“Ya …”
Aya memandang sang kawan dengan saksama, “Iya?”
Gisela terdiam sejenak. Perempuan itu bingung harus memulai dari mana. Yang pasti ia tak mungkin melukai perasaan sang kawan dengan menolak perjodohan ini. Namun, Aya sendiri yang berkata kalau dirinya kurang nyaman suruh bilanng. Akan tetapi, ia bingung. Bagaimana cara mengungkapkan semua ini.
Karena ia merasa selama ini yang berbalas pesan dengannya bukan sosok Gala. Entah siapa itu, ia tak tahu. Yang pasti firasatnya mengatakan bahwa bukan lelaki itu. Terlebih lagi saat tadi bertemu kembali. Ia merasa pria tersebut sangat terganggu oleh kehadirannya. Dan tentu saja ia tak tahu harus berbuat apa. Sebab dirinya di sini karena bujuk rayu seorang Alayya.
“Sel?”
“Iya …”
“Kenapa, hem?” Aya merasa ada yang aneh dengan sang kawan. Sedari tadi diam dan sibuk dengan dunianya sendiri. Tersirat jelas kebimbangan dalam hati. “Ada masalah apa?”
Sela membuang napas dalam. Perempuan itu memang sangat sensitive. Selalu tahu apa tentang kekalutan dalam hatinya. Namun, ia tak tahu bisa mengatakannya atau tidak. Karena Aya terlalu berharap dalam hubungan ini. Akan tetapi, ia pun tak bisa memaksa keadaan bila mereka tidak berjodoh. Apalagi cinta tak bisa dipaksa begitu saja.
Meskipun ia mencintai lelaki itu, namun bukan berarti perasaan mereka akan sama. Karena ia sama sekali tak bisa merasakan itu dalam diri Manggala. Kalau seperti ini ia tak bisa berbuat banyak. Sebab tak mungkin ia membuat lelaki itu jatuh cinta kepadanya kalau pada akhirnya pria tersebut memilih perempuan lain.
Semua terasa membingungkan. Karena lelaki itu pun tak ada penolakan apapun. Seolah memberi harapan palsu. Dan dirinya takut untuk terjatuh ke dalam sana. Pasti itu sangat menyakitkan.
Andai saja lelaki itu juga menolak. Ia akan merasa sangat senang. Karena tak perlu menyakinkan sang kawan untuk melanjutkan perjodohan gila ini.
“Sela!”
“Kamu yakin kakakmu akan menerima aku?”
Aya mengernyit bingung, “Maksudnya?”
“Apa kamu yakin kalau kak Manggala tidak tertekan dengan hal ini?”
Alayya terdiam. Tak bisa menjawab pertanyaan sang kawan. Karena sang kakak tidak merasa keberatan dengan hal ini. Dan terlihat sangat menikmati hubungan dengan Sela. Namun, bila perempuan itu menanyakannya. Pasti ada sesuatu yang telah terjadi. Karena firasat temannya sangatlah kuat.
Kalau seperti ini ia tak tahu harus merespon bagaimana. Haruskah dirinya bertanya terlebih dahulu kepada sang kakak. Namun kenapa lelaki itu sama sekali tak menolak atau merasa keberatan. Kan dirinya semakin bingung.
“Ya …”
“Sekarang apa yang kamu rasakan?”
Gisela mengedikkan bahu. Perempuan itu sama sekali tak mengerti dengan perasannya sekarang ini. Ia sangat senang bila berbalas pesan dengan lelaki itu. Namun, saat pertemuan tadi semua terasa hambar. Ada sesuatu hal yang tak bisa dijelaskan begitu saja. Karena memang tak ada buktinya.
Memilih memandang area penjual makanan yang penuh dengan banyak orang. Kini mereka berada di tengah-tengah stan makanan yang beraneka ragm. Hanya mereka berdua. Karena para lelaki lagi memasan makanan untuk mereka.
Karena itu lah ia bisa mengatakan hal ini kepada Aya. Setidaknya membantu dirinya untuk bertanya kepada Manggala tentang perasaan sebenaranya lelaki tersebut. Sebab tak mungkin dirinya terus menerus meraba perasaan ini.
Ini menyangkut masa depannya. Dan tentu saja ia tak ingin salah langkah. Karena yang diinginkannya adalah pernikahan sekali seumur hidup dengan lelaki yang juga mencintainya. Bukan karena keterpaksaan.
“Sel …”
“Aku nggak tahu, Ya,” Gisela menyela. Perempuan itu pun tak mengerti dengan perasaan ini. Ia hanya merasa hambar dan juga abu-abu. Tak ada kejelasan apa-apa. “Hanya ingin tahu aja,”
“Lalu kenapa kamu nggak tanya sendiri?”
Sela menggeleng pelan, “Nggak bisa?”
“Mengapa?”
Karena dirinya takut menerima kenyataan bila lelaki itu tak mencintainya. Namun tak mungkin ia mengatakan hal itu. Yang akan membuktikan bahwa dirinya memang benar-benar mencintai lelaki itu.
“Sel …”
“Karena nggak mungkin aku menanyakannya,” Gisela menyela untuk kesekian kali, “kamu bisa menanyakannya, ‘kan?”
Aya mengangguk mengerti. Perempuan itu merasa kalau perasaan kawannya masih sama dengan yang dulu. Gisela mencintai sang kakak. Meskipun waktu berlalu sangat cepat perasaan itu masih ada dalam diri sang kawan. Dan tentu saja dirinya sangat senang. Karena ada perempuan yang sangat mencintai sang kakak. Meskipun selama ini Sela memendamnya. Ia yakin, perempuan itu bisa membuat sang kakak jatuh cinta kepadanya.
Tentu saja ia tak akan melewati hal ini. Ada seorang perempuan yang benar-benar tulus mencintai kakaknya. Dan itu membuatnya sangat merasa senang. Maka dari itu ia dengan senang hati menjodohkan mereka.
“Ya …”
“Kamu tenang saja,” Aya tersenyum ke arah kawannya. Mengerti akan kegalauan Gisela. Dan tentu saja dengan senang hati akan membantu sang kawan. “Nanti akan aku bicarakan dengan Kakak.”
Sela mengangguk mengerti. Perempuan itu akan menunggu kabar dari Aya. Karena ini akan menentukan apakah ia mau melanjutkan perjodohan ini apa tidak.
“Kalian sedang bicarakan apa?”
Mereka berdua menoleh ke sumber suara. Terdapat dua orang lelaki dengan beberapa makanan di tangannya sedang menghampiri. Terlihat jelas senyum kebahagian dalam diri Aya. Perempuan itu benar-benar beruntung mendapatkan suami yang luar biasa hebat.
Namun saat kedua matanya bertemu dengan Manggala. Ada getaran aneh yang ia tak tahu apa itu. Semacam penolakan tak langsung dalam sorot mata Gala. Dan tentu saja itu membuatnya bertanya-tanya.
“Makan, Sel!”
Gisela mengerjap pelan, “Oh, iya!”
Mereka makan sembari diisi dengan beberapa obrolan ringan. Yang dominan berbicara adalah Aya. Ada saja topic yang dibicarakan. Melihat Aya seperti itu, ia merasa sangat senang sekali. Perempuan itu sudah bisa melawan ketakutan dalam dirinya. Dan sekarang lebih percaya diri.
Berbandung terbalik dengan Aya yang dikenalnya dulu. Memang, ya kesehatan mental itu lebih penting dari segalanya.
Aya telah melewati banyak hal yang menyakitkan. Wajar saja bila sekarang ia sudah berbahagia. Dan tentu saja, sebagai kawan ia juga merasa senang sekali.
Andai saja ia juga merasakan hal ini. Namun rasanya itu sangat tak memungkinkan. Mengingat lelaki yang duduk di sebelahnya sangat dingin tak tersentuh sama sekali. Dan itu membuatnya takut untuk melanjutkan perjodohan ini. Seperti tak ada harapan lagi untuk mereka bersatu.