“Pagi!”
Gisela membalikkan tubuh. Perasaan saat ia masuk ke dalam dapur tak melihat ada orang lain. Namun kenapa tiba-tiba terdengar suara tak asing untuk telinganya. Terlebih lagi ia merasakan kehadiran orang lain. Lalu, kenapa ia tadi tak sadar kalau memang bukan dirinya saja ada di sini.
Kedua bola matanya terbelalak tak percaya melihat lelaki yang memakai pakaian santai. Celana pendek abu-abu yang dipadukan kaos hitam membuat penampilan lelaki itu terlihat berbeda. Karena baru pertama kali ini ia melihat Gala memakai celana pendek.
“Kak Gala?”
Gala terkekeh, “Kenapa terkejut, gitu?”
Sela menggeleng pelan. Perempuan itu berpikir kalau lelaki tersebut pulang ke apartemennya. Karena Manggala pernah cerita kalau dirinya membeli hunian baru. Jadi, tak masalah untuk ia tinggal di sini. Sebab Gala lebih memilih tinggal tempat yang lain.
Akan tetapi, kenapa pagi ini ia menemukan lelaki itu di sini. Dengan pakaian santai dan juga wajah yang bersih. Berbanding terbalik dengan dirinya yang masih muka bantal. Dan jangan lupa piyama bergambar doraemon kesukaannya. Serta rambut yang diikat asal-asalan.
Sangat berbanding terbalik dengan lelaki tersebut. Yang sudah wangi dan juga tampan tentu saja. menambah vitamin di pagi hari ini. Seketika ia menggeleng pelan. Membuyarkan pikirannya yang tidak-tidak.
“Ada apa?” tanya Gala yang bangkit dari duduknya. Mendekat ke arah Sela yang terlihat tak baik-baik saja. “Pusing?”
Gisela menggeleng pelan. Melihat Gala yang mendekat, sontak saja kakinya memundurkan langkah. Ia pun tak mengerti kenapa bisa berperilaku demikian. Hanya saja, ia takut bila perasaannya ini semakin dalam mencintai lelaki tersebut. Karena Sela tahu, sampai kapanpun ia tak akan bisa memilkinya.
Manggala sangat jauh berada dalam jangkauannya. Meskipun lelaki itu kini di depannya. Namun, jarak antara mereka tak bisa ditembus. Sebab lelaki itu sendiri yang menutup jalan hingga ia tak bisa mendekat.
Sedikit menyebalkan, memang. Namun, ia tak bisa berbuat banyak. Di mana dirinya harus dituntut untuk membuang perasaan tesebut. Akan tetapi, sama sekali tak bisa dilakukannya. Karena lelaki itu berkerliaran dalam zonanya.
Bagaimana ia bisa menghilangkan rasa itu bila lelaki tersebut sangat perhatian. Seakan memberi harapan palsu. Dan ia tak mau berharap akan hal itu. Karena pada akhirnya ia tahu apa yang terjadi.
“Kamu baik-baik saja, ‘kan?”
“Iya, Kak,” Sela mengangguk pelan, “aku mau mengambil minum.”
Gala mengerti. Lelaki itu memundurkan langkahnya. Menatap perempuan itu dari atas sampai bawah. Wajah khas bangun tidur, akan tetapi terlihat cantik. Mungkin selama ini Sela melakukan perawatan yang membuatnya terlihat berbeda. Dengan menggunakan celana pendek dengan gambar yang sama dengan bajunya membuat gadis itu terlihat seperti anak kecil. Tak menyangka saja Gisela terlihat sangat berbeda dari biasanya. Dan tentu saja itu membuatnya menyungingkan senyuman di pagi hari ini.
Lelaki itu menghela napas dalam. Memilih membalikan bdan dan menuju ke meja makan. Di san asudah tersedia makanan. Meskipun jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Terlalu siang untuk disebut sarapan. Namun, mau bagaimana lagi. Mereka baru bangun. Dan Gala memahami kenapa permepuan itu bangun kesiangan.
Ia sama sekali tak masalah. Karena sudah biasa menyiapkan ini semua sendirian. Jadi, tadi ia sengaja membuat agak banyak. Karena tahu nafsu makan perempuan itu sangat tinggi. Sama seperti adiknya.
“Mau langsung makan apa mandi dulu?”
Gisela mengernyit, “Maksudnya?”
“Aku sudah masak,” Lelaki itu melirik ke arah makanan yang tersedia, “mau makan apa-”
“Mandi dulu!” Gisela menyela dengan cepat, “aku ke kamar dulu.”
Manggala menggeleng pelan melihat tingkah laku perempuan tersebut. Tak menyangka saja ia sering menyungingkan senyuman ketika bersama Gisela. Wanita itu mampu memberi warna lain dalam hidupnya.
Akan tetapi, Gala tepis semuanya sebelum bermekaran. Lelaki itu tetap pada pendirian kalau tidak akan jatuh cinta kepada perempuan tersebut. Karena rasa itu sudah menghilang cukup lama dalam hidupnya.
Terlebih lagi, Sela pantas mendapatkan lelaki lain yang lebih baik dari dirinya. Yang bisa mencintai perempuan itu dengan tulus dan apaadanya. Bukan seperti dirinya yang mempermainkan perasaan Gisela.
Manggala membuang napas dalam. Memilih melihat kembali layar di hadapannya yang berisi beberapa dokuman. Hari ini, ia libur kerja sampai seminggu ke depan. Walaupun begitu, ia tetap harus mengkontrolnya. Beruntung sekali di zaman yang serba canggih seperti ini. Ia bisa kapan dan di mana saja mengawasi perusahaan.
Sebenarnya Aya memberikan hadiah bulan madu. Dan mungkin ini saat yang tepat untuk mereka bicarakan. Setelah sarapan, ia akan mengatakan dan membuat rencana. Karena tak mungkin menolak permintaan dai sang adik. Bisa-bisa mereka kena ceramah sampai beberapa hari. Dan kemungkinan Sela mengetahui kosekuensi yang didapatkannya ketika tak mau menerima pemberiaan Aya.
Sedangkan di dalam kamar, Sela mengatur kembali degup jantungnya. Saat Gala mendekat tadi, ia benar-benar lupa caranya bernapas. Bagaimana tidak, aroma tubuh Manggala menguasai indra penciuamnnya. Dan tentu saja ia merasa malu. Karena bau badannya yang bercampur keringat. Belum lagi pakaian kucel bila disandingkan dengan dirinya sangat jauh berbeda.
“Kamu bodoh sekali, Sela!” geruru perempuan itu yang membuka lemari. Memilih baju yang akan digunakan. “Bisa-bisanya keluar dengan tampilan seperti ini!”
Pada akhirnya jatuh pada celana pendek katun warna hitam yang akan dipadukan kaos dengan ukuran besar putih. Setelah mempersiapkan semuanya, ia bergegas ke kamar mandi. Setikdanya mengguyur tubuhnya akan sedikit membuatnya merasa sangat segar.
Dengan menggerutu sendiri, Sela menyelesaiakan ritual mandinya. Tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan yang membuatnya mengehentikan menyisir rambut.
“Selama lelaki itu tidur di mana, ya?” tanyanya pada pantulan dirinya pada cermin, “mereka tidak tidur dalam ranjang yang sama, ‘kan?”
Seketika kedua bola matanya tertuju pada ranjang yang semalam ia tiduri, “Tak mungkin!”
Gisela menggeleng dengan cepat. Tubuhnya terasa begidik ngeri bila itu semua terjadi. Mereka memang suami istri. Namun pada kenyataan itu hanya berada di atas kertas saja. Tidak pada kenyataannya.
Dari pada ia berpikiran yang tidak-tidak. Perempuan itu mempercepat merapikan penampilan. Memasukkan baju bagian depannya saja dan membiarkan bagian belakang keluar. Tak lupa mengikat rambutnya menjadi satu agar terlihat lebih rapi saja. Lagian tak mungkin ia makan dengan rambut yang tergerai. Sangat merepotkan, bukan.
Setelah mengecek kembali penampilannya, dengan langkah pelan ia mulai keluar kamar. Gisela membuang napas dalam dan melangkahkan kakinya menuju ke arah meja makan. Di mana ada Gala yang sibuk dengan layar pintarnya.