Dalam perjalanan pulang semua memilih diam. Gala yang sedang kosentrasi dengan jalanan di depannya. Karena lelaki itu yang menjadi pengemudi pada malam ini. Sedangkan di sampingnya duduk dengan nyaman Sela. Perempaun itu semenjak tadi terlihat diam. Bahkan dengan Aya pun tak banyak bicara. Seolah banyak sekali pemikiran yang berkecambuk dalam otaknya.
Sedangkan dua pasang suami istri memilih duduk dibelakang dengan Aya menyandarkan tubuhnya pada Iman. Dengan senang hati, lelaki imerangkul tubuh istrinya. Sesekali mengecup kepalanya penuh dengan kasih sayang. Tak memikirkan perasaan dua orang di depannya. Serasa dunia milik mereka.
Padahal baik Gala maupun Sela sedikit merasa iri. Andai saja mereka bisa seperti itu. Saling mencintai dan menyanyangi. Pasti sangat menyenangkan. Akan tetapi, Sela sadar. Tak mungkin lelaki itu memiliki rasa kepadanya. Karena Sela dapat merasakan hal itu. Bila Manggala serasa enggan ketika mereka bersama.
Gisela membuang napas dalam. Entah mengapa perasaannya berkata seperti itu. Bila lelaki tersebut memiliki perempuan yang dicintainya. Dan tentu saja ia tak bisa berbuat banyak. Namun, kenapa Gala seolah mengasih harapan kepadanya. Apa yang sebenarnya direncakan oleh pria tersebut. Hingga membuat Sela salah tingkah sendiri.
“Kalian iri, ya?”
Terdengar suara memecahkan keheningan. Sela hanya tersenyum sekilas dan menggelengkan kepala pelan. Perempuan itu sedang tak ingin banyak bicara. Memilih diam saja ta menanggapi ucapan sang kawan.
“Buat apa?” tanya Manggala balik. Lelaki itu melihat sang adik dari spion depan. Tersenyum samar memandang wajah penuh dengan kebahagian itu. “Ini langusng pulang, ‘kan?”
Aya menggeleng, “Kata siapa?”
“Mau ke mana lagi?”
“Café!”
Manggala membuang napas lelah. Bumil satu ini sangat aktif sekali. Padahal tadi sudah keliling mall yang cukup menguras tenanga. Dan sekarang malah mau ke café. Kalau seperti ini, dirinya yang mungkin akan lelah terlebih dahulu.
Akan tetapi, tetap saja Gala melajukan mobilnya menuju café yang dimaksud sang adik. Daripada nanti mengomel tak jelas dan membuat kupingnya panas mendengarkan. Lebih baik dituruti terlebuh dahulu. Lagian, tidak tiap hari seperti ini. Jarang-jarang adiknya mau keluar lama. Biasanya selalu ada di dalam rumah dan enggan untuk menyapa kehidupan luar.
“Kamu nggak papa, Sel?”
Sela menoleh ke belakang, “Kenapa emangnya?”
“Dari tadi diem melulu!”
Entah mengapa melihat Aya yang cemberut membuatnya tersenyum sekilas. Perempuan itu selalu ada cara membuatnya tertawa dan merasa senang. Kehadiran Aya benar-benar membawa warna lain dalam hidupnya. Dan tentu saja waita hamil itu adalah sahabat terbaik yang pernah ia miliki.
“Kamu nggak lagi berantem dengan kak Gala, ‘kan?” tanya Aya yang memicingkan matanya ke arah sang kakak. “Awas saja loh, Kak!”
“Kena lagi,” Gala membuang napas dalam. Lelaki itu melirik ke arah sang adik. Bisa-biasanya ia yang disalahkan. Padahal dirinya nggak tahu apa-apa. “Palingan juga gara-gara kamu yang dari tadi nggak mau diem!”
“Enak saja!” Aya duduk dengan tegak. Tak terima dengan perkataan lelaki tersebut. Bisa-bisanya ia yang disalahkan. “Kakak!”
Sela yang mendengarperdebatan mereka hanya bisa tertawa. Mereka sama sekali tak berubah sedikit pun. Ayang yang dikenalnya ramai dan penuh dnegan energy postif. Meskipun ia tahu, sang kawan melewati beberapa hal yang sangat sulit dalam hidupnya. Namun, perempuan itu salut. Sebab Alayya memilih berjuang dan tak menyerah.
Hingga bisa bangkit dan bahagia seperti ini banyak sekali hal yang dikorbankan di masa lalu. Ada kekelaman di dalam sana. Dan dirinya menjadi saksi bagaiman Aya berjuang untuk bisa tetap waras.
“Sela …”
“Kalian nggak berubah, ya?” Sela menyela ucapan sang kawan. Melihat ke belakang di mana ada Aya dan ekspresi kesalnya. Lalu melirik ke arah samping, ada sosok Manggala dan wajah datarnya. “Padahal waktu berlalu dengan cepat …”
“Dan kamu banyak berubah, ya,” Manggala menoleh sejenak ke arah perempuan yang memakai rok midi abu-abu cerah dengan atasan sweater warna lebih gelap. Belum lagi rambut yang diurai begitu saja dan make up yang sangat sederhana membuat perempuan itu terlihat cantik. “Lebih berani memilih baju.”
Sela tertawa. Bukannya tersinggung, perempuan itu malah tersenyum ke arah lelaki itu. “Karena penampilan yang akan dilihat pertama kali oleh seorang pria.”
Manggala terdiam. Tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia sadar sindiran itu tertuju untuknya. Sela benar-benar berubah. Mulai gaya berpakaiannya yang modis sampai bicaranya pun tak seperti Gisela yang dikenalnya dulu. Ia hanya sedikit terkejut saja.
“Keren!”
Sela menaikan sebelah alisnya. Lelaki itulah yang membuatnya seperti ini. Menjadikannya lebih berani dalam berpakaian dan mengungkapkan pendapat. Permasalahan mereka dulu meninggalkan banyak sekali kenangan dan juga motovasi untuknya.
Mengingat lelaki itu membuat Gisela senyum-senyum sendiri. Perasaan yang sudah terkubur lama, kini mulai menguasai hatinya lagi. Kalau seperti ini, cepat atau lambat dirinya akan jatuh cinta pada lelaki itu lagi. Karean sulit baginya untuk menolak pesona seorang Manggala.
Usahanya serasa sia-sia sudah. Buat apa ia kuliah jauh-jauh untuk menghapuskan rasa itu. Kalau sekarang harus bermekaran lagi. Ah, hatinya benar-benar kacau setelah beberapa kali bertemu dengan lelaki tersebut.
Manggala, sosok yang mungkin selama ini ia berusaha lupakan. Namun, sayangnya kini lelaki itu berada di sekitarnya lagi. Haruskah ia pergi kembali. Agar perasaan ini tak bermekar dengan seenaknya.
Karena ia tahu, mencintai lelaki itu hanya sebatas dalam hati. Tak mungkin mereka bisa bersatu. Banyak sekali perbedaan antara mereka. Dan ia tak mungkin melewati jurang pemisah tersebut.
Gisela membuang napas dalam. Memilih mengeluarkan ponsel pintarnya untuk menghubingi seseorang. Berharap orang itu bisa menemani. Akan tetapi, ia urungkan. Karena Aya nanti akan marah-marah bila tahu dirinya ditinggal sendiri.
Mengingat sosok Gala, lelaki itu berubah sekali sikapnya. Padahal dulu ia paling benci berada di sekitarnya. Walaupu mereka sempat dekat kala itu. Bukan berarti lelaki itu membuka hati untuknya. Karena sebenarnya pria tersebut terpaksa melakukan hal ini.
“Kalau bukan karena Aya nggak mungkin aku menjemputnmu!” gerutu Gala itu. Lelaki tersebut berkata lirih, namun ia bisa mendengarkannya.
Gisela hanya bisa membuang napas dalam. Pura-pura tak mendengarkan ucapan lelaki itu. “Kenapa, Kak?”
“Nggak papa,” Gala menggeleng pelan, “ini mau ke mana?”
“Langsung pulang saja, ya!”
Sebenarnya dirinya juga enggan bersama lelaki itu. Kalau saja Aya yang tak memohon dengan sangat. Lebih baik ia pulang sendiri dari pada harus diantar oleh Manggala.
“Udah, nggak papa,” ujar Aya waktu itu menyakinkan dirinya, “Kak Manggala nggak keberatan, kok!”
Manggala yang mendengarkan ucapan adiknya hanya bisa mengangguk. Meskipun ia tak suka. Namun mau bagaimana lagi. Perintah Aya adalah mutlak baginya. Lagian juga tak masalah untuk mengantar sahabat adiknya pulang. Kasihan juga harus pulang sendirian.
Semenjak itu mereka sering bertemu dan mulai dekat. Karena keseringan itulah membuat Slea merasakan perasaan yang aneh. Sebuah rasa yang belum pernah ia jumpai.
Gala memang cuek, namun sangat perhatian. Kata-katanya memang dingin, akan tetapi jauh dalam lubuk hatinya sangat hangat. Ia bisa merasakan itu. Dan entah mengapa setiap berada di dekat Manggala, jantungnya berdetak lebih kencang.
Dulu, ia akan bertanya apakah ini yang dinamakan cinta. Beginikah rasanya bila orang jatuh cinta. Apa yang harus ia lakukan untuk mengatasi perasaan ini.
Pada akhirnya munculah jawaban itu. Ia hanya perlu diam dan memendam perasaan ini. Karena Manggala sangat sulit untuk digapai.
Gisela membuang semua pikiran masa lalunya. Mulai menyantap kembali makanan yang sudah dingin di hadapannya. Ia sama sekali tak nafsu makan. Namun sayang membiarkan makanan yang sudah di buat ini terbengkalai.
Aya pernah bertanya kepadanya saat pertama kali mereka bertemu kembali. Apakah dirinya mempunyai kekasih. Tentu saja ia tak memilikinya. Sendiri sudah biasa bagi perempuan itu.
Awalnya ia tak tahu maksud dari perempuan itu. Namun, sekarang ia mengerti arti di balik pertanyaan itu. Ah, Aya selalu saja menjodohkan dirinya dengan sang kakak. Padahal Aya tahu kalau Manggala tak mungkin ada rasa untuknya.
Secara tidak langsung, Manggala berperngaruh penting dalam kehidupan Gisela. Meskipun ia tahu lelaki itu tak akan menoleh ke arahnya. Namun, tetap saja. Ia tak bisa menampik perasaan ini. Bahwa dari dulu sampai sekarang, Gala yang mengisi hatinya.
Ia tak tahu ke depannya seperti apa. Yang pasti dirinya tak ingin menghalangi kebahagian lelaki tersebut. Bila memang Manggala mempunyai perempuan lain yang mengisi hatinya. Ia dengan senang hati akan mundur. Tak akan mengharapkannya lagi. Karena tentu saja itu akan menyakiti hatinya bila ia masih mengemis cinta yang bukan untuknya.
“Tapi sekarang penampilanmu semakin keren, Sel!” puji Aya yang pertama kali kaget dengan perubahan sang kawan, “kamu pakai lensa, ya?”
Gisela mengangguk, “Bagus, nggak?”
“Tentu saja!”
Sela tersenyum dan memperbaiki duduknya kembali menghadap ke depan. Belakangan ini ia memang memakai lensa sebagai pengganti kaca mata disaat keluar. Karena ia tak ingin dicap sebagai anak kutu buku dengan kacamata tebalnya.
Masa lalu mengajarkan banyak hal. Kesedihan, kebahagian, semua menjadikan Gisela seperti sekarang ini. Ia pernah terluka dalam kebahagian. Bangkit dari keterepurukan dan menjadi pribadi yang baru bukan hal mudah.
Karena itu, ia tak ingin terluka kembali. Masih ingat pembicaraannya dengan Aya di restaurant tadi. Berharap sang kawan bisa mengerti dan tak menuntut lebih.
Segala hal bila dipaksakan hasilnya tentu saja tak baik. Dan ia tak menginginkan hal itu. Lebih baik mengalir seperti air tanpa ada batu sandungan untuk menghentikannya. Karen ia takut bila akan kecewa kembali. Ia tak akan bisa bangkit seperti sekarang ini.