Aya bergegas ke kantor sang kakak. Ada hal yang penting harus dibicarakan segera. Entah lelaki itu sedang sibuk atau tidak. Ia tak peduli.
Tak masalah baginya untuk menunggu. Yang pasti dirinya harus mendapatkan jawaban ini segera. Karena ini sangat menentukan masa depan sang kawan dan juga kakaknya.
Ia ingin tahu bagaimana perasaan sang kakak yang sebenarnya. Kalau lelaki itu beneran tak ada rasa, mungkin ia bisa mundur dari perjodohan ini. Akan tetapi, kalau sebaliknya. Dan Gala mempunyai sedikit perasaan itu. Maka ia akan membuat saudara lelaki itu untuk mengejar Gisela. Bagaimana pun ia sangat setuju bila kakaknya dengan perempuan tersebut.
Akan tetapi, ia pun tak bisa memaksakan kehendak. Karena dirinya sadar ini perkara hati. Sangat tidak mudah untuk dijelaskan. Terlebih lagi, yang menjalani ini semua adalah sang kakak. Dan ia akan berusaha untuk menerima apapun yang menjadi keputusan mereka.
Karena Aya sadar, kawannya masih menaruh harapan tinggi. Tak mungkin secepat itu Sela menolak. Itu yang membuatnya masih bertanda tanya.
Tak masalah bila temannya tak mau bicara. Ia akan membuat kakaknya bisa mengatakan yang sebenarnya terjadi. Ia merasa ada sesuatu yang terlewatkan di masa lalu. Antara mereka berdua, pasti terjadi sesuatu. Namun pura-pura tak mengerti adalah jalan yang aman.
“Maafkan aku,” ucap Sela kala itu. Di mana mereka janjian untuk membicarakan sesuatu. Semalam perempuan itu mengirim pesan untuk bertemu. Ada hal yang perlu Sela ungkapkan. Pada akhirnya di sinilah mereka. Sebuah café yang memang biasanya dijadikan tempat untuk menghabiskan waktu bersama. “Aku nggak bisa melanjutkan perjodohan ini.”
Aya sangat terkejut. Wanita itu mengerjap pelan, “Apa?”
“Maaf …”
Alayya mencoba mencerna apa yang telah terjadi. Ini begitu mendadak. Padahal terakhir mereka berkumpul semua baik-baik saja. Bahkan sang kawan terlihat senang dan gembira. Lalu kenapa tiba-tiba seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi.
Tak mungkin tidak ada apa-apa Sela mengatakan hal ini. Pasti ada yang disembunyikan oleh perempuan itu. Namun, bagaimana caranya agar mengetahui hal itu. Sebab sang kawan dalam mode tak ingin diganggu dan ditanyai.
Namun, terlihat jelas kalau sedang menyembunyikan sesuatu. Mereka memang sempat berpisah. Dan ia terkejut melihat perubahan sang kawan. Namun, perempuan itu masih sama dengan yang dikenalnya dulu.
Kawannya yang rapuh dan berpura-pura untuk kuat. Padahal tak masalah menjadikannya tempat bersandar. Namun, ego Sela terlalu tinggi. Tak ingin orang lain mengetahui kerapuhannya. Termasuk dirinya.
Masih ingat dalam benak Aya ucapan temannya kala itu. Di mana Sela pingsan setelah hujan-hujan saat mereka masih sekolah.
“Kamu kenapa?”
Sela menggeleng pelan, “Aku nggak papa.”
Aya tentu saja tak bisa percaya dengan mudah. Tak mungkin kawannya memilih hujan-hujan yang pada akhirnya membuatnya sakit seperti ini. Pasti ada alasan yang kuat kenapa melakukan hal ini. Gisela bukan orang yang sembarangan mengambil langkah. Selalu ada hal-hal yang diperhatikan. Termasuk kesehatannya.
Namun, kali ini perempuan itu dengan gampangnya berdiri di atas langit yang sedang menangis. Mengguyur seluruh tubuhnya dengan air hujan. Peringatannya sama sekali tak dihiraukan. Bahkan perempuan itu melambaikan tangan dengan senyuman lebar.
Akan tetapi, yang terlihat dalam bola matanya justru sebaliknya. Sela menyembunyikan sesuatu. Bila pikirannya kacau dan sedang hujan. Perempuan itu tak berpikir dua kali untuk melakukannya. Hujan-hujan adalah obat yang ampuh bagi Gisela.
“Sela …”
“Aku benaran nggak papa,” Sela menggenggam tangan sang kawan. Menatap Aya penuh dengan kenyakinan. Meskiupun itu sulit untuk membohongi. Setidaknya hal itu tidak membuat Sela terlalu khawatir. “Kamu tenang saja, ya …”
“Bagaimana bisa?” Aya tertunduk lemas. Merasa dirinya tak berguna sekali. Membiarkan kawannya menanggung semua sendirian. “Aku merasa tak pantas menjadi temanmu.”
Sela terkejut mendengar ucapan sang kawan, “Aya …”
“Aku …”
Perempuan itu meneteskan air mata. Hal yang paling dibenci adalah melihat kawannya terluka dan sakit seperti ini. Ia merasa bukan menjadi teman yang baik. Karena tak mampu membuat temannya baik-baik saja. Dan membiarkan Sela menanggung beban ini sendirian.
Padahal selama ini perempuan itu yang menjadi tempatnya bersandar. Orang yang selalu mendengar semua keluh kesah. Cerita kehidupannya yang penuh dengan lika-liku dan luka.
Sela yang selalu menguatkannya. Mengatakan kalau akan ada untuknya. Tak akan meninggalkannya sendirian. Namun, apa yang terjadi. Justru ia tak bisa melakukan itu semua untuk sang kawan.
Membuatnya merasa bukan menjadi teman yang baik. Malah menjadi beban dalam kehidupan Gisela. Dan tentu saja rasa itu sangat menyesakkan. Karena ia tak bisa berbuat banyak.
“Aya …” Gisela menarik tangan Aya. Membawa tubuh sang kawan dalam pelukannya. Jujur saja ia tak berpikiran seperti itu. Aya adalah kawan yang sangat berarti. Tak pernah ada yang mengerti dirinya kecuali perempuan itu.
Sela tak mungkin membicarakan hal ini dengan sang kawan. Karena ini menyangkut kakaknya. Dan juga ia tak ingin menjadi penyebab hubungan Aya dan Gala terjadi perselisihan. Maka dari itu, ia memilih memendam semua sendirian.
“Kamu kenapa?” tanya Aya melepaskan pelukan dan menghapus air mata, “kenapa tiba-tiba hujan-hujan seperti ini?”
Sela membuang napas dalam. Perempuan itu mengucapkan maaf dari lubuk hati yang terdalam karena harus berbohong kepada sang kawan. “Aku hanya merindukan kedua orang tuaku …”
“Sela …”
“Dan aku harus mengatakan sesuatu kepadamu,” Gisela memegang kedua tangan sang kawan, “aku harus pergi.”
Aya terkejut bukan main. Perempuan itu menatap tak percaya. Berharap ini semua hanya ke bohongan semata. “Sela …”
“Maafkan aku,” Sela membuang napas dalam, “aku melanjutkan kuliah ke luar kota.”
Aya memeluk tubuh sang kawan. Tak menyangka saja perempuan itu akan meninggalkannya. Padahal selama ini mereka selalu bersama. Namun kali ini harus terpisah. Dan tentu saja itu sangat menyakitkan.
“Kamu harus janji untuk selalu mengabari, ya!”
Sela mengangguk. Kedua sahabat itu saling berpelukan di ruang uks. Dan sejak itu Aya harus siap berpisah dengan Sela padahal dirinya tak mampu. Namun, ini demi kebaikan mereka. Lagian Sela pergi juga untuk pendidikannya.
Aya membuang napas dalam. Baru tersadar bila terjadi sesuatu. Karena ini semua mengingatkannya akan masa lalu. Di mana Sela pernah seperti ini. Dan perempuan itu memilih menyimpan semua sendirian. Tak menjelaskan apapun kepadanya dan memilih untuk pergi.
Sama seperti sekarang ini. Ia merasa dejavu. Dan tentu saja ini berat untuknya. Maka dari itu, selepas kepergian Sela ia beranjak dan pergi ke suatu tempat. Di sana ia akan mendapatkan jawaban apa yang telah mengganggu pikiran dan perasaannya.
Sela mungkin tak akan menceritakannya. Namun, tidak dengan lelaki itu. Sang kakak bisa dipastikan akan mengungkapkannya dengan gamblang. Dengan begitu ia bisa menghentikan kawannya untuk pergi lagi. Karena di sini tempatnya. Bukan di wilayah yang lainnya.
Sela dari dulu yang selalu merasakan sakit dan juga kecewa. Aya ingin sang kakak yang menyembuhkannya. membawa kebahagiaan untuk sahabat tercinta. Namun pasti itu sulit. akan tetapi tak ada salahnya bila ia mencoba dan mengatakan hal ini kepada kakaknya.