Gala terpaku. Di bawah sinar rembulan dan bintang-bintang, pikirannya berjalan entah ke mana. Otaknya serasa diputar untuk menemukan jawaban yang sama sekali tak bisa ia ketahui. Selalu terjadi perbedaan pendapat dalam dirinya. Dan tentu saja itu membuatnya galau setengah mati.
Di mana ia baru mengetahui alasan kenapa sang adik menjodohkannya dengan Sela. Dan semua itu masih membekas di otak lelaki itu. Ia tak mungkin mengabaikannya begitu saja. Bagaiamana pun perempuan itu sangat berarti untuk adiknya. Tanpa ia ketahui, selama ini hanya Gisela yang menjadi teman Aya.
Belum lagi perubahan Sela yang menurutnya lumanyan berani. Perempuan itu terlihat sangat berbeda. Dan juga lebih pendiam
“Kamu nggak papa, Sel?” tanya Aya yang kala itu merasa ada yang aneh dengan kawanya. Sedangkan Gala hanya menyimak perkataan sang adik. Mekipun dalam hatinya juga ingin mempertanyakan hal ini.
Sela menoleh ke belakang, “Kenapa emangnya?”
“Dari tadi diem melulu!”
Ternyata bukan dirinya saja yang merasakan. Aya pun mengatakan hal yang sama. Jadi ini semua bukan firasatnya. Melainkan beneran dari tadi Gisela jarang terdengar suaranya.
“Nggak papa, kok …”
“Yakin?”
Sela mengangguk, “Iya.”
Aya yang cemberut karena tak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Ekspresi itu membuat Sela tersenyum sekilas. Perempuan itu selalu ada cara membuatnya tertawa dan merasa senang. Kehadiran Aya benar-benar membawa warna lain dalam hidupnya. Dan tentu saja waita hamil itu adalah sahabat terbaik yang pernah ia miliki.
“Kamu nggak lagi berantem dengan kak Gala, ‘kan?” tanya Aya yang memicingkan matanya ke arah sang kakak. “Awas saja loh, Kak!”
“Kena lagi,” Gala membuang napas dalam. Lelaki itu melirik ke arah sang adik. Bisa-biasanya ia yang disalahkan. Padahal dirinya nggak tahu apa-apa. “Palingan juga gara-gara kamu yang dari tadi nggak mau diem!”
“Enak saja!” Aya duduk dengan tegak. Tak terima dengan perkataan lelaki tersebut. Bisa-bisanya ia yang disalahkan. “Kakak!”
Sela yang mendengarperdebatan mereka hanya bisa tertawa. Mereka sama sekali tak berubah sedikit pun. Ayang yang dikenalnya ramai dan penuh dnegan energy postif. Meskipun ia tahu, sang kawan melewati beberapa hal yang sangat sulit dalam hidupnya. Namun, perempuan itu salut. Sebab Alayya memilih berjuang dan tak menyerah.
Hingga bisa bangkit dan bahagia seperti ini banyak sekali hal yang dikorbankan di masa lalu. Ada kekelaman di dalam sana. Dan dirinya menjadi saksi bagaiman Aya berjuang untuk bisa tetap waras.
“Sela …”
“Kalian nggak berubah, ya?” Sela menyela ucapan sang kawan. Melihat ke belakang di mana ada Aya dan ekspresi kesalnya. Lalu melirik ke arah samping, ada sosok Manggala dan wajah datarnya. “Padahal waktu berlalu dengan cepat …”
“Dan kamu banyak berubah, ya,” Manggala menoleh sejenak ke arah perempuan yang memakai rok midi abu-abu cerah dengan atasan sweater warna lebih gelap. Belum lagi rambut yang diurai begitu saja dan make up yang sangat sederhana membuat perempuan itu terlihat cantik. “Lebih berani memilih baju.”
Sela tertawa. Bukannya tersinggung, perempuan itu malah tersenyum ke arah lelaki itu. “Karena penampilan yang akan dilihat pertama kali oleh seorang pria.”
Manggala terdiam. Tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia sadar sindiran itu tertuju untuknya. Sela benar-benar berubah. Mulai gaya berpakaiannya yang modis sampai bicaranya pun tak seperti Gisela yang dikenalnya dulu. Ia hanya sedikit terkejut saja.
“Keren!”
Sela menaikan sebelah alisnya. Lelaki itulah yang membuatnya seperti ini. Menjadikannya lebih berani dalam berpakaian dan mengungkapkan pendapat. Permasalahan mereka dulu meninggalkan banyak sekali kenangan dan juga motovasi untuknya.
Secara tidak langsung, Manggala berperngaruh penting dalam kehidupan Gisela. Meskipun ia tahu lelaki itu tak akan menoleh ke arahnya. Namun, tetap saja. Ia tak bisa menampik perasaan ini. Bahwa dari dulu sampai sekarang, Gala yang mengisi hatinya.
Ia tak tahu ke depannya seperti apa. Yang pasti dirinya tak ingin menghalangi kebahagian lelaki tersebut. Bila memang Manggala mempunyai perempuan lain yang mengisi hatinya. Ia dengan senang hati akan mundur. Tak akan mengharapkannya lagi. Karena tentu saja itu akan menyakiti hatinya bila ia masih mengemis cinta yang bukan untuknya.
“Tapi sekarang penampilanmu semakin keren, Sel!” puji Aya yang pertama kali kaget dengan perubahan sang kawan, “kamu pakai lensa, ya?”
Gisela mengangguk, “Bagus, nggak?”
“Tentu saja!”
Sela tersenyum dan memperbaiki duduknya kembali menghadap ke depan. Belakangan ini ia memang memakai lensa sebagai pengganti kaca mata disaat keluar. Karena ia tak ingin dicap sebagai anak kutu buku dengan kacamata tebalnya.
Masa lalu mengajarkan banyak hal. Kesedihan, kebahagian, semua menjadikan Gisela seperti sekarang ini. Ia pernah terluka dalam kebahagian. Bangkit dari keterepurukan dan menjadi pribadi yang baru bukan hal mudah.
Karena itu, ia tak ingin terluka kembali. Masih ingat pembicaraannya dengan Aya di restaurant tadi. Berharap sang kawan bisa mengerti dan tak menuntut lebih.
Gala membuang napas dalam. Segala hal bila dipaksakan hasilnya tentu saja tak baik. Dan ia tak menginginkan hal itu. Lebih baik mengalir seperti air tanpa ada batu sandungan untuk menghentikannya. Karen ia takut bila akan kecewa kembali. Ia tak akan bisa bangkit seperti sekarang ini.
Namun, di sisi lain ia tak bisa membohongi diri sendiri. Kalau memang rasa itu tak ada. Cintanya bukan untuk Sela. Dan tak mudah untuknya mengalihkan begitu saja. semua ini tak semudah mengembalikan telapak tangan. Akan tetapi, penjelasan sang adik pun tidak bisa dipandang sebelah mata.
Kalau seperti ini, ia merasa sangat bersalah kepada mereka. Secara nggak langsung, dirinya sudah mempermainkan perasaan kedua orang tersebut. Hal itu yang membuatnya pusing memikirkan ini semua.
Apalagi mengingat pesan yang diberikan oleh Iman sebelum dirinya pulang. Semakin membuat rasa bersalah itu membuncah seketika. Karena telah melakukan hal kurang baik untuk kedua orang tersebut.
“Kamu sudah tahu, ‘kan?” ujar Iman menghentikan langkah lelaki itu, “maka dari itu putuskan dengan kepala dingin dan jangan menuruti kekerasan egomu,”
“Tapi …”
“Jangan pernah membohongi diri sendiri,” peringat Iman dengan senyuman hangat. Lelaki sangat tahu kekalutan sang kawan. Apalagi setelah pengakuan sang istri. Bisa dipastikan Gala akan memikirkan ini semua. “Aya hanya membutuhkan jawaban yang jujur. Bukan kebohongan yang hanya membuat hatinya gembira sesat. Karena di balik itu tersembunyi kenyataan yang menyakitkan.”
Gala mengerti maksud lelaki itu. Lelaki itu pun juga tak suka berbohong. Karena sekali ia tak jujur. Maka bisa dipastikan dirinya akan mencari alasan-alasan yang tak masuk akal lainnya. Untuk menutupi kebenaran yang ada. Dan tentu saja itu semua akan menjadikan sebuah masalah dikemudian hari.
“Kamu mengerti, ‘kan?”
Manggala mengangguk pelan. Lelaki itu membuang napas dalam sebelum berlalu dari kediaman sang adik. Malam ini terasa panjang dan melelahkan.
“Yang Aya butuhkan kejujuranmu,” Iman menutup pintu mobil sang kawan, “pikirkan baik-baik sebelum bertindak.”
Dengan pikiran yang berkecambuk, Gala memacu mobilnya menuju apartemen. Di sana ia bisa memikirkan semua dengan tenang. Karena akan banyak pertimbangan yang akan ia buat. Dan tentu saja itu semua akan menguras semua tenaganya. Terlebih lagi, ia masih ingin sendiri. Setidaknya berada di apartemen membuatnya nyaman dan tenang. Terlebih lagi, tidak ada yang tahu tempat tinggalnya yang satu ini. Karena terletak di pinggir kota dan jalanan pun tak besar. Sangat pas untuk digunakan menjernihkan pikiran.
Gala membuang napas dalam. Memilih melihat jalanan di luar sana yang terlihat lenggang. Entah mengapa ia teringat dengan pertanyaan yang dilontarkan sang adik. Saat itu, ia hendak pulang. Namun Aya menahannya sebentar.
“Bentar, Kak!” Aya menari tangan sang kakak untuk duduk kembali di sofa, “ada yang mau aku tanyakan,”
Gala mengernyit heran. Tak biasanya Aya bilang terlebih dahulu. Biasanya langsung menanyakan begitu saja. “Ada apa?”
“Tapi Kakak harus jawab jujur, ya!”
“Hah?”
“Kakak janji dulu!”
Manggala mengangguk pelan. Bingung sekali dengan tingkah laku sang adik. Tak seperti biasanya. Dan semoga saja pertanyaan ini tak sulit untuk dijawab. Karena belakangan ini, ia banyak sekali bebohong. Demi menutupi semuanya, ia rela mencari beberapa alasan agar sang adik percaya.
Namun, kalau sudah sejak awal perempuan itu memintanya jujur. Pasti akan sulit untuk berbohong. Karena itu tak memungkin untuknya mengelak. Apalagi Aya dalam mode serius. Yang mungkin akan sulit untuk membuat alibi yang masuk akal.
“Apa Kakak mencintai Sela?”
Gala tak menyangka pertanyaan itu yang keluar. Lelaki itu hanya bisa menghela napas dalam. Mungkin ini waktu yang tepat untuk mengatakannya. Mengungkapkan semua perasaan yang sebenarnya. Dan ia berharap Aya akan mengerti dan paham. Kalau perasaan tak bisa dipaksakan.
“Tapi sebelum itu, apa Kakak masih ingin tahu siapa orang yang selalu ada untukku? Membantuku mengatasi masalah mental?”
Lelaki itu mengernyit. Padahal sebelumnya Aya sama sekali tak mau membicarakan hal ini. Ketika ia bertanya, siapa sosok yang membuatnya bangkit. Namun sang adik memilih diam. Tak ingin membahasnya. Dan selalu bilang, nanti pasti tahu sendiri.
Akan tetapi kenapa sekarang malah menyinggung masalah ini. Dan tentu saja itu membuat otak Gala berpikir keras. Mencoba meraba semuanya. Namun, ia tak dapat apa-apa. Malah jalan buntu dan pikirannya semakin ruwet.
“Apa hubungannya …”
“Karena yang menolong aku adalah Sela,” sela Aya yang menyandarkan kepalanya pada sofa. Menatap langit-langit ruang tamu. “Sela yang selalu menguatkanku. Bahkan yang memberiku kekuatan sampai detik ini,”
“Kok bisa?”
“Karena Sela mengerti apa yang aku rasakan,” jawab Aya yang melirik sang kakak, “Sela selalu bisa membuatnya baik-baik saja.”
Gala membuang napas dalam. Kalau seperti ini ia bingung harus bagaimana lagi. Merasa bersalah dengan perempuan itu. Namun, mau bagaiman lagi. Cinta ini tak bisa dipaksakan.
“Itu bukan alasanku kenapa memilih menjodohkan Kakak dengan dia,”
“Maksudnya?”
“Aku tahu, dari dulu Sela selalu sendirian,” jawab Aya sembari membayangkan kawan baiknya. “Namun ia selalu berusaha untuk menghiburku. Padahal selama ini dia yang lebih menderita dari pada aku.”
Gala hanya mendengarkan saja. Lelaki itu tak tahu harus menanggapi bagaimana. Terlebih lagi, membiarkan Aya berbicara sepenuhnya adalah pilihan yang sangat tepat. Karena jarang sekali sang adik menceritakan isi hatinya. Namun sekarang Aya sudah mulai terbuka.
Mungkin memang Sela sangat berarti dalam diri sang adik. Namun, bukan berarti ia harus menikahinya. Ini masalah yang berbeda. Karena ini masalah hati dan perasaan.
Kalaupun perempuan itu mencintainya. Bukan menjadi urusan Gala. Karena lelaki itu tak memiliki perasaan apapun. Dan tentu saja ia tak memiliki alasan untuk bersama perempun itu.
Sampai ia pulang pun, Gala masih belum bisa menjawab pertanyaan sang adik. Aya memberinya waktu untuk beberapa hari ini memikirkannya. Terlebih lagi, Aya tahunya mereka saling berhubungan satu sama lain. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Kalau sudah seperti ini, ia harus bagaimana.
Gala membuang napas dalam. Mencoba menenangkan kembali perasaanya yang kacau. Dalam hatinya, ia masih memikirkan hal ini. Apakah dirinya mencintai Sela atau tidak. Padahal ia sudah mendapatan jawabannya. Namun, sulit sekali mengatakannya kepada sang adik. Apalagi melihat binar kebahagian di dalam kedua bola mata Aya. Haruskah ia meredupkan kebahagian itu.
Dan kini, ia sama sekali tak tahu apa yang harus dilakukan. Semua terasa membingungkan. Dan juga membuatnya sedikit frustrasi.
Manggala membuang napas dalam. Lelaki itu yakin pasti ada jalan keluar. Entah apa itu, ia akan berusaha untuk tak menyakiti siapapun. Dan mungkin dirinya harus memupuskan cinta ini. Lalu mencoba menerima kehadiran Sela.