Malam semakin larut, namun Sela masih sibuk di depan laptopnya. Ingin rasanya segera menyelesaikan ketikannya. Namun sedari tadi hanya ada lembar kosong di hadapannya. Tanpa ada satu kata pun. Sedari tadi yang dilakukan hanya mengetik lalu menghapusnya kembali. Seolah tak tahu harus menuangkan kalimat seperti apa.
Ini bukan kali pertama Sela bingung dalam melanjutkan cerita. Akan tetapi, biasanya masih bisa diatasi. Namun kali ini terasa sangat berbeda. Pikirannya bercabang ke mana-mana. Ia sama sekali tak tahu harus berbuat apa.
Dalam otaknya terasa penuh. Rasanya ingin marah dan kecewa. Tetapi, ia tak tahu harus melampiaskan kepada siapa. Semua terasa sesak dan juga padat. Mmebuatnya terpaku tanpa bisa berbuat apa-apa.
Gisela membuang napas dalam. Memilih bangkut dari kursi dan berjalan menuju balkon kamar. Perempuan itu merasa butuh embusan angin untuk menyegarkan pikiran dan raga. Setidaknya cara itu yang biasa ia lakukan untuk menenangkan diri.
Udara malam memang terasa dingin. Namun itu semua tak seberapa dengan hatinya yang mungkin sudah membeku. Tak ada kehangatan kasih sayang untuknya. Semua ia lakukan hanya untuk bisa melihat orang lain bahagia. Karena ia sudah tak mengharapkan itu hadir dalam kehidupannya.
Masih teringat jelas kejadian tadi saat Gala masuk ke dalam kamar. Untuk pertama kali mereka hanya berdua dalam satu ruangan. Namun itu tak bertahan lama. Karena lelaki itu akan segera pergi.
“Jangan menungguku,” ujar Gala yang sudah berganti baju. Lelaki itu memandang ke arah perempuan yang sudah menjadi istrinya. Namun, mereka tak mungkin untuk tidur bersama malam ini. Karena pernikahan ini hanya sebatas kontrak belakang. Tidak ada perasaan diantara mereka. “Kemungkinan aku balik pagi.”
Sela mengangguk, “Hati-hati.”
Perempuan itu sadar tak berhak untuk mencari tahu lebih ke man lelaki itu akan pergi. Hanya kalimat itu yang bisa diucapkan. Padahal segudang pertanyaan berputar dalam otaknya. Namun, sebisa mungkin ia tahan untuk tak mengatakannya. Karena ia tahu percuma saja mengutarakannya. Tak aka nada jawaban apapun dari lelaki itu.
“Kamu nggak papa ditinggal sendirian?”
Sela tersenyum kecut mendengar pertanyaan itu. Bukankah selama ini hanya ada dirinya saja. Tanpa orang lain yang menemani. Sendirian sudah menjadi hal biasa untuk perempuan itu. Dan tentu saja ia tak masalah akan hal tesebut.
“Sel …”
“Nggak papa,” Gisela menggeleng pelan, “Kakak pergi saja. Katanya ada perlu,”
“Tapi …”
“Aku biasa sendirian,” sela perempuan itu yang mulai menyalakan laptop, “lagian ada kerjaan yang harus aku selesaikan.”
Manggala mengangguk mengerti, “Mau aku pesankan camilan?”
“Kakak mau buat aku gemuk!” Gisela menggeleng dengan cepat. Meskipun dalam hatinya tak menolak sama sekali. Karena biasanya ia kerja dengan berbagai makanan di sampingnya. Karena pekerjaan perempuan itu sangat menguras tenaga dan pikiran. “Tidak, makasih!”
Manggala tertawa kecil saat melihat raut wajah perempuan itu. Terlalu menggemaskan dan juga imut. Bibirnya memang menolak. Namun, lelaki itu yakin jauh dalam lubuk hati Sela menginginkan hal itu.
Ia mengetahui dari sang adik. Kalau Gisela pasti membutuhkan kudapan ketika bekerja. Dan tentu saja kesukaannya adalah yang berasa coklat dengan sensasi dingin. Apalagi kalau bukan ice cream.
“Kamu tunggu bentar, ya!”
Gisela hanya bisa melihat tubuh lelaki itu semakin menjauh dan menghilang dari balik pintu. Perempuan itu membuang napas dalam. Entah mengapa jantungnya berdetak lebih kencang daripada biasanya.
Mungkin karena mereka berdua dalam satu ruangan yang sama. Tanpa ada orang lain. Dan dirinya sangat canggung. Beruntung saja lelaki itu bisa membuat suasana lebih nyaman dan juga rileks. Karena ia tak tahu harus berbuat apa.
Perempuan itu tak menyangka akan menghabiskan malam pertama dengan kesendirian. Berteman dengan sepi memang sudah menjadi kebiasaannya. Namun, tidak dengan malam ini. Ia ingin lelaki itu menemani sebentar saja. Bukan malam meninggalkannya sendiri.
Apa yang harus diharapkannya bila kenyataan menampar. Pernikahan ini hanya sebatas di atas kertas. Dan mereka sudah sepakat untuk tidak saling jatuh cinta. Karena bila itu terjadi, yang ada hanya perpisahan dan juga luka.
Siapapun yang jatuh cinta harus pergi. Meninggalkan semuanya. Termasuk rasa dan juga kenangan. Karena itu tak mungkin terjadi diantara mereka. Dan dengan bodohnya ia menyetujui. Padahal dirinya tahu, perasaan ini sudah tumbuh sejak lama.
Ini semua tak adil. Akan tetapi tidak ada cara lain. Maka dari itu, ini semua dilakukan hanya untuk melindungi diri sendiri. Padahal kenyataannya semua yang tersisa hanyalah luka.
“Ini!”
Sela mengerjap pelan. Mendongakan kepalanya, “Apa …”
“Beberapa makanan ringan,” Gala memeriksa telepon genggamnya, “aku pergi dulu.”
Perempuan itu hanya mengangguk pelan. Masih bingung dengan lelaki itu. Kalau seperti bisa-bisa ia akan semakin jatuh cinta kepadanya.
Gala memang sangat perhatian. Hal sekecil ini saja sudah membuat perasaan itu bangkit kembali. Padahal sudah ia simpan jauh di dasar hatinya. Namun tetap saja masih bisa muncul. Dan sekarang yang ia lakukan agar perasaan itu tak bermekar kembali.
“Kak …”
“Kalau ada apa-apa hubungi aku, ya!”
Gisela mengangguk. Untuk sekali lagi, ia hanya bisa melihat punggung lelaki itu pergi menjauh. Dan ia tak mempunyai hak untuk menahannya di sini.
Perempuan itu membuka bingkisan yang ditaruh di atas meja. Menggeleng perlahan karena semua ini adalah kudapan kesukaanya. Bisa dipastikan kawan baiknya yang memberi tahu. Karena hanya Aya yang mengetahui selerannya.
Mungkin sekarang ada yang berubah. Ia tak menyukai s**u. Melainkan sekarang lebih suka mengkonsumsi kopi hitam tanpa gula. Rasa pahit yang menurutnya tak ada apa-apanya dengan kehidupannya.
Gisela membuang napas dalam. Membuang semua pikirannya tentang beberapa waktu lalu. Jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Namun, lelaki itu belum juga datang. Seharusnya ia tak berharap kalau Gala akan pulang dengan cepat. Pasti pria itu akan tiba pagi hari.
Semestinya ia sudah menyelesaikan tulisannya. Namun, otaknya tak mau diajak kerja sama. Selalu memikirkan di mana keberadaan Manggala. Padahal lelaki itu sama sekali tak mengkhawatirkannya.
Bodoh sama t***l tak ada bedanya. Ia rela terluka agar orang lain bahagia. Sedangkan dirinya hanya bisa termenung sendirian tanpa ada orang lain di sisi.
Sela memilih masuk dan membaringkan tubuhnya di sofa. Entah mengapa ia ingin sekali memejamkan mata. Otak dan fisiknya sedang tak bersahabat. Ia membutuhkan istirahat yang cukup agar besok bisa kembali segar dalam menghadapi kepalsuan dunia ini.