Aya mengerti. Sesuai dugaannya sang kawan hanya lari dari masalah ini. Menghindar adalah jalan yang selalu dipilih Gisela. Sama seperti dulu dengan alasan memilih perguruan tinggi di sana lebih menyenangkan. Dan ia ingin belajar tinggal mandiri. Bukannya selama ini dirinya memang sendiri. Tak ada oran lain yang berada di sekitarnya kecuali dirinya.
Dan kini, perempuan itu memakai alasan yang sama. Tentu saja dirinya tak akan ketipu kembali. Cukup sekali ia percaya dengan sang kawan. Kali ini, bisa ia pastikan temannya itu akan membuka topengnya.
Apapun caranya agar ia lakukan untuk membuka mulut temannya. Semua orang butuh tempat bersandar. Dan dirinya ingin Sela menjadikannya tempat untuk berkelu kesah. Karena selama ini kawannya selalu mendengar cerita darinya.
Kali ini, ia akan membuat Sela mengungkapkan isi hatinya. Apapun caranya akan ia lakukan. Dan tentu saja ini akan berhasil. Karena ia sedang berada di rumah sakit. Tak mungkin Sela membiarkannya terlalu berpikir karena itu semua akan berpengaruh pada janin yang ia kandung.
“Ya …”
“Iya?”
Gisela membuang napas dalam, “Bagaimana keadaanmu?”
“Seperti yang kamu lihat.”
Aya terbaring lemah dengan infus ditangan dan juga selang oksigen pada hidungnya. Pasti sangat menyakitkan. Lalu bagaimana dengan kandungannya. Akankah calon keponakannya baik-baik saja.
“Dia … kuat,” ujar Aya yang mengetahui arah pandang sang kawan. Beruntung sekali kandungannya tak papa. “Kamu jangan khawatir.’
Sela merasa lega. Perempuan itu tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya Aya bila harus kehilangan buah hati. Dan tentu saja ia juga akan merasa sangat bersalah. Karena dirinya sang kawan harus dalam keadaan berduka.
Dirinya sudah sangat ketakutan tatkala mendengar Aya berada di rumah sakit. Waktu itu selepas gangti baju, ia langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur. Tentu saja tak lupa minum obat penghilang rasa sakit. Agar ketika bangun kepalanya tidak terasa pening.
Biasanya ia menaruh ponsel di sembarang tempat. Namun, entah mengapa saat itu berada di samping bantalnya. Meskipun sudah beberapa kali terdengar suara telepon pada akhirnya ia angkat juga.
“Ha …”
“Kamu di mana?” teriak orang diseberang sana dengan suara cemas, “bisa datang ke rumah sakit?”
Sela mengernyit bingung. Nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. “Ini siapa?”
“Aya di masuk rumah sakit.”
Seketika tubuhnya duduk tegak. Memeriksa siapa yang menelepon. Tertera nomer Gala di layar ponsel. “Kak Gala …”
“Kamu bisa ke sini sekarang?”
Gisela mengangguk. Meminta lelaki itu untuk mengirim lokasinya. Tanpa banyak bicara, perempuan itu langsung ambil tas yang berisi dompet dan segera keluar dari apartemen. Berungtung sekali ada taxi sehingga dirinya cepat menuju ke rumah sakit.
Dalam perjalan tak henti-hentinya ia berdoa demi kesembuhan sang kawan. Entah apa yang membuat Aya dilarikan ke rumah sakit. Padahal terakhir ketemu tadi wanita itu masih baik-baik saja.
Perempuan itu berusaha untuk tetap tenang. Meskipun pikirannya kacau balau. Setidaknya ia tak perlu panik. Pasti di sana ada Gala dan juga Iman. Aya wanita yang sangat kuat. Ia yakin tak ada yang serius dengan sahabat baiknya.
“Kamu naik apa ke sini?”
Pertanyaan Aya membuyarkan lamunan. Perempuan itu mengerjap pelan sebelum menjawab, “Taxi …”
“Maaf, ya …”
Sela menggeleng, “Jangan berkata seperti itu.”
Mereka berdua larut dalam pembicaraan. Mulai yang ringan-ringan terlebih dahulu. Sampai ucapan Aya yang membuatnya tubuhnya kaku seketika.
“Apakah kamu mau lari lagi?” tanya Aya yang menatap ke dalam bola mata sang kawan, “sama seperti dulu?”
“Ya …”
“Pikirkan sekali lagi. Jangan pernah lari dari sebuah masalah.”
Gisela memilih diam. Perempuan itu sama sekali tak tahu harus berkata apa. Sang kawan memang benar. Selama ini dirinya selalu kabur. Tak berani menghadapi masalah yang ada. Padahal itu semua tak baik. Karena akan datang lagi masalah yang lainnya.
Akan tetapi ia tak mempunyai pilihan lain. Ini yang harus dilakukannya. Pergi sejenak dan melupakan. Dengan begitu ia masih bisa bertahan dalam menghadapi hidup ini.
“Kamu yang selalu bilang kepadaku untuk tidak lari,” Aya masih menatap sahabatnya, “tapi apa yang kamu lakukan?”
“Ya …”
“Aku tahu kamu mencintainya,”
Sela menggeleng pelan, “Nggak …”
“Jangan membohongi perasaanmu sendiri!” Aya sedikit geram dengan sang kawan, “cobalah untuk jujur,”
Gisela bukannya tak mau jujur. Namun keadaan yang memaksanya untuk berbohong. Terlebih lagi tak mungkin mereka bersanding. Karena Gala telah menolak kehadirannya. Lalu buat apa dirinya masih di sini. Yang ada hanya luka ini semakin bertambah parah.
Dan tak mungkin dirinya mengatkan hal ini kepada sang kawan. Bisa-bisa nanti Manggala akan marah-marah seperti yang dulu. Namun, ketika tanpa sengaja ia melihat lelaki itu. Perasaanya mengatakan kalau Gala sudah mengetahui. Kalau seperti ini ia bisa apa.
“Ya …”
“Kakak sudah bilang. Dan ia mau menikah denganmu.”
Gisela mengerjap pelan. Tak percaya dengan apa yang telah didengar. Tak mungkin lelaki itu mau menikah dengannya. Pasti ada yang salah. “Nggak …”
“Beneran!”
Sela tak ingin percaya. Pasti ada seseuatu yang telah terjadi. Tak mungkin kawannya yang memaksa untuk menikah. “Aku keberatan!”
Aya mengernyit heran, “Kenapa?”
“Itu …”
“Kamu tenang saja,” sela seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan, “itu keputusanku,”
“Tapi …”
“Kamu mau, ‘kan?” Aya memegang tangannya, “Sela …”
Perempuan itu tak bisa berkata apa-apa. Menatap lelaki itu penuh dengan tanda tanya. Hanya dibalas dengan anggukan pelan. Dan tengtu saja itu membuatnya semakin bingung dan tak percaya.
“Kamu mau, ‘kan?”
“Tapi …”
Pada akhirnya ia tak bisa berbuat banyak. Memilih diam dan akan membicarakan hal ini dengan Gala diluar nanti. Karena dirinya masih belum percaya dengan keadaan sekarang ini.
“Apa kamu yakin kalau kak Manggala tidak tertekan dengan hal ini?”
Alayya terdiam. Tak bisa menjawab pertanyaan sang kawan. Karena sang kakak tidak merasa keberatan dengan hal ini. Dan terlihat sangat menikmati hubungan dengan Sela. Namun, bila perempuan itu menanyakannya. Pasti ada sesuatu yang telah terjadi. Karena firasat temannya sangatlah kuat.
Kalau seperti ini ia tak tahu harus merespon bagaimana. Haruskah dirinya bertanya terlebih dahulu kepada sang kakak. Namun kenapa lelaki itu sama sekali tak menolak atau merasa keberatan. Kan dirinya semakin bingung.
“Ya …”
“Sekarang apa yang kamu rasakan?”
Gisela mengedikkan bahu. Perempuan itu sama sekali tak mengerti dengan perasannya sekarang ini. Ia sangat senang bila berbalas pesan dengan lelaki itu. Namun, saat pertemuan tadi semua terasa hambar. Ada sesuatu hal yang tak bisa dijelaskan begitu saja. Karena memang tak ada buktinya.
Memilih memandang area penjual makanan yang penuh dengan banyak orang. Kini mereka berada di tengah-tengah stan makanan yang beraneka ragm. Hanya mereka berdua. Karena para lelaki lagi memasan makanan untuk mereka.
Karena itu lah ia bisa mengatakan hal ini kepada Aya. Setidaknya membantu dirinya untuk bertanya kepada Manggala tentang perasaan sebenaranya lelaki tersebut. Sebab tak mungkin dirinya terus menerus meraba perasaan ini.
Ini menyangkut masa depannya. Dan tentu saja ia tak ingin salah langkah. Karena yang diinginkannya adalah pernikahan sekali seumur hidup dengan lelaki yang juga mencintainya. Bukan karena keterpaksaan.
“Sel …”
“Aku nggak tahu, Ya,” Gisela menyela. Perempuan itu pun tak mengerti dengan perasaan ini. Ia hanya merasa hambar dan juga abu-abu. Tak ada kejelasan apa-apa. “Hanya ingin tahu aja,”
“Lalu kenapa kamu nggak tanya sendiri?”
Sela menggeleng pelan, “Nggak bisa?”
“Mengapa?”
Karena dirinya takut menerima kenyataan bila lelaki itu tak mencintainya. Namun tak mungkin ia mengatakan hal itu. Yang akan membuktikan bahwa dirinya memang benar-benar mencintai lelaki itu.
“Sel …”
“Karena nggak mungkin aku menanyakannya,” Gisela menyela untuk kesekian kali, “kamu bisa menanyakannya, ‘kan?”
Aya mengangguk mengerti. Perempuan itu merasa kalau perasaan kawannya masih sama dengan yang dulu. Gisela mencintai sang kakak. Meskipun waktu berlalu sangat cepat perasaan itu masih ada dalam diri sang kawan. Dan tentu saja dirinya sangat senang. Karena ada perempuan yang sangat mencintai sang kakak. Meskipun selama ini Sela memendamnya. Ia yakin, perempuan itu bisa membuat sang kakak jatuh cinta kepadanya.
Tentu saja ia tak akan melewati hal ini. Ada seorang perempuan yang benar-benar tulus mencintai kakaknya. Dan itu membuatnya sangat merasa senang. Maka dari itu ia dengan senang hati menjodohkan mereka.
“Ya …”
“Kamu tenang saja,” Aya tersenyum ke arah kawannya. Mengerti akan kegalauan Gisela. Dan tentu saja dengan senang hati akan membantu sang kawan. “Nanti akan aku bicarakan dengan Kakak.”
Dan kini ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Semua terasa buntu. Haruskah ia menerima begitu saja saran dari sang kawan. Atau memilih menghindar seperti biasa. Ia sama sekali tak tahu. s
Apalagi melihat Aya yang tersenyum bahagia. Ia merasa tak tega melakukan hal itu. Tak ingin merenggut kebahagian kawan baiknya.
“Mau, ‘kan?”
Sela mengangguk pelan. Keputusan kali ini pasti sangat berat. Dan ia tak mungkin bisa mundur lagi. Mungkin ini sudah jalannya. Lelaki itu akan menjadi suaminya.
Memang benar, kalau sudah jodoh pasti akan bersama. Entah memilih jalan memutar atau mengelak. Pada akhirnya mereka akan bersatu.
Namun, masih ada rasa was-was dalam diri Sela. Akan tetapi ia tak tahu apa itu. Semoga kedepannya tak ada apa-apa dan berjalan dengan lancar. Kalaupun mereka tidak berjodoh, ia berharap Aya bisa menerima ini semua dengan lapang d**a.
Karena tak ada yang bisa menentukan takdir menikah dengan siapa. Terlebih lagi, ia tak ingin ada paksaan apapun. Jadi, ia berharap Aya mengerti akan hal itu.
Hidupnya sudah lama berwarna hitam. Tak masalah bila ia harus terluka kembali. Asalkan sahabat baiknya bisa bahagia. Ia akan melakukan apapun untuk wanita tersebut.
Karena memang tak ada yang dipunya selain Aya. Wanita itu yang selalu ada untuknya. Menemani hari-harinya hingga ia merasa tak sendiri. Jadi tak masalah bila ia harus terluka kembali.
Yang berada dalam pikirannya adalah Manggala. Apa yang akan dilakukan lelaki itu. sedangkan ia tahu, Gala sama sekali tak menaruh hati kepadanya. Apa yang harus ia lakukan.
Ah, kepalanya benar-benar terasa mau pecah. Ia tak bisa berpikir dengan baik. Semua terasa lebih gelap dari sebelumnya. Dan tentu saja ia tak bisa berbuat banyak.
Sela hanya bisa mengikuti arus takdir yang entah membawa ke mana. Ia berharap semua berlabuh pada kebahagiaan. Hanya itu yang diinginkannya. Tidak muluk-muluk namun sangat berarti.