Manggala menutup kembali mulutnya. Lelaki itu tadi hendak memanggil Sela. Namun ia urungkan saat melihat perempuan itu sudah berbaring dengan nyaman di atas kasur. Dengan perlahan ia menyelimuti tubuh gadis tersebut. Ini pasti hari yang sulit bagi Gisela. Di mana ia harus bepura-pura di hadapan Aya yang sangat peka dengan keadaan di sekitar.
Lelaki itu sadar ini tak mudah untuk mereka. Membohongi banyak orang demi memasulkan sebuah status. Termasuk adiknya sendiri. Dan mungkin tadi, Aya merasa ada yang tak beres diantara mereka. Tapi, Sela bisa mengatasi dengan mudah. Membuat sang adik tidak memikirkan hal-hal mengenai pernikahan mereka lagi.
Lelaki itu menghela napas dalam. Tak menyangka saja sampai pada tahap ini. Melihat Sela yang begitu damai saat tidur ia jadi teringat percakapan dengan Iman. Suami dari adiknya itu sangat menyebalkan. Bagaimana bertanya rasanya malam pertama bila mereka saja menghabiskan waktu di tempat dan ruang yang berbeda.
“Kamu belum berhasil, ‘’kan?”
“Apanya?” tanya Gala mengernyit heran. Kini mereka di ruang tamu dengan pembicaraan yang tak tahu arah. “Jangan aneh-aneh, deh!”
Jaiman tertawa kecil. Menatap kawannya sekaligus kakak iparnya tersebut. Raut wajah lelaki itu sama sekali tak bisa berbohong. Kalau semalam tidak terjadi apa-apa. Mungkin Aya bisa dibohongi begitu saja. Akan tetapi tidak dengan dirinya. Yang sejak awal memang merasa ada tak beres diantara mereka.
Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Dan entah mengapa saat melihat Gala pertama kali, lelaki itu tahu kalau mereka belum melakakuannya. Namun, mendengar penjelasan Sela yang menurutnya hanya menutupi saja. karena itu ia tak membahas ketika ada sang istri. Bisa berbahaya dan mengundang kericuhan.
“Apa perlu aku kasih tahu Aya?”
Gala menghela napas dalam, “Apa, sih?”
“Kalau kamu belum melakukannya bersama dengan Sela, ‘kan?”
Gala tersenyum kecut. Nggak adiknya, ternyata suaminya sama saja. Bisa-bisanya menanyakan hal itu. Padahal dirinya dulu tak perduli saat mereka pertama kali menikah. Namun, kenapa pas dirinya mereka malah terlalu ingin tahu.
Terlebih lagi tak mungkin ia mengatakan yang sebenaranya. Sela saja berusaha untuk menghindar. Dirinya pun akan berbuat demikian. Karena bisa berbahaya kalau mereka bisa mencium dan ketahuan. Sebab itu semua akan menyakiti sang adik.
“Gala!”
“Berisik!” sahuit lelaki itu yang bangkit untuk mengambil miniuman dingin buat mereka berdua. Entah mengapa tenggorokkannya terasa kering sekali. Dan itu semua karena Iman yang tiba-tiba membahas ini. “Nih!”
“Mau mengalihkan?”
Manggala membuang napas dalam, “Emangnya kenapa?”
“Auramu masih sama,” ujar Iman sembari menaikan alis, “sama kayak belum menikah.”
Lelaki itu menggeleng tak percaya. Lagian Iman dulu juga nggak ada yang berubah. Masih sama seperti biasa. Dan memang adik iparnya itu melakukan malam pertama setelah melewati banyak malam.
“Jangan samakan aku dengan kamu,” sahut Gala dengan menaikan sebelah alisnya, “yang nunggu lama untuk bisa melakukannya.”
Iman mengerucutkan bibir kesal. Lelaki itu seharusnya sadar kalau Gala juga memiliki mulut yang pedas seperti sang istri. Namanya juga adik kakak yang selalu membuatnya tak berkutik. Dan tentu saja itu sedikit menyebalkan.
“Loh, itu ya!”
Manggala hanya tertawa melihat adik iparnya tak bisa berkutik sama sekali. Meskipun begitu, ia sangat senang dan gembira. Iman bisa menjaga sang adik dengan baik. Lelaki sangat mencintai Aya. Karena itu ia bisa percayakan Alayya untuk menikah dengan Jaiman.
Dalam hidup ini terlalu banyak pilihan yang membuat dilemma. Karena bila salah melangkah akan mengulangi lagi dari awal. Akan tetapi itu tak berlaku bagi Manggala. Lelaki itu tak akan meratapi masa lalu. Kesaalahannya dulu saat mengambil langkah akan diperbaiki ke depannya.
Gala pun sadar langkah yang diambil kali ini adalah sebuah kesalahan. Namun, mau bagaimana lagi. Ini semua sudah terjadi. Yang bisa ia lakukan hanya tak melukai perasaan perempuan itu apapun alasannya. Sebab hal ini saja sudah meninggalkan luka yang cukup serius bagi Sela. Dan ia tak ingin memperparah hal itu.
“Kamu harus memperlakukan dia dengan baik,”’
Manggala mengangguk pelan, “Tentu saja.”
“Aku percaya padamu tak akan melukainya,” ujar Iman yang menatap sang kawan dengan saksama. “Adakalanya perempuan berpura-pura kuat padahal jauh dalam lubuk hatinya hancur dan rapuh. Membutuhkan seseorang sebagai tempat bersandar. Dan aku berharap kamu bisa menjadi tempat tersebut.”
Lelaki itu memilih diam. Ia tak tahu bisa melakukannya tidak. Karena sampai detik ini ia bukan menjadi tempat bersandar yang baik. Bahkan teruntuk adiknya saja ia tak mampu melakukan hal tersebut. Hingga membuat Aya dalam pengawasan dokter karena beberapa kali memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
Dna untuk Gisela, ia tak bisa menawarkan apapun. Termasuk cintanya yang sudah diambil perempuan lain. Dan itu tak tersisa sedikit pun. Semenjak itu tak ada perasaan yang tulus dalam dirinya. Semua hanya sekadar hubungan formalitas. Bukan berasal dari hati.
“Dan kalau bisa, kamu hanya mendengarkan saja ketika perempuan berbicara panjang lebar. Karena itu langkah yang aman untuk dilakukan.”
Kalau masalah itu, Gala sangat setuju. Dengan begitu bisa mengungkapkan semua isi hati. Tentu saja melegakan perasaan. Karena itu yang ia lakukan ketika Aya dalam mode marah dan menjadi yang benar sendiri.
Sedikit menyebalkan, akan tetapi tak ada pilihan yang lain. Kalaupun harus dilakukan ia akan berusaha sekuat hati untuk menahan amarahnya. Namun, ia tak tahu apakah cara ini juga berhasil dalam menghadapi Sela. Karena pada kenyataannya mereka bedua orang yang berbada dan langsung berada dalam lingkaran yang sama.
“Kamu harus ingat itu semua,” Iman menepuk pundak sang kawan, “kadang kala menyerah bukan berarti kalah. Namun apa salahnya dilakukan agar pasangan kita tetap bahagia.”
Manggala membuang napas dalam. Membuyarkan ingatannya tentang pembicaraan yang dilakukan bersama dengan Iman. Tadinya ia ingin pamit kepada Sela untuk pulang terlebih dahulu. Namun, melihat perempuan itu tertdiur pulas, ia tak tega untuk membangunkannya. Lagian kalau dirinya pergi, besok pagi perempuan itu akan bingung.
Karena itu ia memutuskan untuk menginap di sini. Tanpa mereka ketahui ada kamar kosong yang memang ia persiapkan sebelumnya. Memang tak sebesar kamar utama. Setidaknya di sana ia bisa beristirahat. Dari pada harus tidur di sofa yang pada akhirnya akan membuat tubuhnya sakit semua.
Gala keluar kamar dengan perlahan. Dan memilih masuk ke dalam ruangannya. Tubuhnya juga merasa sangat lelah. Mungkin dengan tidur akan membuatnya segar esok hari. Karena masih ada hari yang harus dilewati dengan tubuhnya yang bugar dan sehat.