Sela keluar kamar mandi dengan wajah masih memerah. Karena tak menyangka saja akan dibangunkan oleh lelaki itu. Padahal semalam ia menunggu pria tersebut. Namun, yang ada hanya kekosongan belakang. Karena Gala tak datang dan menyisakkan luka yang terbuka.
Akan tetapi, malah datang di pagi hari. Saat dirinya belum terbangun dari alam mimpi. Dan tentu saja itu membuat perempuan tersebut sangat kaget. Bahkan sampai sekarang mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak lebih kencang karena perilaku Manggala.
Lelaki tersebut mengelus lembut kepalanya. Entah mengapa terasa hangat dan membuat hatinya merasa gembira. Tak merasakan kesepian kembali. Seolah kehadiran pria tersebut membuat dirinya tidak merasakan kesendirian kembali.
Akan tetapi, ia haruas mengabaikan perasaan ini. Lelaki itu hanya membangunkan dirinya saja. Tak lebih dari itu. Dan ia tak semestinya bepikiran terlalu jauh. Sebab pada akhirnya ia yang akan terlukan.
Gisela membuang napas dalam. Kedua bola mata tersebut memandang ke arah Gala yang sedang membaca buku. Terlihat sangat menawan dan juga sangat beribawa. Tak menyangka saja dengan pose membawa buku saja sudah bisa menambah tingkat kegantengannya.
“Kak …”
“Sudah selesai?” tanya Gala yang menaruh bukunya, “sarapan.”
Sela mengangguk dan duduk di depan lelaki itu. Rasanya sangat canggung sekali. Mereka makan dengan diam. Dan sesekali perempuan itu melirik ke arah Gala yang sedari tadi sibuk dengan makananya.
Entah mengapa pagi ini terasa berbeda. Lelaki itu penuh kehangatan. Dengan tampilan casual, yang membuatnya malah semakin terlihat mempesona. Pakai formal saja sudah mengundang mata perempuan untuk melihat dan memandangnya dengan kagum. Apalagi hanya memakai kaos seperti ini. Membuatnya merasa tergila-gila kepada lelaki tersebut.
Namun, ia menampis semua pemikiran yang tidak jelas itu. Melanjutkan makan dengan menikmatinya. Layanan hotel di sini benar-benar terbaik. Makanannya juga sangat menggugah selera. Semuanya serba sempurna.
Sama seperti lelaki itu. Tampan, kaya dan juga penyayang. Incaran banyak perempuan di sana. Akan tetapi tak bisa ia gapai. Dirinya hanya sementara di sini. Karena, kelak akan ada waktu untuknya pergi.
“Barangmu sudah dirapikan?”
Sela mengangguk, “Iya,”
“Kalau gitu ini tinggal nunggu Aya, ya?”
“Iya …”
“Untuk semalam,” Gala menyela ucapan perempuan itu, “maaf aku nggak bisa pulang. Kamu nggak papa, ‘kan?”
Untuk sekali lagi, perempuan itu hanya bisa tersenyum tanpa berbuat banyak. Percuma saja memberi tahunya kalau semalaman ia menunggu. Lagian, lelaki itu sendiri yang tidak ingin pulang.
Kalau seperti ini, ia menjadi perempuan yang sangat bodoh. Sudah tahu tak ada cinta untuknya. Namun, Sela masih saja mengharapkannya. Tak ada gunanya sama sekali. Yang ada ia malah seperti melukai diri sendiri. Sudah tahu rasanya menyesakkan tetap saja mendekat.
“Semalam …”
“Aku melanjutkan pekerjaan, kok.” Sela Gisela dengan cepat. Dirinya memang melanjutkan menulis. Akan tetapi tak tahu apa yang harus diketik. Tiba-tiba saja pikirannya buntu dan gelap. Membuatnya membuka laptop tanpa memakainya. “Dan maaf tadi pagi aku bangun kesiangan.”
Manggala mengerti. Pasti perempuan itu bergadang. Karena ia sempat melihat gelas bekas kopi. Jadi wajar saja kalau bangunnya telat. Lagian ini salahnya juga. Sebab datang lebih awal. Bukannya memberi waktu lama untuk tidur. Ia malah membangunkannya.
Mau bagaimana lagi. Sebentar lagi Aya datang. Dan tentu saja sang adik pasti akan menggoda mati-matian. Sebelum itu terjadi, dirinya sudah membersihkan kamar dan menyuruh Sela untuk mandi.
“Kak …”
“Iya?”
Sela menatap ragu. Akan tetapi ia perlu menanyakannya, “Untuk Aya bagaimana?”
“Maksudnya?”
Sela membuang napas dalam, menatap dengan saksama. “Apa yang harus aku lakukan di depan, Aya?”
“Seperti biasa saja.”
Perempuan itu mengangguk mengerti. Ia akan berusaha untuk meakukannya. Semoga saja Aya tak dalam mode iseng. Yang aka membuatnya berpikir tujuh keliling. Karena sang kawan akan menanyakan beberapa hal yang membuat otaknya bepikir dengan ekstra.
Setelah mereka sarapan, kini menunggu kedatangan Aya. Entah mengapa waktu terasa berjalan sangat lambat. Karena mereka memilih diam. Tak ada pembicaraan apapun.
Sampai akhirnya lelaki itu memecahkan keheningan. Namun, malah membuat mood pagi Sela berantakan. Karena pria tersebut menyerahkan beberao kartu yang sempat ditolaknya.
“Kak …”
“Pakai ini,” sela Gala yang sudah tak mau mengalah, “nanti Aya curiga,”
“Kok bisa?”
“Karena aku tak memberikanmu nafkah.”
Sela menghela napas dalam. Benar juga perkataan lelaki itu. Akan tetapi, hatinya merasa enggan untuk menerima itu. Ia tak ingin menghabiskan uang Gala untuk membeli segala kebutuhannya. Karena dirinya memang terkenal boros. Maka dari itu menolak adalah pilhan yang baik. Dari pada nanti Manggala harus mengeluarka uang banyak untuk memenuhi keinginannya.
“Tenang saja aku nggak akan bangkrut, kok!” ujar lelaki itu seolah tahu apa yang tengah ada dipikirannya, “kamu bisa membeli toko buku sekaligus kalau mau.”
Gala tahu, perempuan itu tidak berniat dengan barang bermerek. Yang bisa membuat kedua bola mata Sela bebinar adalah bursa buku. Apalagi itu semua penulis kesukaannya. Bisa dipastikan perempuan itu akan rela mengeluarkan seluruh tabungannya untuk membeli. Karena memang segila itu Sela kepada karya sastra.
Dan tentu saja dirinya tak keberatan sama sekali. Malah senang melihat binar itu dari kedua bola mata Gisela. Dengan membiarkan perempuan itu membeli semua buku yang diinginkan. Sudah membuat Sela sangat merasa senang.
“Tapi ...”
“Apa lagi?” tanya Gala yang mulai lelah, “tinggal kamu pakai. Beres!”
Sela mengerucutkan bibirnya. Baru pertama kali ini ia bertemu dengan orang yang mendukung hobinya dalam berbelanja aneka karya sastra. Dirinya memang berkeinginan untuk memiliki perpustakaan sendiri. Karena itu, ia senang sekali berburu buku. Agar kelak impiannya bisa tercapai.
“Kamu terima, ya!”
Pada akhirnya Sela memasukkan kartu itu ke dalam dompet. Karena memang tak ada pilihan yang lain. Kalau kemaren ia masih bisa mengeles. Namun kali ini, dirinya hanya bsia pasrah.
“Makasih,”
Gala mengangguk, “Nggak perlu sungkan.”
Hubungan mereka memang sebatas di atas kertas. Namun, Gala tetap berkewajiban memenuhi semua kebutuhan Sela. Karena hubungan ini juga terjadi karena perempuan itu menyetujui. Lelaki itu merasa sangat bersalah sebab menarik wanita tersebut ke dalam masalah yang sangat rumit. Namun, mau bagaimana lagi. Keadaan yang memaksa mereka untuk melakukan ini.
Semoga saja ke depannya tak bertambah rumit. Dan tetap menjadi pagi yang indah untuk mereka lalui bersama. Karena selepas ini takdir yang akan membawa mereka antara bersatu atau berpisah.