“Aya!”
Aya menggeleng pelan, “Jawab saja pertanyaanku, Kak!”
Gala terpaku. Tak biasanya sang adik berkata dengan suara lantang seperti ini. Sebenarnya ada apa. Kenapa adiknya tiba-tiba datang dan menanyakan hal yang tak penting. Untung saja rapatnya telah selesai. Kalau tidak, ia tak akan bisa berpikir dengan jernih.
Masih jelas dalam benaknya ketika sang sekretaris mengatakan kalau ada adiknya menunggu beli ruangan. Dan itu sudah sejak tadi pas dirinya melakukan rapat bulanan.
Sudah hampir dua jam Aya menunggu. Tak biasanya sang adik rela menanti dirinya. Biasanya sudah mara-marah tak jelas. Apalagi dalam waktu yang lama. Lima menit saja sudah tak sabar. Lah, ini herjam-jam. Bisa dipastikan saat ia masuk ruangan akan terdengar rengekan cempreng suara sang adik.
Akan tetapi, semua tak sesuai ekspektasi. Adiknya malah menatapnya dengan diam. Entah setan apa yang sedang merasuki. Yang pasti aura Aya terlihat berbeda dari sebelumnya. Ada kecewa, marah dan juga rasa tak percaya. Membuatnya merasakan bulu kuduk berdiri.
“Ya ...”
“Kakak kenapa?”
Gala mengerjap pelan. Lelaki itu masih bingung dengan pertanyaan sang adik. Kenapa tiba-tiba menanyakan hal ini. Dan tentu saja ada yang tak beres.
“Kakak nggak kenapa-kenapa ...”
“Lalu kenapa Kakak menerima permintaan Aya kalau pada akhirnya hanya keberatan!”
“Ya ...” Manggala tak bisa berkata apa-apa lagi. Lelaki itu memilih bangkit dari tempat duduknya dan mendekat ke arah adiknya. “Aya dengerin penjelasan Kakak dulu, ya.”
Aya tersenyum penuh makna. Benar sekali dugaannya. Sang kawan melakukan ini semua karena kakaknya. Tak menyangka saja ia akan melukai sahabat baiknya kembali. Dan ia merasa dirinya semakin bersalah dan berdosa kepada Sela.
Ia berharap Sela tak melakukan hal gila. Apalagi di luar sana sedang hujan. Mungkin ini alasan kenapa perasaanya tadi tak enak saat kawannya memilih pergi. Kalau seperti ini, ia harus bagaimana. Kenapa ia baru mengetahui sekarang. Sungguh, ia benar-benar kecewa pada diri sendiri.
“Ya …”
“Kenapa Kakak begitu jahat?”
Manggala menggeleng. Lelaki itu tak suka mendengar ucapan sang adik. Tentu saja dirinya bukan seperti yang dituduhkan. Ia memiliki alasan kuat kenapa melakukan hal ini. Akan tetapi, ia penasaran. Kenapa sang adik mengetahui hal ini. Dari mana Aya mendengar ini semua. Tak mungkin Iman yang mengatakannya. Karena itu sama saja menabuh genderang perang dengannya.
Hanya satu nama yang terlintas dalam otaknya, “Apa yang Sela katakan kepadamu?”
Aya tertawa kecut, “Kakak mau tahu?”
Lelaki itu sudah menduganya. Pasti perempuan itu mengatakan hal yang tidak-tidak. Membuat masalah lagi dengannya. Ini bukan kali pertama Aya marah seperti ini. Masih ingat dalam otaknya saat Sela memutuskan untuk kuliah di luar negeri. Sang adik menemui dan marah kepadanya.
Tentu saja awalnya ia tak mengerti ke mana arah pembicaraan ini. Sampai mereka adu mulut. Dan tentu saja adiknya selalu menyudutkannya. Dan ia baru mengetahui pembicaraan ini tentang apa.
“Jadi kamu menyalahkan Kakak, gitu?”
Aya mengangguk dengan yakin, “Kalau Kakak bukan siapa lagi?”
Lelaki itu memang mengatakan hal yang menyakitkan. Namun bukan berarti dirinya yang membuat Sela pergi dari sini. Bisa saja perempuan itu telah menyiapkan segalanya dan baru mengatakan hal ini kepada sang adik. Karena, ia bukan orang kejam yang melakukan hal seperti itu.
“Apa yang Kakak katakana kepadanya?”
“Nggak tahu,” Manggala mengedikkan bahu. Malas sekali membahas tentang ini. “Kamu tanyakan sendiri kepadanya langsung.”
Aya menggeleng pelan, “Kalau Sela sudah mengatakannya buat apa aku bertanya kepada Kakak?”
Karena pada kenyataannya perempuan itu tak bilang apa-apa. Sela hanya pamit untuk pergi melanjutkan ke perguruan tinggi di luar kota. Padahal setahunya sang kawan sudah keterima di salah satu unversitas negeri. Lalu kenapa tiba-tiba saja memilih untuk pergi.
Dan dugaannya benar. Sang kawa jatuh cinta kepada kakaknya. Sedangkan sang kakak malah menganggapnya sebagai teman biasa. Melihat ekspresi Manggala kala itu, ia yakin telah terjadi sesuatu antara kakaknya dan juga Sela. Namun sampai detik ini ia tak tahu apa-apa.
Seperti saat ini, raut wajah sang kakak sama. Tak ada perubahan apapun. Bisa dipastikan telah terjadi sesuatu antara mereka. Dan sekarang Aya benar-benar tak ingin menerka-nerka lagi.
“Kak …”
“Iya?”
“Apa salahnya bila sejak awal Kakak tidak mau?” tanya Aya dengan suara bergetar, “apa harus terjadi seperti ini lagi?”
Manggala tak bisa berkata apa-apa lagi. Lelaki itu memilih diam dan memeluk tubuh sang adik. Percuma saja menjelaskan semuanya seperti masa lalu. Karena Aya tak memerlukan itu semua.
Aya benci dengan keadaan ini. Semua terasa seperti mimpi buruk. Di mana dengan tega ia menyakiti kawannya yang tak bersalah. Sedangkan sang kakak tak menolak apapun. Membuatnya berharap terlalu banyak dan juga menaruh impian yang begitu tinggi.
Yang pada akhirnya akan menerjunkannya pada jurang kesedihan begitu dalam. Kenapa ini semua terjadi dua kali. Tak cukupkah hanya sekali. Dan kini ia benar-benar ingin menemui sang kawan.
Tiba-tiba saja Aya bangkit. Dan tentu saja membuat Manggala terkejut. Lelaki itu juga mengikuti sang adik yang sudah berdiri.
“Mau ke mana?” tanya Gala yang memegang lengan Aya. Wanita itu hendak pergi begitu saja. dan tentu saja ia tak akan mengijinkannya. “Kamu …”
“Aku mau mencari Sela,” sela Aya yang mencoba melepaskan genggaman tangan sang kakak. “Jangan halangi aku …”
“Nggak!” Gala menggeleng tegas. Tak mungkin membiarkan Aya dengan keadaan kacau mencari Sela. Bisa-bisa nanti terjadi sesuatu di jalan. Dan tentu saja itu akan membuatnya menyesal seumur hidup bila itu terjadi. “Kamu di sini saja,”
“Buat apa?” teriak Aya dengan suara yang sudah begetar hebat. Wanita itu menangis. Dan rasanya sangat menyakitkan. “Kakak jahat!”
Gala tak peduli. Lelaki itu menarik tubuh sang adik. Mendekapnya dengan erat. Berharap dengan begini Aya bisa lebih tenang dan juga berhenti menangis.
“Kenapa Kakak melakuka hal ini?”
Manggala tak memiliki jawabannya. Lelaki itu semakin mempererat pelukannya. Ini yang bisa dilakukan untuk saat ini. Karena percuma saja bila dirinya berbicara. Keadaan Aya masih kacau. Tak memungkin bagi perempuan itu untuk menerima penjelasnnya.
“Sela …”
Tubuh Aya terasa lemas. Kakinya tak bisa menompang lagi. Dalam sekejap bayangan hitam merenggut kesadaran. Dirinya pingsan dalam dekapan kakak. Dan tentu saja membuat banyak orang khawatir.
Aya tak ingat apa-apa. Karena ketika ia bangun sudah berada di rumah sakit. Meminta sang kakak untuk menghubungi Sela. Karena ia ingin bicara dengan perempuan tersebut.