Manggala masuk ke dalam kamar menggunakan kunci yang semalam di kasih oleh Sela. Karena sedari tadi ia menekan bel namun tidak ada yang membuka pintu. Dan itu membuatnay sedikit khawatir.
Langsung saja lelaki itu mengamati sekeliling kamar yang ia tinggalkan semalam. Di atas ranjang, Sela masih tidur meringkuk tanpa selimut.
Manggala hanya bisa menghela napas dalam. Mengambil selimut yang berada di bawah tempat tidur. Dengan perlahan menyelimuti tubuh perempuan itu. Tanpa sengaja ia melihat wajah polos Sela yang masih terpejam.
Sangat cantik dan juga menawan. Perempuan itu memang memiliki daya tarik sendiri. Meskipun wajah tanpa makeup pun masih terlihat menggemaskan.
Gala merapikan rambut yang menutupi wajah ayunya. Tanpa terasa lelaki itu menyungingkan senyuman. Melihat Sela seperti ini serasa sedang memandang Aya. Penuh dengan kerapuhan namun berusaha terlihat baik-baik saja.
Mereka berdua memang mempunyai banyak kesamaan. Dan mungkin karena itu alasan mereka masih berteman sampai sekarang. Setahunya, hanya Sela yang menjadi kawan sang adik. Aya tak pernah menceritakan orang lain kecuali Gisela. Wanita yang sekarang sudah sah menjadi istrinya.
Lelaki itu menghela napas dalam. Bangkit dan memilih duduk di sofa sebrang tempat tidur. Dari sini ia masih bisa melihat Sela yang terlelap seperti anak kecil. Sangat polos dan tak banyak tingkah.
Masih ingat pembicaraan malam sebelum mereka melaksanakan pernikahan. Perempuan itu sedikit mencurahkan isi hatinya. Dan membuat Gala menjadi lelaki yang sangat kejam dan tak berperasaan.
“Maksudmu?” tanya Gala dengan tatapan tajam, “aku nggak mau!”
“Tapi …”
“Semua orang tahu kalau kamu istriku!”
Sela menggeleng pelan, “Istri bohongan tepatnya!”
Manggala terdiam. Tak bisa menjawab lagi perkataan perempuan itu. Karena itulah kebenarannya. Hubungan mereka hanya sebatas kertas. Namun bukan berarti dirinya tak peduli dengan Sela. Bagaimana pun wanita itu nanti menjadi tanggung jawabnya.
“Aku nggak bisa terima ini,”
“Sela …” Gala menghela napas dalam, “kamu bawa aja, ya!”
“Buat apa?”
Lelaki itu bingung harus bagaimana lagi. Biasanya perempuan pasti akan senang dikasih kartu kredit. Namun, ini semua tidak berlaku bagi Gisela. Wanita itu menolak kartu kredit warna hitam yang ia berikan.
Bagitu pula dengan atm yang memang dibuat khusus untuk Sela. Sebagai uang bulanan yang akan ia berikan. Terserah perempuan itu mau pakai buat apa. Yang pasti ini semua menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang suami untuk menafkahi istrinya.
“Aku nggak mau berutang budi, Kak …”
Gala menggeleng, “Ini bukan tentang itu, Sela!”
“Lalu?” tanya Gisela dengan tatapan tajam, “apa maksud Kakak mengasih aku ini semua? Bukankah sejak awal Kakak tekan, ‘kan. Kalau kita menjalani hidup masing-masing tanpa mengusik satu sama lain?”
Manggala mengerti. Tapi untuk masalah ini sangat berbeda. Perempuan itu berhak mendapatkan sedikit hartanya. Karena sudah mau menjalani sandiwara ini. Dan tak mungkin ia membiarkan Sela kerja serabutan untuk mencukupi biaya hidup. Di saat dirinya tidak kekurangan sedikit pun.
Tak ada salahnya juga untuk Sela langsung menerima ini dari pada terjadi pedebatan karena hal sepele. Ia pun tak merasa keberatan setiap bulan mengasih perempuan itu uang untuk jajan dan beli keperluannya. Karena itu memang hak yang semestinya diterima oleh Gisela.
Akan tetapi, perempuan itu menolak dan berkata tak ingin berhutang. Tentu saja Manggala menggeleng frustrasi. Bingung harus mengatakan apa lagi. Karena perempuan itu sangat keras kepala melebihi Aya.
“Aku nggak mau tahu,” Gala menatap penuh dengan intimidasi. Biasanya cara ini sangat ampuh kepada Aya. Dan semoga saja bisa ia pergunakan di hadapan Sela. “Kamu harus terima ini.”
Gisela tak berkutik. Tatapan dingin itu sangat menakutkan. Namun, ia tak ingin menerima ini dengan cuma-cuma. Bukankah ini semua hanya bohongan. Jadi, tak sepantasnya lelaki itu memberikan nafkah kepadanya.
Lagian, ia masih bisa berkerja dan berusaha sendiri. Tak ingin bergantung dengan orang lain. Karena ada atau tidaknya Gala tak membuat hidupnya berubah. Ia hanya tidak mau tergantungan dan bersandar pada lelaki tersebut.
“Mau, ya …”
“Kak,” Sela menatap lelaki itu dengan saksama, “kenapa Kakak sampai melakukan hal ini?”
“Karena kamu sudah menjadi tanggung jawabku,”
Sela hanya bisa tertawa kecil, “Kalau kita pisah bagaimana dengan aku yang nanti sudah bergantung pada Kakak?”
“Kalau begitu jangan ada perpisahan diantara kita.”
Manggala membuang napas dalam. Menarik semua ingatan masa lalu. Ia tak ingi melukai banyak orang. Biarkan pernikahan ini berjalan dengan semestinya. Meskipun hanya di atas kertas. Namun, bila pada akhirnya akan bersama pun tak masalah. Karena ia juga sudah lelah mencari perempuan.
Terlebih lagi, adiknya juga menerima kehadiran Sela. Dan mungkin mereka memang ditakdirkan bersama. Kalau seperti ini buat apa mencari yang lain.
Karena orang yang dicintainya telah pergi lagi untuk kesekian kalinya. Padahal baru saja datang dan ingin ia kenalkan pada sang adik untuk menghentikan pernikahan ini. Akan tetapi, orang itu pergi lagi dan selalu mempermainkan perasaannya.
Karena itu, Gala sudah muak. Lelaki itu rela menawarkan penikahan diatas kertas bersama Sela agar mereka bisa bersatu. Namun yang didapatkan hanya kepergiannya. Kalau seperti ini, kenapa dirinya datang dan membuatnya seperti lelaki gila.
Gala memilih bangkit dan membuka tirai. Perempuan itu harus bangun. Karena sebentar lagi sang adik akan menjemput mereka.
Sela yang merasakan sinar mentari menyinari wajahnya. Dengan perlahan membuka mata dan menggeliat pelan. Rasanya ia baru saja tertidur dan sekarang ada yang membuka selambu. Tentu saja ia merasa sangat ulap.
Kedua bola matanya membola sempurna tatkala mengetahui siapa yang melakukan hal itu, “Kak Gala …”
“Sudah waktunya bangun, Cantik!”
Sela mengerjap pelan. Mengumpulkan kesadarannya telebih dahulu. Karena tak mungkin yang berdiri di hadapannya adalah lelaki itu. Apa mungkin ia berhalusinasi dan masih berada dalam mimpi. Akan tetapi, kenapa terasa nyata. Suara berat dan hangat itu serasa ada di depannya.
“Kak …”
“Sebentar lagi Aya menjemput,” Gala tertawa kecil melihat ekspresi Sela yang menggemaskan. Lelaki itu berjalan maju dan mengelus lembut kepala sang istri, “bangun dan siap-siaplah.”
Sela terpaku. Perempuan itu hanya bisa mengangguk. Ia merasa pagi ini begitu indah. Di mana ada lelaki yang dicintainya datang membangunkan. Tak lupa memberi elusan lembut di kepalanya. Kalau seperti ini, ia tak bisa menahan rasa cinta untuk bangkit lagi. Karena perlakuan hanga yang diberikan oleh Manggala. Kalau seperti ini, ia tak bisa berbuat banyak.