“Pagi!” Gala masuk ke ruang makan rumah Aya. Langsung saja mencium kening sang adik yang sedang memakan sarapannya. Dan tentu saja lelaki itu mendapatkan tatapan tajam dari sang kawan. Namun ia masa bodoh. Sudah lama tak bertemu dengan adiknya gara-gara pekerjaan yang menumpuk.
Dengan kesal Iman menyindir teman baiknya, “Bisa nggak, nggak usah pakai …”
“Kakak mau sarapan apa?” sela Aya dengan senyuman manja seperti biasa. Mengabaikan sang suami yang terlihat kesal. “Mau Aya buatkan kopi?”
Manggala menggeleng. Lelaki itu sudah menghabiskan satu cangkir kopi. Lagian sebelum ke sini ia juga sempat membuat makanan di rumah. Meskipun itu hanya menghangatkan roti yang bertaburan daging dan juga bumbu di atasnya sembari menyeduh kopi tanpa gula kesukaan lelaki itu.
Ia datang ke sini gara-gara sang adik semalam menyuruhnya untuk ke rumah pagi-pagi. Berhubung ini hari Minggu dan otomatis ia libur. Memilih berangkat jam sepuluhan saja. Dan ternyata sang adik baru saja sarapan yang menurutnya sudah kesiangan.
“Kakak sudah makan?”
“Kamu kenyang makan begituan?” Manggala melirik dua lembar roti dan teh hangat. Lelaki itu menatap sang adik heran. Biasanya juga langsung makan nasi dan lauk pauk. Namun sekarang, Gala hanya bisa menggeleng tak percaya. “Kamu nggak masak?”
Dengan polosnya Aya menggeleng. Belakangan ini memang perempuan itu sangat pemilih dalam hal makanan. Seperti pagi ini, ingin sarapan roti ditemani teh hangat. Dan untuk siang hari nanti ia ingin makan di luar. Berhubung sang suami tak masalah. Jadi khusus hari ini ia tak masak.
Perempuan itu pun tak bisa makan nasi sebelum jam satu siang. Kalau pun ia terpaksa pasti akan muntah seharian. Dan tentu saja itu sangat menyiksa dirinya. Makannya sang suami menyiapkan banyak makanan. Mulai, roti, sereal buah dan aneka jus serta s**u siap minum. Setidaknya itu semua bisa mengganjal perut Aya sampai siang.
Semenjak di dalam perutnya ada kehidupan lain. Aya merasa berbeda dengan tubuhnya. Seperti saat in, ia ingin sekali nanti siang makan di cafe bersama sang kakak dan juga suaminya. Tak lupa ia juga menghubungi Sela untuk ikut sekalian pendekatan bersama sang kakak.
“Bumil sedang banyak maunya,” ujar Iman yang sudah menghabiskan serealnya. Mereka memang sarapan agak terlambat. Karena memang baru beranjak dari tempat tidur yang memanjakan lelaki tersebut. Belakangan ini kurang tidur. Apalagi tiap malam ada saja yang diinginkan sang istri. Membuat waktu istirahat Iman terganggu. Akan tetapi, ia sangat senang melakukan hal tersebut. “Tadi malam saja muter-muter nyari nasi goreng, tapi nggak nemu,”
Manggala mengernyit heran, “Lah, kok …”
“Mintanya saja jam tiga dini hari. Mana ada yang masih buka?”
Lelaki itu tertawa kencang, “Lalu?”
“Pada akhirnya aku yang masak.”
Gala bisa membayangkan raut wajah sang kawan. Di mana harus keluar dini hari mencari makanan. Di mana pada akhirnya lelaki tersebut yang masak di rumah demi istri tercinta. Sungguh pasangan yang sangat harmonis. Di sini ia bisa melihat begitu besar cinta Iman kepada Aya. Ia tak menyesal setelah menjodohkan mereka.
Aya terlihat sangat bahagia. Apalagi sekarang sedang mengandung buah hati mereka. Lengkap sudah keluarga yang dimiliki sang adik. Dan tentu saja dirinya juga merasa senang.
“Kak …”
Gala melirik ke arah Aya yang kini makan buah apel, “Iya?”
“Nanti ikut jalan-jalan, ‘kan?”
“Hah?” Gala mengernyit, memandang Iman yang pura-pura lihat lainnya, “bukannya kamu sama Iman …”
“Nggak,” Aya menggeleng dan bangkit menuju ke arah sang kakak, “sama kakak dan juga Sela.”
Manggala terbelalak tak percaya. Lelaki itu sama sekali tak tahu akan hal ini. Iman tak berkata apa-apa. Biasanya sang kawan selalu memberi tahu. Namun kali ini Jaiman diam saja. ia seolah dijebak. Akan tetapi, apakah ia bisa lepas dari keadaan ini. Karena melihat binar harap sang adik yang rasanya tak mungkin untuk disirnahkan begitu saja.
“Kak …”
“Iya?”
“Mau, ‘kan?” tanya Aya sekali lagi. Karena menurut sang suami, Manggala ada tugas penting. Kemungkinan tidak bisa ikut. Maka dari itu ia ingin menanyakan secara langsung. “Kakak nggak ada acara keluar kota, ‘kan?”
Jaiman mengedikkan bahu ketika sang kawan melirik ke arahnya. Lelaki itu berusaha untuk memberi tahu. Namun sang istri mengancam akan menyuruhnya tidur di luar bila sampai membicarakan hal ini dengan Manggala. Tentu saja, Iman memilih jalan aman. Tak mungkin ia tidur sendirian tanpa sang istri. Bisa-bisa ia tak bisa tidur semalaman. Dan itu sangat menyiksa.
Maka dari itu ia memberi alasan kalau Gala tidak bisa karena ada urusan mendadak yang harus dikerjakan. Akan tetapi istri tercintanya tidak percaya dan mempertanyakan langsung pada sang kakak. Tentu saja Manggala kelabakan sendiri. Tak bisa menjawab dan juga berkilah.
Ia tahu sang kawan masih belum bisa menerima Sela sepenuhnya. Entah selama ini pesan yang dikirim murni dari Gala atau orang lain, Iman tak berani menebak. Namun melihat ekspresi terakhir saat mereka berbicara. Jaiman yakin ada perempuan lain yang mengisi hati temannya. Akan tetapi bingung karena Aya sudah membuat langkah perjodohan ini.
“Ya …”
“Kakak bisa, ‘kan?” wanita itu tak peduli peringatan dari sang suami. Ia hanya ingin tahu jawaban Manggala. Itu saja. Karena sampai saat ini ia merasa bersalah. Sebab dirinya sang kakak belum juga menikah. Dan berharap dengan Sela kakaknya akan menemukan bahagia seperti yang dirasakan saat ini.
Pada akhirnya, Gala mengangguk pelan. Lelaki itu mengelus lembut kepala adiknya. Tak mungkin ia membiarkan senyum bahagia itu hilang. Sebisa mungkin, ia akan menuruti semua keinginan wanita hamil satu ini.
“Makasih, Kakak!”
Aya langsung memeluk tubuh lelaki tersebut. Selama ini sang kakak tidak akan menolak ke keinginannya. Selalu berusaha untuk mengabulkan. Apapun itu akan dilakukannya. Dan tentu saja membuat Aya sangat senang sekali. Ia memiliki dua orang lelaki yang begitu menyayanginya.
Ada Jaiman yang menjadi tempat sandaran dan pulang. Selalu memanjakannya dan juga tak pernah mengeluh dengan beberapa keinginan belakangan ini. Dan tentu saja orang yang sangat dicintainya setelah sang kakak.
Dan tentu saja ada Manggala yang siap ada untuknya. Lelaki itu tak akan meninggalkannya apapun yang terjadi. Ia pun akan menjadi adik kecilnya sampai kapanpun. Tak ada yang bisa menggantikan hal itu.
Aya sangat bahagia. Kehidupannya sudah lengkap. Badai yang pernah menerjangnya, kini perlahan menghilang. Berganti dengan pelangi yang mempercantik kehidupan perempuan dulunya pernah mempunyai keinginan untuk bunuh diri.
Dengan mental yang lemah, Aya pernah ingin mengakhiri hidupnya. Di mana ia telah kehilangan kedua orang yang begitu berarti. Ibu dan Ayahnya pergi begitu saja. Meninggalkan dirinya dengan kak Gala.
Waktu itu, ingin rasanya menyusul mereka. Tak ada semangat untuk hidup. Namun, kalau dirinya pergi. Sang kakak akan bersama siapa. Bila di Dunia ini hanya dirinya yang dimiliki.
Hingga ia bertemu dengan sosok Sela. Perempuan riang yang mengubah hidupnya seketika. Dari Gisela ia belajar banyak hal dalam menghargai hidup ini.
Masih ingat dalam benak Aya satu kalimat yang diucapkan sang kawan ketika ia merasa putus asa.
"Kamu boleh berhenti sejenak. Namun tidak dengan menyerah."
"Maksudnya?"
"Ketika kamu memilih menyerah, berarti hidupmu usai di sini," ujar Sela yang menatap awan, "namun kalau berhenti, kamu bisa memulainya lagi."
Aya mengernyit heran. Tak mengerti apa yang dimaksud oleh sang kawan.
"Percayalah, suatu saat akan ada pelangi dalam hidup."
Pelangi yang membawa kebahagiaan untuknya. Dan tentu saja itu sang suami.