Sela menyalami para tamu dengan senyuman yang menawan dan juga bahagia. Perempuan itu terlatih dalam berpura-pura. Padahal jauh dalam lubuk hatinya, ia merasa sangat kecewa dan juga marah. Kenapa dirinya bisa terjebak dalam keadaan seperti ini. Membawanya dalam kebohongan yang sangat merugikan banyak hal. Dan tentu saja akan menyakitkan untuk sahbatnya.
Akan tetapi, mau bagaimana lagi. Dirinya tak mempunyai pilihan apapun. Apalagi, lelaki yang berada di sampingnya pun terlihat biasa saja. Tidak merasa berdosa sama sekali. Bahkan cenderung menikmati suasana ini.
Padahal, dirinya ingin sekali segera selesai. Terlalu melalahkan berada di sini. Berulang kali ia menghela napas dalam untuk tetap terlihat tenang. Namun itu semua tak bisa bertahan lama. Karena ia sudah capek memakai gaun dan juga mahkota ini.
Pernikahan yang memang sesuai dengan keinginannya. Akan tetapi, dirinya harus sadar kalau ini hanya sandiwara. Tak ada kebenaran di sini. Maka dari itu, Sela sama sekali tak menikmatinya.
“Kamu kenapa?”
Sela melirik ke arah lelaki yang kini menjadi suaminya, “Capek,”
“Mau turun sekarang?”
“Tapi …”
Gisela tak mungkin meninggalkan para tamu. Terlebih lagi ini semua adalah kerabat dekat. Tentu saja ia tak ingin mengecewakan banyak orang. Meskipun ini semua hanya bohongan. Ia tak mungkin melakukan dengan setengah hati.
Anggap saja ini menjadi pelajaran untuknya. Bila nanti menikah lagi tak perlu mengundang banyak orang. Karena itu sangat melelahkan.
“Nggak usah mikirin orang lain,” Gala memperhatikan Sela yang memang terlihat sangat kelelahan. Lelaki itu tak mungkin menyuruhnya untuk bertahan lebih lama. Karena terlihat jelas kalau perempuan itu merasa tak nyaman. “Biar aku yang yang menemani mereka. Lagian sebentar lagi juga mereka akan pulang.”
Sela menggeleng pelan. Apa kata orang bila hanya dirinya yang berada di atas panggung. Sedangkan dirinya berada di kamar. Pasti akan menjadi buah bibir. Apalagi pernikahan mereka tergolong dadakan. Hanya ada waktu dua bulan untuk menyiapkan ini semua.
Memang segalanya bisa teratasi karena adanya uang. Dan tentu saja ini semua mudah bagi Manggala. Dalam waktu singkat sudah bisa mengatasi ini semua. Dirinya hanya menerima jadinya saja.
Meksipun yang mengatur ini semua adalah Aya. Sela hanya mengiyakan saja. terserah sahabatnya mau mengatur seperti apa. Karena ini memang bukan pernikahan yang sebenanya. Jadi, dirinya hanya merasa enggan dan kurang bersemangat dalam menyiapkannya.
Gisela menutup mata sejenak. Jiwa raganya benar-benar ingin istirahat. Seluruh tenanga rasanya sudah terkuras habis. Kalau seperti ini ia benar-benar merindukan kasurnya yang nyaman untuk berbaring dam melepaskan penat.
“Kamu beneran masih kuat?”
Ingin rasanya menggeleng. Namun, itu tak memungkinkan. Sebagai gantinya, Sela hanya mengangguk pelan. Menandakan kalau dirinya baik-baik saja. Dan lelaki itu tak perlu mengkhawatirkannya secara berlebihan.
Padahal tubuhnya sudah tak kuat. Apalagi semalam ia tak bisa tidur sama sekali. Lengkap sudah deritanya kali ini. Sudah tidak memejamkan mata dari kemarin. Lalu hari ini ia harus berpura-pura untuk terlihat baik-baik. Dan tentu saja itu pekerjaan yang berat.
Memakai topeng dan pura-pura membutuhkan banyak tenaga. Sedangkan semua itu sudah terkuras semalaman. Kini hanya kelelahan yang tersisa. Dan ia tak bisa berbuat banyak.
“Aku panggilkan Aya, ya?”
“Nggak perlu,” jawab Sela lesu. Perempuan itu mencoba untuk kuat. Karena ia tak ingin terlihat lemah di hadapan lelaki itu. Dan percuma saja menyuruh Aya ke sini. Yang ada perempuan itu akan menggodanya habis-habisan. “Aku masih kuat, kok!”
Gala menatap istrinya dengan saksama. Lelaki itu tahu kalau Sela berbohong. Karena matanya sayunya tak mampu menutupi ini semua. “Jangan bohong!”
Sela hanya bisa tersenyum sekilas. “Nggak …”
“Aya!”
Lelaki itu benar-benar memanggil sang adik. Percuma saja ia tak bisa menghentikan hal tersebut. Karena Aya sedang berjalan ke arah mereka. Alamat ia akan mendapatkan ceramah sebentar lagi.
Aya melirik ke temannya yang memang terlihat sedikit pucat. Riasannya sama sekali tak bisa menutupi raut wajah lelaki perempuan tersebut. Setelah berbicara dengan sang kakak, ia langusng menuju kakak iparnya. Tersenyum penuh dengan makna.
“Yok!”
“Tapi …”
“Masih ada, Kakak.”
Sela menatap ke arah lelaki itu yang hanya mengangguk saja. Membiarkan sang adik menuntutnnya untuk pergi ke kamar yang memang sudah disiapkan sebelumnya. Agar Sela bisa istirahat terlebih dahulu.
Sedangkan Aya hanya menaikan sebelah alisnya, “Jaga stamina buat nanti malam, ya!”
Gisela sudah menebak perkataan ini akan keluar dari mulut sang kawannya. Memangnya ada apa dengan nanti malam. Yang ada dirinya harus lanjut kerja. Karena sedang dikejar oleh waktu dan juga tenggat naskah. Maklum saja dirinya adalah seorang penulis. Kalau ia tak menghasilkan karya dari mana mendapatakn uang untuk keberlangsungan hidupnya.
Lagian, nanti pun tak aka nada apa-apa. Karena lelaki itu sudah bilang kalau ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Yang pasti mereka berdua akan sibuk dengan kerjaan masing-masing. Jadi, jauhkan pikiran itu. Terlebih lagi ini semua hanya sandiwara. Tidak lebih dari itu.
Akan tetapi, tak mungkin ia mengatakan hal itu. Sela hanya bisa tersenyum sekilas. Menyembunyikan apa yang sebenanya terjadi. Ia benar-benar bisa memainkan raut wajah dengan sempurna. Atau memang keadaan yang sedang mendukung.
Di mana Aya sedang bahagia. Dan tak memperhatikan dirinya dengan saksama. Kalau seperti ini dengan mudah ia bisa menutupi semuanya.
“Sela …”
“Iya?”
“Makasih, ya!” Aya memeluk tubuh sang kawan. Kini mereka sudah berada di kamar pengantin. “Makasih sudah menerima kakakku.”
Gisela membalas pelukan sang kawan, “Jadi adik ipar yang nurut, ya!”
Kedua wanita itu tertawa bersama. Meskipun Sela merasa bersalah karena telah membohongi sang kawan. Namun, ia tak menyesal melakukan hal itu. Karena senyuman Aya adalah kebahagiannya untuk saat ini.
Sela membuang napas dalam. Sendirian di kamar setelah kepergian Aya. Memilih melepaskan sepatu dan berjalan menuju cermin. Menatap dirinya yang terlihat sangat menyedihkan.
Bagaimana bisa-bisanya mereka mempermainkan pernikahan yang sakral. Tak ada satu hal pun yang membenarkan perilaku mereka. Namun, inilah jalan yang dipilih. Semoga saja kedepannya akan baik-baik saja. Meskipun pada akhirnya tahu yang tersisa dari ini semua hanyalah luka.
Karena memang itu yang akan terjadi. Sela tak bisa berharap banyak. Semoga saja dirinya bisa melewati ini semua dengan senyuman yang masih menghiasi bibirnya. Sebab semua pasti terasa sangat menyakitkan.