Gala yang tak bisa tidur memilih jalan-jalan ke taman yang tak jauh dari apartemennya. Tak lupa ia membeli kopi hangat sebagai teman. Malam memang semakin larut. Namun, ia sama sekali tak bisa memejamkan mata. Hingga memutuskan untuk pergi ke taman. Setidaknya, ia tak merasa sendirian di sini karena masih banyak orang yang berlalu lalang.
Lelaki itu membuang napas dalam. Entah mengapa semua terasa membingungkan. Ia tak bisa memilih langkah apa yang akan dipilih. Semua terasa buntu. Tak jalan keluar untuk permasalahan saat ini.
Mengatakan hal yang sebenarnya ke sang adik pun bukan pilihan yang tepat. Karena Aya mengharapkan hubungan ini segera terjalin dan menuju pelaminan. Namun. Di sisi lain, ia tak bisa melakukan hal itu. Sebab perasaanya sudah terpaud dengan perempuan lain. Dan tak mungkin ia berpaling begitu saja.
Pria tersebut benar-benar berada di sudut buntu dalam hidupnya. Semua terasa gelap dan tak seberkas cahaya yang masuk. Meskipun sudah mendapatkan saran dari Iman, ia tak mungkin melakukan hal itu setelah mengetahui kebenaran yang ada. Akan tetapi, bertahan seperti ini sama saja dengan dirinya memupuk kebohongan demi menutupi semua alasan yang pernah disampaikan.
Ah, semua terasa sulit dan juga membingungkan. Akankah Aya mengerti dengan keadaannya saat ini. Atau perempuan itu merasa bersalah karena telah menempatkannya pada kondisi yang tak bisa memilih. Dan tentu saja hal itu akan membuat adiknya kepikiran. Kalau seperti itu, ia jadi bimbang untuk mengatakan yang sebenarnya.
Semua masalah menjadi semakin rumit. Andai saja ada sang kawan yang akan membantunya keluar dari problem ini. Dengan senang hati ia akan menceritakan semuanya. Akan tetapi, tak mungkin dirinya bilang ini semua kepada Jaiman. Yang ada lelaki itu akan membocorkan kepada adiknya. Itu sama saja dengan tak langsung memberi tahu sang adik.
Kedua bola matanya mengamati sekitar. Masih banyak sekali orang yang berada di taman. Padahal sudah hampir jam dua belas malam. Enah itu hanya berdua, atau berkelompok, dan mungkin sedirian sama seperti dirinya.
Hingga netranya menatap seseorang yang tak asing. Seorang perempuan yang memakai jumpsuit warna abu-abu yang dipadu jaket hitam. Serta rambut yang dikucir menjadi satu. Tak lupa kacamata menghiasi wajahnya. Terlihat seperti anak sekolahan. Apalagi dengan snakers dan juga tas ransel yang dibawa. Mungkin banyak orang mengira perempuan itu pulang dari belajar kelompok.
Padahal usainya sudah kepala dua. Namun wajahnya masih terlihat seperti anak-anak. Tanpa sadar langkah lelaki itu menghampiri. Jalan disamping permepuan yang asik melihat ponselnya.
“Ehem!”
Langkah perempuan itu terhenti. Dengan hati-hati ia menoleh. Terkejut melihat seseorang yang sudah berada di sebelahnya. “Kak Gala?”
“Mau ke mana?”
“Itu …” Sela bingung mau menjawab apa. Malam ini terasa mimpi baginya. Karena lelaki itu tiba-tiba ada di samping dan tersenyum hangat ke arahnya. Untuk sesaat bolehkah ia berharap lebih. Kalau seperti ini, lama-lama ia tak bisa menyembunyikan perasaannya.
“Iya?”
Entah mengapa Gala merasa gemas melihat tingkah laku Sela. Dalam pandangannya, Gisela sama seperti Aya. Yang sudah dianggapnya sebagai adik tak lebih. Jadi, pasti akan sulit melihat Sela sebagai perempuan pada umumnya. Bukan sosok adik yang selama ini ia tanamkan dalam diri. Jadi tak memungkin untuknya menikah dengan perempuan itu.
“Kakak sendiri ngapai di sini?”’
Manggala menggeleng pelan. Tak menyangka saja kalimat itu berbalik ke arahnya. “Menurutmu?”
Sela mengedikkan bahu, “Nggak tahu.”
Pada akhirnya mereka jalan berdua yang memilih duduk tak jauh dari tempat mereka. Gala menawari untuk membeli minuman. Sekalian ia membeli kopi lagi. Dan tentu saja perempuan itu tak menolak.
Kini mereka memilih diam. Bingung harus membicarakan apa. Karena jujur saja, Sela merasa tubuhnya sekarang seperti robot. Tak tahu harus berbuat apa. Apalagi lelaki itu juga diam dan menikmati kopi yang dibawanya.
Kalau seperti ini, Sela merasa ingin sendiri saja. karena percuma saja. Tak ada pembicraan apapun. Dan tentu saja itu membuatnya merasa tak nyaman.
Sedangkan Gala memilih diam saja. karena tak mungkin ia langsung bertanya. Ia harus memiliki kalimat pembuka yang baik. Maka dari itu lelaki tersebut berpikir sejanak. Sampai pada akhirnya tahu apa yang akan mereka bahas.
“Makasih, ya …”
“Buat apa?” Sela mengernyit heran, “perasaan aku tidak berbuat apa-apa.”’
Gala menggeleng, “Makasih sudah membantu Aya selama ini.”
Sela mengangguk mengerti. Tentu saja ia tak keberatan akan hal itu. Ia merasa senang bisa membantu Aya. Meskipun dalam hidupnya ia juga membutuhkan dorongan. Namun, ketika melihat Aya, ia merasa bersyukur. Karena masih ada banyak orang di luar sana mempunnyai masalah yang lebih pelik dari pada dirinya.
Karena Aya pula ia juga bisa menjalani hidup ini kembali. Di mana ia harus kehilangan ke dua orang tua dan juga harta warisan yang seharusnya jatuh ke tangannya. Namun ternyata diambil alih oleh sang paman.
Tentu saja ia bingung bagaimana harus menjalani hidup yang keras ini. Akan tetapi, ia masih kuat dan bersemangat karena ada Aya disampingnya. Perempuan itu sama sekali tak meninggalkannya di saat yang lain memilih menjauh. Sang kawan malah menyodorkan bantuan.
Karena rasa sakit itulah yang menyatukan mareka. Menjadikan sahabat sampai detik ini. Walaupun mereka sempat terpisahkan jarak. Namun komunikasi tetap jalan. Hanya Aya yang berada di sisinya dari dulu sampai sekarang.
“Kenapa kamu memilih membantu Aya?”
Sela mengedikkan bahu, “Entahlah …”
“Padahal saat itu juga kamu lagi kesusahan?”
Sela melirik sekilas. Mungkin Aya sudah mengatakannya kepada lelaki tersebut. Karena itu bisa bertanya seperi tersebut. “Mungkin karena luka yang membuat kita dekat,”
“Maksudnya?”
“Rasa sakit yang sama ditinggalkan orang tua,” jawab Sela yang menatap langit di atas sana, “mungkin karena kita merasakan sakit yang sama. Makannya bisa berteman sampai detik ini.”
Manggala mengangguk mengerti. Lelaki itu memilih mengamati Sela yang asik melita langit diatas sana. Terlihat cantik dan menawan. Namun, kenapa ia tak bisa jatuh cinta pada perempuan itu. Dan mengapa rasanya sulit sekali menumbuhkan perasaan ini. Padahal Gisela terlihat cantik dan juga besinar. Akan tetapi, tetap saja rasa itu tak hadir di tengah-tengah mereka.
Gala membuang napas dalam. Mungkin ini saat yang tepat untuk menanyakannnya. Dan semoga saja perempun itu tak merasa tersinggung dan kecewa dengan pertanyaannya yang terkesan sangat privasi.
“Sel …”
“Iya?”
“Apa benar kamu jatuh cinta kepadaku?”