“Sela …”
“Maafkan aku, Aya,” Gisela membuang napas dalam. Perempuan itu mengatakan apa yang sedang berputar di otaknya. Sang kawan harus mengetahui hal ini. “Maaf aku nggak bisa melanjutkan perjodohan ini.”
“Kenapa?” tanya Aya yang masih bingung. Mereka memang janji mau keluar bersama. Namun tak menyangka saja kawannya akan berkata seperti ini. Dan tentu saja itu membuatnya terkejut bukan main. “Apa Kakak yang memintamu?”
Gisela menggeleng. Tak mungkin perempuan itu mengatakan kepada sang kawan. Bisa-bisa nanti marah kepada Gala. Dan tentu saja dirinya juga kena imbasnya. Karena dikira mengadu tak jelas.
Maka dari itu, ia sudah mempersiapkan semuanya. Termasuk kebohongan yang mungkin akan menyakiti diri sendiri. Namun, itu semua tak masalah asalkan masalah ini cepat selesai. Dan mungkin selepas ini ia akan pergi jauh kembali.
Ini salah satu cara untuknya tetap bisa bertahan dengan rasa sakit. Setidaknya suasana baru akan membuatnya melupakan kisah yang pernah tercipta. Dan sedikit menenangkan hati. Meskipun tak mampu membuat perasaan ini menghilang. Akan tetapi, bisa membuatnya menghirup udara baru.
Dan kini, keputusannya sudah bulat. Untuk kepergiaannya kali ini ia tak akan bilang kepada sang kawan. Biarlah ia menghilang sejenak sebelum perasaan ini benar-benar hilang dan tak ada lagi. Baru ia akan menunjukkan diri kembali.
Walauapun menyakitkan, akan tetapi akan ia lakukan. Meskipun harus pergi dari kehidupan kawan baiknya. Karena ia ingin tenang terlebih dahulu. Perasaan ini benar-benar membuatnya tak bisa berbuat banyak. Hanya menghindar yang bisa dilakukan untuk saat ini. Sebab tak ada pilihan yang lainnya.
“Sela …”
Gisela tersenyum seperti biasanya, “Iya?”
“Kamu beneran?” Aya masih belum percaya. Sahabatnya sangat misterius dan sulit ditebak. Kalau sampai berkata seperti ini pasti ada sesuatu yang telah terjadi. “Bukankah kamu mencintainya?”
Sela tertawa samar. Dirinya bahkan tak yakin dengan cinta ini. Karena terasa sangat menyakitkan. Bukannya kata orang cinta itu penuh dengan kesenangan dan kebahagian. Namun, yang dirasakan justru sebaliknya.
Cinta penuh luka dan kecewa. Dan itu pun berlabuh pada satu orang. Yaitu sosok Manggala yang tak mungkin ia gapai. Karena lelaki itu sendiri yang tak mau dan memilih memasang sekat yang tak mungkin ditembus.
Kalau seperti itu, buat apa ia masih mengharapkannya. Bila orang yang ia cintai sama sekali tak menaruh rasa kepadanya. Jadi, salah satu jalannya hanya melepaskan. Begitu pula dengan semua impian dan harapan. Dirinya tak memerlukan lagi.
Biarlah waktu yang menjawab ini semua. Cinta dan juga perasaannya tak pernah dianggap. Mungkin ini saat yang tepat untuk meninggalkan semua kenangan ini. Rasa cinta dan sayang cukup sampai di sini. Biarkan ia melanjutkan kisahnya sendiri. Tanpa perlu ada orang lain yang menemani.
“Gisela!” Aya geram dengan kediaman sang kawan. Terlihat jelas kalau perempuan itu rapuh. Namun, menutupi dengan rapi lewat senyuman palsu. “Jangan pernah berbohong …”
“Apa aku terlihat berbohong?” Gisela menyela. Menunjukkan dirinya baik-baik saja dan berkata dengan kebenaran. Nyatanya, ia hanya memakai topeng kepura-puraan. “Nggak, ‘kan?”
Aya menggeleng pelan. Mereka sudah bersahabat lama. Dan saling mengenal satu sama lain. Ia tahu kapan perempuan itu jujur dan berbohong. “Kamu bisa membuka topengmu?”
Sela terpaku. Perempaun itu memilih melihat ke luar jendela. Di luar sana hujan turun dengan deras. Tentu saja ia ingin sekali berdiri di bawah rintikan air dari langit. Namun, itu tak memungkinkan. Padahal, hujan adalah tempat yang ampuh untuk menyembunyikan rasa sakit dan air mata.
Dengan hujan-hujanan tentu saja tak ada yang menyadari bahwa dirinya menangis. Terlihat tertawa namun sebenarnya matanya mengeluarkan air mata. Sedangkan suara rintihannya akan tertutupi oleh gemuruh hujan itu sendiri.
Waktu yang tepat bukan untuk melampiaskan rasa sesak dalam d**a. Namun, tak mungkin ia melakukan sekarang. Aya pasti akan ikut. Dan tentu saja itu sangat bahaya. Karena jalanan licin. Terlebih lagi, sekarang ada nyawa lain yang berada dalam perut sang kawan. Tak mungkin dirinya membahayakan mereka. Mungkin nanti saat pulang, ia berharap masih hujan dengan deras.
“Kamu nggak pandai berbohong, Sela!”
Perempuan itu menoleh ke arah sang kawan, “Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya?”
“Katakan dengan jujur dari dalam hatimu …”
“Aku tidak mencintai Kakakmu,” Gisela berkata dengan lantang dan penuh penekanan, “aku mohon padamu untuk menghentikan perjodohan ini.”
Aya menatap dalam bola mata sang kawan. Mencari kebohongan di dalam sana. Namun, ia sama sekali tak menemukan. Terlihat sangat datar dan biasanya. Kalau seperti ini ia yakin, Sela memakai topeng. Menyembunyikan semuanya dengan rapi dan rapat adalah keahlian sang kawan.
Akan tetapi, ia pun tak bisa memaksa Sela agar tetap melanjutkan perjodohan ini. Perempuan itu berhak menolak dan juga menerima. Kalau Sela memilih tidak menerima, ia bisa apa.
Pada akhirnya Aya hanya bisa mengangguk pelan. Namun, jauh dalam lubuk hatinya ia masih tak bisa menerima hal ini. Padahal ia ingin melihat sang kawan menikah dengan kakaknya. Dan tentu saja impian itu tak mungkin tercapai. Karena Sela memilih menghentikan perjodohan ini.
“Maaf …”
“Nggak masalah,” sela Aya yang mencoba mengerti, “kalau kalian benar-benar jodoh pasti akan menyatu apapun itu terjadi.”s
Sela mengangguk pelan, “Semoga saja.”
Aya masih memandang sang kawan yang terlihat berbeda, “Kamu beneran nggak papa?”
“Nggak papa, kok.”
Kebohongan apa lagi yang ia lakukan. Dan mungkin Aya tak akan memaafkannya karena tak jujur kepada perempuan itu. Namun, ini semua ia lakukan untuk mereka. Agar Aya tak terasakiti bila mengetahui sang kakak mendekati hanya karena dirinya. Bukan dari hati.
“Ya …”
“Iya?”
“Aku mau pergi …”
“Ke mana lagi?” tanya Aya menyela. Firasatnya mengatakan kalau sang kawan akan pergi jauh. “Buat apa?”
“Mau cari suasana baru …”
“Bohong!”
Sela tersenyum. Dalam hatinya meminta maaf karena banyak sekali alasan yang tak sesuai keluar dari mulutnya. Mau bagaimana lagi. Ia harus melakukan ini.
“Gisela …”
“Nanti akan aku kabari lagi, ya!”
Aya hanya melihat kepergian sang kawan. Wanita itu tak memiliki alasan untuk membuat sang kawan tetap di sini. Terlebih lagi ini semua keinginan Sela. Ia tak berhak menghentikannya. Dalam hatinya, ia selalu berdoa agar kawannya selalu bahagia dan menemukan cinta sejatinya. Meskipun itu bukan sang kakak.