Sela bangun dengan kepala terasa pening. Tanpa terasa semalam ia menangis sendirian. Perempuan itu mencoba menggerakan badannya untuk miring sejenak. Merangkul sebuah guling dengan erat. Berusaha menutup matanya kembali.
Entah mengapa ia enggan untuk memulai hari ini. Padahal matahari sudah terbit dari tadi. Jam pada ponselnya sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Sudah menjelang siang dan dirinya masih setia berada di atas kasur.
Padahal dirinya mempuyai janji dengan Aya jam dua belas siang. Namun rasanya enggan untuk bangun. Ingin rasanya tenggelam kembali pada lautan mimpi yang begitu indah. Agar ia bisa menghapus duka ini.
Gisela membuang napas dalam. Pada akhirnya ia memutuskan untuk bangkit. Duduk bersandar terlebih dahulu sebelum turun dari ranjang. Kepalanya terasa seperti mau meledak.
Namun, tiba-tiba saja ia teringat akan pembicaraan di masa lalu. Waktu di mana semua ini bermula. Saat rasa ini mucul tanpa diduga sebelumnya. Akan tetapi berakhir dengan luka yang cukup mendalam.
“Kamu harus menghentikan ini,”
Sela terkejut. Tiba-tiba saja lelaki yang mengantarnya pulang mengatakan hal tersebut. Di mana mereka baru saja dekat karena Aya yang mengenalkan sosok kakak kepadanya. “Maksud, Kakak?”
Gala membuang napas dalam. Menghadapi gadis remaja memang sulit. Mana lagi Aya selalu memaksa untuk mengantarkan kawannya dengan alasan kasihan pulang sendiri. Dan tentu saja itu membuat mereka semakin dekat.
Semakin bersama, Gala menangkap gelagat aneh. Kalau tebakannya benar, Sela pasti mempunyai rasa kepadanya. Dan tentu saja ini tak bisa dibiarkan terjadi.
“Kamu tahu itu apa, Sela,” ujar Gala penuh penekanan, “kita tidak mungkin bersama.”
Gisela terkejut mendengar perkataan tersebut. Lalu selama ini mereka apa. Lelaki itu seolah memberi perhatian yang lebih. Bersama Gala ia merasakan kasih sayang yang sudah lama tak pernah dirasakan. Seolah ada orang yang melindunginya.
Mereka juga sering menghabiskan waktu bersama. Berbagi cerita dan pengalaman. Menuliskan kisah yang sangat indah. Membuat hidupnya sangat berarti. Dan tentu saja membuat hari-harinya bahagia.
Akan tetapi mendegar ucapan lelaki itu, ia merasa dihempaskan ke dalam jurang yang cukup dalam. Membuatnya merasa hancur dan juga kecewa. Padahal ia sungguh merasa senang ketika lelaki itu menemani dan juga selalu ada untuknya. Karena ia merasa lelaki itu sangat perhatian. Nyatanya, semua itu dilakukan demi adiknya.
“Asal kamu tahu saja, Aya yang meminta aku untuk menemanimu,” ujar Gala kala itu tak peduli dengan perasaan perempuan tersebut. Lelaki itu sungguh tak ingin melakukan hal ini lagi. Terlalu ribet bila harus menemani di toko buku atau ke perpustakaan. Seolah tak ada lagi tempat yang menyenangkan selain itu. “Aku harap kamu mengerti batasan.”
Gisela membuang napas dalam, “Kalau memang Kakak terpaksa, kenapa baru bilang sekarang?”
Manggala tak dapat menjawabnya. Lelaki itu memilih diam. Tak tahu harus berkata apa. Mereka dekat hampir tiga tahun. Dan baru sekarang ia mengatakan hal ini. Padahal telah banyak hal yang telah mereka lalui.
Mungkin, ini semua karena perkataan Aya yang mengatakan kalau Sela jatuh cinta kepadanya. Membuat lelaki itu langsung menjaga jarak dan mengatakan hal ini. Karena tak ingin perempuan itu jatuh ke dalam lubang yang sangat dalam.
Akan tetapi, tanpa Gala ketahui perasaan itu sudah mengakar dalam diri Sela. Perempuan itu jatuh cinta sangat dalam. Sampai ia begitu berharap bila lelaki itu kelak yang akan menemani masa tua.
Namun, kenyataan menamparnya. Bila lelaki itu tak memiliki perasaan yang sama. Kenapa baru sekarang, tidak dulu-dulu sebelum ia benar-benar mencintai Manggala. Dan sekarang, ia harus bagaimana mengusir perasaan ini.
Terlalu menyakitkan, karena dirinya terlanjur mencintai seseorang yang tak bisa digapai. Kalau seperti ini, ia harus marah kepada siapa. Yang pasti, dirinya merasa sangat kecewa pada diri ini. Yang jatuh begitu dalam pada bayangan.
“Maaf …”
“Kakak nggak perlu maaf,” Sela menyela dengan senyuman seperti biasa, “seharusnya aku yang minta maaf. Maaf karena sudah jatuh cinta pada Kakak.”
Manggala terpaku. Tak menyangka saja perempuan itu akan berkata seperti itu. Dalam bayangannya, Sela akan menangis dan mengemis cintanya. Namun, gadis tersebut terlihat tegar dan biasa saja. Bahkan meminta maaf kepadanya. Jujur saja ia sangat salut dengan temannya Aya.
“Kakak nggak perlu khawatir,” Sela melanjutkan ucapannya, “abaikan saja perasaan ini. Lagian aku hanya sebatas kagum saja.”
Setelah mengatakan itu Sela keluar dari mobil. Memilih pergi sendirian. Dan sejak itu hubungan mereka renggang. Padahal dulu, mereka sering menghabiskan waktu bersama. Entah itu mulai jalan-jalan santai, makan di pinggir jalan, sampai lari-larian di taman. Serasa hidup ini milik mereka.
Namun, setelah itu yang tersisa hanya kehampaan. Sela memilih menghindar dan memutuskan untuk pergi jauh dari lelaki itu. Menata kembali hidupnya. Dan berusaha untuk menghilangkan rasa ini.
Akan tetapi itu semua tak semudah yang ia kira. Karena perasaan itu tak mau pergi. Apalagi saat pertama kali pertemuan mereka kembali. Di saat Gala menjemputnya. Tiba-tiba rasa rindu itu membuncah. Ia tak bisa berbohong. Kalau sampai detik ini dirinya mencintai lelaki tersebut.
Namun, ia sadar diri. Gala tak akan menoleh ke arahnya. Karena memang standart cantik lelaki itu terlalu tinggi. Sedangkan dirinya hanya serpihan debu yang tak ada apa-apanya. Apalagi ucapan lelaki itu semalam juga membuatnya sadar diri. Kalau ini semua tak bisa dipaksa.
Gisela membuang napas dalam. Entah mengapa dadanya terasa sesak bila menyangkut lelaki itu. Di mana cinta yang terbalas begitu menyakitkan. Apalagi setelah banyak kenangan bersama. Membuat langkahnya tetap di sini. Tak bergerak ke mana pun.
Meskipun ia telah pergi jauh. Pada akhirnya masih berada di sini. Hatinya tak bergerak sedikit pun. Masih mengharapkan lelaki itu yang sama sekali tak mengharapkannya.
Seharusnya ia sadar diri sebelum menumbuhkan rasa ini. Semua hanya kamuflase di hadapan Aya. Karena baik dulu dan sekarang lelaki itu sama sekali tak bisa menolak sang adik. Dan berakhir pada dirinya yang selalu tergoda dan jatuh kembali.
Gisela memilih bangkit dari pada memikirkan ini semua. Guyuran air mungkin bisa membuat perempuan itu sadar. Kalau ini semua tak bisa berlarut seperti ini. Setelah ini ia akan bicara kepada Aya untuk menghentikan perjodohan. Dan mungkin ia akan pergi kembali. Dari pada berada di sini dengan luka yang sama. Tentu saja sangat menyiksa dirinya. Dan ia berharap kepergiannya lagi akan mengubur perasaan ini untuk selamanya.
Itu keputusannya untuk saat ini. Semoga saja kawannya mengerti dan dapat menerima jalan yang ia pilih.