Sela membaringkan tubuhnya di atas kasur. Perempuan itu merasa sangat lelah. Keputusannya untuk pergi jalan-jalan malam sangatlah tidak tepat. Karena dari banyak orang yang datang, kenapa dirinya harus bertemu dengan Manggala. Lelaki yang belakangan ini ia hindari.
Ini semua ia lakukan demi menjaga kewarasan hati dan jiwanya. Baik dulu dan sekarang, Gala tetap sama. Lelaki itu dengan mudah masuk ke dalam perasaannya dan menetap begitu saja. Tanpa ada perlawanan dan juga hambatan. Seolah selalu menjadi jalan pulang untuknya.
Namun, ia sadar diri. Perasaan ini hanya berlaku sepihak. Sebab dirinya tak bisa masuk ke dalam hati lelaki tersebut. Ia merasa ini tak adil. Karena hanya Gala yang bisa memporak-porandakan dirinya dalam sekejap.
Meskipun ia sudah memasang tembok yang kokoh. Pada akhirnya akan ada cela bagi lelaki untuk masuk. Dan dengan mudahnya merobohkan dinding yang telah ia buat. Ini sangat tak masuk akal. Akan tetapi, ini adalah kejadian yang sebenarnya.
Sela membuang napas dalam. Ingatannya berkelana beberapa jam yang lalu. Di mana bertemu dengan lelaki itu. Hingga satu pertanyaan yang tak mampu ia jawab.
“Kenapa Kakak bertanya itu?” Gisela bertanya balik. Karena ia tak tahu harus menjawab apa. Hatinya masih belum siap untuk mengatakannya. Terlebih lagi, ia tak ingin terlihat sangat berharap kepada lelaki tersebut. “Kakak …”
“Berarti benar kamu masih mencintaiku?”
Gisela terdiam. Perempuan itu tak bisa mengelak. Lelaki itu selalu bisa mengerti tentangnya. Sedangkan dirinya hanya bisa meraba.
Sama halnya dengan pembicaraan dengan Aya yang berakhir entah ke mana. Dan saat itu melebar ke mana-mana.
Tiba-tiba Aya tertawa puas, “Makannya nikah biar bisa merasakannya!”
Gisela sudah bisa menebak akan hal itu. Kawannya selalu menyuruh agar segera menikah. Namun, untuk calon sendiri saja dirinya tidak punya. Terus mau menikah dengan siapa. Lagian, hati dan perasaannya sudah berlabuh pada seseorang yang sialnya tak bisa digapai.
Bagaimana ia bisa melangkah ke depannya bila hatinya sudah mati rasa. Dulu, ia bersalah karena melabuhkan semua perasaannya pada lelaki yang salah. Kini, tak ada lagi untuknya. Meskipun ia sudah pergi jauh, namun tetap saja rasa itu masih terpaut kepadanya. Dan ia sama sekali tak tahu bagaiman acara menghapusnya. Yang ada malah kenangan itu datang dengan sendirinya. Memporak-porandakan keluarga.
“Sama kak Gala gimana?”
Sela membelalakkan kedua bola matanya, “Gila!”
“Kenapa?”
Perempuan itu terdiam. Tak bisa menjawabnya. Karena itu adalah hal yang sangat sensitive untuk dibahas. Lagian bisa-bisanya sang kawan mengusulkan hal tersebut. Sebuah pemikiran yang tak akan pernah terjadi.
Karena ia sadar diri. Lelaki seperti Manggala tidak akan melihat ke arahnya. Siapa pula dirinya yang berani bermimpi bersanding dengan lelaki tersebut.
“Sela …”
“Sudah, ah!” Sela menggeleng pelan, “bahas yang lain saja.”
Kala itu Aya menangkap ada yang aneh dengan kawannya. Namun tak berani tanya. Karena Sela sangat tak suka didesak. Maka dari itu mereka membicarakan hal yang lain. Dan tentu saja ia akan mencari tahu sendiri. Karena ini menyangkut dua orang yang sangat disayangi.
Akan tetapi melihat gesture perempuan itu, ada yang disembunyikan. Besar kemungkinan ini ada kalitan dengan sang kakak. Berhubung Aya tak suka menebak. Perempuan itu menghubungi kakaknya untuk datang ke rumah. Ada pembicaraan yang perlu di bahas.
Dan mendapatkan reaksi yang sama dengan Sela, Aya yakin telah terjadi sesuatu dengan mereka. Saatnya ia mencari tahu. Bila sang kawan tak mau bicara. Jalan satunya lewat sang kakak yang memang sering keceplosan kalau dipancing.
Saat itu mungkin ia bisa menghindar dengan mudah. Namun untuk kali ini, ia ingin mengatakan yang sebenarnya. Agar semua menjadi terang dan dirinya nggak perlu berharap kembali.
“Sel …”
“Apa itu sebuah kesalahan, Kak?” tanya Sela yang tak berani menatap lelaki tersebut. Berusaha untuk tak melakukan kontak mata dengan Gala. Karena netra lelaki itu yang membuatnya jatuh cinta.
Ia tak sanggup bila harus berhadapan langsung dengannya. Karena Gala adalah cinta pertamanya yang sulit tergantikan.
Gala terpaku. Giliran lelaki itu yang tak bisa menjawab. Padahal ia berharap perempuan itu yang menjelaskan. Bukan malah bertanya balik seperti ini. Dan tentu saja ia tak bisa berkata apa-apa. Ini menyangkut hati dan pembicaraan yang sangat sensitive.
Lelaki itu memilih memandang ke arah langit malam. Tak ingin melihat dua bola perempuan itu. Mungkin, dulu ia sangat menyukai netra hitam milik Sela. Namun semua bisa berubah. Apalagi mereka juga sudah jarang bertemu. Dan tentu saja perasaan itu lama-lama memudar dengan sendirinya.
Namun, ia tak mengetahui kalau Sela masih menyimpan rasa itu. Dan tentu saja ia tak ingin perempuan itu terluka karena cinta sepihak. Itu sangat menyakitkan, bukan. Lebih baik membuang perasaan ini dari pada menunggu sesuatu yang tak pasti.
“Kalau memang rasa itu masih ada, kenapa?” tanya Sela setelah keheningan beberapa waktu. Perempuan itu membuang napas dalam sebelum melanjutkan kata-katanya, “toh, aku tidak menuntut Kakak untuk membalasnya. Sama seperti dulu.”
Gala membuang napas dalam, “Bukan begitu …”
“Lalu?”
Sela sekarang berbeda dengan yang dulu. Kalau dulu ia hanya bisa mengangguk dan mengikuti saran orang lain. Namun, sekarang ia bisa mengemukakan pendapatnya dan jalan sesuai dengan keinginan.
Tak ada yang boleh mengatur dan menyuruh melakukan ini dan itu. Karena ini kehidupan yang harus ia jalani. Bukan orang lain yang dengan seenaknya mengatur semuanya. Menjadikan ia seperti boneka yang bisa disuruh apapun itu.
Karena masalah dan rasa sakit memberi kekuatan dalam diri perempuan itu. Tak mudah menyerah dan menangis. Ia tumbuh dengan kuat dan penuh percaya diri. Meskipun dalam hatinya ia merasa rapuh. Namun, itu semua ia tutupi dengan topeng baik-baik saja.
“Apa Kakak akan menyuruhku untuk melupakan perasaan ini lagi?”
Manggala menggeleng pelan, “Bukan seperti itu,”’
“Lalu?”
“Ini semua tak ada ujungnya, Sel,” Gala menghela napas pelan. Melirik perempuan itu sekilas sebelum membuang pandangan ke segala arah. Kini, mereka merasa canggung satu sama lainnya. Karena pertanyaan yang telah diajukannya. Membuat mereka merasa terbebani satu sama lain. “Kalau sudah tahu seperti itu kenapa harus mempertahankannya?”
Sela mengerti akan hal itu. Namun, ia sendiri tak bisa menghapus rasa ini begitu saja. Sampai ia pergi menjauh pun tak bisa. Rasa ini tetap ada dan tak mau pergi. Lalu, apa yang harus dilakukannya lagi. Ia pun tak ingin seperti ini terus menerus. Akan tetapi, keadaan yang memaksanya seperti ini. Dan tentu saja ia sangat tersiksa.
Kalaupun ia bisa, ingin sekali melepas semua beban dalam hatinya. Tapi, ini semua tak mudah. Karena lelaki itu masuk lagi dalam dirinya. Membuatnya merasakan hal itu kembali.
“Sama seperti menggenggam air,” Gala memberikan sedikit contoh, “itu tak memungkinkan.”
“Aku tahu …” Gisela memilih menatap bawah. Entah ada apa di sana. Namun setidaknya ia tak melihat ke arah lelaki itu. Karena air matanya yang ditahan sedari tadi hendak keluar. Akan tetapi, sebisa mungkin ia tahan. Tak ingin lelaki itu tahu kalau dirinya sangat lemah dan rapuh. “Tapi, aku nggak tahu harus berbuat apa.”
Gisela tersadar, selamanya mereka tidak akan bisa bersama. Karena lelaki itu sudah menolaknya sejak awal. Seharusnya ia sadar diri dan memilih tak menerima sejak awal. Kalau pada akhirnya hanya luka yang didapatkan.
Gala memandang ke arah Sela. Ini memang sulit untuk mereka. Apalagi keinginan Aya yang membuat semuanya semakin rumit. Kali ini, Manggala akan mengatakannya dengan terus terang kepada perempaun itu. Sehingga biar Sela yang menolak perjodohan ini. Dengan begitu ia tak perlu memberi tahu Aya tentang perasannya.
“Apa kamu masih mengharapkan perjodohan ini?”
Sela mengangkat kepalanya, “Maksudnya?”
“Kamu tahu aku tak mungkin mencintaimu,” ujar Gala langsung pada intinya. Dan tak mungkin ia terus menerus membohongi sang adik. Rasanya ini tak adil untuk mereka. “aku harap kamu mengerti.”
Gisela mengangguk. Meskipun dalam hatinya terasa hancur lebur karena mendengarkan perkataan lelaki itu. Ia harus bisa bertahan dengan senyuman. Agar lelaki itu tak mengetahui rasa sakit yang kini menyerang dirinya.
“Kakak tenang saja …”
“Maaf, Sel,” Gala menyela ucapan perempuan itu, “maaf aku nggak bisa untuk jatuh cinta kepadamu.”
Gisela hanya bisa tertawa kecil, “Sejak kapan cinta bisa dipaksakan, Kak?”
“Sel …”
“Sela mengerti,” perempuan itu bangkit, “Kakak tenang saja aku akan bicara dengan Aya.”
Manggala membuang napas dalam, “Makasih, ya …”
“Tentu saja, Kak,” Gisela tersenyum seolah tidak ada apa-apa. “Aku pulang duluan, ya!”
Manggala mengangguk. Lelaki melihat punggung perempuan itu semakin menjauh. Semoga saja Sela mampu mengubah keinginan sang adik. Hingga ia bisa mengenalkan sosok tersebut kepada Aya.
Gisela membuang napas dalam. Menghapus air matanya. Nyatanya dalam perjalan pulang, air matanya tak berhenti untuk turun. Membuat dadanya serasa sesak dan tak berdaya. Kenangan itu masih membekas dalam hatinya.
Sesakit ini bila dirinya menjatuhkan cinta pada orang yang salah. Manggala tak pernah mencintainya. Dan seharusnya ia sadar sejak awal. Tak mungkin memaksa semua ini seperti keinginannya. Karena sejatinya cinta mempunyai jalan sendiri. Dan tak bisa diatur sesuai dengan keinginan diri ini.
Sela membuang napas dalam. Berharap besok ia menemukan jalan keluarnya. Dan tentu saja ia akan membicarakan hal ini dengan Aya. Bagaimana pun perempuan itu harus tahu. Bahwa perjodohan ini tak dapat dilanjutkan.