“Gala …”
Manggala menoleh. Menemukan sang kawan yang berjalan ke arahnya. Lelaki itu hanya tersenyum sekilas. Banyak hal yang menganggu pikirannya. Ia tak tahu harus berbuat apa.
Maka dari itu, ia memilih sendiri terlebih dahulu. Membiarkan otaknya tenang dan bisa mengambil langkah yang tepat. Bagiamana pun ini menyangkut masa depannya dan juga kebahagiaan sang adik.
Semua ini harus ada yang dikorbankan. Entah itu dirinya yang harus menerima perjodohan ini. Atau sang adik yang kehilangan senyumannya karena ia lebih memilih orang lain.
Akan tetapi ia tak bisa berbuat banyak. Karena perasaan ini tak bisa dipaksakan. Lagian, sesuatu yang dipaksa pada akhirnya tak baik.
Namun, ia tak mampu melihat senyuman itu menghilang. Kalau seperti ini, mungkin mengiri diri sendiri adalah pilihan yang tepat.
Andai saja ia tadi bisa menolak keinginan Aya, mungkin masalah ini tak semakin ruwet. Di mana ia harus mengorbankan perasaanya. Dan mengubur semua impiannya.
“Kamu nggak papa?” tanya Ima yang merasa aneh dengan gerak-gerik sang kawan. Serasa ada yang disembunyikan. Dan ia yakin ini berkaitan dengan perjodohan yang direncakan sang istri.
Gala mengernyit bingung, “Kenapa memangnya?”
Iman membuang napas dalam. Temannya selalu saja bisa menyembunyikan semua dengan tenang. Padahal, lelaki itu bisa menebak kalau Gala sedang galau dan dilemma. Di mana ia tak bisa menolak keinginan istrinya. Terlebih lagi lelaki itu selalu memanjakan Aya. Bisa dipastikan tak tega untuk menolaknya. Sekadar berkata tidak saja tak mampu.
Akan tetapi buat apa dilakukan kalau semua ini hanya membohongi hatinya. Iman yakin, Gala sudah memiliki orang lain. Namun belum berani mengungkapkan hal ini kepada Alayya. Karena sang adik sudah mengenalkannya dengan sang kawan.
Semua semakin rumit bila Gala tak mau mengatakannya. Dan ia pun tak bisa berbuat banyak. Karena memang sejak awal Aya memiliki niatan untuk menjodohkan mereka. Tentu saja sang istri mempunyai alasan kuat melakukan hal itu. Akan tetapi, sampai sekarang ia tak mengetahui alibi sang istri.
“Jangan membohongi diri sendiri,” ujar Jaiman yang memilih duduk di sebelah sang kawan. Kini mereka ada di halaman belakang. Membiarkan Aya untuk siap-siap yang bisa menghabiskan banyak waktu. “Itu sangat menyakitkan.”
Gala tak tahu harus bereaksi seperti apa. Iman selalu mengerti tentangnya. Bila bersama sang adik ia bisa dengan leluasa berbohong. Namun tidak ketika berhadapan dengan sang kawan. Ia bagaikan buku yang mudah sekali terbaca. Dan tentu saja, Jaiman bisa menebak apa yang tengah dirasakan saat ini.
“Kamu bicara apa …”
“Kamu bisa mengelak di hadapan Aya,” sela Iman menepuk pundak sang kawan, “tapi tidak di depanku.”
Manggala membuang napas dalam. Untuk saat ini akan berbohong sejenak. Biarkan ia dianggap munafik dan lebih memilik membohongi diri sendiri. Asalkan sang adik bahagia.
Ia pernah merasa gagal menjadi seorang kakak. Dan sekarang ia tak ingin kejadian itu datang kembali. Gala tak mau sang adik merasa terpuruk kembali. Karena memang mental sang Aya tidak baik-baik saja.
Maka dari itu sebisa mungkin ia selalu menuruti keinginan sang adik. Karena membuat Aya bahagia adalah janjinya kepada kedua orang tua mereka sebelum meninggal. Ia tak akan membiarkan adiknya terluka kembali. Apalagi membuatnya tertekan. Itu tak akan dilakukannya.
Seperti saat ini. Lebih baik ia menyembunyikan semuanya. Daripada sang adik kecewa. Ini semua dilakukan hanya untuk kebahagian Aya. Dan seharusnya Iman tahu akan hal ini. Kalau ia menolak, Aya akan kecewa. Tentu saja itu akan membuat sang adik merasa sedih.
“La …”
“Anggap saja kamu tidak tahu apa-apa,” sela Gala dengan senyuman yang sama sekali tak bisa membuat sang kawan percaya. Berharap temannya tak membahas hal ini lagi. Karena ia takut Aya akan mendengarnya. “Sudah sana …”
“Kenapa?” tanya Iman dengan suara pelan. Lelaki itu sudah mengantisipasi terlebih dahulu. Aya tak akan mendengarkan pembicaraan mereka. Karena pasti terdengar bila sang istri keluar dari kamar. “Mengapa kamu melakukan ini semua?”
“Man …”
“Aku nggak berharap kamu bicara sebenarnya kepadaku,” Jaiman menoleh ke belakang. Memastikan kembali sang istri masih sibuk dengan ganti pakaiannya. “Tapi setidaknya jujurlah pada dirimu sendiri.”
Gala terdiam. Lelaki itu sama sekali tak tahu harus menanggapi bagaimana. Karena ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Ah, kepalanya terasa pecah.
“Mungkin bagimu, berbohong adalah cara yang tepat agar Aya tak kecewa,” Iman tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya. Memandang ke langit-langit yang menampilkan awan biru. “Tapi, apakah kamu pernah berpikir kalau ini semua akan menyakitinya?”
“Maksudmu …”
“Apa Aya akan baik-baik saja setelah mengetahui kebohongan yang kamu lakukan?” Iman melirik sejenak, “apalagi Aya tahu kamu melakukan itu semua untuknya.”
Gala terdiam. Lelaki itu sama sekali tak berpikir sejauh itu. Dalam otaknya yang diinginkan hanya Aya baik-baik saja dan tidak kecewa sama sekali. Namun, setelah mendengar ucapan Iman. Dirinya ragu. Apakah jalan yang ia pilih untuk saat ini adalah yang terbaik. Kalau seperti ini lebih baik dirinya menghindar terlebih dahulu.
“Jujur lebih baik, walaupun menyakitkan,” Iman menepuk pundak sang kawan, “ini semua menyangkut masalah hati. Dan itu semua tidak bisa dipaksakan. Bukan hanya kamu yang akan terluka. Begitu pula dengan Aya dan juga Sela. Maka pikirkan baik-baik sebelum melangkah.”
Manggala terpaku. Benar apa yang dikatakan Iman. Bukan dirinya saja yang terluka. Aya dan juga Sela akan mendapatkan getahnya. Kalau seperti ini, ia semakin dilemma. Ingin jujur, namun tak memungkinkan.
Akan tetapi, melanjutkan ini semua pun adalah hal gila yang dilakukannya. Yang ada dirinya hanya akan melukai perempuan itu. Namun, mau bagaimana lagi. Ia masih belum tahu langkah apa yang akan diambil.
Untuk sementara biarkan seperti ini. Ia tak tega mengatakan hal ini kepada Aya. Nanti kalau ada waktu ia akan menjelaskannya. Lagian, ia tak ingin melihat senyuman itu luntur.
“Kakak!”
Manggala dan Iman menoleh. Melihat Aya yang berjalan ke arah mereka. Lelaki itu memberi isyarat ke temannya untuk tidak berbicara apa-apa.
“Kalian sedang apa?”
Iman tersenyum dan menghampiri sang istri, “Biasa bahas pekerjaan.”
Aya mengangguk saja. Perempuan itu selalu mengerti bila dua orang tersebut tak bisa jauh-jauh dari pembahasan soal kerjaan. Padahal tiap hari bertemu pun itu yang selalu di bahas. Seolah tak ada hal lain yang dibiarkan.
“Berangkat sekarang?”
Aya mengangguk. “Iya. Nanti langsung ketemuan di sana.”
Gala mengerti. Lelaki itu berjalan di belakang pasangan suami istri. Berharap suatu saat bisa seperti itu. Dan tentu saja dengan wanita pilihannya.
Mungkin benar apa yang dikatakan Iman. Seharusnya ia jujur saja kepada sang adik. Dengan begini tidak akan ada yang terluka. Terlebih lagi, ia bisa mengenalkan perempuan tersebut. Kalau seperti ini, dirinya tak mungkin memperkenalkan orang yang disayanginya.
Aya akan menerima dengan lapang d**a. Adiknya bisa mengerti akan hal ini. Apalagi ada Iman yang akan membantunya. Selepas ini, ia akan mengatakan yang sejujurnya. Lebih baik sakit di awal. Dari pada ia menghancurkan sang adik nantinya. Dengan kebohongan yang telah ia perbuat.