Sela berlari dengan kencang. Beberapa kali menabrak orang yang jalan. Namun ia tak peduli. Untuk saat ini yang ada dalam pikirannya adalah keadaan sang kawan. Di mana baru saja ia mendapat kabar kalau Aya masuk rumah sakit dan mengigau memanggil namanya.
Ia berusaha untuk tetap kuat. Padahal dirinya sendiri juga merasa sangat pusing. Namun, ia sangat khawatir dengan keadaan Aya. Terlebih lagi sang kawan juga sedang mengandung. Sela merasa bersalah telah mengatakan hal tadi.
Kalau seperti ini, mungkin ia memilih diam saja. Menunggu Gala yang membicarakan dengan Aya. Jujur saja, tadi ia benar-benar merasa dejavu. Pembicaraan mereka mengingatkannya pada kejadian sebelum ia pergi.
Dan kini, seolah terulang kembali. Namun, dulu Aya tidak sempat sampai masuk rumah sakit. Perempuan itu hanya menangis dan selalu meneleponnya. Membuatnya setiap waktu menenangkan kawannya.
“Ini tidak ada hubungannya denganmu,” ujar Sela waktu itu. Di mana Aya menelepon dan meminta maaf. “Nggak usah nangis …”
“Tapi …”
Sela tersenyum di seberang sana. Tentu saja kawannya tak mampu melihat. Karena mereka di bilik pintu yang berbeda. Ia hanya beruntung memiliki Aya. Perempuan itu selalu mengerti isi hatinya. Dan tentu saja ia merasa mempunyai saudara di saat semua keluarganya memilih mengabaikan dirinya.
Semenjak kematian kedua orang tua, Sela hidup mandiri. Apalagi kekayaan yang ditinggalkan oleh mereka diambil paksa oleh paman dan bibinya. Kala itu Sela tak bisa berbuat banyak dan membiarkan mereka menguasai. Membuatnya hidup dengan keras. Di mana harus kerja demi mencukupi kebutuhannya.
Namun, tidak dengan sekarang. Sela yang dulu sudah tiada. Kini, dirinya berani dan sudah mengambil semua yang menjadi miliknya. Meskipun ia tak secara langsung menangani perusahaan. Akan tetapi kini semua menjadi miliknya.
“Sel …”
“Kamu tenang saja,” Sela berkata penuh dengan ketulusan. Berharap sang kawan tak menyalahkannya. “Ini semua nggak ada sangkut pautnya dengan kak Gala. Jadi, jangan berpikiran yang tidak-tidak, ya.”
Dulu, mungkin Aya akan percaya. Dan membiarkan kawannya untuk kuliah ke luar kota. Namun, kali ini ia tak akan percaya. Karena Sela sangat terbiasa menyembunyikan perasaan. Memakai topeng baik-baik saja. Seolah tak ada masalah apapun. Padahal sedang menyembunyikan sakit hatinya.
Gisela membuang napas dalam. Mencari kamar sang kawan sesuai petunjuk dari Gala. Lelaki itu tadi yang mengabari kalau Aya masuk rumah sakit karena tak sadarkan diri.
Sebelum masuk ke kamarnya, perempuan itu membuang napas dalam. Mengatur kembali napasnya setelah berlari dari parkiran. Dan sedikit membenarkan penampilannya. Kalau ia datang acak-acakan pasti nanti Aya banyak bertanya. Tentu saja ia tak bisa menjawab.
Beruntung sekali tadi sebelum membaringkan tubuhnya ia sudah ganti baju dulu. Biasanya selepas hujan-hujan ia langsung berbaring dengan keadaan basah. Ia memakai celana pendek warna hijau mint dengan baju lengan panjang putih. Tak lupa rambutnya diikat menjadi satu hanya menyisakan poni depan. Setidaknya masih terlihat rapi dan baik-baik saja.
Baru dirinya berani untuk mengetuk pintu ruang inap sang kawan. Terdengar suara pintu di buka. Muncul seorang lelaki yang ia ketahui sebagai suaminya Aya.
“Aya …”
“Sela?”
Perempuan itu mengangguk. Mengikuti langkah lelaki itu masuk ke dalam ruangan. Pandangan pertama yang ia temui adalah sang kawan yang berbaring dengan lemah dengan infus yang menancap di tangan.
“Aya …”
“Dia nggak papa,” Iman tersenyum kepada sahabat istrinya. Menyuruhnya untuk duduk di kursi samping ranjang. “Aya sudah menunggumu dari tadi.”
Sela mengangguk pelan. Perempuan itu melirik ke arah sang kawan. Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya. Namun, ia sama sekali tak tahu harus menanyakan pada siapa. Apalagi lelaki yang berdiri di sebelahnya diam saja. Ia jadi canggung sendiri.
“Boleh aku pegang tangannya?”
Jaiman mengangguk. Lelaki itu mempersilahkan Sela untuk menggenggam tangan sang istri. “Sebentar lagi mungkin akan bangun. Tolong jaga sebentar, ya.”
Sela mengangguk. Perempuan itu tak sadar bila ada lelaki lain yang duduk di sofa sedang memperhatikannya. Ia hanya bisa tersenyum sekilas dan mengangguk kecil. Tak tahu harus bereaksi seperti apa. Sampai terdengar suaranya bassnya memecahkan keheningan kamar.
“Kalau ada apa-apa kabari,”
“Iya,” Gisela memilih melihat kembali sang kawan. Membiarkan kedua orang lelaki itu pergi entah ke mana. Kini yang ia khawatirkan keadaan sang kawan. Mana lagi tak ada yang memberi tahu apa yang telah terjadi.
Sela membuang napas dalam. Berharap Aya segera bangun dan menceritakan keadaannya. Ia benar-benar menjadi kawan yang buruk. Karena membuat temannya terbaring lemah seperti ini. Andai dirinya saja yang berada di posisi Aya. Itu lebih baik. Karena tak ada yang mengharapkan kehadirannya.
“Ya …” Sela mengelus lembut tangan sang kawan, “kapan kamu bangun?”
Seketika Aya mengerjap pelan. Wanita itu mulai membuka mata dan beradaptasi dengan cahaya ruangan. “Sela …”
“Aku di sini,” Gisela sangat bahagia melihat mata Aya terbuka, “kamu baik-baik saja,”
Aya mengangguk pelan, “Maaf …”
“Buat?” Sela merasa bingung dengan ucapan sang kawan. “Ada apa?”
“Karena Kakakku …”
Gisela mulai mengerti arah pembicaraan ini. Perempuan itu hanya tersenyum. Tak menyangka saja semua ini seperti masa lalu. Bedanya ia sekarang masih berada di sisi kawannya. Kalau dulu mereka hanya bisa berkomunikasi lewat telepon. Kini, bisa bicara secara langsung.
Perempuan itu sama sekali tak menyalahkan siapa-siapa. Karena ini murni kesalahannya yang terlalu berharap. Dan tak ada sangkut pautnya dengan Manggala. Sebab lelaki itu tak salah apa-apa. Dirinya saja yang terlalu bodoh jatuh cinta pada orang yang salah.
“Sela …”
“Ini bukan salahmu ataupun kak Gala,” Sela mencoba menenangkan sang kawan seperti dulu kala, “kamu tak perlu khawatir, ya …”
“Tapi …”
“Mengenai kepergianku?” tanya Sela yang mendapat anggukan dari kawannya, “itu semua bukan karena hal ini,”
“Bohong!”
Gisela menggeleng, “Nggak …”
“Lalu?”
Pada akhirnya perempuan itu menceritakan tentang perusahaan sang ayah yang berada di kota seberang. Berharap Aya mengerti dan memahaminya. Namun sayangnya, itu semua diluar dugaannya tatkala temannya menanyakan sesuatu.
Sebuah pertanyaan yang tak mungkin dijawab begitu saja. Butuh banyak pertimbangan dan logika agar Alayya percaya.
“Bukannya pusatnya berada di Surabaya, ya?”
Alasan apalagi yang harus ia ungkapkan. karena baru saja kebohongannya dipatahkan oleh wanita tersebut. Kalau seperti ini dirinya tak bisa mengelak lagi.
“Sela …”
“Maaf, Ya,” Gisela menggeleng pelan, “aku hanya butuh udara segar saja.”
Setelah mengatakan hal itu Sela pamit untuk keluar. Kepalanya terasa pening sekali. Masalah ini seolah datang bersamaan. Membuatnya sangat terasa sesak.
Mencintai dan dicintai, dua hal yang bertolak belakang. Dirinya memang mencintai Manggala. Namun sayang ia tak dapat dicintai oleh lelaki itu. Karena Manggala sudah mempunyai orang yang disayang.
Gisela membuang napas dalam. Semua terasa menyesakkan. Kalau tahu seperti ini, ia mungkin tak akan kembali ke. Surabaya.