan ponsel dan nomer baru. Sedangkan handphonenya ia kasihkan dan menyuruh sang seketaris untuk mengirim pesan sesuai kemauan Aya. Karena lelaki itu tak memiliki banyak waktu untuk sekadar menulis pesan singkat.
Tapi, mau bagaimana lagi bila sang adiknya yang meminta. Daripada dirinya diteror terus, lebih baik main aman. Tentu saja dengan meminta bantuan kepada seketarisnya.
Awalnya tangan kananya itu bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Akan tetapi, ia tak peduli sama sekali. Menyerahkan maslaah ini begitu saja kepada lelaki tersebut. Yang penting adiknya tak protes dan nggak tahu.
Lelaki itu membuang napas dalam. Entah mengapa semua terasa membingungkan. Ia tak bisa memilih langkah apa yang akan dipilih. Semua terasa buntu. Tak jalan keluar untuk permasalahan saat ini.
Mengatakan hal yang sebenarnya ke sang adik pun bukan pilihan yang tepat. Karena Aya mengharapkan hubungan ini segera terjalin dan menuju pelaminan. Namun. Di sisi lain, ia tak bisa melakukan hal itu. Sebab perasaanya sudah terpaud dengan perempuan lain. Dan tak mungkin ia berpaling begitu saja.
Pria tersebut benar-benar berada di sudut buntu dalam hidupnya. Semua terasa gelap dan tak seberkas cahaya yang masuk. Meskipun sudah mendapatkan saran dari Iman, ia tak mungkin melakukan hal itu setelah mengetahui kebenaran yang ada. Akan tetapi, bertahan seperti ini sama saja dengan dirinya memupuk kebohongan demi menutupi semua alasan yang pernah disampaikan.
Ah, semua terasa sulit dan juga membingungkan. Akankah Aya mengerti dengan keadaannya saat ini. Atau perempuan itu merasa bersalah karena telah menempatkannya pada kondisi yang tak bisa memilih. Dan tentu saja hal itu akan membuat adiknya kepikiran. Kalau seperti itu, ia jadi bimbang untuk mengatakan yang sebenarnya.
Semua masalah menjadi semakin rumit. Andai saja ada sang kawan yang akan membantunya keluar dari problem ini. Dengan senang hati ia akan menceritakan semuanya. Akan tetapi, tak mungkin dirinya bilang ini semua kepada Jaiman. Yang ada lelaki itu akan membocorkan kepada adiknya. Itu sama saja dengan tak langsung memberi tahu sang adik.
Sampai pada akhirnya tanpa sengaja dirinya bertemu dengan Sela. Mungkin ini saat yang tepat untuknya mengatakan hal ini.
“Sel …”
“Iya?”
“Apa benar kamu jatuh cinta kepadaku?”
“Kenapa Kakak bertanya itu?” Gisela bertanya balik. Karena ia tak tahu harus menjawab apa. Hatinya masih belum siap untuk mengatakannya. Terlebih lagi, ia tak ingin terlihat sangat berharap kepada lelaki tersebut. “Kakak …”
“Berarti benar kamu masih mencintaiku?”
Gisela terdiam. Perempuan itu tak bisa mengelak. Lelaki itu selalu bisa mengerti tentangnya. Sedangkan dirinya hanya bisa meraba.
“Sel …”
“Apa itu sebuah kesalahan, Kak?”
Gala terpaku. Giliran lelaki itu yang tak bisa menjawab. Padahal ia berharap perempuan itu yang menjelaskan. Bukan malah bertanya balik seperti ini. Dan tentu saja ia tak bisa berkata apa-apa. Ini menyangkut hati dan pembicaraan yang sangat sensitive.
Lelaki itu memilih memandang ke arah langit malam. Tak ingin melihat dua bola perempuan itu. Mungkin, dulu ia sangat menyukai netra hitam milik Sela. Namun semua bisa berubah. Apalagi mereka juga sudah jarang bertemu. Dan tentu saja perasaan itu lama-lama memudar dengan sendirinya.
Namun, ia tak mengetahui kalau Sela masih menyimpan rasa itu. Dan tentu saja ia tak ingin perempaun itu terluka karena cinta sepihak. Itu sangat menyakitkan, bukan. Lebih baik membuang perasaan ini dari pada menunggu sesuatu yang tak pasti.
“Kalau memang rasa itu masih ada, kenapa?” tanya Sela setelah keheningan beberapa waktu. Perempuan itu membuang napas dalam sebelum melanjutkan kata-katanya, “toh, aku tidak menuntut Kakak untuk membalasnya. Sama seperti dulu.”
Gala membuang napas dalam, “Bukan begitu …”
“Lalu?”
Sela sekarang berbeda dengan yang dulu. Kalau dulu ia hanya bisa mengangguk dan mengikuti saran orang lain. Namun, sekarang ia bisa mengemukakan pendapatnya dan jalan sesuai dengan keinginnya.
Tak ada yang boleh mengatur dan mennyuruh melakukan ini dan itu. Karena ini kehidupan yang harus ia jalani. Bukan orang lain yang dengan seenaknya mengatur semuanya. Menjadikan ia seperti boneka yang bisa disuruh apapun itu.
Karena masalah dan rasa sakit memberi kekuatan dalam diri perempuan itu. Tak mundah menyerah dan menangis. Ia tumbuh dengan kuat dan penuh percaya diri. Meskipun dalam hatinya ia merasa rapuh. Namun, itu semua ia tutupi dengan topeng baik-baik saja.
“Apa Kakak akan menyuruhku untuk melupakan perasaan ini lagi?”
Manggala menggeleng pelan, “Bukan seperti itu,”’
“Lalu?”
“Ini semua tak ada ujungnya, Sel,” Gala menghela napas pelan. Melirik perempuan itu sekilas sembelum membuang pandangan ke segela arah. Kini, mereka merasa canggung satu sama lainnya. Karena pertanyaan yang telah diajukannya. Membuat mereka merasa terbebani satu sama lain. “Kalau sudah tahu seperti itu kenapa harus mempertahankannya?”
Mungkin kalimat itu sangat kejam. Namun, itulah yang tengah ia rasakan.
“Gala!”
Manggala mengerjap pelan, “Apa?”
“Kan!” Iman sudah menduka kalau lelaki itu melamun. Padahal sedari tadi ia menunggu jawaban. Namun, Manggala malah diam dengan pemikirannya sendiri. “Bagaimana?”
“Apanya?”
Jaiman membuang napas dalam. Lelaki itu sangat menguji kesabarannya, “Kamu masih berhubungan dengan Sela, ‘kan?”
Manggala mengangguk ragu, “Kenapa?”
“Bagus, deh!” Iman merasa lega mendapatkan jawaban itu. Lelaki itu kira Gala tak akan melakukannya. Karena ia tahu pasti sang kawan malas berbuat seperti itu. “Nanti aku bilang ke Aya.”
Gala merasa bersalah. Namun ia tak mempunyai pilihan yang lain. Saat hanya itu yang bisa dilakukannya. Dan mungkin ia memikirkan cara agar sang adik menghentikan perjodohan ini.
Bagaimana pun caranya, akan Gala coba. Karena ia mempunyai calon lain di hatinya. Dan tent saja itu bukan Gisela. Sebab sejak awal ia hanya memandang perempuan itu seperti adiknya. Tidak lebih.
Terlebih lagi, perasaan tidak bisa dibohongi. Ia tidak bisa memaksakan keadaan begitu saja. Namun, ia pun tak bisa menolak keinginan sang adik. Maka jalan satu-satunya adalah seperti ini dulu sampai semua baik-baik saja.
“Kamu mencintainya?”
“Siapa?”
“Gisela.”
Gala tak dapat menajwab. Lelaki itu tak mungkin berbohong bila mengenai hati. Namun, menjawab jujur pun pasti aka nada pertanyaan lainnya. Dan tentu saja kali ini ia enggan untuk diintrogasi. “Entah …”
“Kok?”
“Aku nggak tahu,” sela Gala dengan cepat, “ini cinta atau bukan. Namun, aku merasa nyaman saja.”
Sebuah jawaban klise untuk memanipulasi kebohongan. Dengan begitu, Iman tak akan bdertanya lagi. Karena ia sudah tak ada kata-kata lain untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
“Kamu …”
“Cinta akan datang dengan sendirinya, bukan?”
Jaiman menatap kawannya lekat-lekat. Lelaki itu sadar ada yang disembunyikan. Akan tetapi, ia tahu batas. Tak mungkin meminta temannya untuk memberi tahu. Karena itu sudah memasuki privasi Manggala.
“Kalau kamu memang mencintainya, pertahankan” ujar Iman yang memilih bangkit untuk pulang. “Namun bila tidak, lepaskan dari awal sebelum luka datang diantara kalian.”
Gala mengangguk mengerti. Membiarkan sang kawan untuk pergi terlebih dahulu. Karena dirinya ingin masih ada di sini.
Memikirkan semua dengan matang-matang. Karena ia tak ingin ada penyesalan ke depannya.
Lelaki itu terlalu lelah untuk berpikir. Memilih masuk ke dalam ruang pribadinya. Di mana ia bisa istirahat sebentar untuk memulihkan tenaga.
Ia tak menyangka saja masalah ini sangat ruwet. Mungkin keputusannya salah menyuruh orang lain untuk mengirimkan pesan. Karena itu sama saja dengan dirinya membohongi banyak orang.
Mungkin mulai besok, ia akan mengambil kembali ponselnya. Biarkan dirinya saja yang melakukan hal tersebut. Itupun kalau ingat dan ia ingin melakukan. Kalau tidak mungkin dengan alasan sibuk perempuan itu akan mengerti.
Gala membuang napas dalam. Memilih merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Sudah lama rasanya ia tak tidur seperti ini. Beberapa waktu yang lalu adalah hal genting terjadi di perusahaan. Hingga ia tak bisa tidur dengan tenang. Namun sekarang semua telah selesai. Waktunya untuk istirahat dan mendengarkan beberapa lagu.
Lagu pertama dari Tulus yang berjudul Manusia Kuat. Ia percaya kalau semua manusia diciptakan dengan yang terbaik. Tak ada yang bodoh dan juga kurang beruntung. Karena semua terlahir kuat. Dengan mendengarkan suara Tulus, ia mendapatkan energi kembali.
Lalu lagu kedua yang membuatnya membuang napas dalam. Lagu yang sering dinyanyikan oleh Aya. Apa lagi kalau bukan Kangen dari Dewa.
Setiap kali perempuan itu rindu kepadanya selalu mengirimi lagu tersebut. Ah, membuatnya ingin bertemu dengan sang adik kalau begini.
Lanjut dari Zigas, Sahabat Jadi Cinta. Yang menggambarkan hubungannya dengan Ura dulu. Membuatnya tersenyum sendiri bila mengingat mantan kekasihnya.
Lagu-lagu tersebut seperti penghantar tidur untuknya. Di mana menemani sampai ia terlelap. Dan untuk sementara waktu mampu meringankan kinerja otaknya yang terasa panas. Karena masalah selalu datang silih berganti. Tak ada habisnya sama sekali. Dan tentu saja itu semua membuatnya pusing belakangan hari ini.